Saat si kecil memasuki usia 3 tahun, apakah Moms & Dads merasa ia jadi sering mengamuk hanya karena alasan sepele?
Misalnya, karena warna piringnya tidak sesuai keinginan atau tiba-tiba menolak dibantu, meski tampak kesulitan memakai sepatu.
Kalau iya, itu tanda si kecil baru saja lulus dari fase terrible two dan memasuki fase threenager!
Fase ini adalah ketika anak 3 tahun menjadi terlihat keras kepala, mudah marah, dan punya keinginan yang sangat kuat, seakan-akan seperti remaja.
Tapi tenang, threenager bukan berarti anak nakal, lho!
Di artikel ini, kita akan bahas threenager artinya apa, penyebab, ciri-ciri, dan cara menghadapinya dengan efektif.
Disimak sampai selesai, ya, Moms & Dads!
- Apa Itu Threenager dan dari Mana Istilah Ini Berasal?
- Apa Penyebab Threenager?
- Ciri-Ciri Threenager yang Perlu Dikenali Orang Tua
- Cara Menghadapi Anak Threenager dengan Efektif
- 1. Tetap Tenang karena Emosi Orang Tua Menular ke Anak
- 2. Berikan Pilihan Terbatas
- 3. Validasi Emosi Sebelum Koreksi Perilaku
- 4. Jaga Konsistensi Rutinitas Harian
- 5. Tetapkan Batasan yang Jelas
- 6. Beri Ruang untuk Eksplorasi dan Kemandirian
- 7. Gunakan Bahasa yang Sederhana
- 8. Sediakan Waktu Khusus Tanpa Distraksi
- 9. Jaga Kebutuhan Dasar
- 10. Apresiasi Perilaku Positif Secara Spesifik
Apa Itu Threenager dan dari Mana Istilah Ini Berasal?
‘Threenager’ berasal dari kata three yang berarti ‘tiga’ dan teenager yang berarti ‘remaja’.
Istilah informal ini banyak digunakan untuk menyebut anak usia 3 tahun yang menunjukkan perilaku mirip remaja, seperti ingin banyak mengatur, mudah menolak, dan punya emosi yang kuat.
Anak mulai punya keinginan kuat, mood cepat berubah, dan ingin menentukan banyak hal sendiri.
Namun, kemampuan anak untuk mengatur emosi pada usia itu belum sematang anak yang lebih besar. Karena itu, perilaku tantrumnya bisa muncul lebih intens.
Apa Penyebab Threenager?
Fase threenager biasanya muncul karena anak sedang mengalami banyak perubahan sekaligus.
Menurut Raising Children Network, anak usia 3–4 tahun memang mulai menunjukkan perkembangan emosi, pertemanan awal, kalimat yang lebih panjang, memori yang lebih kuat, dan keterampilan fisik baru.
Keinginan mandiri sudah muncul, namun kemampuan motorik dan regulasi emosi yang belum stabil bisa membuat anak frustrasi saat apa yang ia kerjakan tak sesuai harapan.
Contohnya, ia ingin memakai baju sendiri, tetapi kesulitan memakai kancing hingga merasa frustrasi dan tantrum.
Di situasi lain, anak mungkin merasa marah, tetapi belum bisa menjelaskan, “Aku marah karena mainanku diambil,” sehingga emosinya keluar dalam bentuk teriakan.
Ciri-Ciri Threenager yang Perlu Dikenali Orang Tua
Ciri-ciri threenager bisa berbeda pada setiap anak.
Beberapa ciri di bawah ini adalah yang cukup sering muncul.
1. Sering Berkata “Tidak” untuk Hampir Segalanya
Mau mandi? “Tidak.” Mau makan? “Tidak.” Mau pakai baju? “Tidak.”
Bukan selalu karena anak benar-benar menolak, tetapi karena anak sedang belajar bahwa ia punya keinginan dan pendapat sendiri.
Dengan berkata “tidak”, anak merasa memiliki kontrol atas situasi.
2. Tantrum Lebih Sering
Tantrum adalah salah satu ciri fase threenager yang paling mudah terlihat.
Anak bisa menangis keras, berteriak, duduk di lantai, atau menolak bergerak ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Tantrum biasanya muncul karena anak belum mampu mengelola rasa marah, kecewa, atau frustrasi dengan baik.
3. Keras Kepala dan Ingin Melakukan Segalanya Sendiri
Anak threenager sering ingin melakukan semua hal sendiri.
Ia ingin memakai baju sendiri, menuang susu sendiri, atau mengunci pintu sendiri.
Saat berhasil, ia merasa bangga.
Namun saat gagal, ia bisa langsung marah atau menangis.
Ini terjadi karena anak sedang belajar lebih mandiri dan percaya diri.
4. Suasana Hati Sering Berubah Drastis
Anak bisa tertawa saat bermain, lalu menangis hanya beberapa menit kemudian.
Perubahan mood seperti ini sering membuat orang tua bingung.
Ini terjadi karena kemampuan mereka memahami dan menenangkan emosi masih berkembang.
5. Memiliki Preferensi Kuat dan Tidak Mau Dikompromikan
Pada fase threenager, anak mulai memiliki selera yang sangat spesifik.
Misalnya, ia hanya mau pakai baju warna tertentu, makan roti bentuk tertentu, hingga tidur ditemani boneka tertentu.
Meski kadang preferensi ini terlihat tidak masuk akal bagi orang dewasa, hal kecil ini memberi rasa aman dan kontrol bagi anak.
6. Suka Meniru Perilaku Orang Dewasa
Anak usia 3 tahun sangat aktif meniru, seperti meniru cara orang tua berbicara di telepon, menyapu lantai, memakai tas kerja, atau menegur bonekanya dengan gaya orang dewasa.
Meniru adalah bagian penting dari proses belajar, seperti memahami bahasa, nada bicara, cara merespons, hingga ekspresi.
7. Sering Membantah dan Menantang Aturan
Anak threenager mulai lebih sering bertanya, “Kenapa?” atau berkata, “Aku nggak mau.”
Ini bisa terasa seperti pembangkangan.
Padahal, sering kali anak sedang menguji aturan itu sendiri.
Ia ingin tahu apakah aturan tetap berlaku jika ia menangis, tantrum, atau bernegosiasi.
Misalnya, ia ingin menunda waktu tidur dengan meminta satu cerita lagi berkali-kali.
8. Rasa Ingin Tahu Meledak-ledak
Fase threenager juga ditandai dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.
Anak bisa bertanya hal yang sama berulang kali.
Ia juga mencoba membuka laci, menekan tombol, menuang air, atau melihat apa yang terjadi jika sesuatu dijatuhkan.
Rasa ingin tahu ini juga tanda bahwa anak sedang belajar hubungan sebab-akibat dari banyak hal di sekitarnya.
Di fase threenager, rasa ingin tahu anak sedang berada di puncaknya.
Setiap pertanyaan, setiap eksplorasi, setiap hal baru yang mereka temui adalah bukti bahwa otak si kecil sedang bekerja keras menyerap dunia di sekitarnya.
Di sinilah bahasa Inggris paling mudah masuk karena otak anak sangat mudah menyerap bahasa baru secara natural, jauh lebih mudah dibanding ketika sudah besar.
Jangan sampai masa golden age ini dilewatkan begitu saja.

Di Sparks English, anak belajar bahasa Inggris dengan cara yang paling mereka sukai, lewat fun games, storytelling, roleplay, hingga mini project yang seru.
Didampingi tutor bersertifikasi Cambridge TKT dan native teacher di kelas semi-private, setiap anak belajar dengan cara yang paling sesuai untuknya.
Lebih dari 25.000 students berhasil lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan, saatnya si kecil jadi yang berikutnya!
Coba free trial class sekarang selagi ada promo yang bisa diklaim!
Cara Menghadapi Anak Threenager dengan Efektif
Menghadapi anak threenager memang punya tantangan tersendiri.
Namun, yang terpenting, Moms & Dads bisa membantu anak memahami emosi, mengikuti aturan, dan merasa tetap diperhatikan meski keinginannya tidak selalu dituruti.
1. Tetap Tenang karena Emosi Orang Tua Menular ke Anak
Saat anak menangis atau berteriak, respons orang tua sangat menentukan.
Jika orang tua ikut berteriak, anak cenderung makin sulit untuk tenang.
Namun, sebaliknya, jika orang tua menurunkan suara, mengambil napas, dan berbicara singkat, anak akan mencontohnya sebagai cara meredakan emosi.
2. Berikan Pilihan Terbatas
Anak threenager ingin merasa punya kontrol.
Karena itu, pilihan terbatas bisa sangat membantu.
Namun, hindari memberi pilihan yang sebenarnya tidak boleh ditolak.
Misalnya, jangan bertanya, “Mau mandi atau nggak?”
Lebih baik katakan, “Kamu mau mandi pakai sabun kuning atau sabun hijau?”
Pilihan terbatas ini juga membuat anak tetap memiliki kendali, tetapi dalam batas yang aman.
3. Validasi Emosi Sebelum Koreksi Perilaku
Saat anak sedang marah, otaknya belum siap menerima banyak penjelasan.
Karena itu, validasi emosi perlu dilakukan terlebih dulu.
Misalnya, “Kamu sedang kecewa karena mainanmu harus dibereskan, ya?”
Setelah anak mulai tenang, barulah orang tua bisa memberi arahan, “Kita boleh kecewa, tetapi mainan tetap harus masuk kotak sebelum tidur.”
4. Jaga Konsistensi Rutinitas Harian
Menurut JCC Chicago Early Childhood, rutinitas, jadwal, dan prediktabilitas membantu anak merasa lebih aman serta lebih mudah menjalani transisi harian.
Jika rutinitas berubah mendadak, anak bisa lebih mudah rewel karena belum siap berpindah aktivitas.
Jadi, usahakan jadwal makan, tidur, mandi, dan bermain anak tetap cukup konsisten agar ia lebih mudah memahami alur aktivitas hariannya.
5. Tetapkan Batasan yang Jelas
Anak threenager membutuhkan batasan.
Tanpa batasan, anak justru bisa kesulitan memahami mana yang aman dan tidak.
Batasan sebaiknya dibuat singkat, jelas, dan konsisten, misalnya, “Tangan dipakai untuk menyentuh dengan lembut, bukan memukul teman.”
Atau, “Kalau mau makan camilan, kita duduk dulu di meja makan supaya tidak berceceran.”
Jika anak melanggar, berikan konsekuensi logis.
Pastikan batasan tersebut berlaku secara konsisten.
6. Beri Ruang untuk Eksplorasi dan Kemandirian
Ketika anak sedang ingin mandiri, beri ruang untuk mencoba.
Misalnya, dengan melibatkan anak dalam aktivitas harian yang aman, seperti memilih pakaian yang akan dipakai atau menaruh sepatu di rak.
Aktivitas seperti ini membuat anak merasa dipercaya.
7. Gunakan Bahasa yang Sederhana
Anak usia 3 tahun belum bisa memproses instruksi panjang seperti halnya orang dewasa.
Karena itu, gunakan kalimat pendek dan jelas.
Daripada berkata, “Kamu jangan memberantakkan terus, karena nanti rumah jadi kotor dan Mama capek.”
Lebih baik katakan, “Mainannya masuk ke kotak dulu,”
Setelah anak melakukannya, baru beri arahan selanjutnya.
Instruksi bertahap seperti ini akan lebih mudah dipahami anak.
8. Sediakan Waktu Khusus Tanpa Distraksi
Kadang kala anak menjadi lebih rewel karena ingin perhatian.
Bukan berarti orang tua harus menemani sepanjang hari.
Namun, beri anak waktu khusus yang benar-benar fokus bersamanya.
Misalnya, luangkan 10–15 menit untuk bermain dengannya tanpa terganggu gadget, televisi, maupun pekerjaan lainnya.
Kegiatan seperti ini bisa membangun koneksi emosional antara orang tua dengan anak.
Baca Juga: Pentingnya Bonding Bareng Anak dan 5 Cara Tepat Membangunnya
9. Jaga Kebutuhan Dasar
Tantrum dan rewel sering lebih mudah muncul saat anak lapar, mengantuk, atau terlalu lelah.
Jadi, sebelum menyimpulkan anak susah diatur, cek dulu pemenuhan kebutuhan dasarnya.
Apakah ia sudah makan? Apakah istirahatnya cukup? Atau apakah ia terlalu lama berada di tempat ramai?
Pastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi setiap hari.
10. Apresiasi Perilaku Positif Secara Spesifik
Anak perlu tahu perilaku apa yang sudah benar.
Jadi, pujian sebaiknya dibuat spesifik.
Daripada hanya berkata, “Kamu pintar!”, coba katakan, “Papa senang kamu tadi menaruh sepatu di rak,” atau, “Tadi Papa tahu kamu marah, tapi kamu tidak memukul, itu bagus sekali!”
Pujian seperti ini membantu anak memahami perilaku baik yang perlu diulang.
Baca Juga: 13 Cara Mendidik Anak Usia 3 Tahun agar Cerdas Optimal
Fase threenager memang penuh tantangan, tapi di balik semua drama itu ada anak yang rasa ingin tahunya sedang meledak-ledak dan siap menyerap hal baru, termasuk bahasa Inggris.
Banyak orang tua menyesal tidak memanfaatkan fase ini lebih baik, padahal kebiasaan yang terbentuk di usia 3 tahun cenderung bertahan jauh lebih lama.
Sparks English hadir sebagai les bahasa Inggris anak usia 3-15 tahun dengan kurikulum CEFR dan metode belajar sesuai tumbuh kembang anak.
Setiap kelas akan didampingi tutor profesional dan native teacher sehingga melatih speaking dan accent anak lebih natural sejak dini.
Dengan biaya mulai dari Rp70 ribuan per kelas, Moms & Dads bisa memberikan pengalaman belajar bahasa Inggris yang sudah dipercaya oleh 25.000+ students lainnya.
Yuk, coba free trial class sekarang dan dukung perkembangan si kecil sejak usia emasnya!


