Moms & Dads yang punya balita pasti sudah cukup akrab dengan drama anak tantrum.
Anak tiba-tiba menangis keras di taman, berteriak saat diminta berhenti bermain, atau berguling-guling di lantai mal karena keinginannya tidak terpenuhi.
Di situasi seperti ini, orang tua sering bingung harus merespons seperti apa.
Dalam artikel ini kita akan bahas apa itu tantrum, apa penyebabnya, dan bagaimana cara mengatasi anak tantrum dengan tepat.
- Apa Itu Tantrum pada Anak Usia Dini?
- Usia Berapa Anak Paling Sering Tantrum?
- Penyebab Anak Tantrum yang Perlu Orang Tua Pahami
- Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Sedang Terjadi
- 1. Tetap Tenang dan Jaga Emosi Orang Tua
- 2. Validasi Perasaan Anak Sebelum Apa Pun
- 3. Jangan Mengabulkan Keinginan Saat Tantrum Berlangsung
- 4. Bawa Anak ke Tempat yang Lebih Tenang
- 5. Biarkan Anak Meluapkan Emosi Selama Aman
- 6. Gunakan Sentuhan untuk Menenangkan
- 7. Alihkan Perhatian dengan Cara yang Tepat
- 8. Hindari Berteriak, Memukul, atau Memberi Ancaman
- 9. Tunggu Sampai Reda, Baru Bicara
- Cara Mencegah Tantrum Sejak Dini
Apa Itu Tantrum pada Anak Usia Dini?
Tantrum adalah ledakan emosi yang muncul ketika anak merasa marah, kecewa, lelah, atau frustrasi.
Dalam banyak kasus, ini juga terjadi karena anak belum mampu menyampaikan keinginannya dengan kata-kata.
Bentuk tantrum bisa berbeda-beda, ada anak yang menangis keras, berteriak, memukul, melempar barang, atau bahkan menjatuhkan diri ke lantai.
Menurut Cleveland Clinic, tantrum sering berkaitan dengan rasa frustrasi terutama saat keinginan anak tidak sesuai dengan kemampuan atau situasi yang dihadapinya.
Usia Berapa Anak Paling Sering Tantrum?
Tantrum paling sering terjadi pada toddler berusia 2–3 tahun.
Menurut American Academy of Pediatrics, tantrum biasanya mulai muncul sekitar usia 12–18 bulan, dan memburuk pada usia 2–3 tahun. Lalu mulai berkurang setelah anak semakin mampu memakai kata-kata untuk menyampaikan keinginan dan kebutuhannya.
Pada usia 2–3 tahun ini, anak sedang berada di fase ingin mandiri, atau dikenal sebagai fase threenager.
Anak mulai banyak keinginan, tetapi kemampuan bahasa dan kontrol emosinya masih berkembang.
Misalnya, saat ingin memakai sepatu sendiri namun ia kesulitan, anak mungkin belum bisa berkata, “Aku kesal karena tidak bisa.”
Akhirnya rasa frustrasilah yang keluar dalam bentuk teriakan.
Penyebab Anak Tantrum yang Perlu Orang Tua Pahami
Tantrum mungkin terlihat muncul secara tiba-tiba.
Padahal biasanya, ada pemicu yang membuat anak merasa kewalahan.
Beberapa penyebab anak tantrum yang sering terjadi antara lain:
- Anak merasa lapar atau kelelahan
- Anak mengantuk, tapi kondisi sekitarnya sedang ramai sehingga sulit tenang
- Anak merasa kecewa karena keinginannya tidak dituruti
- Anak ingin melakukan sesuatu sendiri tetapi belum mampu
- Anak sedang berada di tempat ramai, bising, atau terlalu banyak stimulasi
- Anak kesulitan menghadapi perubahan rutinitas
- Anak belum memahami konsep menunggu atau bergiliran
- Anak merasa takut, cemas, atau tidak nyaman tetapi belum bisa mengatakannya
Tantrum sering kali muncul karena kebutuhan dasar anak belum terpenuhi, seperti lapar, lelah, atau overstimulasi.
Karena itu, orang tua perlu melihat situasi secara utuh, bukan hanya melihat perilaku anak yang tampak saja.
Baca Juga: 4 Tipe Karakter Anak dan 10 Karakter Positif yang Perlu Ditanamkan
Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Sedang Terjadi
Saat tantrum berlangsung, anak biasanya belum siap menerima nasihat panjang.
Jadi, respons pertama orang tua sebaiknya fokus pada keselamatan, ketenangan, dan validasi perasaan anak.
Berikut beberapa cara menghadapi anak tantrum yang bisa dipraktikkan:
1. Tetap Tenang dan Jaga Emosi Orang Tua
Cara mengatasi anak tantrum yang pertama adalah menjaga emosi orang tua dulu.
Memang tidak mudah, apalagi jika tantrum terjadi di tempat umum atau saat orang tua sedang lelah.
Namun, jika orang tua ikut panik atau emosi, suasana malah akan semakin sulit dikendalikan.
Cobalah tarik napas perlahan, turunkan nada suara, dan berikan gestur tubuh yang tidak terlihat mengintimidasi anak.
2. Validasi Perasaan Anak Sebelum Apa Pun
Validasi bukan berarti menyetujui semua perilaku anak.
Sebaliknya, validasi adalah membantu anak memahami bahwa perasaannya bisa dimengerti dan diterima.
Anak boleh merasa marah, sedih, atau kecewa. Namun, ada batasan dalam perilakunya.
Misalnya, “Papa tahu kamu kecewa karena belum boleh beli mainan.”
Setelah itu, orang tua bisa memberi batasan, “Tapi kita tidak memukul.”
Dengan cara ini anak belajar bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan.
3. Jangan Mengabulkan Keinginan Saat Tantrum Berlangsung
Saat anak menangis keras, orang tua sering tergoda untuk memberikan apa yang anak inginkan agar tantrumnya cepat berhenti.
Namun, jika ini dilakukan terus-menerus, anak bisa belajar bahwa tantrum adalah cara untuk mendapatkan sesuatu.
Misalnya, anak tantrum karena ingin dibelikan permen.
Jika orang tua akhirnya memberikan permen, anak bisa belajar bahwa tantrum dapat membuatnya mendapatkan permen.
Jadi, tetaplah berlakukan aturan dengan konsisten, dan jangan mengubahnya hanya karena anak tantrum.
4. Bawa Anak ke Tempat yang Lebih Tenang
Jika tantrum terjadi di tempat ramai, anak bisa mengalami overstimulasi yang membuat emosinya semakin sulit mereda.
Orang tua bisa membawa anak ke tempat yang lebih tenang terlebih dahulu, misalnya sudut ruangan.
Saat memindahkan anak, lakukan dengan tenang.
Hindari menarik tangan anak dengan kasar atau memarahinya di depan banyak orang.
5. Biarkan Anak Meluapkan Emosi Selama Aman
Tidak semua tangisan harus langsung dihentikan.
Kadang, anak memang butuh waktu untuk mengeluarkan emosinya.
Selama ia tidak menyakiti diri sendiri, orang lain, atau merusak barang, beri ruang baginya untuk menangis.
Orang tua bisa duduk di dekat anak dan tetap mengawasi, tetapi tidak perlu terus-menerus memberi ceramah.
Kalimat yang bisa digunakan misalnya, “Mama dan Papa akan tunggu sampai kamu tenang dan siap untuk cerita.”
Baca Juga: 5 Cara Mengontrol Emosi pada Anak yang Bisa Orang Tua Coba
6. Gunakan Sentuhan untuk Menenangkan
Jika anak mendekat saat tantrum, coba tawarkan pelukan.
Sebagian anak lebih mudah tenang saat dipeluk atau disentuh dengan lembut oleh orang tuanya.
Sentuhan seperti ini bisa membantu anak merasa tidak sendirian menghadapi emosinya.
Namun, tidak semua anak suka disentuh saat tantrum.
Ada anak yang justru semakin marah ketika dipeluk atau didekati.
Karena itu, selalu perhatikan respons anak.
Jika anak menolak dipeluk, maka beri ia jarak aman dulu sambil tetap mengawasi.
7. Alihkan Perhatian dengan Cara yang Tepat
Mengalihkan perhatian bisa menjadi salah satu cara mengatasi anak tantrum, terutama pada anak yang lebih kecil.
Namun, pengalihan ini perlu dilakukan dengan cara yang tetap menghargai perasaan anak.
Jangan sampai langsung menertawakan atau menganggap emosinya tidak penting.
Salah satu contohnya, orang tua bisa berkata, “Kita lihat burung di luar, yuk!”
Ingatlah untuk mengalihkan perhatian saat emosi anak mulai turun.
Jika dilakukan saat anak masih sangat marah, biasanya anak akan merespons dengan negatif.
8. Hindari Berteriak, Memukul, atau Memberi Ancaman
Berteriak, memukul, atau mengancam mungkin membuat anak diam sesaat.
Namun, cara ini tidak membantu anak belajar mengelola emosi.
Anak justru bisa merasa takut, bahkan berpotensi meniru respons tersebut saat menghadapi rasa marah.
Hindari kalimat seperti, “Diam sekarang juga!” atau “Kamu ini nakal sekali!”
Ganti dengan kalimat yang tegas tetapi tetap aman, seperti “Papa tidak bisa membiarkan kamu terus memukul.”
Tegas tidak harus kasar.
Anak memang butuh batasan, tetapi tetap butuh rasa aman.
