Kenapa Anak Suka Marah? Ini Penyebab & 8 Cara Mengatasinya

13 August 2026
anak pemarah

Terkadang, anak kecil marah secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, atau bahkan hingga meluapkan emosinya dalam bentuk tantrum. 

Situasi ini sering kali membuat Moms & Dads bertanya-tanya: “Kenapa anak suka marah dan sulit mengendalikan emosinya?”

Perlu diketahui bahwa emosi marah adalah hal yang wajar dirasakan oleh anak-anak. 

Namun, ketika anak mudah marah dan mengamuk terus-menerus, Moms & Dads perlu memahami akar permasalahannya agar bisa memberikan respons yang tepat. 

Yuk, simak ulasan lengkap mengenai ciri-ciri, penyebab, hingga cara mengatasi anak yang mudah marah di bawah ini!

 

 

Ciri-Ciri Anak Pemarah

Beberapa perilaku yang dapat muncul ketika anak sedang kesulitan mengelola rasa marah antara lain:

  • Mudah kesal ketika keinginannya tidak terpenuhi.
  • Sering menangis atau berteriak ketika menghadapi hal yang tidak disukai.
  • Sulit menenangkan diri setelah marah.
  • Membanting atau melempar benda ketika emosi.
  • Memukul, menendang, atau melakukan perilaku agresif lainnya.
  • Mudah tersinggung terhadap perkataan atau tindakan orang lain.
  • Menolak berbicara atau memilih diam ketika kesal.
  • Mengalami ledakan emosi saat menghadapi perubahan atau larangan.
  • Kesulitan menjelaskan apa yang sebenarnya membuatnya kesal.

Namun, satu atau beberapa perilaku di atas tidak otomatis berarti anak memiliki masalah tertentu. 

Moms & Dads perlu melihat usia, situasi, frekuensi, intensitas, serta dampak perilaku tersebut terhadap keseharian anak.

 

Penyebab Anak Menjadi Pemarah

Kenapa anak suka marah? Penyebabnya tidak selalu karena anak ingin melawan orang tua.

Berikut beberapa kemungkinan penyebabnya.

 

1. Perkembangan Emosi yang Belum Matang

Kemampuan mengatur emosi berkembang secara bertahap seiring pertumbuhan anak. 

Itu sebabnya, anak kecil marah ketika tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan merupakan situasi yang cukup sering ditemui.

Di sinilah pendampingan orang tua dibutuhkan agar anak secara perlahan belajar mengenali dan merespons emosinya.

 

2. Kesulitan Mengungkapkan Perasaan

Anak mungkin sudah bisa merasakan bahwa dirinya kesal, takut, kecewa, atau malu, tetapi belum mengetahui kata yang tepat untuk menjelaskannya.

Akibatnya, perasaan tersebut bisa muncul dalam bentuk perilaku.

Moms & Dads dapat membantu dengan mengenalkan kosakata emosi sederhana seperti senang, sedih, kecewa, takut, malu, kesal, dan marah.

Semakin anak mampu menyampaikan apa yang dirasakan, semakin banyak pula pilihan yang dimilikinya untuk mengekspresikan diri selain melalui ledakan emosi.

 

3. Meniru Lingkungan Sekitar

Anak banyak belajar melalui pengamatan.

Cara orang tua, saudara, teman, maupun orang-orang di sekitarnya menghadapi konflik dapat menjadi contoh yang diamati oleh anak.

Apabila anak sering melihat masalah diselesaikan dengan berteriak, misalnya, ia mungkin menganggap respons tersebut sebagai salah satu cara menghadapi rasa kesal.

Karena itu, memberikan contoh secara langsung merupakan bagian penting dalam mengajarkan regulasi emosi.

Saat Moms & Dads sedang kesal, tunjukkan bahwa marah boleh dirasakan, tetapi tetap dapat disampaikan tanpa menyakiti orang lain.

 

Baca Juga: Tahap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini 1-6 Tahun

 

4. Kurang Tidur, Lapar, atau Kelelahan

Terkadang penyebab anak marah jauh lebih sederhana.

Anak yang lapar, mengantuk, atau terlalu lelah dapat menjadi lebih sensitif terhadap situasi yang biasanya bisa ia hadapi dengan tenang.

Coba perhatikan pola kemarahannya.

Apakah anak lebih sering rewel menjelang waktu tidur? Apakah ia mudah menangis sepulang sekolah? Atau kemarahan muncul ketika jadwal aktivitasnya terlalu padat?

Mengetahui pola tersebut dapat membantu Moms & Dads mengantisipasi pemicunya.

 

5. Tekanan di Sekolah atau Lingkungan Sosial

Bukan hanya orang dewasa yang dapat menghadapi tekanan dalam kesehariannya.

