Moms & Dads pernah melihat si kecil tiba-tiba rewel, menangis, atau marah setelah bermain seharian? Bisa jadi anak sedang mengalami overstimulasi.
Overstimulasi adalah kondisi ketika anak menerima terlalu banyak rangsangan hingga merasa kewalahan.
Kondisi ini bisa dipicu oleh suara bising, aktivitas yang padat, hingga interaksi sosial yang berlebihan.
Lantas, apa saja tanda overstimulasi pada anak dan bagaimana cara mengatasinya?
Yuk, simak penjelasan berikut!
- Apa Itu Overstimulasi pada Anak?
- Apa Penyebab Overstimulasi pada Anak?
- 1. Berada di Lingkungan yang Ramai dan Bising
- 2. Menerima Terlalu Banyak Aktivitas dalam Waktu Berdekatan
- 3. Terlalu Banyak Rangsangan Visual
- 4. Kurang Tidur atau Waktu Istirahat
- 5. Terlalu Banyak Interaksi Sosial
- 6. Mengalami Perubahan Rutinitas atau Situasi yang Membuat Stres
- 7. Mendapat Terlalu Banyak Informasi atau Instruksi
- Apa Saja Tanda Anak Mengalami Overstimulasi?
- Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Mengalami Overstimulasi?
Apa Itu Overstimulasi pada Anak?
Overstimulasi adalah kondisi ketika anak menerima lebih banyak rangsangan sensorik, emosional, atau aktivitas daripada yang mampu mereka proses dengan nyaman.
Rangsangan tersebut bisa berasal dari suara, cahaya, keramaian, interaksi sosial, maupun kegiatan yang berlangsung tanpa jeda.
Misalnya, anak mengikuti kegiatan sekolah, lanjut les, kemudian bermain di tempat ramai.
Setelahnya, anak mungkin menjadi rewel, sulit fokus, atau tiba-tiba menangis karena merasa kewalahan.
Perlu Moms & Dads ketahui, setiap anak memiliki batas toleransi terhadap rangsangan yang berbeda.
Aktivitas yang menyenangkan bagi satu anak belum tentu terasa nyaman bagi anak lainnya.
Overstimulasi juga bukan berarti anak nakal atau sulit diatur.
Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa anak membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan beristirahat.
Apa Penyebab Overstimulasi pada Anak?
Penyebab overstimulasi pada anak umumnya berkaitan dengan banyaknya rangsangan yang diterima dalam waktu bersamaan atau berdekatan.
Berikut beberapa faktor yang bisa memicunya.
1. Berada di Lingkungan yang Ramai dan Bising
Suara musik keras, kendaraan, atau banyak orang berbicara sekaligus bisa membuat anak kewalahan.
Misalnya, saat menghadiri pesta ulang tahun atau berada di pusat perbelanjaan yang ramai.
Anak mungkin awalnya menikmati suasana tersebut, tetapi lama-kelamaan merasa tidak nyaman.
2. Menerima Terlalu Banyak Aktivitas dalam Waktu Berdekatan
Jadwal yang terlalu padat juga bisa menyebabkan overstimulasi pada anak.
Setelah sekolah, anak mungkin harus mengikuti beberapa kegiatan tambahan tanpa cukup waktu beristirahat.
Meski setiap kegiatan bermanfaat, membuat anak hectic dalam sehari bisa membuat anak kelelahan secara fisik maupun emosional.
3. Terlalu Banyak Rangsangan Visual
Cahaya terang, lampu berkedip, warna mencolok, atau tayangan layar yang bergerak cepat dapat menjadi sumber stimulasi berlebihan bagi sebagian anak.
Contohnya, menonton video dengan pergantian gambar yang cepat dalam waktu lama.
Jika anak mulai gelisah atau mudah marah setelah menggunakan gadget, Moms & Dads perlu memperhatikan apakah aktivitas tersebut terlalu merangsang bagi si kecil.
Baca Juga: 10 Cara Mengatasi Anak Kecanduan HP Tanpa Marah-Marah
4. Kurang Tidur atau Waktu Istirahat
Anak yang kurang tidur cenderung lebih sulit menghadapi aktivitas dan rangsangan di sekitarnya.
