Merasa sudah kasih instruksi yang jelas, tapi anak tetap ngotot dengan maunya?
Tenang, Moms & Dads.
Banyak orang tua lain yang juga ada di fase ini.
Dan tentunya, ada cara menghadapi anak yang susah diatur yang bisa dicoba tanpa harus membentak atau berteriak.
Karena itu, mari kita bahas penyebab, cara menghadapi, sampai kesalahan yang sering tanpa sadar Moms & Dads lakukan saat anak susah diatur.
- Penyebab Anak Menjadi Susah Diatur
- Cara Menghadapi Anak yang Susah Diatur Secara Efektif
- 1. Pahami Akar Masalahnya
- 2. Berikan Instruksi yang Jelas
- 3. Ganti “Tidak” dengan Alternatif
- 4. Tetap Tenang dan Jangan Membentak
- 5. Validasi Perasaan Anak
- 6. Berikan Pilihan Terbatas
- 7. Konsisten dengan Aturan
- 8. Berikan Konsekuensi yang Logis
- 9. Ajarkan Anak Mengungkapkan Emosi
- 10. Berikan Pujian untuk Anak
- Kesalahan Orang Tua yang Membuat Anak Semakin Susah Diatur
Penyebab Anak Menjadi Susah Diatur
Sebelum tahu cara mengatasinya, penting pahami dulu kenapa anak bisa berlaku seperti ini.
Penyebabnya bisa datang dari hal yang sebenarnya sederhana tapi sering tidak disadari, seperti:
- Kebutuhan dasar belum terpenuhi: Anak yang lapar, ngantuk, atau kelelahan lebih sulit menerima instruksi.
- Sedang dalam fase belajar kemandirian: Anak usia balita dan prasekolah sedang belajar mengatakan “tidak” untuk menunjukkan bahwa ia punya kehendak sendiri.
- Kurang mendapat perhatian: Anak yang merasa kurang diperhatikan cenderung membuat drama karena reaksi negatif lebih baik bagi mereka daripada tidak dianggap sama sekali.
- Aturan yang tidak konsisten: Aturan yang berubah-ubah membuat anak bingung sehingga perilakunya jadi tak menentu.
- Terlalu banyak stimulus atau screen time: Anak yang kelelahan karena gadget atau aktivitas berlebihan cenderung lebih rewel dan sulit diarahkan.
- Emosi yang belum bisa dikelola: Anak kecil belum punya kosakata emosi, jadi tantrum atau penolakan sering jadi satu-satunya cara mengekspresikan emosi.
- Energi dan rasa ingin tahu yang belum tersalurkan: Anak yang kurang bergerak atau bereksplorasi cenderung gelisah, rewel, dan sulit diarahkan.
Anak yang susah diatur seringkali bukan karena nakal, tapi karena energi dan rasa ingin tahunya yang besar belum menemukan saluran yang tepat.
Di masa golden age, energi itu justru bisa menjadi modal luar biasa untuk menyerap hal baru, termasuk bahasa Inggris.
Banyak orang tua menyesal tidak memanfaatkan fase ini untuk stimulasi bahasa Inggris lebih awal, padahal di usia inilah bahasa paling mudah diserap secara natural dan kebiasaan berbahasa yang terbentuk cenderung bertahan jauh lebih lama.
Di sinilah Sparks English hadir untuk mengoptimalkan bahasa Inggris anak dengan cara yang tepat dan dekat dengan dunianya.
Di Sparks English, bisa belajar bahasa Inggris lewat metode active learning, games, dan storytelling, bukan hanya hafalan atau teori aja.
Biaya per kelasnya ekonomis mulai Rp70 ribuan sudah dapat kelas semi-private dibimbing native teacher dan tutor tersertifikasi Cambridge TKT.
Lebih dari 25.000 students berhasil lebih percaya diri berbahasa Inggris bersama Sparks English!
Mulai dari free trial class dulu yuk Moms & Dads untuk coba langsung pengalaman belajarnya!
Cara Menghadapi Anak yang Susah Diatur Secara Efektif
Setelah tahu penyebabnya, berikut beberapa cara mengatasi anak yang susah diatur yang bisa langsung dipraktikkan di rumah.
1. Pahami Akar Masalahnya
Cara menghadapi anak yang susah diatur yang paling utama adalah berhenti dulu sejenak dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Apakah anak lapar? Mengantuk? Bosan? Ingin diperhatikan? Atau ada hal yang membuatnya tidak nyaman?
Mengenali pemicunya membantu orang tua memberikan respons yang tepat, bukan respons yang berdasarkan emosi sesaat.
2. Berikan Instruksi yang Jelas
Anak kecil lebih mudah memproses kalimat pendek dan spesifik.
Daripada bilang “Jangan manjat-manjat!”, lebih baik ucapkan “Kakinya tetap di lantai, ya!”.
Instruksi yang jelas jauh lebih mudah dipahami anak dibanding kata “jangan” yang kadang masih diabaikan karena anak belum tahu apa yang harus dilakukan sebagai gantinya.
3. Ganti “Tidak” dengan Alternatif
Daripada melarang langsung, coba gunakan teknik “First/Then”.
Menurut Lake Ridge Community Support Services, strategi ini membantu anak memahami bahwa ada hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum mendapatkan aktivitas yang diinginkan.
Contohnya, “Bereskan mainan dulu, setelah itu boleh nonton TV.”
Dengan cara ini, anak tetap merasa diarahkan tanpa merasa langsung ditolak.
4. Tetap Tenang dan Jangan Membentak
Membentak memang bisa membuat anak berhenti sementara, tapi tidak mengajarkan apa-apa selain rasa takut.
Cara mengatasi anak susah diatur yang lebih efektif adalah dengan nada bicara tenang, kontak mata, dan postur tubuh yang tidak mengancam.
5. Validasi Perasaan Anak
Sebelum memberi instruksi, akui dulu apa yang anak rasakan. “Kamu kecewa karena harus pulang sekarang, ya?”
Validasi bukan berarti mengabulkan semua keinginan, tapi membuat anak merasa didengar.
Setelah tenang, baru ajak mendiskusikan solusi.
6. Berikan Pilihan Terbatas
Daripada memaksakan satu pilihan, tawarkan dua opsi yang sama-sama bisa diterima. “Mau pakai baju merah atau biru?”
Teknik ini melatih kemampuan mengambil keputusan sekaligus menghindari power struggle, yaitu situasi tarik-menarik antara anak dan orang tua ketika anak merasa dipaksa, lalu semakin menolak atau melawan.
7. Konsisten dengan Aturan
Konsistensi adalah kunci dalam cara mendidik anak yang susah diatur.
Kalau hari ini boleh, besok tidak, anak akan bingung aturan mana yang berlaku sehingga ia cenderung mengulang perilaku yang sama.
Aturan yang sama setiap hari dari kedua orang tua, membantu anak merasa aman karena ekspektasinya jelas.
8. Berikan Konsekuensi yang Logis
Konsekuensi yang logis artinya berkaitan langsung dengan perilaku, bukan hukuman yang asal.
Contohnya, kalau anak melempar mainan, mainan disimpan untuk sementara.
Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap tindakan ada akibat, tanpa perlu merasa ditakuti atau dihukum secara berlebihan.
Baca Juga: 10 Cara Mendidik Anak yang Keras Kepala agar Nurut Orang Tua
9. Ajarkan Anak Mengungkapkan Emosi
Anak yang tidak punya kosakata emosi akan menumpahkan perasaannya lewat perilaku.
Ajarkan kata-kata sederhana seperti “marah”, “kesal”, “sedih”, atau “kecewa” supaya anak bisa mulai mengomunikasikan apa yang ia rasakan.
Ini juga menjadi bekal bagus untuk kemampuan sosialnya di masa depan.
10. Berikan Pujian untuk Anak
Cara menghadapi anak susah diatur bukan cuma soal menangani perilaku negatif, tapi juga soal mengapresiasi momen positifnya.
Saat anak berhasil melakukan hal kecil dengan benar, beri tahu. “Terima kasih ya sudah membereskan mainan tanpa disuruh.”
Pujian yang spesifik jauh lebih efektif dibanding pujian umum seperti “anak pintar”.
Baca Juga: 10 Cara Melatih Mental Anak agar Berani, Kuat & Percaya Diri
Kesalahan Orang Tua yang Membuat Anak Semakin Susah Diatur
Kadang, tanpa sadar, respons orang tua justru yang bikin anak makin susah diatur. Berikut beberapa pola yang perlu dievaluasi:
- Terlalu sering bilang “jangan” atau “bahaya”: Anak jadi fokus pada kata yang dilarang, bukan memahami alasan di baliknya.
- Langsung marah saat anak tantrum: Reaksi emosional orang tua bisa bikin anak makin frustrasi karena tidak merasa aman.
- Aturan yang berubah-ubah: Anak jadi bingung dan cenderung terus menguji batas karena tidak tahu aturan mana yang berlaku hari ini.
- Membandingkan dengan anak lain: Kalimat “kok kamu nggak bisa kayak si A” hanya menurunkan percaya diri, tanpa mengubah perilaku.
- Memberi konsekuensi yang tidak relevan: Melarang anak nonton TV saat ia tantrum soal mainan membuat anak tidak belajar apa-apa dari konsekuensinya.
- Menanggapi semua emosi anak dengan “jangan cengeng”: Validasi perasaan justru membuat anak lebih cepat pulih dibanding diminta langsung tenang.
- Tidak memberi teladan: Anak belajar dari yang ia lihat. Kalau orang tua bicara keras, anak akan meniru nada bicara yang sama.
Baca Juga: Apa Itu Inner Child? Tanda, Penyebab, & Cara Menyembuhkannya
Jadi, cara menghadapi anak yang susah diatur sebenarnya bukan hanya mencari trik agar anak langsung menurut.
Lebih dari itu, Moms & Dads perlu membangun komunikasi yang hangat, aturan yang konsisten, dan rasa aman agar anak lebih mudah diajak bekerja sama tanpa perlu drama.
Selain itu, salah satu cara yang bisa dicoba adalah menyalurkan energi anak kepada kegiatan yang positif dan bermanfaat, seperti belajar bahasa Inggris.
Sparks English adalah kursus bahasa Inggris dengan metode belajar yang terasa seperti bermain sehingga anak bisa lebih nyaman, aktif, dan percaya diri saat belajar.
Dengan kurikulum berbasis CEFR, programnya disesuaikan dengan usia anak agar proses belajar bahasa Inggris terasa lebih terarah.
Kelasnya juga semi-private supaya teacher bisa fokus ke ritme belajar masing-masing anak, plus ada free placement test untuk tahu level anak sejak awal.
Yuk ambil free trial class-nya dan nikmati promonya selagi masih ada!



