10 Kegiatan Pra Menulis yang Seru dan Mudah Dicoba Anak!

22 October 2026
kegiatan pra menulis

Kalau si kecil sering sibuk coret-coret kertas, cukup sediakan alat yang aman dan awasi kegiatannya, ya, Moms & Dads. 

Sebab, coretan yang terlihat ngasal sekalipun merupakan bagian dari kegiatan pra menulis!

Selain itu, latihan pra menulis juga bisa lewat aktivitas bermain, seperti meremas playdough atau memindahkan benda dengan penjepit.

Di artikel ini kita akan mengenal lebih jauh apa itu kegiatan pra menulis dan berbagai aktivitas yang bisa dicoba di rumah. 

Cari tahu juga kesalahan yang perlu dihindari saat mendampingi si kecil dalam fase ini!

 

 

Apa Itu Kegiatan Pra Menulis?

Kegiatan pra menulis adalah aktivitas untuk membangun keterampilan dasar sebelum anak belajar menulis huruf atau kata.

Menurut layanan terapi okupasi anak NHS, keterampilan dasar ini mendukung kemampuan anak untuk memegang dan menggerakkan pensil, serta membuat bentuk-bentuk dasar seperti garis lurus dan garis lengkung yang nantinya digunakan dalam tulisan.

Melatih keterampilan dasar ini bisa dilakukan lewat aktivitas yang sebenarnya sederhana, seperti meremas adonan atau mencoret-coret dengan krayon.

 

Mengapa Kegiatan Pra Menulis Penting untuk Anak?

Sebelum bisa menggunakan alat tulis, anak perlu menyiapkan kemampuan gerak tangan dan koordinasi. 

Nah, kemampuan-kemampuan inilah yang dibangun dalam kegiatan pra menulis.

  • Melatih kekuatan tangan dan jari: membantu anak memegang alat tulis dengan lebih stabil agar tidak mudah terlepas saat digunakan.
  • Mengembangkan koordinasi mata dan tangan: membantu anak mengarahkan alat tulis sesuai bentuk yang ingin dibuat, misalnya mengikuti lengkungan saat membentuk huruf O.
  • Melatih kontrol gerakan: membantu anak mengatur tekanan dan gerakan alat tulis agar goresannya tidak terlalu kuat atau melewati batas.
  • Membiasakan kerja sama kedua tangan: memudahkan anak menulis karena satu tangan dapat menggerakkan alat tulis sementara tangan lainnya menahan kertas.
  • Mengenalkan bentuk dasar tulisan: memudahkan anak mempelajari huruf karena sudah mengenal unsur pembentuknya, seperti garis lurus pada huruf L.

 

10 Kegiatan Pra Menulis yang Bisa Dilakukan Anak

Setelah tahu manfaatnya, sekarang kita bahas apa aja kegiatan yang bisa dilakukan dalam fase pra menulis.

Aktivitas pra menulis ini sebenarnya cukup sederhana dan bisa dilakukan kapan aja di rumah, mulai dari membentuk playdough, menggambar bebas dengan krayon, sampai menggambar pola dengan jari.

 

1. Meremas dan Membentuk Playdough

Aktivitas meremas dan membentuk playdough membantu melatih kekuatan tangan serta jari anak.

Ajak si kecil membuat bentuk sesukanya dengan playdough, misalnya menggulung adonan menjadi mi atau memipihkannya menjadi piza.

 

2. Memindahkan Benda dengan Penjepit

Bermain penjepit melatih anak mengatur tekanan dari genggamannya agar benda tidak terlepas.

Untuk awal, si kecil bisa mencoba memindahkan potongan spons dari satu mangkuk ke mangkuk lain menggunakan penjepit yang ringan.

 

3. Meronce Manik-Manik atau Sedotan

Meronce adalah aktivitas yang melatih koordinasi mata dan tangan, tepatnya saat anak memasukkan tali ke lubang manik-manik atau potongan sedotan.

Hasil ronce bisa dijadikan gelang yang bisa anak pakai agar ia makin antusias mencobanya.

