Apa Itu Sharenting? Ini Dampak dan Cara Bijak Melakukannya!

9 July 2026
sharenting adalah

Di zaman serba digital ini, melihat foto anak-anak berseliweran di feed media sosial rasanya sudah menjadi hal yang lumrah.

Kebiasaan membagikan momen tumbuh kembang anak ini ternyata punya istilah khusus, lho Moms & Dads! Namanya sharenting.

Namun, di balik niat baik untuk berbagi kebahagiaan, ada risiko privasi dan keamanan anak yang perlu Moms & Dads pahami sebelum menekan tombol “post”.

Di artikel ini, mari kita bahas apa itu sharenting, contoh dalam keseharian, manfaat dan dampak bagi anak, hingga cara melakukannya dengan lebih bijak.

 

 

Apa Itu Sharenting?

Sharenting adalah gabungan dari kata share dan parenting, yaitu kebiasaan orang tua membagikan foto, video, cerita, atau informasi tentang anaknya di media sosial.

Menurut Stacey Steinberg, seorang ahli hukum keluarga yang meneliti fenomena ini, sharenting mencakup segala bentuk orang tua membicarakan anaknya di luar lingkaran dan keluarga, mulai dari unggahan foto di Instagram, tulisan di blog, hingga video yang dikirim lewat pesan seperti WhatsApp.

UNICEF menekankan bahwa membagikan momen anak sebenarnya wajar dan manusiawi, karena orang tua ingin melibatkan keluarga dan teman dalam kebahagiaan yang dirasakan.

Meski begitu, di balik niat tersebut, penting bagi Moms & Dads memahami bahwa ada konsekuensi terhadap privasi dan keamanan anak dalam setiap unggahan tentangnya.

 

Contoh Sharenting dalam Kehidupan Sehari-hari

Sharenting sebenarnya lebih sering terjadi daripada yang disadari, bahkan bisa jadi Moms & Dads melakukannya tanpa berpikir dua kali.

Berikut beberapa contohnya:

  • Membagikan video aktivitas anak sehari-hari, seperti makan, bermain, atau belajar di sekolah.
  • Live streaming momen ulang tahun, kelulusan, atau pencapaian anak lainnya.
  • Mengunggah foto rapor atau piagam penghargaan anak lengkap dengan nama dan nama sekolahnya.
  • Membuat konten prank atau lelucon yang melibatkan reaksi spontan anak.
  • Menceritakan kebiasaan atau kesulitan pribadi anak, seperti masalah belajar atau perilaku, di caption media sosial.
  • Membagikan foto anak dalam kondisi rentan, misalnya sedang mandi atau memakai popok.

 

Manfaat Sharenting Jika Dilakukan dengan Bijak

Sharenting tidak selalu berdampak negatif.

Jika dilakukan dengan penuh pertimbangan, kebiasaan ini bisa memberi manfaat, seperti mendokumentasikan tumbuh kembang anak, berbagi pengalaman parenting, dan menjalin hubungan dengan keluarga terpisah jarak.

 

1. Mendokumentasikan Momen Pertumbuhan Anak

Media sosial bisa menjadi semacam album digital yang mencatat tumbuh kembang anak dari waktu ke waktu.

Orang tua dapat melihat kembali momen-momen berharga tersebut kapan saja, tanpa perlu mencari foto fisik yang tersimpan entah di mana.

 

2. Berbagi Pengalaman Parenting

Menceritakan pengalaman mengasuh anak dapat membuat orang lain merasa tidak sendirian saat menghadapi tantangan serupa.

Saling berbagi cerita seperti ini juga bisa membuka ruang diskusi serta dukungan antar orang tua.

 

3. Menjalin Hubungan dengan Keluarga yang Berjauhan

Bagi keluarga yang tinggal berjauhan, unggahan foto dan video anak bisa menjadi cara sederhana untuk tetap merasa dekat.

Kakek, nenek, atau kerabat yang tidak bisa selalu bertemu langsung tetap bisa mengikuti perkembangan si kecil dari jauh.

