Selama ini, kecerdasan anak sering dikaitkan dengan nilai akademik, seperti kemampuan membaca dan berhitung.
Padahal, kecerdasan emosional juga sama pentingnya, lho.
Anak perlu paham bagaimana mengelola rasa marah dan membangun hubungan dengan orang lain.
Karena itu, penting bagi Moms & Dads untuk memahami apa itu kecerdasan emosional, ciri-ciri di tiap tahap usia, serta cara melatihnya secara alami pada anak.
- Apa Itu Kecerdasan Emosional? Pengertian Menurut Para Ahli
- Mengapa Kecerdasan Emosional Penting dalam Kehidupan?
- Komponen Kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman
- Ciri-Ciri Anak yang Cerdas secara Emosional di Setiap Tahap Usia
- Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak
Apa Itu Kecerdasan Emosional? Pengertian Menurut Para Ahli
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola, dan menggunakan emosi secara tepat, baik pada diri sendiri maupun saat berinteraksi dengan orang lain.
Dalam bahasa Inggris, emotional intelligence adalah kemampuan memproses informasi emosional dan menggunakannya sebagai pertimbangan saat berpikir, mengambil keputusan, atau berinteraksi dengan orang lain, sebagaimana dijelaskan oleh APA Dictionary of Psychology.
Istilah emotional intelligence pertama kali dicetuskan oleh Peter Salovey dan John Mayer.
Keduanya juga mengembangkan kerangka awal kecerdasan emosional, yaitu kemampuan memantau emosi diri dan orang lain, lalu menggunakan informasi tersebut untuk mengarahkan pikiran serta tindakan (Salovey & Mayer, 1990).
Sementara itu, Daniel Goleman dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan konsep kecerdasan emosional melalui buku Emotional Intelligence.
Menurutnya, emotional intelligence adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi diri sendiri, sekaligus memahami emosi orang lain.
Goleman kemudian membagi kecerdasan emosional ke dalam lima komponen utama, yaitu kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial.
Mengapa Kecerdasan Emosional Penting dalam Kehidupan?
Dalam kehidupan, banyak situasi yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan kemampuan akademik saja.
Di sinilah kecerdasan emosional berperan penting agar anak bisa memahami perasaannya dan tahu bagaimana meresponsnya dengan tepat.
Kecerdasan emosional dapat membantu anak untuk:
- Mengenali perasaannya, sehingga tidak langsung bereaksi secara impulsif.
- Lebih peka terhadap kondisi emosional orang lain.
- Membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
- Melatih anak menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih positif.
- Mendukung kesiapan menghadapi rutinitas sekolah.
- Merasa lebih aman saat mengekspresikan diri.
Komponen Kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman
Daniel Goleman, tokoh yang mempopulerkan konsep emotional intelligence, membagi kecerdasan emosional menjadi lima komponen, yaitu self-awareness, self-regulation, internal motivation, empathy, dan social skills.
1. Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Kesadaran diri adalah kemampuan anak mengenali apa yang sedang ia rasakan.
Dengan begitu, anak tidak hanya menangis atau marah, tetapi mulai memahami alasan di balik emosinya.
2. Pengendalian Diri (Self-Regulation)
Pengendalian diri membantu anak menahan dorongan untuk langsung bereaksi saat emosinya muncul.
Rasa marahnya mungkin tidak hilang, tetapi ia belajar mengambil jeda sebelum bereaksi.
3. Motivasi Diri (Internal Motivation)
Motivasi diri membuat anak mau mencoba lagi meskipun pernah menghadapi kegagalan.
Kemampuan ini membantu anak melihat tantangan maupun kegagalan sebagai bagian dari proses, bukan sesuatu yang harus dihindari.
4. Empati (Empathy)
Empati adalah kemampuan memahami perasaan orang lain.
Anak yang mulai berempati biasanya lebih peka saat melihat orang di sekitarnya tidak dalam kondisi yang baik atau merasa tidak nyaman.
5. Keterampilan Sosial (Social Skills)
Keterampilan sosial membantu anak berinteraksi dengan lebih luwes dan nyaman.
Kemampuan ini terlihat dari cara anak menjaga hubungan dengan orang lain, menghargai giliran, dan menyampaikan pendapat tanpa memaksa.
Ciri-Ciri Anak yang Cerdas secara Emosional di Setiap Tahap Usia
Ciri kecerdasan emosional anak bisa berbeda sesuai usia.
Jadi, Moms & Dads tidak perlu menuntut anak kecil langsung bisa mengontrol emosi seperti anak yang lebih besar, karena setiap tahap punya prosesnya sendiri.
1. Ciri-Ciri Kecerdasan Emosional pada Anak Usia 1–2 Tahun
- Mulai melihat wajah orang tua untuk mencari respons saat berada di situasi baru.
- Menunjukkan reaksi saat melihat orang lain tampak tidak nyaman.
- Mencari kenyamanan dari orang terdekat saat merasa takut.
- Mulai menunjukkan emosi melalui gestur.
- Meniru ekspresi dan respons emosi orang dewasa.
2. Ciri-Ciri Kecerdasan Emosional pada Anak Usia 3–5 Tahun
- Mulai bisa menyebutkan perasaan dengan kata-kata.
- Mulai bisa bergiliran saat bermain, meski masih perlu diingatkan.
- Mulai tertarik bermain bersama anak lain.
- Bisa lebih tenang setelah berpisah sebentar dari orang tua.
- Mulai memahami aturan sederhana di rumah atau sekolah.
Saat anak mulai mampu memahami emosi dan menyampaikan perasaannya, kemampuan berbahasanya juga ikut berkembang.
Di fase ini, anak aktif menyerap bunyi, ekspresi, kosakata, dan cara berkomunikasi dari lingkungan sekitarnya, dan inilah waktu terbaik untuk sekaligus mengenalkan bahasa Inggris.
Banyak orang tua menyesal tidak mengenalkan bahasa Inggris lebih awal.
Padahal anak yang terbiasa mendengar accent dan struktur kalimat bahasa Inggris sejak dini jauh lebih mudah dan natural untuk menyerapnya, dibandingkan saat sudah lebih besar.
Jangan biarkan si kecil kehilangan keunggulan itu.
Di sinilah Sparks English hadir untuk memastikan si kecil mendapat stimulasi bahasa Inggris yang tepat di fase terpenting perkembangannya.

Anak belajar phonics, vocabulary, grammar, speaking, hingga confidence building lewat aktivitas seru sesuai tumbuh kembang usia anak.
Kurikulum berbasis CEFR membantu anak belajar sesuai level berstandar internasional dengan pendekatan fun and interactive learning yang membuat anak berani dan aktif speaking.
Biaya per kelasnya ekonomis, mulai 70 ribuan bisa dapat kelas semi-private dibimbing langsung oleh native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT.
Lebih dari 25,000 students terbukti berhasil lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English!
Daftar free trial class sekarang dan dapatkan promo harga lebih hemat berlaku hanya sebelum waktu promo habis!
3. Ciri-Ciri Kecerdasan Emosional pada Anak Usia 6–8 Tahun
- Bisa menjelaskan perasaan dengan kalimat yang lebih jelas.
- Mulai memahami bahwa tindakannya bisa memengaruhi orang lain.
- Bisa meminta maaf setelah menyadari kesalahan.
- Mulai belajar menyelesaikan masalah lewat diskusi.
- Menunjukkan empati dalam interaksi sehari-hari.
4. Ciri-Ciri Kecerdasan Emosional pada Anak Usia 9–12 Tahun
- Bisa mengenali emosi yang lebih kompleks.
- Mulai mampu melihat masalah dari sudut pandang orang lain.
- Lebih sadar terhadap dampak ucapan atau perilakunya.
- Bisa menemukan cara menenangkan diri yang cocok baginya.
- Mulai mampu berdiskusi saat ada konflik, meski tetap butuh arahan.
Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak
Kecerdasan emosional bisa dilatih lewat kebiasaan harian.
Caranya tidak dengan memberi ceramah panjang, tapi membimbing anak mengenali perasaan, memahami batasan, dan belajar merespons dengan lebih baik.
1. Bantu Anak Mengenali dan Menamai Emosinya
Saat anak menangis atau marah, bantu ia memberi nama pada emosinya.
Kalimat seperti “Kamu kecewa karena mainannya rusak, ya?” akan membantu anak memahami apa yang ia rasakan.
2. Validasi Perasaan Anak Tanpa Menghakimi
Validasi tidak sama dengan selalu membenarkan semua perilaku anak.
Orang tua bisa mengakui perasaan anak, lalu membantunya memilih respons yang lebih tenang.
3. Berikan Contoh Cara Mengelola Emosi yang Baik
Anak banyak belajar dari apa yang ia lihat, termasuk cara orang tua merespons sesuatu.
Saat orang tua mampu mengelola emosi dengan tenang, anak akan melihat bahwa perasaan tidak harus selalu diluapkan dengan amarah atau cara yang meledak-ledak.
4. Latih Empati Melalui Aktivitas Sehari-hari
Empati bisa dilatih dari kejadian kecil di keseharian anak.
Ajak anak memperhatikan perasaan orang lain agar ia belajar memahami bahwa setiap orang bisa merasakan dan mengalami kondisi emosi yang berbeda.
5. Dorong Anak untuk Mengungkapkan Perasaan dengan Tepat
Ajari anak untuk menggunakan kalimat yang jelas saat menyampaikan apa yang ia rasakan.
Dengan begitu, anak belajar mengekspresikan perasaannya secara lebih tepat dan mudah dipahami oleh orang lain.
Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Anak Cengeng dan Penakut Jadi Percaya Diri
6. Ajarkan Cara Menyelesaikan Konflik Secara Positif
Saat anak bertengkar, jangan terburu-buru menentukan siapa yang salah.
Justru, bantulah mereka untuk menjelaskan apa masalahnya dari kedua pihak.
Setelah itu, baru coba arahkan untuk mencari solusi yang bisa diterima bersama.
7. Bangun Hubungan yang Hangat dengan Anak
Hubungan yang hangat membuat anak lebih mudah menerima arahan, karena ia tidak merasa sedang diserang saat emosinya dikoreksi.
Dari hubungan ini, anak belajar bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi tetap perlu diarahkan agar tidak merugikan diri sendiri atau orang lain.
Baca Juga: Pentingnya Bonding Bareng Anak dan 5 Cara Tepat Membangunnya
Usia dini adalah waktu terbaik untuk membangun fondasi kecerdasan emosional anak, karena di masa ini otak sedang berkembang paling pesat dan koneksi saraf sedang aktif terbentuk.
Di masa inilah Moms & Dads bisa manfaatkan untuk stimulasi bahasa Inggris sebagai investasi skill terbaik yang bisa diberikan demi masa depan anak.
Sparks English menghadirkan program untuk anak usia 3-15 tahun yang membantu menguatkan fondasi bahasa Inggris anak.
Anak dibimbing tutor bersertifikat Cambridge TKT dan native teacher agar terbiasa mendengar pronunciation, accent, dan ekspresi bahasa Inggris yang lebih natural sejak dini.
Dimana lagi Moms & Dads bisa dapatkan les bahasa Inggris berkualitas dengan harga terjangkau selain Sparks English!
Jangan sampai menyesal karena menunda! Daftar free trial class sekarang selagi promonya bisa diklaim!