Untuk anak yang masih kecil, dampingi permainan ini karena benda kecil berisiko tertelan.

 

4. Menggambar Bebas dengan Krayon

Menggambar bebas membantu anak terbiasa memegang, menggerakkan, hingga mengendalikan alat tulis secara bertahap.

Biarkan si kecil menggambar apa yang disukainya tanpa mendikte bentuknya harus jelas dan rapi, karena mencoret saja sudah jadi bagian dari kegiatan pra menulis ini.

 

5. Menebalkan Garis dan Pola

Menebalkan garis putus-putus bisa melatih anak mengendalikan arah gerakan alat tulis dengan mengikuti garis tersebut.

Di awal bisa dimulai dari menebalkan garis yang berbentuk lurus dulu, lalu tingkatkan jadi garis melengkung kalau sudah lancar dengan garis lurus.

 

Waktu terbaik untuk kegiatan pra menulis tentunya sebelum si kecil masuk sekolah, atau sekitar usia 3–6 tahun.

Di rentang usia yang sama, penting juga lho untuk anak mulai mengenalkan bahasa Inggris, terutama karena otak anak sedang berada di fase paling mudah menyerap bahasa baru secara natural.

Banyak orang tua yang menyesal nggak memanfaatkan momen ini untuk kasih stimulasi bahasa Inggris dengan optimal.

Padahal kalau dimulai sejak dini, waktu untuk anak bisa menguasai bahasa Inggris sampai fluent bisa lebih cepat, daripada kalau baru dimulai saat usia besar.

Jangan biarkan anak kehilangan kesempatan belajar skill yang seharusnya bisa dikuasai sejak dini demi masa depannya yang cemerlang.

Design New Web Banner
Untuk anak usia 3–6 tahun, Sparks English punya program Little Sparks dengan kurikulum berbasis CEFR, sehingga stimulasi bahasa Inggris anak lebih terarah.

Menggunakan metode fun & interactive, anak akan belajar tanpa merasa terbebani, karena prosesnya dirancang sesuai usia dan dekat dengan dunia anak.

Apalagi kelasnya semi-private, dibimbing native teacher dan Cambridge TKT certified teacher yang sekaligus bantu anak latih pronunciation ala native yang natural.

Hasilnya, sudah lebih dari 25.000 students lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan bareng Sparks English, dengan biaya mulai Rp70 ribuan aja per kelasnya!

Kalau masih ragu, bisa banget coba free trial class dulu! Mumpung masih berlaku potongan Rp1 jutanya kalau daftar trial sekarang juga!

 

6. Mengikuti Jalur Labirin Sederhana

Permainan labirin di kertas atau buku melatih anak mengarahkan gerakan tangannya agar tetap mengikuti jalur.

Gunakan gambar yang menarik, seperti jalan hewan menuju makanan kesukaannya atau pasangan warna, lalu minta anak menelusurinya dengan jari atau krayon.

 

7. Menghubungkan Titik-Titik

Menghubungkan titik yang terpisah melatih anak membuat goresan dari satu titik ke titik berikutnya secara terarah.

Pilih pola sederhana yang membentuk gambar, misalnya jadi gambar kucing, agar anak penasaran melihat hasilnya setelah semua titik tersambung.

 

8. Menggunting Mengikuti Garis

Menggunting juga termasuk latihan pra menulis, lho.

Aktivitas ini membantu anak melatih kerjasama kedua tangan, yaitu saat satu tangan menggerakkan gunting dan satu tangan memegang kertas.

Sama seperti menebalkan garis tadi, si kecil bisa mulai dengan menggunting garis lurus terlebih dahulu sebelum garis yang lebih kompleks.

Pastikan untuk menggunakan gunting khusus anak yang berujung tumpul dan tetap dampingi selama kegiatan untuk menjaga keamanan.

 

9. Menjiplak Bentuk Sederhana

Menjiplak membantu anak mengenali bentuk sekaligus mencoba menggerakkan alat tulis untuk membuatnya.

Gunakan bentuk sederhana seperti lingkaran atau persegi agar anak mengenal cara membuatnya dulu sebelum mencoba menggambarnya sendiri tanpa menjiplak.

 

10. Menggambar Pola dengan Jari

Menggambar dengan jari juga merupakan kegiatan pra menulis yang membantu anak mengenal gerakan dasar tulisan.

Si kecil bisa membuat garis, bentuk, atau gambar apapun di atas pasir maupun menggunakan cat jari sebagai media latihan.

 

Baca Juga: 13 Cara Mengajari Anak Menulis agar Tidak Cepat Bosan

 

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari saat Melatih Pra Menulis

Latihan pra menulis perlu disesuaikan dengan kesiapan anak agar ia nyaman mencoba. 

Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

  • Langsung menulis huruf: beri anak waktu menguasai gerakan dasar, seperti membuat garis lurus dan lengkung sebelum menulis huruf.
  • Memaksakan hasil harus rapi: terlalu sering mengoreksi coretan yang kurang rapi bisa membuat anak frustrasi dan nggak mau mencoba lagi.
  • Memberikan latihan terlalu sulit: jangan langsung latihan yang sulit seperti menebalkan pola zigzag atau pegas, mulai dari yang sederhana dulu seperti menggambar garis lurus.
  • Memaksa latihan saat anak lelah: jika anak terlihat lelah, jangan terus dipaksa untuk latihan karena akan membuat ia nggak menikmati prosesnya.
  • Terlalu cepat mengambil alih: beri anak kesempatan menyelesaikan latihannya sendiri meskipun belum rapi.
  • Memaksa anak memakai tangan kanan: beri anak kesempatan menggunakan tangan yang terasa nyaman agar kecenderungan tangan dominannya muncul secara alami.
  • Membandingkan dengan anak lain: hargai kemajuan anak sendiri, misalnya sudah bisa menggenggam krayon dengan lebih stabil dibanding sebelumnya.

 

Baca Juga: 6 Tahapan Menulis Anak Usia Dini dan Cara Melatihnya!

 

Selain mempersiapkan kemampuan menulis lewat kegiatan pra menulis, bekali juga si kecil dengan kemampuan bahasa Inggris ya, Moms & Dads.

Di era sekarang, bahasa Inggris nggak cuma untuk pelajaran di sekolah aja lho, tapi juga jadi investasi skill masa depan yang membuka jalan menuju mimpi-mimpinya, seperti meraih sekolah impian, beasiswa, bahkan jadi modal penting untuk pekerjaan impian masa depan.

Jangan sampai cita-cita si kecil terhambat karena kendala bahasa Inggris. 

Yuk, persiapkan bekalnya dari sekarang!

Live Book Sparks English
Sparks English adalah les bahasa Inggris anak usia 3–18 tahun. Selain Little Sparks, ada juga Sparks Kid dan Sparks Teen dengan pembelajaran sesuai kelompok usia.

Ini dia beberapa keunggulan lainnya yang bisa Moms & Dads dapatkan di Sparks English:

  • Full English environment: anak didorong untuk aktif speaking menggunakan bahasa Inggris dalam kelas.
  • Placement test: anak mulai belajar di level yang sesuai sehingga materi lebih mudah diserap anak.
  • Jadwal fleksibel: bebas pilih jadwal kelas tersedia dan lokasi center yang paling mudah dijangkau agar menyesuaikan dengan rutinitas si kecil.
  • Extra bonus: free student kit dan free extra sessions untuk menambah kesempatan latihan lewat kegiatan situasi nyata.
  • Kelas ramah anak: ruang belajar berdesain modern dengan fasilitas lengkap membantu si kecil merasa nyaman selama mengikuti kegiatan.

Masih nimbang-nimbang apalagi Moms & Dads? Semua keunggulan ini nggak mungkin bisa didapatkan di tempat lain dengan harga mulai Rp70 ribuan per kelas!

Yuk ikut free trial class lewat live booking instan, cuma butuh 1 menit untuk mulai siapkan bekal masa depan si kecil!

Author:

Topik:

Share article: