Moms & Dads mungkin sudah sering mendengar istilah terrible two, tapi apa sudah tahu ada juga istilah terrible three?
Saat anak memasuki usia 3 tahun, Moms & Dads mungkin berpikir drama anak usia 2 tahun sudah usai.
Kenyataannya, drama ini masih berlanjut dan bahkan naik level ke terrible three!
Lalu, terrible three artinya apa sih? Dan kenapa fase itu bisa terjadi?
Mari kita ulas semuanya dalam artikel ini.
- Apa Itu Fase Terrible Three?
- Mengapa Fase Terrible Three Terjadi?
- Apa yang Terjadi pada Perkembangan Anak Usia 3 Tahun?
- Ciri-Ciri Fase Terrible Three
- Cara Menghadapi Fase Terrible Three
- 1. Dengarkan Perasaan Anak Terlebih Dahulu
- 2. Berikan Pilihan yang Terbatas
- 3. Terapkan Aturan yang Konsisten
- 4. Ajarkan Cara Mengungkapkan Emosi Lewat Kata
- 5. Hindari Perdebatan yang Tidak Perlu
- 6. Berikan Contoh Cara Menyelesaikan Konflik
- 7. Berikan Apresiasi untuk Perilaku Positif
- 8. Bangun Rutinitas yang Konsisten
Apa Itu Fase Terrible Three?
Fase terrible three adalah istilah populer untuk menggambarkan perilaku menantang yang biasanya muncul pada anak sekitar usia 3 tahun.
Fase ini ditandai dengan meningkatnya keinginan anak untuk mandiri, sering menolak arahan orang tua, dan masih mudah mengalami ledakan emosi ketika keinginannya terhambat.
Dalam istilah populer lainnya, fase ini juga akrab disebut dengan istilah threenager, gabungan dari kata ‘three’ dan ‘teenager’ karena perilakunya yang mirip remaja dalam versi mini.
Meski disebut terrible, bukan berarti anak jadi nakal.
Istilah ini lebih menggambarkan gejolak perkembangan emosi dan kemandirian yang wajar dialami anak seusianya.
Misalnya, anak yang tadinya mau saja dipakaikan sepatu apa pun, sekarang tiba-tiba ngambek kalau bukan sepatu favoritnya yang dipakaikan.
Meski begitu, tidak berarti semua anak usia 3 tahun pasti mengalami fase terrible three dengan pola dan intensitas yang sama.
Ada anak yang melewati fase ini dengan cukup tenang, ada juga yang lebih intens.
Mengapa Fase Terrible Three Terjadi?
Fase terrible three umumnya terjadi karena ada lonjakan perkembangan pada anak di banyak area sekaligus, mulai dari bahasa, keinginan mandiri, hingga cara berpikir.
Sayangnya, perkembangan pesat ini belum dibarengi kematangan bagian otak yang mengatur kontrol diri dan regulasi emosi.
Meski anak tahu betul apa yang diinginkan, ia belum cukup mampu untuk menyampaikan atau mengendalikan reaksinya dengan tenang.
Misalnya ketika anak ingin menyusun balok sendiri tanpa bantuan.
Namun, begitu baloknya roboh, ia langsung menangis keras atau melempar mainan.
Ini terjadi bukan karena anak nakal, ia hanya belum tahu cara mengungkapkan kekecewaannya lewat kata-kata.
Kombinasi antara keinginan besar dan kemampuan mengelola diri yang belum matang inilah yang membuat fase terrible three terasa lebih menantang dibanding fase-fase sebelumnya.
Apa yang Terjadi pada Perkembangan Anak Usia 3 Tahun?
Untuk memahami fase terrible three lebih dalam, ada baiknya Moms & Dads mengenal dulu apa saja yang sebenarnya sedang berkembang pesat di usia ini.
1. Perkembangan Bahasa Semakin Pesat
Di usia 3 tahun, anak mulai bisa merangkai kalimat yang lebih panjang, bertanya kenapa berkali-kali, dan mengikuti obrolan sederhana dengan orang dewasa.
Menurut CDC, anak usia 3 tahun umumnya sudah dapat melakukan percakapan dengan sedikitnya dua kali pertukaran respons, mengajukan pertanyaan sederhana, dan menyebutkan tindakan yang terlihat pada gambar atau buku.
2. Anak Ingin Lebih Mandiri
Anak mulai ingin melakukan banyak hal sendiri, mulai dari memakai baju, menuangkan air minum, sampai memilih baju yang akan dipakai ke sekolah.
Sebuah studi dari University of Cambridge menemukan bahwa kemampuan anak untuk bertindak demi mencapai suatu tujuan mulai terlihat sekitar usia 2,5–3 tahun.
Artinya, keinginan melakukan banyak hal sendiri yang sering muncul bukan sekadar keras kepala, tapi tanda otak anak sedang belajar mengejar tujuannya sendiri.