9. Tunggu Sampai Reda, Baru Bicara
Saat tantrum sedang di puncak, anak belum bisa menerima nasihat.
Karena itu, tunggu sampai tangisnya mereda.
Setelah anak lebih tenang, baru ajak bicara.
Misalnya, “Besok kalau kamu marah, kamu bisa sampaikan alasannya.
Tidak boleh melempar mainan.”
Pembicaraan setelah tantrum itu penting.
Di sinilah anak mulai belajar mengenali emosi dan mencari cara lain untuk menyampaikan keinginan.
Cara Mencegah Tantrum Sejak Dini
Tantrum tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya.
Namun, orang tua bisa mengurangi frekuensi dan intensitasnya dengan beberapa cara berikut ini:
1. Jaga Rutinitas Harian yang Konsisten
Anak usia dini merasa lebih aman ketika rutinitas hariannya jelas dan bisa diprediksi.
Rutinitas membantu anak tahu kapan waktunya makan, mandi, tidur, bermain, dan belajar.
Misalnya, setelah sarapan, anak bermain atau setelah makan siang, anak tidur siang.
Rutinitas seperti ini membuat anak tidak terlalu sering merasa terkejut dengan perubahan.
2. Kenali dan Hindari Trigger Tantrum Anak
Setiap anak punya trigger tantrum yang berbeda.
Ada yang sulit berada dalam keramaian, ada juga yang selalu meledak saat harus berhenti bermain.
Coba amati pola tantrum anak.
Kapan, di mana, dan dalam situasi apa ini sering terjadi.
Mengenali trigger digunakan agar orang tua bisa membuat antisipasi, misalnya, membawa camilan saat bepergian jika anak mudah tantrum karena lapar.
3. Ajarkan Kosakata Emosi Sejak Usia Dini
Salah satu penyebab tantrum adalah anak belum bisa menyampaikan perasaan.
Dengan kata lain, anak yang punya kosakata emosi lebih mudah menyampaikan perasaannya.
Oleh karena itu, ajarkan anak-anak kata-kata seperti marah, sedih, kecewa, takut, lelah, bosan, atau senang.
Orang tua bisa mengajak anak menggunakannya dalam percakapan sehari-hari seperti “Kamu senang ya karena bisa menyusun balok sendiri?”, “Kamu takut ya kalau ada suara petir?”, atau “Kamu kaget tiba-tiba ada cicak?”
Dengan mengenali nama emosi, anak perlahan belajar mengganti tangisan dengan kata-kata
Baca Juga: Perkembangan Bahasa Anak dan 6 Cara Mendukungnya Sejak Dini
4. Beri Perhatian Positif yang Cukup Setiap Hari
Sebagian tantrum muncul karena anak mencari perhatian.
Jika anak hanya mendapat perhatian saat menangis, marah, atau berbuat salah, dia bisa mengenali perbuatan itu sebagai pola untuk mendapat perhatian.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk memberi perhatian positif saat anak sedang tenang dan berperilaku baik.
Perhatian ini dapat membuat anak merasa dilihat.
Ia juga belajar bahwa perilaku baik membuatnya mendapat respons hangat dari orang tua.
5. Persiapkan Anak Sebelum Transisi atau Perubahan
Banyak tantrum terjadi saat anak harus berpindah aktivitas, misalnya dari bermain ke mandi atau taman bermain pulang ke rumah.
Otak anak butuh waktu untuk beralih, maka beri peringatan sebelum transisi.
Contohnya, “10 menit lagi kita pulang ya!”, “Setelah lagu ini selesai, TV-nya kita matikan ya!”, atau “Kamu boleh main 5 menit lagi, lalu kita akan mandi.”
Transition warning seperti ini dapat membantu anak bersiap secara mental dan mengurangi tantrum ketika waktu transisi tiba.
Tantrum memang melelahkan, tapi dibalik itu semua ada anak yang sedang belajar mengenali perasaan dan mengembangkan kemampuan komunikasinya.
Banyak orang tua menyesal tidak memanfaatkan fase ini untuk stimulasi bahasa Inggris, padahal di usia inilah bahasa paling mudah dan natural diserap.
Itulah kenapa Sparks English hadir untuk membantu Moms & Dads memberikan stimulasi bahasa Inggris yang tepat di fase terpenting si kecil.

Di les bahasa Inggris Sparks English, anak belajar vocabulary, phonics, listening, reading, hingga speaking lewat roleplay, flash card, dan aktivitas interaktif lainnya.
Didampingi native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT dalam kelas semi-private, setiap anak punya banyak kesempatan speaking agar terbiasa berbicara dengan accent yang natural sejak dini.
Lebih dari 25.000 students lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan, sekarang giliran si kecil!
Yuk, coba kelas trial gratisnya dan klaim promo sebelum kuota terbatas habis!


