Moms & Dads selama ini mungkin mengira kalau tahapan membaca dimulai saat anak bisa membaca alfabet.
Padahal, prosesnya jauh lebih panjang dari itu, bahkan dimulai sejak bayi, lho!
Di artikel ini, kita akan mengenal tahap tahap membaca dan gimana cara Moms & Dads bantu si kecil melatihnya.
Simak sampai habis, ya!
- Apa Itu Tahapan Membaca?
- Apa Saja Tahapan Membaca Menurut Jeanne Chall?
- Apa Faktor yang Mendukung Perkembangan Kemampuan Membaca Anak?
- Bagaimana Cara Melatih Kemampuan Membaca Anak
Apa Itu Tahapan Membaca?
Tahapan membaca adalah proses perkembangan kemampuan membaca anak yang berjalan bertahap, mulai dari sekadar mengenal bentuk huruf sampai mampu memahami bacaan yang kompleks.
Setiap tahap membawa target kemampuan yang berbeda, sehingga prosesnya nggak bisa dilompati begitu saja.
Konsep tahapan membaca yang paling sering dijadikan acuan adalah model milik Jeanne Chall, periset pendidikan yang lama meneliti bagaimana anak berkembang jadi pembaca mahir.
Chall membagi proses ini jadi enam tahap, dari Tahap 0 ketika anak belum benar-benar bisa membaca sampai Tahap 5 ketika seseorang sudah membaca secara kritis dan selektif.
Kecepatan tiap anak melewati tahap tahap membaca ini bisa berbeda, tergantung stimulasi di rumah dan kesiapan kognitif masing-masing anak.
Apa Saja Tahapan Membaca Menurut Jeanne Chall?
Menurut Jeanne Chall, ada enam tahapan membaca yang dilalui anak sejak sebelum bisa membaca sampai jadi mahir.
Tabel berikut merangkum fokus kemampuan dan kisaran usia di tiap tahapnya.
| Tahap | Fokus Kemampuan | Usia |
| Tahap 0: Pra-Membaca | Mengenal huruf, “berpura-pura” membaca, cerita ulang dari ingatan | 6 bulan–6 tahun |
| Tahap 1: Initial Reading (Decoding) | Menghubungkan bunyi dengan lambang huruf, membaca kata sederhana | 6–7 tahun |
| Tahap 2: Confirmation and Fluency | Membaca lebih lancar, mengenali kata familiar tanpa mengeja | 7–8 tahun |
| Tahap 3: Reading for Learning the New | Membaca untuk mendapat informasi baru dari berbagai teks | 9–13 tahun |
| Tahap 4: Multiple Viewpoints | Memahami sudut pandang berbeda dari bacaan yang lebih kompleks | 15–17 tahun |
| Tahap 5: Construction and Reconstruction | Membaca secara selektif dan membangun pemahaman sendiri | 18 tahun ke atas |
1. Tahap 0: (Pre-Reading atau Pra-Membaca)
Pra membaca adalah tahap awal dalam perkembangan literasi anak yang berlangsung pada rentang usia 6 bulan sampai 6 tahun, atau masa prasekolah.
Pada tahap ini anak baru mulai akrab dengan bentuk huruf, kata, dan simbol tanpa benar-benar bisa membacanya.
Ciri khasnya, anak senang berlagak seperti sedang membaca sambil membuka-buka halaman buku, dan nggak jarang juga asyik sendiri mencoret-coret kertas atau memainkan pensil.
2. Tahap 1 (Initial Reading atau Decoding)
Begitu masuk usia 6 sampai 7 tahun, atau setara kelas 1–2 SD, anak mulai belajar decoding, yakni memahami bagaimana bunyi tertentu terwakili oleh huruf tertentu.
Anak juga mulai mencoba mengeja suku kata sedikit demi sedikit.
Di tahap ini, kemampuan dengar anak jauh lebih unggul dibanding kemampuan bacanya, terlihat dari jumlah kata yang bisa dipahami saat mendengar bisa mencapai 4.000-an, sementara saat membaca baru sekitar 600 kata.
3. Tahap 2 (Confirmation and Fluency)
Di usia 7 sampai 8 tahun (kelas 2–3), kemampuan decoding jadi lebih otomatis, sehingga anak bisa membaca cerita dengan jauh lebih lancar.
Konteks cerita yang dekat dengan keseharian anak, seperti dinamika pertemanan di sekolah atau suasana rumah, juga jadi lebih mudah dipahami.
Kosakatanya melonjak jadi sekitar 9.000 kata saat mendengar dan 3.000 kata saat membaca.
4. Tahap 3 (Reading for Learning the New)
Pada rentang usia 9 sampai 13 tahun (kelas 4–8), tujuan membaca anak nggak lagi sekadar belajar cara membaca, tapi mendapatkan wawasan dan ide-ide baru.
Anak di fase ini juga mulai membawa perasaan ke dalam proses membacanya dan bisa menyerap nilai atau sikap tertentu dari cerita yang dibaca.