Akibatnya, suara atau kegiatan yang biasanya tidak mengganggu bisa terasa lebih melelahkan.
Karena itu, waktu tidur dan istirahat yang cukup penting untuk membantu anak mengatur emosi serta memulihkan energinya.
5. Terlalu Banyak Interaksi Sosial
Bertemu banyak orang, bermain bersama teman, atau berinteraksi dengan orang yang belum dikenal bisa menguras energi anak.
Terlebih jika anak terus diajak berbicara atau bermain meskipun sudah menunjukkan tanda kelelahan.
Anak juga membutuhkan waktu sendiri untuk beristirahat setelah bersosialisasi.
6. Mengalami Perubahan Rutinitas atau Situasi yang Membuat Stres
Perubahan jadwal, pindah sekolah, bepergian, atau berada di lingkungan baru bisa membuat anak merasa kewalahan.
Selain harus menyesuaikan diri, anak juga menerima berbagai pengalaman dan informasi yang belum familier.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko overstimulasi, terutama ketika anak belum memiliki cukup waktu untuk beradaptasi.
7. Mendapat Terlalu Banyak Informasi atau Instruksi
Memberikan banyak instruksi sekaligus bisa membuat anak kesulitan memahami apa yang harus dilakukan.
Misalnya, Moms & Dads meminta anak membereskan mainan, mengganti pakaian, menyiapkan buku, dan segera berangkat dalam waktu bersamaan.
Agar lebih mudah dipahami, coba berikan instruksi sederhana secara bertahap sesuai usia dan kemampuan anak.
Apa Saja Tanda Anak Mengalami Overstimulasi?
Tanda overstimulasi pada anak dapat berupa perubahan emosi, perilaku, hingga respons terhadap lingkungan.
Moms & Dads bisa mengenalinya melalui beberapa tanda berikut.
1. Anak Menjadi Lebih Rewel atau Mudah Menangis
Anak yang biasanya ceria bisa tiba-tiba menangis, merengek, atau sulit ditenangkan.
Hal sederhana yang biasanya tidak menjadi masalah pun bisa memicu tangisan ketika anak sudah merasa kewalahan.
Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Anak Tantrum Tanpa Panik dan Marah-Marah
2. Anak Menolak Diajak Berinteraksi
Anak mungkin tidak mau menjawab pertanyaan, menolak bermain, atau memilih menjauh dari orang lain.
Respons ini bisa menunjukkan bahwa anak membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan energinya.
3. Anak Menutup Telinga, Memalingkan Wajah, atau Menghindar
Ketika rangsangan terasa berlebihan, anak mungkin menutup telinga saat mendengar suara keras atau memalingkan wajah dari lingkungan yang ramai.
Sebagian anak juga berusaha meninggalkan tempat yang membuatnya tidak nyaman.
4. Anak Sulit Fokus atau Terlihat Gelisah
Overstimulasi bisa membuat anak kesulitan berkonsentrasi pada satu kegiatan.
Anak mungkin terus bergerak, mudah terdistraksi, atau tidak mampu menyelesaikan aktivitas yang biasanya dapat dilakukan dengan baik.
5. Anak Menjadi Lebih Mudah Marah
Anak yang mengalami overstimulasi bisa menunjukkan ledakan emosi, seperti berteriak, membantah, atau marah karena hal kecil.
Hal ini dapat terjadi karena anak sedang kesulitan mengelola perasaan dan rangsangan yang diterimanya.
6. Anak Tampak Lelah tetapi Sulit Beristirahat
Meski terlihat kelelahan, sebagian anak justru sulit duduk tenang atau tertidur setelah menjalani aktivitas yang terlalu padat.
Mereka mungkin terus bergerak, merengek, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menenangkan diri.
7. Anak Mengalami Perubahan Pola Tidur atau Makan
Pada beberapa anak, overstimulasi dapat disertai perubahan kebiasaan tidur atau makan.
Misalnya, anak menjadi lebih sulit tidur setelah aktivitas yang ramai atau lebih pilih-pilih makanan saat merasa kewalahan.
Namun, perubahan tersebut juga bisa disebabkan faktor lain.