Anak juga dapat merasa tidak nyaman karena tugas sekolah, konflik dengan teman, perubahan lingkungan, kesulitan mengikuti aktivitas, atau situasi sosial tertentu.

Namun, anak belum tentu langsung menceritakannya.

Karena itu, ketika perilaku anak tiba-tiba berubah, Moms & Dads dapat membuka percakapan dengan pertanyaan yang ringan.

Alih-alih langsung bertanya, “Kenapa kamu marah terus?”, cobalah bertanya mengenai bagaimana harinya, aktivitas apa yang menyenangkan, dan apakah ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

 

Baca Juga: 5 Cara Mengontrol Emosi pada Anak yang Bisa Orang Tua Coba

 

Faktor yang Memicu Anak Mudah Marah

Selain mencari penyebab dasarnya, Moms & Dads juga dapat mengenali situasi yang menjadi pemicu kemarahan.

  • Beberapa pemicu yang umum dijumpai antara lain:
  • Tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
  • Diminta berhenti dari aktivitas favorit.
  • Merasa lapar atau haus.
  • Kurang tidur atau kelelahan.
  • Menghadapi perubahan rutinitas secara mendadak.
  • Berebut mainan dengan saudara atau teman.
  • Merasa tidak didengarkan.
  • Kesulitan mengerjakan tugas tertentu.
  • Mendapat larangan tanpa memahami alasannya.
  • Berada di lingkungan yang terlalu ramai atau membuatnya tidak nyaman.
  • Mengalami konflik dengan teman.
  • Kesulitan menyampaikan keinginan atau perasaan.

Cobalah mencatat kapan, di mana, dan dalam situasi apa anak biasanya marah. Dari sana, Moms & Dads mungkin akan menemukan pola yang sebelumnya tidak terlihat.

 

Anak yang mudah marah sering kali membutuhkan wadah yang tepat untuk mengekspresikan diri dan membangun rasa percaya diri. 

Apalagi di masa golden age, memberikan tempat untuk anak mengembangkan bebagai kemampuan akan menjadi stimulus yang berkembang alami, termasuk kemampuan Bahasa Inggris.

Sayangnya, banyak orang tua menganggap kemampuan Bahasa Inggris itu opsional, dan menyesal ketika anak sudah dewasa.

Ketika anak sudah dewasa, proses belajar bahasa baru jauh lebih berat dan hasilnya tidak pernah senatural belajar di masa kanak-kanak.

Jangan sampai si kecil kehilangan kesempatannya.

design new banner 2026
Di Sparks English, anak tidak hanya belajar bahasa Inggris tapi juga belajar mengekspresikan diri, bersosialisasi, dan membangun kepercayaan diri lewat pembelajaran yang fun & interactive.

Dengan kelas semi-private, setiap anak mendapat perhatian penuh dari native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT yang memahami cara terbaik membimbing setiap anak sesuai karakternya.

Dengan semua keunggulan ini, biaya lesnya masih terjangkau mulai Rp70 ribu per kelas.

Lebih dari 25,000 students sudah jago bahasa Inggris dalam 6 bulan, yakin nggak mau coba dulu?

Ayo coba kelasnya secara gratis lewat free trial class dan ambil promonya sekarang!

 

8 Cara Mengatasi Anak Pemarah

Saat anak mudah marah dan mengamuk, respons orang dewasa di sekitarnya ikut menentukan bagaimana situasi berkembang.

Berikut beberapa cara yang dapat Moms & Dads coba.

 

1. Tetap Tenang saat Anak Marah

Ketika anak berteriak, refleks orang tua terkadang adalah menaikkan suara agar anak berhenti.

Namun, membalas kemarahan dengan kemarahan dapat membuat situasi semakin sulit dikendalikan.

Cobalah mengatur nada bicara dan gunakan kalimat singkat. 

Jika anak sedang berada dalam puncak emosi, utamakan keamanan dan beri kesempatan untuk menenangkan diri sebelum mengajak berdiskusi panjang.

Dengan begitu, Moms & Dads sekaligus menunjukkan contoh bahwa situasi sulit dapat dihadapi tanpa harus berteriak.

 

2. Validasi Perasaan Anak

Validasi bukan berarti Moms & Dads harus menyetujui semua tindakan atau memenuhi setiap keinginan anak.

Moms & Dads bisa menerima perasaannya, tetapi tetap memberikan batas terhadap perilakunya.

Misalnya:

“Ayah tahu kamu kesal karena waktu bermain sudah selesai. Kamu boleh kesal, tetapi mainannya tidak boleh dilempar.”

Kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa perasaannya didengarkan sekaligus mengajarkan batas perilaku yang dapat diterima.