5. Tahap 4 (Multiple Viewpoints)
Memasuki usia 15 sampai 17 tahun (kelas 10–12), remaja sudah cukup matang untuk mencerna tulisan dengan konsep-konsep yang abstrak dan kompleks.
Kemampuan menganalisis isi bacaan pun ikut berkembang.
Di usia remaja, mereka bisa melihat satu topik dari beberapa sudut pandang sekaligus, dan menariknya, pemahaman kosakata justru lebih terasah lewat aktivitas membaca dibanding mendengarkan.
6. Tahap 5 (Construction and Reconstruction)
Tahap puncak ini biasanya baru dicapai saat seseorang berusia delapan belas tahun ke atas, sejalan dengan masa kuliah atau setelahnya.
Membaca sudah difungsikan untuk mencapai tujuan atau kebutuhan spesifik.
Di fase ini, membaca jadi cara yang lebih efisien untuk menyerap informasi dibanding mendengarkan, sekaligus jadi perantara untuk menggabungkan pengetahuan pribadi dengan wawasan yang didapat dari sumber lain.
Apa Faktor yang Mendukung Perkembangan Kemampuan Membaca Anak?
Kemampuan membaca anak berkembang dengan beberapa faktor pendukung yang saling memengaruhi.
Berikut faktor-faktor yang paling menentukan seberapa lancar anak melewati tahap-tahap membaca di atas.
1. Kesadaran Fonologis dan Fonemik
Kesadaran fonologis adalah kemampuan anak mengenali dan membedakan bunyi yang ada di dalam kata.
Sementara itu, kesadaran fonemik merupakan bagian dari kesadaran fonologis yang membantu anak mengenali dan memanipulasi bunyi terkecil dalam kata.
Contohnya, saat mendengar kata “kucing”, anak bisa memecahnya menjadi suku kata ku-cing, lalu mengenali bunyi awal /k/ dalam kata tersebut.
2. Penguasaan Kosakata
Semakin banyak kosakata yang dikuasai anak, semakin mudah juga dia memahami makna kalimat yang dibaca.
Anak yang sering diajak bicara atau dibacakan cerita sejak kecil biasanya punya kosakata yang lebih kaya, jadi nggak kesulitan saat menemukan kata baru.
3. Kebiasaan Membaca Sejak Dini
Kebiasaan membaca buku sejak dini bikin anak terbiasa dengan bahasa yang digunakan dalam buku, bahkan jauh sebelum dia bisa membaca sendiri.
Kebiasaan ini juga membuat anak lebih nyaman menghadapi buku begitu masuk usia sekolah, karena membaca sudah menjadi rutinitas yang nggak terasa asing baginya.
4. Paparan terhadap Beragam Buku dan Teks
Anak juga perlu mengenal beragam jenis bacaan, mulai dari cerita fiksi sampai buku informasi.
Variasi bacaan ini membantu anak terbiasa dengan cara penulisan yang berbeda-beda, sehingga dia lebih siap saat nanti harus membaca teks yang lebih formal di sekolah.
5. Kemampuan Konsentrasi dan Memori Kerja
Kemampuan konsentrasi membantu anak tetap fokus saat membaca, sehingga dia bisa mengikuti isi bacaan dari awal sampai akhir.
Sementara itu, memori kerja adalah kemampuan menyimpan informasi sambil tetap mengingat dan menggunakannya.
Kedua kemampuan ini berperan saat anak berusaha memahami satu kalimat penuh dan mengikuti alur cerita, bukan hanya membaca kata per kata.
6. Dukungan Orang Tua dan Lingkungan Belajar
Lingkungan rumah yang menyediakan buku dan waktu membaca bersama juga menjadi salah satu faktor pendukung yang sering luput diperhatikan.
Anak yang melihat orang tuanya ikut membaca cenderung menganggap aktivitas ini sebagai hal yang wajar dan menyenangkan, sehingga membaca terasa lebih dekat dengan kesehariannya.
Selain membangun kemampuan membaca dalam bahasa Indonesia, anak juga bisa mulai diperkenalkan teks-teks berbahasa Inggris.
Sebab, di rentang usia ini, kemampuan otak anak berada pada titik 90% paling optimal untuk menyerap kosakata dan pelafalan bahasa baru secara alami.
Kemampuan ini perlahan bisa menurun seiring bertambahnya usia.
Faktanya, banyak orang tua menyesal setelah melewatkan masa kanak-kanak gitu aja tanpa memberikan stimulasi bahasa Inggris, padahal effort untuk bisa menguasainya dengan cepat akan jauh lebih ringan dibanding kalau baru mulai saat anak sudah lebih besar.
Jangan biarkan anak kehilangan kesempatannya untuk bisa fluent bahasa Inggris dengan cepat dan natural.

Sparks English hadir untuk anak usia 3-15 tahun jago bahasa Inggris sejak dini yang disusun mengikuti tahapan proficiency level internasional CEFR.
