Banyak orang tua yang tidak ingin memarahi anak, termasuk Moms & Dads.
Namun, saat tubuh sedang lelah, banyak beban pekerjaan, dan anak yang terus-menerus rewel, cara mengontrol emosi pada anak bisa terasa lebih sulit dari biasanya.
Padahal, anak masih belajar mengenali rasa marah, kecewa, takut, dan frustrasi.
Setiap respons orang tua bisa sangat berpengaruh terhadap cara mereka belajar mengelola emosinya.
Karena itu, artikel ini akan membahas kenapa orang tua bisa mudah terpancing emosi, serta beberapa tips agar tidak mudah marah pada anak.
- Kenapa Banyak Orang Tua Tidak Bisa Menahan Emosi pada Anak?
- Bagaimana Tips agar Tidak Mudah Marah pada Anak?
Kenapa Banyak Orang Tua Tidak Bisa Menahan Emosi pada Anak?
Orang tua yang tidak bisa menahan emosi pada anak tidak selalu karena kurang sabar.
Sering kali, emosi muncul karena ada tekanan, kelelahan, atau kondisi tertentu yang membuat respons terhadap anak jadi lebih “keras”.
1. Stres dan Kelelahan dalam Mengasuh Anak
Mengasuh anak membutuhkan energi fisik dan mental yang besar.
Saat orang tua kurang tidur, banyak pekerjaan, atau merasa tidak punya waktu untuk diri sendiri, hal kecil dari anak bisa terasa sangat berat.
Anak menumpahkan susu, menolak mandi, atau menangis lama bisa langsung memicu emosi.
2. Ekspektasi yang Terlalu Tinggi pada Anak
Ada kalanya orang tua marah karena berharap anak bisa langsung mengerti.
Misalnya, anak diminta berhenti bermain, tapi mereka malah menangis atau meminta waktu tambahan.
Padahal, kemampuan anak mengatur rasa kecewa masih berkembang.
Ia juga belum mampu memahami alasan orang tua secepat orang dewasa.
3. Pengalaman Masa Kecil Orang Tua Sendiri
Pola asuh yang diterima orang tua saat mereka masih kecil juga bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi respons orang tua kepada anak.
Jika dulu orang tua terbiasa dimarahi saat salah, tanpa sadar pola yang sama bisa terulang kembali saat menghadapi anak.
Misalnya, saat anak menangis, respons spontan yang keluar adalah, “Jangan cengeng!”, karena dulu kalimat itu juga yang selalu didengar saat sedang menangis.
4. Kurangnya Dukungan Emosional atau Sosial
Mengasuh anak sendirian bisa membuat orang tua lebih cepat kewalahan secara emosional.
Kerja sama dengan pasangan serta dukungan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar akan sangat membantu.
Tanpa adanya dukungan emosional, semua masalah terasa harus ditanggung sendiri. Akibatnya, emosi lebih mudah meledak.
Baca Juga: Parenting Anak: 4 Aspek Penting dan 8 Cara Menerapkannya
Bagaimana Tips agar Tidak Mudah Marah pada Anak?
Munculnya rasa marah saat menghadapi anak tantrum adalah hal yang manusiawi.
Namun, Moms & Dads tetap harus belajar cara mengendalikan emosi pada anak agar respons yang muncul tidak menyakiti anak.
1. Berhenti Sejenak Sebelum Merespons Anak
Saat anak melakukan sesuatu yang memancing emosi, jangan langsung bereaksi.
Sebaiknya, orang tua berhenti sejenak dan memberi waktu bagi otak untuk memilih respons yang lebih tepat.
Misalnya, apakah harus diam sebentar, harus menurunkan nada suara, atau harus menjauh beberapa langkah jika situasinya aman.
Daripada langsung berkata, “Kamu ini susah sekali dibilangin!”, Moms & Dads bisa menggantinya dengan, “Papa butuh tenang dulu sebentar, nanti kita bicara.”
Kalimat seperti ini memberi contoh bahwa emosi bisa dikelola.
2. Atur Napas dan Tenangkan Diri Terlebih Dahulu
Saat marah, tubuh biasanya ikut bereaksi. Jantung terasa lebih cepat, suara meninggi, dan pikiran menjadi sulit jernih.
Karena itu, mengatur napas bisa menjadi cara mengatasi emosi pada anak yang paling mudah dilakukan di momen panas.
UNICEF menjelaskan bahwa mengambil napas atau menjauh sebentar saat marah dapat menjadi contoh bagi anak tentang cara menghadapi situasi serupa.
3. Pahami Perilaku Anak
Anak biasanya menunjukkan emosi melalui perilaku.
Saat menolak instruksi, misalnya, bisa jadi ia sedang lelah atau belum tahu cara menyampaikan keinginannya dengan kata-kata.
Orang tua bisa coba melihat lebih dalam sebelum memarahi anak.
Misalnya, anak tantrum saat diminta pulang dari taman.
Bukan berarti ia bukan sengaja melawan, hanya saja ia belum siap menghentikan aktivitas yang menyenangkan.
Jika menghadapi situasi seperti ini, Moms & Dads bisa berkata, “Kamu masih ingin main, ya? Tapi sekarang waktunya pulang. Kita bisa main lagi besok.”
Kalimat tersebut tetap memberi batasan, tetapi anak merasa emosinya dipahami.
4. Gunakan Nada Bicara yang Lebih Tenang
Nada bicara sering kali lebih menempel di otak anak daripada isi kalimatnya.
Kalimat yang biasa saja bisa terdengar menakutkan jika diucapkan dengan suara tinggi.
Oleh karena itu, instruksi yang jelas dengan nada tenang akan lebih mudah diterima anak.
Child Mind Institute menjelaskan bahwa berteriak sering kali membuat pesan utama tidak tersampaikan karena emosi yang mengambil alih situasi.
Teriakan juga dapat memperparah konflik.
Baca Juga: Gentle Parenting Bukan Memanjakan Anak, Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua
5. Fokus pada Solusi, Bukan Emosi Sesaat
Cara agar tidak mudah marah pada anak yang selanjutnya adalah fokus pada solusi, bukan emosi sesaat.
Saat anak melakukan kesalahan, coba arahkan perhatian pada apa yang bisa diperbaiki.
Misalnya, ketika anak menumpahkan air, Moms & Dads bisa mengajaknya mengambil lap dan membersihkan bersama, lalu menjelaskan bahwa lain kali gelas perlu dibawa pelan-pelan.
Cara ini bisa menjadi salah satu cara menahan emosi pada anak.
Bahkan, anak jadi tahu bahwa ia melakukan kesalahan serta cara memperbaikinya.
Mengelola emosi saat menghadapi anak memang membutuhkan proses.
Rasa marah bisa muncul karena lelah, stres, atau ekspektasi yang terlalu tinggi.
Dengan berhenti sejenak, menenangkan diri, memahami perilaku anak, menggunakan nada yang lebih tenang, dan fokus pada solusi, Moms & Dads bisa membangun komunikasi yang lebih sehat dengan anak.
Mendampingi tumbuh kembang anak memang tidak selalu mudah, ya Moms & Dads.
Termasuk dalam memilih aktivitas untuk anak.
Di satu sisi, Moms & Dads ingin anak belajar hal baru, seperti bahasa Inggris.
Namun di sisi lain, ada kekhawatiran kalau aktivitas belajar justru membuat waktu bermain anak berkurang.
Oleh karena itu, penting bagi Moms & Dads untuk memilihkan aktivitas belajar bagi anak yang tetap terasa menyenangkan, ringan, dan sesuai usia anak.
Untuk anak usia dini, Moms & Dads bisa pilihkan aktivitas belajar yang dikemas seperti bermain, seperti les bahasa Inggris di Sparks English!
Di Sparks English, proses belajar dirancang fun dan interaktif melalui games, cerita, serta aktivitas kreatif yang sesuai dengan usia anak.
Dengan begitu, anak bisa belajar bahasa Inggris dengan lebih natural tanpa merasa sedang “dipaksa belajar”.
Kelasnya semi-private supaya setiap anak mendapatkan perhatian yang lebih personal dalam mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris.
Lebih dari 25.000 students telah merasakan hasilnya.
Yuk, daftarkan si kecil ikut free trial class dan rasakan pengalaman belajar di Sparks English!