3. Emosi Masih Belum Stabil
Anak bisa tertawa riang, lalu tiba-tiba menangis kencang hanya karena gelasnya berwarna berbeda dari biasanya.
Menurut riset dari Center on the Developing Child, Harvard University, kemampuan menahan diri, menyesuaikan diri dengan perubahan, dan mengelola emosi berkembang bertahap seiring makin matangnya bagian otak yang disebut korteks prefrontal.
Jadi, saat anak “meledak” karena hal yang menurut kita sepele, itu bukan berarti ia sengaja berulah, melainkan tanda kemampuan mengelola emosinya memang masih dalam proses berkembang.
4. Imajinasi Mulai Berkembang
Di usia ini, anak mulai senang bermain pura-pura, misalnya berperan jadi kucing, dokter-dokteran, atau mengajak boneka mengobrol seolah nyata.
Imajinasi yang berkembang ini jadi modal penting untuk kreativitas anak ke depannya.
Tapi di sisi lain, batas antara dunia nyata dan khayalannya juga masih tipis, misalnya anak jadi benar-benar takut karena membayangkan ada monster di bawah tempat tidur, atau ngambek kalau permainan pura-puranya diganggu karena baginya itu terasa sungguhan.
5. Kemampuan Sosial Mulai Terbentuk
Anak mulai memperhatikan teman sebaya dan ingin ikut bermain bersama, meski masih sering rebutan mainan atau belum lancar bergiliran.
Kemampuan bergaul setiap anak tentu berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda.
Semakin sering diberi kesempatan berinteraksi dengan anak lain seusianya, kemampuan ini biasanya akan semakin terasah.
Semua perkembangan pesat yang terjadi di fase terrible three menandai bahwa otak si kecil sedang berada di puncak kemampuannya dalam menyerap hal baru, termasuk menyerap bahasa asing seperti bahasa Inggris.
Sayangnya, periode yang kerap disebut golden age ini hanya terjadi satu kali dalam hidup.
Begitu periodenya lewat, proses belajar bahasa baru akan butuh usaha yang jauh lebih besar.
Banyak orang dewasa menyesal karena baru mengenal bahasa Inggris saat sudah besar sehingga butuh tenaga dan waktu ekstra untuk bisa benar-benar lancar berbahasa Inggris.
Jangan sampai si kecil menghadapi penyesalan yang sama di kemudian hari!

Salah satu cara memanfaatkan momen emas ini adalah mengenalkan bahasa Inggris lewat cara yang menyenangkan, seperti di Sparks English!
Sparks English tahu metode paling efektif agar anak usia 3–15 tahun bisa lancar bahasa Inggris sejak kecil!
Metodenya fun dan interactive learning dengan kurikulum berbasis CEFR, jadi progres kemampuan anak jelas dan terukur mengikuti standar level internasional.
Kelasnya semi-private, dibimbing langsung native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT dengan biaya kursus mulai Rp70 ribuan aja.
Sudah lebih dari 25.000 students buktikan makin lancar bahasa Inggris dalam waktu 6 bulan bersama Sparks English!
Ayo coba free trial class sekarang dan klaim diskonnya selagi promonya masih berlaku!
Ciri-Ciri Fase Terrible Three
Ciri-ciri anak yang memasuki fase terrible three di antaranya lebih sering berdebat, mudah frustrasi saat keinginan tidak terpenuhi, dan ingin mengatur pilihannya sendiri.
1. Lebih Sering Berdebat atau Menolak
Anak jadi lebih sering menolak untuk hal-hal yang sebelumnya dijalani tanpa masalah, misalnya mandi, gosok gigi, atau memakai jaket.
Bahkan, ia bisa menolak bukan karena benar-benar tidak suka, tapi sekadar ingin merasa punya kendali atas keputusannya sendiri.
2. Mudah Frustrasi Saat Keinginannya Tidak Terpenuhi
Begitu keinginannya tidak segera terpenuhi, anak bisa langsung merengek, menghentakkan kaki, atau menangis keras.
Reaksi ini muncul karena ia belum punya cara lain untuk menyalurkan rasa kecewanya selain lewat emosi yang meluap.
3. Ingin Mengatur Pilihannya Sendiri
Mulai dari baju, sendok makan, sampai rute jalan kaki ke taman, bahkan hal-hal yang menurut orang dewasa tidak terlalu penting, anak ingin ikut menentukan.
Keinginan ini sebenarnya caranya menunjukkan rasa percaya diri dan ingin dianggap mampu memutuskan sesuatu sendiri.
4. Emosi Cepat Berubah
Anak bisa tertawa lepas beberapa menit, lalu tiba-tiba merajuk karena hal yang tampak sepele bagi orang dewasa.
Perubahan suasana hati yang cepat ini wajar terjadi karena anak masih belajar mengenali dan mengelola berbagai emosi yang ia rasakan.
