Apa Itu Fase Fournado? Ini Ciri dan 8 Cara Menghadapinya!

6 July 2026
fournado adalah

Setelah berjibaku dengan masa-masa menantang di terrible two dan threenager, Moms & Dads mungkin berpikir di usia 4 tahun semuanya akan lebih tenang.

Ternyata, drama itu belum selesai. Anak justru baru masuk ke fase di mana emosinya meledak-ledak, perilaku semakin impulsif, dan punya energi yang tak habis-habis.

Selamat datang di fase fournado! Sebuah babak baru dalam parenting yang bikin Moms & Dads harus kembali menyiapkan energi dan kesabaran ekstra.

Fase fournado adalah istilah yang menggambarkan gejolak emosi dan perilaku anak usia 4 tahun, sekilas mirip threenager tapi dengan intensitas yang berbeda.

Yuk, mengenal fase fournado lebih dekat, mulai dari penyebab, ciri, sampai cara menghadapinya.

 

 

Apa Itu Fase Fournado?

Fase fournado adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku anak usia 4 tahun yang jadi lebih sering membantah, mudah emosi, dan ingin segala hal berjalan sesuai kemauannya sendiri.

Dibanding fase threenager, tantangan fase fournado bisa terasa lebih intens karena anak usia 4 tahun sudah mulai punya kemampuan bahasa dan logika yang lebih matang untuk mendukung “argumen”-nya.

Bukan berarti anak jadi nakal atau susah diatur, fase ini justru pertanda kalau tumbuh kembangnya berjalan sesuai jalur.

 

Mengapa Fournado Terjadi?

Fase fournado bisa terjadi karena banyak aspek perkembangan anak yang berkembang pesat bersamaan.

Anak mulai punya kemampuan berpikir dan berbahasa yang lebih baik, tapi kemampuan mengatur emosinya belum secepat itu berkembang.

Kesenjangan antara keinginan mengungkapkan diri dan kemampuan mengendalikan diri ini membuat fase anak 4 tahun terlihat lebih emosional dan keras kepala.

Rasa ingin tahu dan keinginan untuk mandiri juga semakin besar pada fase ini, sehingga potensi gesekan dengan aturan yang ditetapkan orang tua sulit dihindarkan.

 

Apa yang Terjadi pada Perkembangan Anak Usia 4 Tahun?

Untuk memahami kenapa fase fournado bisa terjadi, penting untuk tahu aspek apa saja yang sebenarnya sedang berkembang pada anak dalam fase ini.

CDC dalam Milestones by 4 Years mencatat beberapa pencapaian yang umum ditemukan pada anak usia ini.

 

1. Kemampuan Berbahasa Semakin Baik

Anak usia 4 tahun umumnya sudah bisa mengucapkan kalimat dengan empat kata atau lebih dan mampu menjawab pertanyaan sederhana seperti “untuk apa jaket dipakai?”.

Kemampuan ini membuat anak lebih percaya diri menyampaikan pendapat, termasuk saat tidak setuju dengan orang tua.

 

2. Anak Mulai Berpikir Lebih Logis

Di usia ini anak biasanya sudah bisa menebak kelanjutan cerita yang familiar dan menyebutkan beberapa warna benda.

Kemampuan berpikir yang makin terstruktur ini membuat anak sering mempertanyakan alasan di balik sebuah aturan.

 

3. Keinginan untuk Mandiri Semakin Besar

Anak mulai ingin melakukan banyak hal sendiri, seperti mengambil makanan, menuang air minum, hingga membuka kancing baju sendiri.

Saat keinginan ini dihalangi, anak bisa jadi frustrasi dan menunjukkannya dengan membantah atau marah.

 

4. Emosi Masih Belum Stabil

Meski sudah bisa bicara lancar, kemampuan regulasi emosi anak usia 4 tahun belum sematang kemampuan bahasanya.

Ini yang membuat anak masih mudah meledak saat kecewa atau tidak mendapatkan apa yang ia mau.

 

5. Anak Sedang Belajar Memahami Aturan Sosial

Anak usia ini biasanya sudah mulai menyesuaikan perilaku sesuai tempatnya berada, seperti di rumah ibadah, perpustakaan, atau taman bermain.

Di saat yang sama, anak juga senang menolong orang lain.

Proses mempelajari aturan sosial di usia ini tidak selalu mulus sehingga anak masih sering menguji batasan yang diberikan orang tua.

 

Dalam laporan yang dimuat The Telegraph, anak usia 4 tahun, terutama perempuan, bisa bertanya hingga 390 pertanyaan per hari, yang menjadi bukti besarnya rasa ingin tahu dan kesiapan anak untuk menyerap hal baru.

Rasa ingin tahu sebesar ini akan sia-sia jika tidak diarahkan ke skill yang benar-benar dibutuhkan di masa depan anak, seperti bahasa Inggris.

Apalagi, usia 4 tahun termasuk dalam fase golden age, satu-satunya periode di mana otak anak bisa menyerap bahasa baru secara cepat, mudah, dan natural.

Banyak orang tua yang akhirnya menyesal karena baru menyadari pentingnya memberi stimulasi bahasa Inggris setelah fase ini terlewat.

Padahal, keputusan orang tua hari ini menentukan apakah anak akan fasih berbahasa Inggris lewat cara ringan dan menyenangkan, atau harus berjuang keras mempelajarinya bertahun-tahun kemudian.

 

Very New Banner SEO Sparks English 2026 (1)
Di sinilah Sparks English hadir untuk anak usia 3–15 tahun agar memastikan anak mendapat stimulasi bahasa Inggris yang konsisten sejak golden age.

Kurikulumnya berbasis CEFR yang membantu anak belajar sesuai level berstandar Internasional dan mendorong anak untuk lebih berani dan aktif speaking.

Mulai Rp70 ribuan aja per kelas, anak sudah bisa ikut kelas semi-private yang dibimbing langsung oleh native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT.

Hasilnya, sudah lebih dari 25.000 students berhasil lebih lancar dan percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan, sekarang giliran si kecil!

Daftarkan si kecil ikut free trial class sekarang untuk tahu betapa serunya metode belajar di Sparks English!

 

Ciri-Ciri Fournado

Selain memahami penyebabnya, mari kenali juga ciri fase fournado.

Setiap anak bisa saja menunjukkan tanda yang berbeda, tetapi ada beberapa ciri yang sering terlihat pada anak usia 4 tahun saat berada di fase fournado.

 

1. Sering Membantah Orang Tua

Anak mulai punya pendapat sendiri dan ingin pendapatnya didengar, meski di saat yang sama itu berarti menolak instruksi orang tua.

Ini tanda kemampuan berpikir kritis anak sedang berkembang.

 

2. Mudah Marah atau Tantrum

Saat keinginannya tidak terpenuhi, anak bisa langsung menangis, berteriak, bahkan berguling di lantai.

Ini terjadi karena kemampuan mengelola emosinya masih terbatas.

 

3. Ingin Semua Sesuai Keinginannya

Anak jadi lebih rewel kalau sesuatu tidak berjalan sesuai kemauannya, misal warna gelas atau urutan kegiatan.

Ini bagian dari cara anak mengekspresikan kontrol atas lingkungannya.

 

4. Ingin Dianggap “Sudah Besar”

Anak sering menolak dibantu dan ingin melakukan semuanya sendiri, meski hasilnya belum sempurna.

Sikap ini muncul karena keinginannya untuk mandiri sedang meningkat pesat.

 

Cara Menghadapi Fournado

Menghadapi fase fournado tidak perlu dengan cara keras atau memaksa anak untuk selalu menurut.

Ada beberapa pendekatan yang lebih efektif dan tetap menjaga hubungan orang tua dengan anak.

 

1. Kenali Pemicu Emosi Anak

Perhatikan situasi atau kondisi yang biasanya membuat anak tantrum, seperti lapar atau lelah.

Mengenali pemicunya bisa mengantisipasi sebelum emosi anak meledak.

 

2. Dengarkan Perasaan Anak Terlebih Dahulu

Sebelum memberi solusi atau aturan, coba dengarkan dulu apa yang anak rasakan.

Anak yang merasa didengar biasanya lebih mudah diajak bekerja sama.

 

3. Berikan Pilihan agar Anak Merasa Dihargai

Alih-alih memerintah, coba tawarkan dua pilihan yang sama-sama baik dan bisa diterima, misalnya mau pakai baju merah atau biru.

Cara ini membuat anak merasa punya kendali tanpa keluar dari batasan yang ditetapkan.

 

4. Pastikan Anak Mendapat Tidur yang Cukup

Anak yang kurang tidur cenderung lebih gampang rewel dan sulit mengendalikan emosi.

Jadwal tidur yang konsisten membantu suasana hati anak lebih stabil sepanjang hari.

 

5. Latih Anak Mengenali Nama-Nama Emosi

Ajarkan anak menyebut perasaan seperti “kesal” atau “sedih”, bukan hanya menangis atau berteriak.

Kemampuan mengenali emosi dapat membantu anak mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih aman dan sehat.

 

6. Berikan Contoh Cara Menyelesaikan Konflik

Anak banyak belajar dari apa yang ia lihat, termasuk cara orang tua menghadapi masalah.

Tunjukkan cara menyelesaikan konflik dengan tenang agar anak mencontohnya saat menghadapi situasi serupa.

 

7. Berikan Apresiasi Saat Anak Berhasil Mengendalikan Emosi

Saat anak berhasil menenangkan diri dan tidak tantrum, beri apresiasi sederhana seperti pujian.

Ini akan memperkuat pembentukan perilaku positif pada anak.

 

8. Bangun Rutinitas yang Mendukung Emosi Anak

Rutinitas harian yang konsisten, seperti jam belajar dan jam tidur, membuat anak merasa lebih aman karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Rasa aman ini membantu emosi anak lebih stabil dan mengurangi kemungkinan tantrum akibat rasa cemas akan perubahan mendadak.

 

Baca Juga: Apa Itu Kecerdasan Emosional Anak? Ini 7 Cara Melatihnya!

 

Fase fournado memang menguras energi dan kesabaran, tapi di balik semua bantahan dan tantrumnya, ada anak yang sedang belajar mengenal diri, emosi, dan dunianya lebih dalam.

Rasa ingin tahu dan kemampuan bahasa yang sedang berkembang pesat ini, tentu sayang untuk dilewatkan tanpa stimulasi bahasa Inggris yang tepat.

Sebagai les bahasa Inggris anak terbaik, Sparks English tahu metode paling efektif agar anak bisa mahir berbahasa Inggris sejak dini!

Menggunakan metode interaktif seperti games, storytelling, flashcard, dan aktivitas kreatif lainnya dalam kelas semi-private, setiap anak bisa mengembangkan potensinya lebih optimal.

Moms & Dads tidak perlu khawatir anak akan kewalahan, karena setiap anak akan menjalani placement test terlebih dahulu agar si kecil belajar di level yang paling sesuai.

Lebih dari 25.000 students sudah membuktikan efektifnya metode belajar Sparks English untuk tingkatkan skill bahasa Inggris!

Yuk, daftarkan si kecil ke free trial class sekarang dan klaim potongan harga sebelum promonya berakhir!

Author:

Topik:

Share article: