Dalam suatu lingkungan anak-anak, di kelas PAUD misalnya, tidak semua anak langsung berani berbaur.
Ada anak yang aktif dan langsung bisa menyapa, bertanya, atau bermain dengan teman-teman baru, ada juga anak pendiam yang lebih nyaman mengamati dulu sebelum ikut bergabung.
Hal ini belum tentu menjadi sebuah masalah, tetapi tetap penting bagi Moms & Dads untuk memahami kapan sikap pendiam anak masih wajar, dan kapan perlu diperhatikan lebih serius.
- Apa yang Menyebabkan Anak menjadi Pendiam?
- Apa Ciri-Ciri Anak Pendiam?
- Cara Mengatasi Anak Pendiam agar Lebih Percaya Diri
- 1. Bangun Komunikasi yang Hangat dengan Anak
- 2. Jangan Beri Label pada Anak
- 3. Jangan Memaksa Anak untuk Langsung Aktif
- 4. Berikan Lingkungan yang Aman dan Nyaman
- 5. Ajak Anak Bersosialisasi Secara Bertahap
- 6. Berikan Pujian untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri
- 7. Hindari Membandingkan Anak dengan Orang Lain
- 8. Libatkan Anak dalam Aktivitas yang Disukai
Apa yang Menyebabkan Anak menjadi Pendiam?
Ada berbagai alasan yang menjadi penyebab anak menjadi pendiam dan suka menyendiri.
Sebagian mungkin berkaitan dengan karakter bawaan, sebagian lagi bisa muncul karena pengalaman, lingkungan, atau hambatan komunikasi.
Berikut ini beberapa penyebab yang cukup sering terjadi.
1. Rasa Malu atau Kurang Percaya Diri
Salah satu penyebab anak menjadi pendiam adalah rasa malu atau kurang percaya diri, terutama saat berada di lingkungan baru.
Dalam konteks anak pendiam menurut para ahli, ini sebenarnya cukup sering terjadi pada anak.
Menurut Children’s Hospital of Philadelphia, beberapa anak memang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan situasi atau orang baru.
Selain itu, anak mungkin sebenarnya ingin berinteraksi dengan orang lain.
Namun, ia masih takut salah bicara, atau takut mendapat respons kurang menyenangkan sehingga ia memilih diam.
2. Kurangnya Interaksi Sosial
Anak juga bisa menjadi pendiam karena belum terbiasa berinteraksi dengan orang lain.
Alasannya bisa karena anak lebih sering berada di rumah atau jarang bermain dengan teman sebaya sehingga ia belum punya banyak kesempatan untuk melatih kemampuan sosialnya.
Padahal, interaksi sosial membantu anak belajar banyak hal, seperti bagaimana mengungkapkan keinginan, memahami ekspresi orang lain, hingga menunggu giliran.
3. Pola Asuh yang Terlalu Keras atau Sering Dimarahi
Pola asuh yang terlalu keras, seperti sering memarahi ketika anak berbuat salah, bisa membuat anak lebih memilih diam.
Anak mungkin berpikir bahwa berbicara atau mengekspresikan pendapat dapat berisiko membuatnya dimarahi.
Bahkan sebuah publikasi dari University of Cambridge menjelaskan bahwa pola pengasuhan yang keras atau hostile parenting berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan mental anak, termasuk gejala internalisasi seperti kecemasan atau penarikan diri secara sosial.
4. Pengalaman Traumatis
Pada beberapa anak, pengalaman traumatis bisa membuat mereka menarik diri dari lingkungan sosial.
Contohnya anak yang pernah diejek, dimarahi di depan banyak orang, mengalami bullying, atau berada dalam situasi yang membuatnya merasa tidak aman.
Jika anak mengalami keadaan seperti ini, orang tua sebaiknya lebih peka.
Anak tidak cukup hanya diminta “jangan takut” atau “ayo berani”.
Ia perlu merasa aman, didengarkan, dan bila perlu dibantu oleh profesional.
5. Keterlambatan Bicara (Speech Delay)
Anak yang pendiam juga bisa jadi merupakan dampak dari adanya keterlambatan bicara.
Mungkin sebenarnya anak ingin bicara, tetapi ia belum punya cukup kosakata, belum mampu menyusun kalimat, dan sulit mengucapkan kata dengan jelas sehingga ia lebih memilih diam.
American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menyebutkan bahwa keterlambatan bahasa termasuk salah satu jenis keterlambatan perkembangan yang cukup umum.
Sebagian anak juga bisa menunjukkan masalah perilaku karena frustrasi saat tidak bisa menyampaikan kebutuhan atau keinginannya.
Jika anak tampak sangat jarang bicara, sulit memahami instruksi sederhana atau kemampuan bahasa jauh tertinggal dari anak seusianya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak ahli tumbuh kembang.
Baca Juga: Perkembangan Bahasa Anak dan 6 Cara Mendukungnya Sejak Dini
Apa Ciri-Ciri Anak Pendiam?
Berikut ini adalah ciri-ciri anak pendiam.
Perlu diingat bahwa psikologi anak pendiam tidak selalu bermasalah.
Namun jika sikap pendiam disertai perubahan perilaku yang mengkhawatirkan atau hambatan komunikasi yang cukup jelas, sebaiknya konsultasikan dengan ahlinya.
1. Lebih Suka Bermain Sendiri
Anak pendiam biasanya lebih nyaman bermain sendiri, seperti menggambar, membaca buku, menyusun balok, atau bermain boneka.
Selama anak tetap terlihat senang dan masih merespons orang tua dengan baik, hal ini bisa saja menjadi bagian dari preferensinya.
Namun orang tua tetap bisa mengenalkan aktivitas bersama teman secara perlahan.
Misalnya mulai dari bermain dengan satu teman yang sudah dikenal.
2. Jarang Memulai Percakapan
Anak pendiam juga biasanya jarang memulai percakapan lebih dulu.
Ia mungkin menjawab saat ditanya, tetapi belum terbiasa bercerita atau membuka obrolan duluan.
Orang tua bisa merangsang dan mendukungnya dengan pertanyaan sederhana seperti “Hari ini main apa?” atau “Baju mana yang lebih kamu suka?”
3. Hanya Aktif dengan Orang Terdekat
Sebagian anak pendiam sebenarnya cukup aktif saat berada di rumah.
Namun, saat bertemu guru, teman baru, atau orang yang belum familiar, ia bisa menjadi lebih pendiam.
Hal ini bisa terjadi karena anak merasa lebih aman dengan orang terdekat.
Perlu diperhatikan juga, jika anak benar-benar tidak bisa berbicara di situasi tertentu dalam waktu lama, bisa jadi itu adalah tanda selective mutism.
Menurut Child Mind Institute, selective mutism yaitu kondisi ketika anak sulit berbicara di situasi tertentu karena gangguan kecemasan.
Namun, orang tua sebaiknya tidak melakukan diagnosis sendiri.
Jika ada kekhawatiran, konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog anak agar mendapatkan penilaian yang tepat.
4. Butuh Waktu Lebih Lama untuk Beradaptasi
Anak pendiam biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk nyaman di lingkungan baru.
Saat masuk sekolah, ikut kelas baru, atau bertemu banyak orang, ia mungkin lebih memilih mengamati dulu sebelum ikut bergabung.
Orang tua bisa membantu dengan memberi ruang, waktu, dan tidak terlalu memaksakan anak agar langsung berbaur.
5. Cenderung Mengamati daripada Berbicara
Anak pendiam sering lebih banyak memperhatikan daripada langsung berbicara.
Ia mungkin mengamati cara teman bermain, mendengarkan guru, atau melihat situasi sebelum ikut terlibat.
Hal ini tidak selalu buruk, karena anak bisa saja sedang memahami keadaan di sekitarnya sebelum merasa siap untuk merespons.
Cara Mengatasi Anak Pendiam agar Lebih Percaya Diri
Membantu anak pendiam bukan semata-mata mengubahnya menjadi anak yang langsung aktif dan banyak bicara.
Tujuan utamanya adalah membuat anak merasa aman, percaya diri, dan mampu mengekspresikan diri dengan caranya sendiri.
Berikut ini beberapa cara yang bisa orang tua terapkan untuk mengatasi anak pendiam agar lebih percaya diri.
1. Bangun Komunikasi yang Hangat dengan Anak
Langkah pertama membuat anak lebih percaya diri adalah membuat anak merasa aman bicara di rumah.
Orang tua bisa mulai dengan mendengarkan cerita anak tanpa buru-buru memotong atau mengoreksi.
Saat anak bicara pelan-pelan, terbata-bata, atau hanya menjawab pendek, tetap berikan perhatian penuh.
Usahakan tidak memegang gadget, tatap anak, dan beri respons yang menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya penting.
2. Jangan Beri Label pada Anak
Sebagai orang tua hindari menyebut anak dengan label seperti “pemalu banget”, “anak pendiam” atau “nggak bisa bergaul” di depan orang lain.
Walaupun terdengar biasa label seperti itu bisa membuat anak merasa sifatnya sudah permanen dan tidak bisa berubah.
Daripada berkata “dia memang pendiam”, orang tua bisa menggantinya dengan “dia butuh waktu dulu untuk nyaman”, atau “kalau udah kenal, biasanya dia bakal lebih banyak cerita kok”.
Kalimat seperti ini terdengar lebih suportif dan tidak menekan anak.
3. Jangan Memaksa Anak untuk Langsung Aktif
Saat anak masuk ke lingkungan baru, orang tua pasti berharap anaknya bisa berbaur dengan teman-temannya.
Namun, bagi anak pendiam, terlalu dipaksakan berbaur dengan cepat justru bisa membuat anak semakin tertekan.
Biarkan anak memulai dari langkah kecil, misalnya cukup tersenyum dulu, melambaikan tangan, memilih mainan, atau duduk dekat teman tanpa harus berbicara.
Jika anak berhasil melakukan langkah-langkah kecil, beri apresiasi.
Contohnya, “Tadi kamu udah berani duduk dekat teman kamu, bagus sekali!”
Anak pendiam biasanya butuh pengalaman berhasil yang kecil-kecil dulu sebelum berani mengambil langkah yang lebih besar.
4. Berikan Lingkungan yang Aman dan Nyaman
Lingkungan yang aman bagi anak bukan hanya tentang fisiknya, tetapi juga secara emosional anak.
Artinya, anak tidak takut diejek, tidak takut dimarahi saat salah, atau tidak takut dibandingkan dengan orang lain.
Orang tua bisa menciptakan rasa aman itu dengan rutinitas komunikasi sederhana, misalnya ngobrol ringan dengan anak sebelum tidur atau makan bersama tanpa distraksi gadget.
Di luar rumah, pilih lingkungan yang mendukung.
Misalnya kelas yang kecil, guru yang sabar, atau aktivitas yang tidak langsung menuntut anak tampil di depan banyak orang.
5. Ajak Anak Bersosialisasi Secara Bertahap
Anak pendiam membutuhkan tahap demi tahap untuk dapat bersosialisasi.
Ia mungkin saja merasa kesulitan untuk langsung berbaur dengan kelompok besar.
Orang tua bisa mendukungnya dengan memulai dari situasi yang lebih kecil dan familiar.
Misalnya mengundang sepupunya ke rumah atau mengikuti kursus dengan kelas kecil dan jumlah anak terbatas.
Pendekatan bertahap membuat anak merasa tidak dilempar ke situasi yang menakutkan.
Ia punya waktu untuk membangun rasa aman dan percaya diri.
6. Berikan Pujian untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri
Pujian bisa membuat anak merasa usahanya dihargai.
Namun, usahakan puji prosesnya, bukan hasilnya.
Misalnya, “Ibu lihat kamu sudah mencoba bicara dengan teman baru tadi.”, atau “Tadi kamu kelihatan gugup, tapi tetap mau mencoba. Hebat banget!”
Pujian seperti ini membuat anak paham bahwa keberanian bukan berarti tidak takut sama sekali.
Keberanian adalah ketika anak tetap mencoba meski masih merasa ragu.
Untuk anak pendiam, pengakuan atas langkah kecil seperti ini bisa sangat berarti.
7. Hindari Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Membandingkan anak dengan orang lain, baik kakaknya, adiknya, sepupunya, atau teman sekolah, biasanya tidak membuat anak lebih percaya diri, sebaiknya anak justru merasa dirinya kurang baik.
Lebih baik fokus pada perkembangan mereka sendiri.
Misalnya, “Kemarin kamu belum mau masuk kelas sendiri, tapi hari ini kamu sudah mau coba. Itu keren banget!”
Dengan begitu, anak belajar melihat progresnya sendiri bukan merasa harus menjadi seperti orang lain.
8. Libatkan Anak dalam Aktivitas yang Disukai
Anak biasanya lebih mudah percaya diri saat melakukan hal yang ia sukai.
Jika anak suka menggambar, ikutkan ia dalam aktivitas seni.
Jika ia suka musik, ajak bernyanyi di rumah.
Jika suka bahasa, ajarkan ia bahasa baru yang menarik baginya.
Aktivitas yang disukai bisa menjadi jembatan untuk melatih komunikasi.
Dari aktivitas seperti ini, anak belajar mengekspresikan diri tanpa merasa sedang dipaksa bicara.
Baca Juga: 12 Cara Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak
Anak pendiam sebenarnya bukan tidak bisa bergaul, mereka hanya butuh lingkungan yang aman untuk memicu keberaniannya berbicara.
Nah, lingkungan aman, nyaman, dan suportif itulah yang dibentuk oleh Sparks English!
Di kursus bahasa Inggris Sparks English, anak belajar bahasa Inggris lewat metode fun & interactive learning seperti games, storytelling, dan conversation practice agar anak lebih percaya diri berbahasa Inggris.
Kelasnya semi-private supaya teacher bisa lebih fokus mendampingi perkembangan setiap anak, termasuk anak yang masih malu atau belum percaya diri untuk berbicara.
Lebih dari 25.000 students di Indonesia sudah buktikan hasilnya, sekarang giliran Moms & Dads ajak si kecil mencoba free trial class-nya!
Selagi ada promo daftar sekarang ya Moms & Dads!