 

3. Ajarkan Anak Mengenali Emosi

Anak akan lebih mudah mengomunikasikan perasaannya jika ia mempunyai kosakata untuk menjelaskannya.

Mulailah dari kata sederhana seperti:

  • Senang
  • Sedih
  • Takut
  • Kesal
  • Kecewa
  • Malu
  • Marah

Moms & Dads juga bisa memanfaatkan cerita atau kejadian sehari-hari.

Misalnya ketika membaca buku, tanyakan, “Menurut kamu karakter ini sedang merasa apa?”

Cara sederhana tersebut dapat menjadi latihan untuk membantu anak mengenali emosi diri sendiri maupun orang lain.

 

4. Berikan Contoh Cara Mengelola Emosi

Anak tidak hanya belajar dari instruksi, tetapi juga dari apa yang dilakukan orang dewasa.

Saat Moms & Dads sedang kesal, coba tunjukkan proses mengelola emosi secara sederhana.

Misalnya, “Mama lagi kesal, jadi Mama mau tenang sebentar sebelum bicara.”

Anak kemudian melihat bahwa seseorang dapat merasa marah tanpa harus membentak atau melakukan tindakan agresif.

 

5. Terapkan Aturan yang Konsisten

Batas yang berubah-ubah dapat membuat anak bingung.

Hari ini suatu perilaku dilarang, tetapi besok diperbolehkan karena anak menangis. Anak akan kesulitan memahami aturan mana yang sebenarnya berlaku.

Moms & Dads dapat menetapkan beberapa aturan sederhana yang sesuai usia, kemudian menerapkannya secara konsisten.

Jika terdapat lebih dari satu pengasuh, usahakan aturan utamanya juga dipahami bersama agar anak menerima pesan yang tidak saling bertentangan.

 

6. Ajarkan Teknik Menenangkan Diri

Selain mengatakan “jangan marah”, berikan anak alternatif yang dapat dilakukan ketika emosinya meningkat.

Beberapa aktivitas sederhana yang bisa dicoba antara lain:

  • Menarik dan mengembuskan napas secara perlahan.
  • Berhenti sejenak dari aktivitas.
  • Duduk di tempat yang lebih tenang.
  • Mengatakan, “Aku sedang marah.”
  • Menggambar apa yang sedang dirasakan.
  • Menghitung perlahan sebelum merespons.

Tidak semua teknik cocok untuk setiap anak. 

Moms & Dads dapat mencoba beberapa pilihan dan melihat mana yang paling membantu.

 

7. Berikan Apresiasi saat Anak Berhasil Mengendalikan Emosi

Jangan hanya memberikan perhatian ketika anak melakukan kesalahan.

Saat Si Kecil berhasil menyampaikan rasa kesalnya dengan kata-kata atau mampu menenangkan diri, berikan apresiasi yang spesifik.

Contohnya:

“Tadi kamu kesal, tapi kamu bisa bilang baik-baik kalau kamu tidak suka. Bagus, kamu sudah mencoba menjelaskan perasaanmu.”

Apresiasi spesifik membantu anak memahami perilaku positif mana yang perlu diulang.

 

8. Bangun Komunikasi yang Terbuka

Komunikasi tentang emosi sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika anak sedang marah.

Ciptakan kebiasaan mengobrol pada waktu yang lebih santai, misalnya sepulang sekolah atau sebelum tidur.

Moms & Dads bisa bertanya:

  • “Apa hal paling seru hari ini?”
  • “Ada sesuatu yang bikin kamu sedih?”
  • “Tadi di sekolah ada yang bikin kamu kesal?”

Percakapan sederhana dapat membantu anak terbiasa bercerita sehingga orang tua lebih mudah memahami apa yang sedang dihadapinya.

 

Baca Juga: 8 Dampak Membentak Anak yang Wajib Diketahui!

 

Menghadapi anak pemarah membutuhkan kesabaran dan konsistensi. 

Dan salah satu langkah terbaik yang bisa Moms & Dads ambil adalah memberikan lingkungan belajar yang suportif sejak dini, sebelum karakter dan kebiasaan anak terlanjur terbentuk ke arah yang salah.

Di kursus Bahasa Inggris Sparks English, anak tidak hanya belajar bahasa Inggris tapi juga belajar mengekspresikan diri, bersosialisasi, dan membangun kepercayaan diri lewat aktivitas yang fun & interactive.

Sudah ada lebih dari 25,000 students membuktikan dalam 6 bulan kemampuan berbahasa Inggrisnya meningkat, sekarang giliran si kecil!

Mulai Rp70 ribuan aja lho! In this economy, it’s definitely worth every penny!

Booking free trial class sekarang dan klaim promonya biar dapat harga hemat!

Author:

Topik:

Share article: