Moms & Dads pernah kan, lagi fokus kerja tiba-tiba scroll medsos, padahal kerjaan masih numpuk?
Nah, kalau orang dewasa aja bisa segampang itu teralihkan, apalagi anak yang kemampuan fokusnya masih dalam tahap berkembang?
Ada banyak faktor yang bikin perhatian anak gampang buyar saat belajar, dari kondisi fisiknya sampai suasana di sekitarnya.
Yuk, kenali apa aja faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar, plus cara mengatasinya sesuai penyebabnya masing-masing!
- Faktor Internal yang Mempengaruhi Konsentrasi Belajar
- Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Konsentrasi Belajar
- Cara Meningkatkan Konsentrasi Belajar Anak Sesuai Penyebabnya
Faktor Internal yang Mempengaruhi Konsentrasi Belajar
Faktor internal termasuk faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar yang berasal dari dalam diri anak, baik secara fisik maupun psikologis.
1. Kualitas dan Durasi Tidur
Selama tidur, otak anak memindahkan informasi yang didapat sepanjang hari dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.
Kalau jam tidurnya kurang, proses ini jadi terganggu dan anak bangun dalam kondisi otak yang belum benar-benar siap.
Menurut CDC, anak usia 6–12 tahun butuh 9–12 jam tidur tiap malam supaya tubuh dan otaknya kembali ke kondisi prima.
Kalau tidur terlalu larut, anak gampang ngantuk saat belajar.
2. Kondisi Fisik dan Kelelahan
Tubuh yang lelah memicu otak untuk sibuk mengalokasikan energi ke pemulihan fisik lebih dulu, bukan buat proses berpikir aktif.
Ini alasan anak yang baru pulang les renang atau main bola biasanya lebih susah diajak fokus belajar.
Kondisi ini juga berlaku saat anak lagi nggak fit, misalnya flu ringan atau sakit kepala.
3. Asupan Nutrisi dan Kebiasaan Makan
Otak anak butuh pasokan glukosa yang stabil supaya bisa bekerja optimal sepanjang hari.
Anak yang melewatkan sarapan atau cuma makan camilan manis biasanya fokusnya menurun drastis hanya dalam beberapa jam, karena gula darahnya naik dengan cepat lalu turun lagi.
Beda halnya kalau sarapannya mengandung karbohidrat kompleks dan protein, energinya cenderung lebih stabil sampai jam makan siang.
4. Kondisi Emosional Anak
Stres jangka pendek terbukti bisa mengganggu working memory yang dipakai anak untuk mempertahankan fokus saat belajar.
Riset yang ditulis Whiting dkk. menjelaskan bahwa saat anak sedang stres, otaknya lebih sibuk merespons rasa nggak nyaman itu, sehingga kapasitasnya untuk menyerap informasi baru jadi berkurang.
Misalnya, anak yang baru berantem sama teman atau habis diomelin orang tua, matanya terlihat menatap buku, tapi pikirannya ada di tempat lain.
5. Minat dan Motivasi Belajar
Anak jauh lebih mudah fokus kalau topik yang dipelajari berhubungan sama hal yang disukainya.
Anak yang suka dinosaurus bisa betah baca ensiklopedia berjam-jam, tapi susah bertahan 10 menit saat disuruh mengerjakan soal matematika.
Motivasi intrinsik yang datang dari rasa penasaran sendiri cenderung bikin fokus anak bertahan lebih lama dibanding motivasi yang cuma muncul karena takut dimarahi.
6. Pemahaman terhadap Materi
Kesulitan memahami materi dasar juga jadi alasan anak cepat menyerah belajar dan gampang teralihkan perhatiannya.
Contohnya, anak yang belum lancar perkalian akan kesulitan fokus mengerjakan soal pembagian.
Rasa “tertinggal” ini membuat mereka lebih memilih melamun atau bermain-main daripada berusaha mengejar pemahaman materi yang terasa terlalu jauh dari levelnya.
7. Rasa Bosan
Aktivitas yang monoton dan berulang memicu otak anak cepat kehilangan perhatian.
Coba perhatikan anak yang disuruh menulis kalimat yang sama berkali-kali di buku tulis, biasanya tulisannya makin lama makin berantakan, yang jadi tanda kalau konsentrasinya mulai menurun.
Rasa bosan ini beda dengan malas, karena ini berkaitan dengan kebutuhan otak anak akan variasi stimulasi supaya tetap antusias.
Salah satu cara mengatasi anak yang mudah bosan agar kembali konsentrasi adalah membuat proses belajar terasa menyenangkan, bukan justru kayak beban.
Cara yang sama bisa dilakukan saat belajar apapun, termasuk bahasa Inggris.
Dan momen paling pas buat mulai belajar bahasa Inggris adalah di masa kanak-kanak.
Di awal-awal usianya, otak anak berada di puncak kemampuan paling optimal dalam menyerap bahasa baru, sehingga jauh lebih mudah melekat dibanding kalau baru dipelajari saat sudah besar.
Sayangnya, banyak orang dewasa baru menyadari pentingnya momentum ini setelah masanya lewat, sehingga mereka harus belajar bahasa Inggris dengan effort dan waktu yang jauh lebih lama untuk menguasainya.

Sparks English hadir untuk bantu anak usia 3–15 tahun lancar bahasa Inggris sejak dini dengan kurikulum berbasis CEFR.
Setiap sesi dikemas lewat permainan, storytelling, discussion, dan berbagai aktivitas fun & interactive lainnya yang bikin anak nggak gampang bosan.
Karena kelasnya semi-private, anak akan dapat pendampingan yang jauh lebih personal dari native teacher dan Cambridge TKT certified teacher, yang sekaligus latih pronunciation-nya terdengar alami ala native.
Lebih dari 25.000 students sudah buktikan hasilnya jadi jago dan percaya diri berbahasa Inggris bersama Sparks English!
Saatnya kasih si kecil kesempatan coba lewat free trial class, apalagi ada diskon Rp1 juta yang sayang banget kalau dilewatkan!
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Konsentrasi Belajar
Faktor eksternal juga bagian dari faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar.
Namun, faktor ini adalah pengaruh dari luar diri anak, seperti lingkungan belajar dan interaksi sosialnya.
1. Suasana dan Kondisi Lingkungan Belajar
Kebisingan di sekitar anak bukan cuma bikin nggak nyaman, tapi juga bisa mengganggu proses belajar.
Menurut Gheller dkk., paparan suara bising bisa mengganggu memori kerja verbal dan performa akademik anak, terutama saat sedang membaca atau mendengarkan instruksi.
Anak yang belajar di ruang tengah sambil dengar suara TV atau orang mengobrol biasanya pikiran atau matanya bolak-balik dari buku pelajaran ke sumber suara.
Ruang belajar yang lebih tenang akan membantu anak mempertahankan fokus lebih lama.
2. Gadget dan Distraksi Digital
Notifikasi dan algoritma yang serba cepat di gadget membuat otak anak terbiasa dengan stimulasi instan.
Kalau HP-nya diletakkan di sebelah buku PR, anak akan langsung menengok setiap kali dengar bunyi notifikasi.
Ahli kesehatan anak umumnya menyarankan screen time rekreasional untuk anak usia sekolah nggak lebih dari 1–2 jam sehari, supaya nggak banyak terpapar stimulasi instan.
Kalau kecanduan gadget sudah cukup mengganggu keseharian anak, Moms & Dads bisa mulai serius mencari cara mengatasi anak kecanduan HP.
3. Rutinitas Belajar yang Tidak Konsisten
Jadwal belajar yang berubah-ubah membuat otak anak nggak punya sinyal jelas kapan masuk waktu belajar.
Ini sering kejadian kalau jam belajar anak ikut jadwal orang tua yang nggak menentu, misalnya baru mulai jam 7 malam kalau orang tuanya pulang kerja telat, tapi bisa mulai jam 4 sore kalau pulangnya lebih awal.
Padahal, rutinitas yang konsisten membantu otak anak beralih otomatis ke mode fokus belajar saat jam yang disepakati tiba, mirip seperti kebiasaan tidur yang teratur.
4. Metode Belajar Kurang Sesuai dengan Kebutuhan Anak
Setiap anak punya gaya belajar masing-masing, ada yang lebih suka visual, ada pula yang auditori atau kinestetik.
Anak yang cenderung kinestetik tapi dipaksa duduk diam mendengarkan penjelasan panjang akan lebih cepat teralihkan dibanding kalau dikasih aktivitas yang melibatkan gerakan.
Metode belajar yang lebih variatif, seperti pendekatan STEAM, bisa jadi salah satu cara mengakomodasi gaya belajar anak yang berbeda-beda ini.
Semakin sesuai metodenya dengan gaya belajar anak, semakin ringan juga effort yang dibutuhkan anak untuk tetap fokus.
5. Hubungan dengan Teman dan Lingkungan Sosial
Saat sedang mengalami konflik pertemanan di lingkungan sosialnya, anak bisa teralihkan perhatiannya meski sedang di rumah.
Misalnya, anak sedang ada masalah dengan sahabatnya di sekolah, maka pas belajar di rumah pikirannya masih cari tahu gimana caranya baikan besok.
Sebaliknya, hubungan sosial yang positif membuat anak lebih tenang untuk fokus karena nggak ada beban emosional tambahan yang dipikirkan anak.
Cara Meningkatkan Konsentrasi Belajar Anak Sesuai Penyebabnya
Nggak ada satu cara meningkatkan konsentrasi anak yang cocok digunakan dalam berbagai situasi.
Cara paling efektif meningkatkan konsentrasi belajar anak adalah menyesuaikan solusinya dengan penyebabnya.
- Jika fisik anak lelah, beri jeda istirahat 10–15 menit sebelum lanjut belajar lagi.
- Jika anak mulai bosan, ganti mode belajar jadi lebih interaktif, misalnya lewat permainan atau video edukatif singkat.
- Jika anak gampang teralihkan gadget, coba terapkan aturan “no gadget zone” khusus jam belajar.
- Jika anak belum paham materi, pecah jadi langkah-langkah kecil dan beri pujian tiap satu langkah berhasil dikuasai.
- Jika anak sedang capek secara emosional, ajak ngobrol dulu sebelum minta ia belajar.
- Jika anak kurang tidur, bantu bangun rutinitas malam yang konsisten, seperti jam tidur dan bangun yang sama tiap hari.
- Jika suasana rumah lagi ramai, cari sudut yang lebih tenang meski cuma sekadar pindah ruangan.
- Jika anak jenuh sama metode belajar yang itu-itu saja, coba variasikan lewat aktivitas visual atau yang melibatkan gerak.
- Jika anak lagi ada masalah pertemanan, beri ruang untuk cerita dulu sebelum masuk sesi belajar.
Setelah paham cara agar tetap konsentrasi belajar, Moms & Dads bisa mulai arahkan si kecil untuk mempelajari skill yang akan terus relevan, salah satunya bahasa Inggris.
Bahasa Inggris adalah investasi skill penting untuk masa depan anak, bukan cuma untuk sekolah, tapi juga untuk raih lebih banyak prestasi seperti lomba, beasiswa, student exchange, sampai karir di luar negeri.
Kalau Moms & Dads sedang mencari les bahasa Inggris anak usia 3–15 tahun yang kelasnya semi-private, dibimbing native, tapi harganya terjangkau, Sparks English jawabannya!
Sebelum mulai kelas, anak akan mengikuti placement test dulu agar ditempatkan di level yang paling sesuai dengan kemampuannya.
Metode belajarnya juga berfokus pada confidence building, agar anak makin berani berbicara bahasa Inggris dalam real conversation sehari-hari.
Cuma Sparks English yang bisa kasih fasilitas lengkap tanpa perlu nguras dompet!
In this economy bisa upgrade skill bahasa Inggris anak dengan harga mulai 70 ribuan aja, yakin nggak mau coba dulu?
Biar lebih yakin, coba dulu kelas trial gratisnya, sekarang bisa booking instan cukup 1 menit, lho!


