Parenting Anak: 4 Aspek Penting dan 8 Cara Menerapkannya

21 May 2026
parenting adalah

Moms & Dads sudah memenuhi kebutuhan anak, tapi masih bingung karena anak sering tantrum, susah diberi tahu, bahkan mulai suka membantah?

Situasi seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi dalam parenting.

Sebab, parenting adalah pola asuh orang tua dalam membimbing emosi, karakter, komunikasi, dan kemandirian anak.

Jadi, parenting tidak hanya soal memastikan anak makan cukup, sekolah dengan baik, atau kebutuhan harian terpenuhi.

Lalu apa sebenarnya arti parenting? Apa yang menjadi aspek dasar dan cara menerapkan parenting anak yang efektif?

Simak selengkapnya di artikel ini.

 

 

Apa Itu Parenting?

Parenting adalah proses mengasuh, mendidik, membimbing, dan mendampingi anak agar tumbuh dengan baik.

Menurut Cambridge Dictionary, parenting berkaitan dengan proses membesarkan anak lengkap dengan tanggung jawab dan aktivitas yang dilakukan di dalamnya.

Parenting tidak hanya terjadi saat orang tua memberi nasihat. 

Parenting juga terjadi saat orang tua mendengarkan anak bercerita, memahami emosi anak, menenangkan saat anak marah, memberi aturan, dan menjadi contoh dalam kebiasaan sehari-hari.

Misalnya, saat anak tak sengaja menumpahkan air di meja. Respons dari orang tua adalah bagian dari parenting.

Jika langsung dimarahi, anak akan merasa takut dan enggan jujur saat melakukan kesalahan.

Namun, orang tua bisa memberi pemahaman dan memberitahu kesalahan anak tanpa menghakimi agar ia tidak merasa dipermalukan.

Misalnya, “Airnya tumpah, ya, Nak. Ibu tahu kamu tidak sengaja. Lain kali, gelasnya dipegang pelan-pelan dengan dua tangan, ya. 

Sekarang kita ambil lap, lalu bersihkan bersama.”

Dengan respons seperti ini, anak akan paham bahwa ia perlu lebih berhati-hati.

Di saat yang sama anak juga belajar bahwa kesalahan bukan untuk ditakuti, tapi bisa diperbaiki dengan tanggung jawab.

Dari contoh sederhana ini, Moms & Dads bisa melihat bahwa parenting adalah proses bersama orang tua dan anak agar anak merasa aman, dicintai, dan tetap punya arahan yang jelas.

 

Apa Tujuan Parenting dalam Perkembangan Anak?

Tujuan parenting adalah membantu anak tumbuh dan berkembang secara menyeluruh.

Artinya, bukan hanya fisik, tetapi juga sisi emosional, karakter, kemampuan berpikir, dan kemampuan sosial.

Beberapa tujuan parenting dalam perkembangan anak antara lain:

  • Membentuk karakter anak: Membantu mengenal nilai baik dan buruk. Misalnya melatih kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran, dan kepedulian.
  • Mendukung perkembangan kognitif: Membantu anak berpikir, bertanya, memahami sebab-akibat, dan memecahkan masalah sederhana.
  • Mengembangkan kemampuan sosial: Mendorong anak belajar berbagi, menunggu giliran, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, dan menghargai perasaan orang lain.
  • Melatih anak mengenal dan mengelola emosi: Mendampingi anak mengenal, mengekspresikan, dan menghadapi rasa marah, sedih, takut, atau kecewa.
  • Membangun rasa percaya diri: Dukungan orang tua membantu anak lebih berani mencoba hal baru.
  • Mendorong kemandirian: Parenting juga membantu anak dipercaya untuk belajar melakukan hal-hal sederhana sendiri.
  • Mendukung perkembangan bahasa dan komunikasi: Sering mengajak anak bicara, membaca, bernyanyi, dan bercerita akan membuat anak terlatih dan memahami penggunaan bahasa.
  • Menciptakan rasa aman: Menciptakan lingkungan hangat dan stabil membuat anak merasa aman untuk belajar dan bereksplorasi.

 

Baca Juga: Anak Sulit Percaya Diri? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!

 

Aspek Dasar Parenting yang Baik

Parenting artinya pola asuh terhadap anak. 

Pola asuh ini harus memiliki aspek dasar sebagai fondasi dalam penerapannya.

Berikut ini beberapa aspek dasar parenting yang baik:

 

1. Komunikasi yang Terbuka dengan Anak

Komunikasi yang terbuka artinya komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.

Bangun komunikasi di mana anak tidak merasa takut dimarahi saat menyampaikan perasaan, pendapat, atau kesalahannya.

Dalam dasar parenting, komunikasi bukan terjadi satu arah dari orang tua ke anak. 

Orang tua juga perlu mendengarkan anak dengan penuh perhatian.

Dampaknya, anak akan merasa dihargai.

 

2. Konsistensi dalam Aturan dan Pola Asuh

Parenting harus tegas. Tegas bukan berarti marah, tapi konsisten menegakkan aturan yang dibuat.

Aturan yang sudah dibuat sebaiknya tidak berubah-ubah tanpa alasan yang jelas. 

Misalnya, screen time 30 menit maka harus selesai sekalipun anak merengek.

Dampaknya, anak lebih mudah memahami batasan. 

Orang tua juga perlu terus beri pemahaman pada anak mengapa aturan tersebut harus dipatuhi.

Dengan begitu, anak akan paham bahwa aturan bukan sekadar melarang, tapi membimbing.

 

Baca Juga: Gentle Parenting Bukan Memanjakan Anak, Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua

 

3. Memberikan Kasih Sayang dan Dukungan

Kasih sayang saat parenting adalah membuat anak merasa dicintai dalam kondisi apa pun.

Anak perlu merasa diterima saat gagal, sedih, marah, atau melakukan kesalahan.

Dampaknya, anak akan merasa orang tua adalah tempat aman secara emosional. 

Rasa aman ini membuat anak lebih percaya diri mencoba hal baru.

Beri dukungan pada anak tentang hal positif yang berani ia coba. 

Puji prosesnya, bukan sekadar hasil akhir.

 

4. Menjadi Role Model bagi Anak

Orang tua adalah contoh pertama bagi anak. 

Sehingga, nasihat saja tidak cukup.

Jika ingin anak terbiasa berkata sopan, maka anak perlu melihat orang tuanya menggunakan kata “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih” terlebih dahulu.

Orang tua harus menjadi contoh yang ditunjukkan melalui ucapan maupun tindakan.

 

Cara Menerapkan Parenting Anak yang Efektif

Parenting yang efektif tak harus dimulai dari sesuatu yang besar, tapi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten setiap hari.

Berikut ini beberapa cara sederhana yang bisa diterapkan saat proses parenting anak.

 

1. Menyesuaikan Pola Asuh dengan Usia Anak

Setiap usia anak memiliki kebutuhan yang berbeda.

Misalnya pada anak usia balita, mereka butuh belajar mengenali emosi dan mengikuti instruksi sederhana.

Pada anak yang masuk usia SD, mereka butuh mulai belajar tanggung jawab.

Sementara anak yang mulai beranjak remaja, butuh ruang untuk diskusi dan mengambil keputusan.

Contohnya, untuk anak usia 3–5 tahun, gunakan instruksi singkat dan jelas seperti, “Setelah main, mainannya masukkan ke kotak ya.”

 

2. Membangun Koneksi Emosional

Orang tua perlu membangun koneksi emosional dengan anak agar anak merasa dekat dan aman.

Anak akan merasa bahwa orang tua dan rumah adalah tempat yang aman untuk bercerita, menangis, bertanya, dan meminta bantuan.

Koneksi emosional bisa dibangun melalui kebiasaan sehari-hari, seperti pelukan, obrolan ringan, quality time, dan mendengarkan dengan saksama saat anak bercerita.

Contoh praktiknya, sebelum tidur, orang tua bisa bertanya, “Hari ini ada hal menyenangkan apa di sekolah?”, atau “Apa ada hal yang bikin kamu sedih hari ini?”

Pertanyaan sederhana seperti ini bisa jadi bonding yang hangat.

 

3. Membangun Komunikasi yang Terbuka

Komunikasi terbuka adalah memberi ruang pada anak untuk menyampaikan pikirannya pada kondisi apapun, baik senang, sedih, marah, kecewa, bingung, ataupun takut.

Setelah itu, tak perlu terburu-buru memberi nasihat. 

Kadang, anak butuh didengarkan dulu.

Contoh, ketika anak mengeluh, “Aku nggak mau sekolah,” hindari langsung menjawab “Nggak boleh begitu!”

Sebaiknya, bisa dijawab dengan “Adik lagi nggak semangat sekolah ya? Apa ada yang bikin adik kesal atau takut di sekolah?”

Komunikasi terbuka seperti ini akan membuat anak belajar bahwa perasaannya valid. 

Sehingga ke depannya, ia akan lebih mudah menyampaikan perasaannya tanpa takut langsung disalahkan.

 

4. Menetapkan Aturan dan Batasan yang Jelas

Parenting yang baik bukan berarti mengendurkan aturan. 

Anak tetap butuh aturan dan batasan agar tahu mana perilaku yang aman, boleh, dan tidak boleh dilakukan.

Namun, aturan sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang lugas dan alasan yang jelas.

Contoh, daripada hanya berkata “Jangan lari!”, orang tua bisa mengatakan, “Jalan pelan-pelan ya, agar tidak jatuh atau menabrak barang.”

Dengan begitu, anak lebih paham bahwa aturan dibuat untuk menjaga dirinya, bukan membatasi kebebasannya.

 

5. Memberikan Apresiasi dan Motivasi

Apresiasi membantu anak merasa usahanya diperhatikan. 

Dalam parenting, apresiasi tidak harus selalu berupa hadiah.

CDC menyarankan orang tua memberi pujian spesifik dan memakai kata-kata sederhana saat anak menunjukkan perilaku baik.

Contoh praktiknya, daripada hanya berkata, “Pintar!”, orang tua bisa mengatakan, “Ibu suka kamu merapikan mainan sendiri, itu tandanya kamu bertanggung jawab.”

 

6. Mendukung Kemandirian Anak

Anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba, memilih, dan menyelesaikan hal kecil sendiri, dengan tetap dibimbing sesuai usianya.

Hindari terlalu cepat mengambil alih semua hal yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh anak.

Ini bisa dimulai dari hal kecil, seperti “Kamu mau pakai baju merah atau kuning hari ini?”, atau “Mau membereskan buku dulu atau mainan dulu?”

Dengan begitu, anak akan lebih percaya diri dan belajar mengambil keputusan.

 

7. Jadilah Role Model yang Baik untuk Anak

Anak banyak mencontoh perilaku orang tua. 

Oleh karena itu, menasihati dengan kata-kata tidak cukup.

Orang tua harus mencontohkannya melalui perilaku, perkataan, dan respons terhadap suatu masalah.

Contohnya, jika orang tua tak sengaja berbicara dengan nada tinggi, orang tua bisa mengatakan, “Tadi Ayah bicara terlalu keras. Maaf ya. Ayah akan coba bicara lebih pelan.”

Dari situ, anak akan mencontoh untuk bersikap baik, dalam hal ini meminta maaf.

 

8. Berikan stimulasi untuk Mengembangkan Potensi Anak

Stimulasi adalah rangsangan positif yang mendukung perkembangan anak.

Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari bermain, membaca buku, bernyanyi, menggambar, bercerita, olahraga, atau belajar bahasa.

UNICEF menjelaskan bahwa usia dini adalah periode penting untuk membangun fondasi perkembangan anak. 

Anak membutuhkan kesempatan belajar dan pengasuhan yang responsif, termasuk diajak bicara, bernyanyi, dan bermain bersama.

Stimulasi bahasa juga menjadi salah satu yang penting diberikan, terutama dalam masa golden age.

Di masa ini anak sedang aktif menyerap banyak hal baru di lingkungannya, termasuk kosakata bahasa baru.

Jadi, selain mengenalkan bahasa ibu, orang tua juga bisa mulai mengenalkan bahasa Inggris yang banyak digunakan dalam komunikasi global.

Prosesnya bisa dimulai dengan mendengarkan lagu berbahasa Inggris, membaca cerita pendek dalam bahasa Inggris, bermain tebak gambar bahasa Inggris, dan kata-kata sederhana harian seperti “thank you”, “sorry”, dan “please”.

 

Baca Juga: Perkembangan Bahasa Anak dan 6 Cara Mendukungnya Sejak Dini

 

Very New Banner SEO Sparks English 2026 (1)
Agar lebih terarah, Moms & Dads juga bisa mengikutkan anak ke kursus bahasa Inggris khusus anak Sparks English!

Sparks English telah menggunakan kurikulum CEFR yang sudah diakui internasional.

Di sini ada 3 program yang disesuaikan dengan usia anak. 

Materinya mulai dari belajar pelafalan (phonics), vocabulary, grammar, speaking hingga belajar dengan konsep group discussion dan problem solving.

Semua ini bisa didapatkan mulai dari Rp70 ribuan per kelas!

Penasaran cocok atau tidak dengan anak? Ayo coba free trial class sekarang!

Author:

Topik:

Share article: