Anak tidak punya teman di sekolah dapat disebabkan oleh banyak hal, mulai dari sifat pemalu, kurang percaya diri, belum terbiasa bersosialisasi, hingga sedang beradaptasi dengan lingkungan baru.
Karena penyebabnya bisa berbeda pada setiap anak, Moms & Dads sebaiknya tidak langsung memberi label seperti “anak antisosial” atau memaksanya untuk segera memiliki banyak teman.
Yuk, kenali beberapa penyebab anak sulit berteman dan apa yang bisa dilakukan untuk membantunya.
- Penyebab Anak Tidak Punya Teman di Sekolah
- 1. Belum Memiliki Kemampuan Sosial yang Baik
- 2. Terlalu Banyak Menghabiskan Waktu dengan Gadget
- 3. Kepribadian Pemalu
- 4. Baru Pindah Sekolah atau Lingkungan Baru
- 5. Kurang Percaya Diri
- 6. Terlalu Bergantung pada Orang Tua
- 7. Memiliki Minat yang Berbeda dengan Teman Sebaya
- 8. Mengalami Hambatan Perkembangan
- Dampak Jika Anak Terus Tidak Memiliki Teman
- Cara Membantu Anak Mendapatkan Teman di Sekolah
Penyebab Anak Tidak Punya Teman di Sekolah

Ada banyak alasan mengapa seorang anak terlihat kesulitan berteman.
Penyebabnya bisa berasal dari kemampuan sosial, karakter anak, pengalaman sebelumnya, hingga perubahan lingkungan.
Berikut beberapa hal yang dapat membuat anak kesulitan membangun pertemanan di sekolah.
1. Belum Memiliki Kemampuan Sosial yang Baik
Berteman ternyata membutuhkan banyak keterampilan kecil yang perlu dipelajari anak.
Anak perlu tahu bagaimana cara menyapa, memperkenalkan diri, bergabung dalam permainan, mendengarkan orang lain, berbagi, hingga memahami kapan waktunya berbicara.
Bagi anak yang belum terbiasa berinteraksi, memulai percakapan dengan teman baru saja bisa terasa cukup sulit.
Akibatnya, anak mungkin hanya berdiri di dekat kelompok temannya tanpa tahu bagaimana cara ikut bergabung.
Kemampuan sosial seperti ini bisa berkembang melalui latihan dan pengalaman sehari-hari.
2. Terlalu Banyak Menghabiskan Waktu dengan Gadget
Jika sebagian besar waktu luang anak dihabiskan dengan bermain gadget, kesempatan untuk berlatih berinteraksi secara langsung menjadi lebih sedikit.
Interaksi tatap muka membantu anak belajar membaca ekspresi, menunggu giliran berbicara, merespons perkataan orang lain, dan menyelesaikan perbedaan kecil saat bermain.
Karena itu, Moms & Dads bisa mencoba menyeimbangkan waktu menggunakan gadget dengan aktivitas yang memberi anak kesempatan berkomunikasi dengan orang lain.
Tidak harus selalu dalam kelompok besar. Bermain dengan satu atau dua teman juga sudah bisa menjadi latihan sosial yang berarti.
3. Kepribadian Pemalu
Kenapa anak pendiam tidak punya teman, salah satu kemungkinannya adalah anak membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan orang baru.
Anak pendiam atau pemalu sebenarnya belum tentu tidak ingin berteman.
Ia mungkin ingin bergabung, tetapi merasa gugup untuk mengambil langkah pertama.
Ada juga anak yang lebih nyaman memiliki satu atau dua teman dekat daripada berada dalam kelompok besar.
Hal tersebut tidak perlu dianggap sebagai kekurangan.
Moms & Dads bisa membantu dengan memberikan kesempatan berinteraksi secara bertahap tanpa membuat anak merasa sedang diuji.
4. Baru Pindah Sekolah atau Lingkungan Baru
Masuk ke lingkungan baru membutuhkan proses adaptasi.
Anak perlu mengenal guru baru, aturan sekolah, teman sekelas, kebiasaan belajar, bahkan mencari tahu dengan siapa ia bisa duduk atau bermain saat istirahat.
Sementara itu, teman-teman lain mungkin sudah memiliki kelompok pertemanan masing-masing.
Jadi, jika anak baru pindah sekolah dan belum memiliki teman, berikan waktu baginya untuk beradaptasi.
5. Kurang Percaya Diri
Sebagian anak sebenarnya tahu cara berbicara dengan teman, tetapi terlalu khawatir akan melakukan kesalahan.
Anak yang kurang percaya diri juga cenderung terlalu memikirkan respons orang lain. Ia takut ditolak sebelum benar-benar mencoba.
Karena itu, membangun kepercayaan diri menjadi salah satu bekal penting dalam perkembangan sosial anak.
Ketika anak merasa nyaman dengan dirinya sendiri, biasanya ia juga lebih berani menyapa, bertanya, menyampaikan pendapat, dan mencoba berinteraksi.
6. Terlalu Bergantung pada Orang Tua
Ada anak yang terbiasa meminta Moms atau Dads berbicara untuk dirinya.
Misalnya, saat membeli sesuatu, orang tua yang berbicara.
Ketika bertemu anak lain, orang tua pula yang langsung memperkenalkan dan mengatur permainan.
Sesekali tentu tidak masalah.
Namun, jika selalu dibantu, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi situasi sosial sendiri.
Cobalah memberi ruang agar anak melakukan hal-hal sederhana secara mandiri, seperti menjawab pertanyaan orang lain, memesan makanan, atau menyapa temannya terlebih dahulu.
7. Memiliki Minat yang Berbeda dengan Teman Sebaya
Pertemanan sering kali tumbuh dari kesamaan.
Anak yang sama-sama suka sepak bola mungkin mudah akrab karena sering bermain bersama.
Anak yang suka menggambar bisa menemukan teman melalui kegiatan seni.
Sebaliknya, anak dengan minat yang cukup berbeda dari teman-temannya mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan orang yang cocok.
Jika hal ini terjadi, cobalah membuka kesempatan agar anak bertemu dengan teman yang memiliki ketertarikan serupa melalui ekstrakurikuler, klub, komunitas, atau kegiatan kelompok lainnya.
8. Mengalami Hambatan Perkembangan
Pada beberapa anak, kesulitan bersosialisasi dapat berkaitan dengan perkembangan kemampuan komunikasi, bahasa, perhatian, pemahaman situasi sosial, atau aspek perkembangan lainnya.
Namun, kesulitan berteman saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan tertentu.
Setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda.
Jika Moms & Dads melihat kesulitan berkomunikasi atau bersosialisasi terjadi secara terus-menerus, muncul di berbagai situasi, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari anak, diskusikan terlebih dahulu dengan guru atau wali kelas.
Jika diperlukan, orang tua juga dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional yang kompeten untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.
Dampak Jika Anak Terus Tidak Memiliki Teman
Beberapa anak memang lebih nyaman dengan lingkaran pertemanan yang kecil.
Hal yang lebih perlu diperhatikan adalah ketika anak merasa kesepian, terus-menerus kesulitan berinteraksi, atau merasa tidak diterima oleh lingkungan sosialnya.
Jika kondisi tersebut berlangsung cukup lama, beberapa dampak yang mungkin muncul antara lain:
- Merasa kesepian di sekolah, terutama ketika jam istirahat atau kegiatan kelompok.
- Kepercayaan diri menurun karena anak mulai merasa dirinya berbeda atau tidak disukai.
- Semakin enggan memulai interaksi karena takut ditolak.
- Kurang memiliki kesempatan melatih kemampuan komunikasi dengan teman sebaya.
- Kurang nyaman mengikuti kegiatan kelompok di kelas maupun di luar kelas.
- Menjadi tidak mau pergi ke sekolah apabila pengalaman sosialnya membuat anak merasa tertekan.
- Kesulitan menyampaikan pikiran atau perasaannya jika anak terus memilih menarik diri dari interaksi.
Karena itu, fokus orang tua sebaiknya bukan pada berapa banyak teman yang dimiliki anak, melainkan apakah anak merasa nyaman, diterima, dan memiliki kesempatan membangun hubungan sosial yang sehat.
Anak yang kesulitan berteman di sekolah sering kali bukan karena tidak mau bersosialisasi, tapi karena belum punya cukup kepercayaan diri untuk memulai percakapan dan mengekspresikan dirinya.
Dan kemampuan komunikasi yang kuat adalah kunci untuk mengubah itu.
Salah satu cara terbaik membangun kemampuan komunikasi anak sejak dini adalah lewat bahasa Inggris, skill yang akan terus relevan di setiap tahap kehidupannya.
Di masa kanak-kanak, fondasi ini paling mudah terbentuk secara natural.
Banyak orang dewasa menyesal tidak dapat stimulasi bahasa Inggris sejak kecil karena saat baru belajar di usia dewasa, kemampuan otak menyerap bahasa baru sudah menurun.
Jangan biarkan si kecil kehilangan kesempatannya dan menyesal di kemudian hari!

Sparks English hadir untuk anak usia 3–15 tahun, dengan pembelajaran berdasarkan level CEFR, didampingi native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT.
Melalui aktivitas interaktif, games, mini project, hingga problem solving, mereka juga mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk berani dan aktif speaking.
Nggak perlu biaya mahal untuk bisa upgrade skill anak, cukup mulai Rp70 ribu per sesi, sudah dapat kelas semi private dengan native teacher.
Lebih dari 25,000 students sudah buktikan hasilnya, yakin nggak mau coba dulu?
Tunggu apa lagi, booking free trial class sekarang dan klaim diskon 1 jutanya!
Cara Membantu Anak Mendapatkan Teman di Sekolah
Berikut ini beberapa cara yang bisa Moms & Dads lakukan untuk membantu anak mendapatkan teman di sekolah.
1. Bangun Kepercayaan Diri Anak Sejak di Rumah
Rumah bisa jadi tempat pertama bagi anak untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Membangun rasa percaya diri pada anak bisa dilakukan dengan memberikan mereka ruang untuk menyampaikan pendapat, membuat pilihan sederhana, bercerita, dan mencoba melakukan sesuatu sendiri.
Saat anak sedang berbicara, dengarkan tanpa terlalu cepat mengoreksi.
Baca Juga: Anak Sulit Percaya Diri? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!
2. Ajarkan Cara Memulai Percakapan
Bagi anak pemalu, memulai percakapan justru bisa menjadi bagian tersulit.
Moms & Dads dapat berlatih bersama anak di rumah.
Contohnya:
“Hi, kamu namanya siapa?”
“Kamu suka main apa?”
“Aku boleh duduk di sini?”
Gunakan roleplay supaya latihannya terasa seperti permainan.
Moms & Dads bisa berpura-pura menjadi teman baru, kemudian biarkan anak mencoba membuka percakapan.
3. Latih Kemampuan Mendengarkan dan Bergiliran Berbicara
Anak juga perlu belajar mendengarkan, memperhatikan perkataan temannya, kemudian memberikan respons yang sesuai.
Kemampuan ini dapat dilatih melalui percakapan keluarga.
Misalnya, setiap anggota keluarga bergantian menceritakan kegiatan hari itu.
Anak belajar menunggu giliran, mendengarkan cerita orang lain, lalu memberikan komentar atau pertanyaan.
Kebiasaan sederhana tersebut akan membantu anak ketika berbicara dengan teman sebaya.
4. Dorong Anak Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler bisa membuka peluang bertemu teman dengan minat yang sama.
Ketika ada aktivitas yang dikerjakan bersama, anak tidak harus memikirkan topik percakapan dari nol.
Interaksi biasanya muncul lebih natural karena mereka sudah memiliki kegiatan dan ketertarikan yang sama.
5. Berikan Kesempatan Bermain Bersama Teman
Moms & Dads dapat mengajak satu teman sekolah anak bermain bersama di rumah atau melakukan kegiatan sederhana di akhir pekan.
Misalnya, bermain board game, menggambar, membuat kerajinan, bermain di taman, atau membaca buku bersama.
Pertemuan dalam suasana yang lebih santai dapat membantu anak mengenal temannya tanpa tekanan lingkungan sekolah yang ramai.
6. Ajarkan Cara Mengatasi Penolakan dengan Sehat
Tidak semua ajakan bermain akan diterima. Mungkin akan ada satu teman yang menolak pertemanan.
Penolakan kecil seperti ini merupakan bagian dari proses bersosialisasi dan dapat terasa menyakitkan bagi anak.
Ajarkan bahwa penolakan tersebut tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah dengannya.
Anak bisa mencoba bertanya kepada teman lain, memilih kegiatan berbeda, atau mencoba kembali pada kesempatan berikutnya.
7. Berikan Contoh Cara Bersikap Ramah
Anak banyak belajar dengan mengamati orang tuanya.
Contoh sehari-hari sering kali lebih mudah ditiru anak daripada sekadar nasihat.
Oleh karena itu, cobalah untuk menyapa tetangga, mengucapkan terima kasih kepada petugas toko, mendengarkan orang lain berbicara, atau memperkenalkan diri kepada orang baru, anak melihat langsung bagaimana interaksi sosial berlangsung.
8. Hindari Memaksa Anak
Paksaan anak untuk bermain dapat membuat anak semakin menganggap situasi sosial sebagai sesuatu yang menakutkan.
Moms & Dads cukup berikan dorongan, tetapi tetap perhatikan kesiapan anak.
9. Berikan Apresiasi atas Setiap Kemajuan Anak
Apresiasi tidak harus menunggu anak berhasil mendapatkan sahabat baru.
Ketika anak berani mencoba, Moms & Dads sudah bisa mengakuinya.
Misalnya:
“Mama lihat tadi kamu berani menyapa temanmu duluan.”
“Tadi kamu berani cerita di depan teman-teman, ya.”
“Walaupun tadi malu, kamu tetap mencoba ngomong. Bagus.”
10. Bangun Kemampuan Komunikasi Melalui Aktivitas Kelompok
Anak membutuhkan kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan sosialnya dalam situasi nyata.
Aktivitas kelompok bisa menjadi salah satu tempat berlatih.
Ketika mengerjakan permainan, proyek, roleplay, atau diskusi bersama, anak belajar banyak hal sekaligus: mengutarakan pendapat, mendengarkan orang lain, menunggu giliran, bertanya, bekerja sama, dan merespons teman.
Kemampuan tersebut juga dapat dilatih ketika anak belajar bahasa.
Saat belajar bahasa Inggris secara aktif, misalnya, anak tidak hanya menghafalkan vocabulary dan grammar.
Ia perlu menggunakan bahasa tersebut untuk benar-benar berkomunikasi dengan orang lain.
Kursus Bahasa Inggris anak Sparks English bisa jadi tempat terbaik si kecil berlatih sosialisasi dan mengembangkan kemampuan bahasanya.
Pembelajaran dirancang secara fun dan interaktif agar anak aktif menggunakan bahasa Inggris sesuai usia dan level kemampuannya.
Anak juga mendapat kesempatan belajar melalui berbagai aktivitas komunikasi bersama teacher dan teman sekelas, sehingga belajar bahasa Inggris jadi lebih dekat dengan penggunaan sehari-hari.
Sudah ada lebih dari 25.000 students di seluruh Indonesia yang lebih percaya diri dan jago Bahasa Inggris dalam 6 bulan Bersama Sparks English!
Mulai 70 ribu aja lho Moms, sudah bisa beri investasi skill terbaik untuk masa depan anak!
Ayo buruan daftar kelas trial gratisnya dan klaim diskonnya untuk dapat harga best deal!