5. Mengalami Tantrum Lebih dari Terrible Two
Beberapa anak justru menunjukkan tantrum yang lebih intens di usia 3 tahun dibanding usia 2 tahun, karena keinginan dan rasa mandirinya sudah jauh lebih besar.
Namun, hal tersebut hanya dapat terjadi pada sebagian anak.
Bukan berarti semua anak pasti mengalami tantrum yang lebih parah di usia 3 tahun dibanding 2 tahun, karena perkembangan setiap anak berbeda-beda.
Cara Menghadapi Fase Terrible Three
Cara menghadapi anak dalam fase terrible three sebenarnya bisa dimulai dengan hal sederhana, seperti mendengarkan perasaan anak terlebih dahulu, memberikan pilihan yang terbatas, atau menerapkan aturan yang konsisten.
1. Dengarkan Perasaan Anak Terlebih Dahulu
Sebelum buru-buru memberi solusi, coba akui dulu perasaannya, misalnya “Adik kesal, ya, karena mainannya rusak?”
Anak yang merasa didengar biasanya lebih mudah tenang dibanding yang langsung diberi larangan atau nasihat panjang.
2. Berikan Pilihan yang Terbatas
Alih-alih bertanya “mau pakai baju apa?”, coba tawarkan dua pilihan saja, misalnya “mau baju kuning atau baju biru?”
Cara ini memberi ruang bagi anak untuk merasa punya kendali, tanpa membuat situasi jadi terlalu terbuka dan membingungkan.
3. Terapkan Aturan yang Konsisten
Jika sebuah aturan sudah ditetapkan, misalnya soal waktu screen time, usahakan aturan itu berlaku sama setiap hari.
Aturan yang berubah-ubah justru bisa membuat anak makin sering menguji batasan lewat protes atau tantrum.
4. Ajarkan Cara Mengungkapkan Emosi Lewat Kata
Bantu anak mengenali dan menyebut emosinya, misalnya kesal, sedih, atau kecewa, agar ia tidak hanya mengekspresikan lewat teriakan dan marah-marah.
Semakin sering dilatih, anak akan makin terbiasa menyampaikan perasaan dengan kata-kata.
5. Hindari Perdebatan yang Tidak Perlu
Tidak semua penolakan anak perlu ditanggapi dengan argumen panjang, apalagi untuk hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu prinsipil.
Batasi perdebatan pada hal yang benar-benar penting, seperti keselamatan.
6. Berikan Contoh Cara Menyelesaikan Konflik
Anak belajar banyak dari apa yang dilihatnya, termasuk cara orang dewasa di sekitarnya menghadapi masalah.
Tunjukkan cara menyelesaikan konflik dengan tenang, misalnya saat berbeda pendapat dengan orang lain, agar anak punya contoh nyata untuk ditiru.
7. Berikan Apresiasi untuk Perilaku Positif
Saat anak berhasil menunggu giliran atau mengungkapkan kekesalan dengan kata-kata, jangan lupa berikan apresiasi.
Pujian yang spesifik, misalnya “Kamu keren karena saat kesal tadi kamu menceritakannya ke Mama, bukan marah-marah”, membantu anak memahami perilaku mana yang diharapkan.
8. Bangun Rutinitas yang Konsisten
Rutinitas harian yang teratur, seperti jadwal makan, mandi, dan tidur, membuat anak merasa lebih aman dan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Rasa aman ini pada akhirnya membantu mengurangi frekuensi tantrum yang muncul karena dunia di sekitarnya terlalu sering berubah.
Fase terrible three memang bisa terasa melelahkan, tapi ini bagian normal dari proses tumbuh kembang anak yang sedang terjadi secara pesat.
Di tengah pesatnya tumbuh kembang anak ini, memang paling tepat untuk mulai mengenalkan hal-hal baru pada anak, termasuk bahasa Inggris.
Kemampuan berbahasa Inggris sejak dini bukan cuma soal lancar berbicara, tapi juga bekal penting untuk masa depan anak.
Kemampuan itu bisa dibangun mulai saat ini, salah satunya lewat kursus bahasa Inggris Sparks English!
Kenapa Sparks English adalah pilihan yang tepat?
- Kurikulum CEFR: Materi berbasis standar internasional untuk pembelajaran terarah.
- Terbukti & Terpercaya: 25.000+ anak berhasil lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan.
- Bimbingan Eksklusif: Didampingi native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT dalam kelas semi-private.
- Fasilitas pendukung: Dapat free extra sessions, free student kit, dan lain-lain.
Semua keuntungan ini bisa didapat mulai Rp70 ribuan per kelas!
Yakin masih mau cari kursus bahasa Inggris lain jika di Sparks English sudah dapat high quality tapi harganya masih terjangkau?
Yuk daftarkan si kecil free trial class sekarang, klaim juga promonya selama masih berlangsung!


