Masa balita sudah lewat, sekarang si kecil sudah 6 tahun dan mulai bersiap masuk SD.
Nggak kerasa, ya, Moms & Dads! Rasanya baru kemarin si kecil belajar jalan, sekarang sudah bersiap punya dunia baru di sekolah.
Di tengah rasa bangga melihat si kecil tumbuh, mungkin muncul juga pertanyaan “Perkembangan anak usia 6 tahun sudah sesuai belum ya pada anakku?”
Wajar banget kalau Moms & Dads memikirkannya, karena anak umur 6 tahun sedang berada di fase transisi menuju usia sekolah.
Agar tidak ada yang terlewat dalam persiapannya, yuk, bahas perkembangan anak usia 6 tahun, apa saja yang umumnya sudah bisa dilakukan, masalah perkembangan yang sering dikhawatirkan, dan cara stimulasi agar tumbuh kembangnya tetap optimal.
- 4 Aspek Utama Perkembangan Anak Usia 6 Tahun
- Apa Saja yang Idealnya Sudah Bisa Dilakukan Anak Umur 6 Tahun?
- Masalah Perkembangan yang Sering Dikhawatirkan Orang Tua
- Cara Menstimulasi Tumbuh Kembang Anak Usia 6 Tahun agar Optimal
4 Aspek Utama Perkembangan Anak Usia 6 Tahun
Perkembangan anak usia 6 tahun tidak hanya dilihat dari apakah ia sudah bisa membaca atau berhitung, ya Moms & Dads!
Ada beberapa aspek lainnya yang juga perlu diperhatikan secara seimbang.
Menurut Kaiser Permanente, milestone perkembangan anak usia 6 tahun bisa dikelompokkan dalam area fisik, kognitif, sosial-emosional, dan bahasa.
Berikut penjelasannya:
1. Perkembangan Fisik dan Motorik
Pada usia 6 tahun, tubuh anak biasanya sudah lebih siap mengikuti aktivitas yang membutuhkan kontrol gerak.
Beberapa kemampuan fisik dan motorik yang umum terlihat pada anak usia 6 tahun meliputi:
- Tinggi badan umumnya bertambah sekitar 6 cm sejak ulang tahun sebelumnya.
- Berat badan biasanya bertambah sekitar 3 kg sejak ulang tahun sebelumnya.
- Gigi geraham pertama mulai tumbuh, sementara sebagian gigi susu mulai tanggal.
- Keseimbangan tubuh semakin stabil saat berlari, melompat, atau skipping.
- Kemampuan menangkap bola, mencoba lompat tali, atau bersepeda mulai berkembang.
- Motorik halus semakin terlatih melalui aktivitas menggambar, menyalin bentuk, membuat desain, dan menulis nama sendiri.
- Kemandirian saat berpakaian mulai meningkat, meski anak masih bisa membutuhkan bantuan untuk kancing yang sulit atau mengikat tali sepatu.
2. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif berkaitan dengan cara anak memahami informasi, mengingat, dan memecahkan masalah.
Dalam aspek kognitif, anak usia 6 tahun umumnya menunjukkan beberapa kemampuan berikut:
- Sudah bisa menyebutkan usia sendiri dan memahami konsep angka secara lebih konkret.
- Pemahaman sebab-akibat mulai berkembang.
- Anak mulai bisa memahami konsep waktu sederhana, seperti siang, malam, urutan kegiatan, atau rutinitas harian.
- Pengenalan kanan dan kiri mulai berkembang.
- Kemampuan menyalin bentuk yang lebih kompleks.
- Anak dapat menjelaskan fungsi benda dalam kehidupan sehari-hari.
- Mulai bisa mengikuti instruksi dengan beberapa langkah.
- Minat dan kesiapan untuk membaca buku sesuai usia, menulis lebih banyak, serta memahami angka untuk aktivitas sekolah mulai berkembang.
3. Perkembangan Sosial dan Emosional
Pada usia 6 tahun, anak mulai lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya.
Dari sisi sosial dan emosional, beberapa hal yang sering muncul pada anak usia 6 tahun adalah:
- Ketertarikan bermain dengan teman sebaya semakin besar.
- Kemampuan bekerja sama dalam permainan mulai terasah.
- Mulai lebih mudah memahami aturan permainan sederhana.
- Pemahaman terhadap perasaan orang lain mulai tumbuh, meski empati tetap perlu diarahkan.
- Anak masih bisa menunjukkan emosi yang intens, seperti takut, cemburu, malu, atau tantrum sesekali.
- Merasa kecewa atau merasa tidak nyaman saat kalah.
- Keinginan untuk terlihat “besar” mulai tampak, misalnya saat membantu anak yang lebih kecil.
- Rasa percaya diri mulai terbentuk dari keberhasilan-keberhasilan kecil.
4. Perkembangan Bahasa
Kemampuan bahasa anak usia 6 tahun biasanya semakin matang.
Anak mulai lebih mampu menyampaikan cerita, menjelaskan perasaan, dan memahami percakapan yang lebih panjang.
Dalam perkembangan bahasa, anak usia 6 tahun biasanya sudah menunjukkan kemampuan seperti:
- Menceritakan kembali acara TV, film, cerita, atau aktivitas favorit dengan lebih jelas.
- Tata bahasa dalam percakapan sehari-hari semakin tepat.
- Mulai bisa mengeja nama depan, menulis beberapa huruf dan angka, serta membaca kata sederhana.
- Anak mulai bisa mengikuti instruksi yang terdiri dari beberapa langkah.
- Menggunakan bahasa untuk menjelaskan pikiran dan perasaan.
- Bisa mengikuti percakapan yang lebih panjang serta memahami dan menikmati lelucon.
- Ucapan semakin jelas dan mudah dipahami orang lain.
Bagi anak usia 6 tahun, bahasa bukan hanya membantu berkomunikasi, tetapi juga mendukung proses belajar di sekolah.
Di fase ini, anak sedang aktif menyerap kosakata baru, memahami instruksi, dan belajar menyampaikan ide dengan lebih jelas.
Karena kemampuan bahasa sedang berkembang pesat, Moms & Dads juga bisa mulai memberi stimulasi bahasa tambahan secara bertahap, termasuk mengenalkan bahasa Inggris.
Sayangnya, banyak orang tua baru sadar pentingnya bahasa Inggris ketika anak mulai kesulitan mengikuti pelajaran atau kurang percaya diri berbicara.
Di Sparks English, anak belajar secara bertahap melalui kelas interaktif yang disesuaikan dengan usia dan levelnya.
Melalui kelas semi-private, Sparks English memberi kesempatan setiap anak untuk lebih aktif bertanya, menjawab, dan berlatih speaking.
Dengan fondasi vocabulary, listening, dan speaking yang dibangun sejak awal, anak bisa lebih siap memahami materi bahasa Inggris di sekolah dan lebih percaya diri saat harus menggunakannya dalam percakapan.
Lebih dari 25.000 students berhasil lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan, kini giliran si kecil!
Yuk, coba free trial class dulu dan lihat apakah metode belajarnya cocok dengan anak!
Apa Saja yang Idealnya Sudah Bisa Dilakukan Anak Umur 6 Tahun?
Setiap anak punya ritme perkembangan yang berbeda.
Namun ada beberapa kemampuan yang umumnya mulai terlihat pada anak umur 6 tahun.
Ini bukan daftar wajib yang harus dikuasai sempurna, ya, Moms & Dads.
Lebih tepatnya, daftar ini bisa menjadi gambaran awal untuk memahami apakah perkembangan anak berjalan sesuai tahapan usianya.
- Anak biasanya mulai terbiasa mengikuti rutinitas harian sederhana, seperti bangun tidur, mandi, makan, bersiap sekolah, hingga membereskan barangnya sendiri dengan arahan ringan.
- Saat merasa lapar, lelah, takut, atau tidak nyaman, anak mulai bisa menyampaikan kebutuhannya dengan kata-kata yang lebih jelas.
- Di rumah maupun di sekolah, anak mulai memahami aturan sederhana, meski tetap perlu diingatkan secara konsisten.
- Saat bermain bersama teman, anak mulai belajar menunggu giliran, berbagi, dan mengikuti alur permainan.
- Kemandirian anak juga mulai terlihat dari hal-hal kecil, seperti memakai pakaian, merapikan tas, memilih perlengkapan, atau membantu pekerjaan ringan di rumah.
- Anak mulai mampu bertahan pada satu aktivitas dalam waktu yang lebih lama, misalnya saat mendengarkan cerita, menggambar, bermain puzzle, atau menyelesaikan tugas sederhana.
- Minat terhadap huruf, angka, buku cerita, lagu, gambar, dan aktivitas belajar biasanya mulai semakin terlihat.
- Anak mulai senang menceritakan pengalamannya, seperti kegiatan di sekolah, permainan favorit, atau hal yang membuatnya senang dan sedih.
- Dalam hubungan dengan orang lain, anak mulai memahami bahwa teman atau anggota keluarga juga punya perasaan.
Masalah Perkembangan yang Sering Dikhawatirkan Orang Tua
Memasuki usia 6 tahun, wajar jika orang tua mulai lebih sering mengamati perkembangan anak.
Apalagi jika anak sudah mulai masuk sekolah dan bertemu teman sebaya dengan kemampuan yang berbeda-beda.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua kekhawatiran berarti anak mengalami gangguan perkembangan.
Beberapa anak hanya membutuhkan waktu yang lebih lama, lebih banyak latihan, atau pendekatan yang lebih sesuai dengan karakternya.
Beberapa kekhawatiran yang sering muncul di antaranya:
- Sulit mengikuti instruksi sederhana meski sudah sering diarahkan.
- Kesulitan menyampaikan kebutuhan, perasaan, atau pengalaman dengan kata-kata yang mudah dipahami.
- Sering menghindari interaksi dengan teman sebaya atau tampak sangat tidak nyaman di lingkungan sosial.
- Mudah marah, menangis, atau tantrum intens saat menghadapi perubahan, kalah bermain, atau diminta menunggu giliran.
- Sangat sulit fokus saat mendengarkan cerita, menyelesaikan tugas singkat, atau mengikuti kegiatan di kelas.
- Masih kesulitan melakukan aktivitas motorik seperti berlari, menangkap bola, atau menggunakan alat tulis.
- Belum menunjukkan ketertarikan pada kegiatan belajar dasar seperti huruf, angka, gambar, cerita, atau instruksi sederhana sesuai usia.
- Kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, misalnya kemampuan bicara atau berkomunikasi menjadi jauh berkurang.
Jika Moms & Dads merasa ada tanda di atas yang terus berulang, mengganggu aktivitas harian, atau membuat anak kesulitan di rumah dan sekolah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis anak.
Cara Menstimulasi Tumbuh Kembang Anak Usia 6 Tahun agar Optimal
Stimulasi anak usia 6 tahun tidak harus selalu berbentuk pelajaran formal.
Justru, anak di usia ini masih sangat membutuhkan aktivitas yang terasa menyenangkan, dekat dengan keseharian, dan memberi ruang untuk mencoba.
Berikut beberapa cara yang bisa Moms & Dads lakukan di rumah.
1. Latih Anak Membaca dan Menulis
Membaca dan menulis bisa dilatih lewat aktivitas ringan yang dilakukan konsisten.
Orang tua bisa membacakan buku cerita, lalu sesekali meminta anak menebak isi gambar atau menulis nama benda yang sering dilihat di rumah.
Untuk menulis, mulai dari hal yang dekat dengan anak.
Misalnya menulis nama sendiri, membuat daftar barang yang ingin dibawa ke sekolah, atau menulis satu kalimat tentang kegiatan hari ini.
2. Kenalkan Konsep Berhitung dan Logika Lewat Permainan
Anak usia 6 tahun mulai bisa memahami angka dengan lebih konkret.
Agar tidak terasa seperti belajar berat, konsep berhitung bisa dikenalkan lewat aktivitas sehari-hari.
Misalnya, anak bisa membantu menghitung piring saat menyiapkan meja makan.
Permainan puzzle, board game, menyusun balok, atau mencari pola juga bisa melatih logika anak.
Dari aktivitas ini, anak belajar berpikir, mencoba strategi, dan memahami sebab-akibat.
3. Jadwalkan Playdate untuk Melatih Kemampuan Berbagi
Bermain dengan teman sebaya membantu anak belajar banyak hal yang tidak selalu bisa diajarkan lewat nasihat.
Anak belajar menunggu giliran, berbagi mainan, mengikuti aturan, dan menyelesaikan konflik kecil.
Saat terjadi konflik, bantu anak menyebutkan perasaannya.
Misalnya, “Kamu kecewa karena belum dapat giliran, ya?”
Setelah itu, arahkan anak pada solusi.
Dengan begitu, anak belajar bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi tetap perlu dikelola.
4. Ajak Anak Berolahraga dan Melakukan Permainan Fisik
Aktivitas fisik penting untuk melatih kekuatan tubuh, keseimbangan, koordinasi, dan rasa percaya diri anak.
Pada usia 6 tahun, anak biasanya mulai lebih senang mencoba gerakan baru.
Moms & Dads bisa mengajak anak menari mengikuti lagu atau membuat rintangan kecil di rumah.
Aktivitas fisik bukan hanya membuat tubuh anak aktif, tapi juga membantu anak belajar fokus, mengikuti instruksi, dan memahami batas kemampuan tubuhnya.
Baca Juga: Tahapan Perkembangan Motorik Anak yang Perlu Dipahami Orang Tua
5. Ajak Anak Berbincang dan Bercerita
Percakapan sehari-hari adalah stimulasi bahasa yang sangat penting.
Anak usia 6 tahun sedang belajar menyusun cerita, menjelaskan perasaan, dan menyampaikan pendapat.
Coba tanyakan, “Hari ini bagian paling seru apa?” atau, “Kalau kamu jadi tokoh di cerita tadi, kamu akan melakukan apa?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak berpikir, mengingat, dan menyusun kalimat. Selain itu, anak juga merasa didengar dan dihargai.
6. Manfaatkan Golden Age untuk Mengenalkan Bahasa Asing
Usia 6 tahun masih termasuk fase penting untuk memberi stimulasi bahasa.
Anak sedang aktif menyerap bunyi, kosakata, ekspresi, dan pola komunikasi dari lingkungan sekitarnya.
Karena itu, mengenalkan bahasa Inggris pada anak usia 6 tahun sebaiknya dilakukan dengan cara yang natural dan menyenangkan.
Orang tua bisa mulai dari lagu, cerita, permainan, atau percakapan sederhana agar anak lebih familiar dengan bunyi, kosakata, dan ekspresi bahasa Inggris.
Baca Juga: Perkembangan Bahasa Anak dan 6 Cara Mendukungnya Sejak Dini
Selain stimulasi di rumah, Moms & Dads juga bisa mulai memberi anak lingkungan belajar yang mendukung kemampuan bahasa Inggrisnya.
Melalui kursus bahasa Inggris anak di Sparks English, anak belajar dengan kurikulum berbasis CEFR sehingga materi lebih terarah sesuai levelnya.
Pembelajaran dibimbing oleh native teacher dan tutor tersertifikasi Cambridge TKT agar anak terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa Inggris dengan lebih percaya diri.
Semua ini bisa didapatkan dengan biaya ekonomis mulai dari Rp70 ribuan aja per kelas.
Coba free trial class-nya sekarang dan klaim promo selagi masih ada!