Metode belajarnya dijamin fun & interactive lewat permainan, role play, storytelling, hingga project kreatif yang bikin anak enjoy dengan proses belajarnya.
Di kelas semi-private, anak langsung praktik speaking dengan native teacher dan teacher bersertifikasi Cambridge TKT yang sekaligus melatih anak membentuk accent ala native!
Semua fasilitas ini bisa didapat mulai Rp70 ribuan per kelas dan hasilnya sudah dibuktikan oleh lebih dari 25.000 students di Indonesia dalam 6 bulan!
Coba kelasnya gratis lewat free trial class sekarang mumpung kuota diskon Rp1 juta masih ada!
Bagaimana Cara Melatih Kemampuan Membaca Anak?
Setelah tahu tahapan dan faktor yang mendukung kemampuan membaca, sekarang kita masuk ke bagian praktisnya, yaitu cara melatih kemampuan membaca anak di rumah.
Berikut beberapa cara yang bisa disesuaikan dengan usia dan tahap kemampuan membaca si kecil saat ini.
1. Pilih Bacaan Sesuai Usia dan Kemampuan Anak
Buku yang terlalu sulit bisa bikin anak kewalahan, sementara bacaan yang terlalu mudah mungkin membuatnya cepat bosan.
Coba pilih buku yang sebagian besar katanya sudah familiar bagi anak, sehingga dia tetap bisa memahami isi cerita.
2. Latih Anak Mengenali Huruf dan Bunyi
Sebelum bisa membaca kata dengan lancar, anak perlu memahami hubungan antara huruf dan bunyinya.
Latihan sederhana seperti menyanyikan lagu alfabet, mencocokkan huruf dengan bunyinya, atau bermain tebak bunyi awal kata bisa membantu anak lebih mudah memahami konsep ini.
3. Latih Membaca dengan Suara Nyaring
Membaca nyaring membantu anak berlatih melafalkan kata sekaligus memperhatikan jeda dan intonasi saat membaca.
Cara ini juga memudahkan orang tua melihat bagian mana yang masih membuat anak tersendat dan perlu bimbingan.
4. Ajak Anak Menemukan Ide Pokok Bacaan
Setelah anak selesai membaca satu bagian, coba tanyakan apa inti cerita atau informasi yang baru saja dia baca.
Kebiasaan ini membantu anak lebih fokus pada isi bacaan dan mulai memahami bahwa membaca bukan hanya soal mengenali kata, tetapi juga memahami informasi di dalamnya.
5. Gunakan Context Clues untuk Memahami Kata Baru
Saat menemukan kata yang belum dikenal, ajak anak mencoba menebak artinya dari kalimat atau cerita di sekitarnya sebelum langsung membuka kamus.
Kebiasaan ini membantu anak tetap melanjutkan bacaan meskipun menemukan beberapa kata baru, sehingga dia nggak sering berhenti saat menemukan kosakata yang belum familiar.
6. Ajak Anak Menceritakan Kembali Isi Bacaan
Minta anak menceritakan kembali isi buku dengan bahasanya sendiri bisa menjadi cara sederhana untuk mengecek seberapa jauh dia memahami bacaan.
Kalau ceritanya masih berantakan atau ada bagian penting yang terlewat, anak mungkin perlu lebih banyak latihan memahami alur dan isi bacaan.
7. Berikan Kesempatan Anak Memilih Bacaan yang Disukai
Biarkan anak ikut menentukan buku yang ingin dibaca, entah itu komik atau cerita dinosaurus.
Ketika anak bisa memilih bacaan yang sesuai dengan minatnya, dia biasanya lebih tertarik untuk membaca dan melihat aktivitas ini sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Baca Juga: 10 Cara Mengajari Anak Membaca dengan Mudah dan Tanpa Bosan
Selain kemampuan membaca yang dibangun bertahap sesuai usia anak, kemampuan bahasa Inggris pun perlu dibangun bertahap sejak kecil.
Semakin telat mulai, semakin banyak effort anak untuk ngejar kemampuan yang sebenarnya bisa lebih mudah diserap sejak kecil.
Bekal ini nantinya bisa jadi jalan untuk meraih beasiswa, ikut kompetisi internasional, sampai membuka pintu karier di luar negeri untuk masa depannya yang cemerlang.

Di les bahasa Inggris anak Sparks English, anak akan mulai dari placement test dulu biar levelnya cocok dengan kemampuannya agar materi mudah dipahami anak.
Jadi, nggak perlu khawatir kalau anak belum lancar membaca, karena di Sparks English programnya dirancang mengikuti tahap tumbuh kembang usia anak.
Ditambah lagi, ada free extra session tiap minggu hingga free parent-teacher consultation yang berisi kegiatan seru untuk memperkaya stimulasi bahasa Inggris anak.
Cuma Sparks English yang bisa kasih fasilitas premium dengan harga ramah di kantong, pastikan nggak melewatkannya ya!
Langsung booking free trial class sekarang cuma butuh 1 menit lewat live booking instant!