Jika berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak.
Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Mengalami Overstimulasi?
Cara mengatasi overstimulasi pada anak adalah dengan mengurangi rangsangan, memberikan waktu istirahat, dan membantu anak merasa nyaman kembali.
Berikut langkah yang bisa Moms & Dads lakukan.
1. Bawa Anak ke Tempat yang Lebih Tenang
Ketika anak mulai menunjukkan tanda overstimulasi, ajak mereka menjauh dari keramaian.
Pilih tempat dengan suasana lebih tenang, seperti kamar tidur atau ruangan yang tidak terlalu ramai.
Lingkungan yang nyaman dapat membantu anak menenangkan diri tanpa harus menghadapi terlalu banyak rangsangan.
2. Kurangi Sumber Rangsangan di Sekitarnya
Matikan televisi, kecilkan volume musik, atau redupkan lampu apabila diperlukan.
Moms & Dads juga bisa menghentikan sementara aktivitas yang membuat anak kewalahan.
Dengan mengurangi sumber rangsangan, anak memiliki kesempatan untuk merasa lebih nyaman.
3. Berikan Waktu untuk Anak Beristirahat
Jangan langsung mengajak anak kembali bermain atau belajar ketika mereka masih terlihat lelah.
Berikan kesempatan untuk tidur, duduk santai, atau melakukan kegiatan ringan sesuai kebutuhannya.
Moms & Dads juga perlu memperhatikan jadwal harian agar anak memiliki waktu istirahat di antara aktivitas.
4. Temani Anak tanpa Memaksanya Berinteraksi
Saat overstimulasi, anak mungkin belum siap berbicara atau menjelaskan perasaannya.
Moms & Dads cukup menemani dengan tenang dan menunjukkan bahwa anak berada di tempat yang aman.
Hindari memberikan terlalu banyak pertanyaan atau memaksa anak segera berhenti menangis.
5. Bantu Anak Melakukan Aktivitas yang Menenangkan
Ajak anak melakukan kegiatan sederhana yang mereka sukai, seperti membaca buku cerita, menggambar, atau mendengarkan musik lembut.
Untuk anak yang lebih besar, Moms & Dads juga bisa mengajaknya mencoba latihan pernapasan perlahan.
Namun, jangan memaksakan aktivitas tertentu.
Perhatikan respons anak dan pilih kegiatan yang membuatnya nyaman.
6. Berikan Jeda Sebelum Melanjutkan Aktivitas
Setelah anak mulai tenang, jangan terburu-buru mengajaknya kembali mengikuti kegiatan yang sama.
Berikan waktu untuk memulihkan energi dan tanyakan apakah mereka sudah siap melanjutkan aktivitas.
Jika anak masih terlihat lelah, tidak masalah untuk mengurangi atau menjadwalkan ulang kegiatan tersebut.
Baca Juga: Kenapa Anak Suka Marah? Ini Penyebab & 8 Cara Mengatasinya
Stimulasi yang tepat bukan soal seberapa banyak, tapi seberapa sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak.
Nah, salah satu stimulasi yang paling sayang kalau sampai terlewat di usia ini adalah bahasa Inggris.
Mumpung otak anak masih sangat mudah menyerap bahasa baru secara natural, ini adalah momen yang nggak akan bisa diulang lagi.
Di kursus bahasa Inggris Sparks English, anak bisa belajar bahasa Inggris melalui metode fun & interactive learning dengan program yang disesuaikan dengan usia dan level kemampuan mereka.
Mulai dari pengenalan kosakata hingga latihan speaking, kegiatan belajar dirancang agar anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa Inggris sekaligus membangun rasa percaya diri.
Apalagi biaya per kelasnya ekonomis, mulai Rp70 ribuan bisa dapat kelas semi-private dibimbing native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT.
Lebih dari 25.000 students di Indonesia sudah membuktikan hasilnya, dalam 6 bulan mereka lebih percaya diri berbahasa Inggris bersama Sparks English, saatnya giliran si kecil!
Penasaran cocok atau tidak dengan anak? Coba free trial class sekarang dan jangan lewatkan diskon Rp1 jutanya karena kuota terbatas!