 

Dampak Sharenting terhadap Anak

Di balik manfaatnya, sharenting yang dilakukan tanpa batasan dapat menimbulkan risiko bagi anak, seperti menghilangkan privasi, membuat jejak digital yang sulit dihapus, hingga risiko penyalahgunaan foto dan data.

.

1. Hilangnya Privasi Anak

Setiap unggahan tentang anak berarti membagikan sebagian kehidupannya kepada orang lain, termasuk orang yang tidak dikenal secara langsung.

Anak tidak memiliki kesempatan untuk memberikan persetujuan atas apa yang dibagikan tentang dirinya, padahal ia berhak menentukan sendiri bagian mana dari hidupnya yang ingin ditampilkan ke publik.

 

2. Jejak Digital yang Sulit Dihapus

Sekali diunggah, konten tentang anak berpotensi disimpan, disalin, atau dibagikan ulang oleh orang lain meski diunggah pada akun yang sudah diatur menjadi privat.

Jejak digital ini bisa terus ada bahkan sampai anak dewasa, jauh sebelum ia sempat memutuskan sendiri identitas seperti apa yang ingin ia tampilkan di dunia maya.

 

3. Risiko Penyalahgunaan Foto dan Data Anak

Informasi seperti nama lengkap, tanggal lahir, atau lokasi sekolah yang diunggah bersama foto anak dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Studi Berg et al. (2024) dalam JMIR Pediatrics and Parenting menjelaskan bahwa praktik sharenting dapat berkaitan dengan risiko seperti digital kidnapping dan pencurian identitas, terutama ketika unggahan orang tua memuat informasi pribadi anak yang mudah dikenali.

Karena itu, risiko penyalahgunaan foto dan data anak bukan sekadar kekhawatiran berlebihan, melainkan hal yang perlu diwaspadai orang tua sejak dini.

 

4. Potensi Cyberbullying

Konten yang awalnya diunggah dengan maksud lucu atau menggemaskan bisa saja disalahartikan atau dijadikan bahan ejekan oleh orang lain di kemudian hari.

Anak yang tumbuh besar dan menemukan unggahan lama tentang dirinya juga berisiko mengalami perundungan dari teman sebaya yang menemukan konten tersebut.

 

5. Menurunkan Rasa Percaya Diri Anak di Masa Depan

Ketika anak menyadari bahwa banyak orang telah melihat momen pribadinya tanpa persetujuannya, akan muncul perasaan bahwa hidupnya terbuka untuk publik.

Perasaan kehilangan kendali atas citra dirinya ini dapat memengaruhi rasa percaya diri anak, terutama saat memasuki usia remaja yang sudah lebih sadar akan cara pandang orang lain.

 

Tren sharenting memang menyenangkan untuk membagikan momen menggemaskan si kecil, tapi ada langkah yang jauh lebih berharga untuk masa depannya. 

Memberikan bekal keterampilan bahasa Inggris sejak dini adalah bentuk kasih sayang dan investasi terbaik yang berdampak panjang untuk masa depan anak.

Sayangnya, banyak orang tua baru menyadari kesempatan emas ini dan menyesal setelah melewatkannya begitu saja.

Padahal skill ini menjadi kunci emas bagi anak untuk mengakses pendidikan, ilmu pengetahuan, dan peluang karier global yang sukses saat ia dewasa nanti.

Apalagi, masa kanak-kanak adalah masa di mana otak anak mampu menyerap bahasa baru secara alami jika diberi stimulasi yang konsisten. 

Jangan sampai Moms & Dads menyesal di kemudian hari hanya karena melewatkan kesempatan emas ini begitu saja!

 

Very New Banner SEO Sparks English 2026 (1)
Disinilah Sparks English hadir untuk bantu anak jago bahasa Inggris sejak dini!

Di Sparks English, anak belajar lewat metode fun & interactive seperti storytelling, phonics, dan latihan speaking sehingga proses belajarnya natural dan mudah dipahami.

Kurikulumnya berbasis CEFR, anak akan belajar dalam kelas semi-private yang dibimbing langsung oleh native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT

Menariknya, semua fasilitas ini bisa didapat mulai Rp70 ribuan aja lho!

Lebih dari 25.000 students terbukti jadi lancar berbahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English!

Coba free trial class sekarang dan klaim potongan harga selagi promo masih berlangsung!

 

Cara Melakukan Sharenting dengan Bijak

Moms & Dads sebenarnya tidak harus serta-merta berhenti untuk membagikan momen anak di media sosial.

Sharenting tetap bisa dilakukan asal memperhatikan sejumlah batasan, seperti minta persetujuan anak jika sudah cukup usia, hindari mengunggah informasi pribadi, dan tidak membagikan foto yang memalukan.

 

1. Minta Persetujuan Anak Jika Sudah Cukup Usia

Saat anak sudah cukup besar untuk memahami, ajak ia berdiskusi sebelum mengunggah foto atau ceritanya.

Kebiasaan ini juga mengajarkan anak tentang konsep persetujuan sejak dini, sesuatu yang akan berguna baginya di banyak aspek kehidupan.

 

2. Hindari Mengunggah Informasi Pribadi

Jangan sertakan nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah, atau nama sekolah anak dalam unggahan apa pun.

Informasi sekecil ini jika digabungkan bisa membentuk profil lengkap yang berisiko disalahgunakan oleh pihak yang tidak dikenal.

 

Baca Juga: 12 Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak yang Perlu Dihindari

 

3. Jangan Membagikan Foto yang Memalukan

Konten yang menurut orang tua lucu belum tentu dianggap sama oleh anak, apalagi ketika ia sudah lebih besar dan lebih sadar diri.

Pikirkan dulu, apakah anak akan merasa nyaman jika suatu hari foto atau cerita tersebut dilihat oleh teman-temannya sendiri?

 

4. Matikan Fitur Lokasi jika Tidak Diperlukan

Fitur lokasi pada foto atau video dapat memberi tahu orang lain tempat anak biasa beraktivitas, termasuk sekolah atau rumah.

Pastikan fitur ini dimatikan, terutama saat mengunggah konten secara real-time.

 

5. Pikirkan Dampaknya di Masa Depan

Sebelum menekan tombol unggah, coba bayangkan bagaimana perasaan anak saat dewasa nanti melihat kembali konten tersebut.

Jika ada keraguan sedikit pun, lebih baik simpan momen itu untuk kenangan pribadi keluarga saja.

 

6. Hormati Hak Privasi Anak

Anak memiliki hak untuk membentuk identitasnya sendiri tanpa harus terbebani oleh jejak digital yang bahkan dibuat tanpa persetujuannya.

Menghormati privasi anak sejak dini juga menjadi bentuk nyata bahwa orang tua menghargai anak sebagai individu, bukan sekadar konten.

 

Selain memperhatikan apa saja yang tidak seharusnya dibagikan, Moms & Dads juga perlu memikirkan apa saja yang seharusnya dibekalkan untuk masa depan anak, salah satunya adalah skill bahasa Inggris.

Berbeda dengan jejak digital yang berisiko disalahgunakan, skill bahasa Inggris adalah “aset” yang akan terus melekat dan bermanfaat bagi anak dalam menghadapi persaingan global di masa depannya.

Di kursus bahasa Inggris Sparks English, skill berbahasa Inggris dan rasa percaya diri anak diasah secara bersamaan lewat metode group discussion dan problem solving.

Tak hanya itu, Moms & Dads juga akan dapatkan free extra sessions, free student kit, dan banyak keuntungan lainnya di Sparks English!

Dimana lagi bisa dapatkan les bahasa Inggris high quality tapi harganya masih tetap terjangkau selain di Sparks English!

Yuk ajak si kecil coba pengalaman belajarnya lewat free trial class dan klaim promo spesialnya sebelum waktu berakhir!

Author:

Topik:

Share article: