Moms & Dads mungkin pernah ngalamin momen anak udah belajar berjam-jam tapi saat ujian malah nggak bisa jawab.
Kalau ngecek buku catatannya, isinya lengkap bahkan penuh coretan stabilo warna-warni, sehingga makin nggak ngerti apa penyebab belajar tidak masuk otak anak.
Sebenarnya, ini bukan soal anak kurang usaha, melainkan cara belajarnya yang mungkin belum cocok bagi mereka.
Daripada langsung nge–judge, yuk, kenali dulu apa saja yang membuat materi susah nempel ke otak dan bagaimana cara mengatasinya agar nggak keterusan.
- Apa Penyebab Belajar Tidak Masuk Otak?
- Bagaimana Ciri-Ciri Belajar Tidak Masuk Otak?
- Bagaimana Cara Mengatasi Belajar yang Tidak Masuk Otak?
Apa Penyebab Belajar Tidak Masuk Otak?
Penyebab belajar tidak masuk otak pada anak biasanya bukan alasan tunggal, tapi efek gabungan antara fokus yang gampang ke-distract dan gaya belajar yang belum sesuai.
1. Kurang Fokus saat Belajar
Fokus adalah gerbang pertama sebelum otak anak bisa merekam informasi baru.
Anak yang nggak fokus, misalnya belajar sambil memikirkan jadwal futsal, matanya bisa saja menatap buku walau pikirannya sudah melayang ke lapangan futsal.
2. Belum Menguasai Materi Dasar
Materi baru biasanya nyambung dengan materi sebelumnya.
Kalau materi dasar atau materi sebelumnya belum dikuasai, materi-materi yang akan datang biasanya akan ikut sulit dipahami.
Anak yang belum lancar perkalian, misalnya, akan kesulitan mengikuti materi pembagian karena keduanya masih berkesinambungan.
3. Metode Belajar Kurang Sesuai
Meski mempelajari materi yang sama, tidak semua anak cocok dengan gaya belajar yang sama.
Ada yang lebih mudah paham lewat gambar dan diagram, ada juga yang justru lebih cepat mengerti kalau mendengar penjelasan sambil langsung praktik.
Jadi, kalau metodenya kurang pas, materi juga lebih sulit nempel walau sudah diulang berkali-kali.
4. Hanya Membaca tanpa Mengolah Materi
Membaca ulang catatan tiga sampai empat kali memang bisa membuat kalimatnya terasa familier, tapi bisa jadi anak belum benar-benar paham.
Misalnya, anak mengulang-ulang baca rumus luas bangun datar, tapi begitu diberi soal cerita untuk menghitung luas taman berbentuk L, ia mendadak bingung harus mulai dari mana
5. Belajar Terlalu Lama tanpa Istirahat
Belajar terlalu lama tanpa jeda dapat membuat anak mengalami kelelahan mental sehingga konsentrasi dan kemampuannya menerima informasi baru ikut menurun.
Hal ini didukung oleh sebuah studi tentang cognitive fatigue pada siswa yang menemukan bahwa performa mereka cenderung menurun seiring berjalannya waktu.
Baca Juga: 12 Faktor yang Mempengaruhi Konsentrasi Belajar, Parents Wajib Tahu!
6. Banyak Distraksi saat Belajar
HP yang diletakkan di sudut meja belajar dapat menjadi potensi distraksi yang memengaruhi otak anak, sekalipun dalam posisi tidak dipakai.
Riset yang dirangkum Children and Screens menemukan bahwa aktivitas otak anak berubah menyerupai pola anak dengan kesulitan atensi hanya karena ada HP di dekatnya, meski mereka sama sekali tidak sedang memainkannya.
7. Lingkungan Belajar Kurang Mendukung
Meja belajar yang penuh mainan atau berdekatan dengan televisi yang menyala membuat mata anak mudah teralihkan meski niatnya sudah duduk untuk belajar.
Suasana yang berisik atau terlalu banyak barang di sekitar juga membuat anak tidak fokus pada materi yang sedang dipelajari.
8. Tidak Berani Bertanya saat Belum Paham
Anak yang takut dianggap lamban dibanding teman sekelas, sering kali diam dan nggak berani bertanya saat belum paham.
Rasa bingung yang dipendam dan menumpuk dari satu bab ke bab berikutnya, bisa membuat anak kesulitan memahami setiap ada materi baru.
9. Materi Terlalu Sulit atau Melompat Terlalu Cepat
Ada kalanya materi yang diajarkan melompat terlalu jauh dari kemampuan anak saat itu, misalnya langsung masuk ke pecahan padahal penjumlahan dasarnya saja belum lancar.
Lompatan seperti ini bukannya membuat anak paham konsep baru, tapi justru kebingungan dan frustrasi.
10. Kurang Mengulang dan Mempraktikkan Materi
Materi yang dipelajari sekali lalu langsung ditinggalkan biasanya hanya singgah sebentar di ingatan dan menguap.
Lain halnya kalau anak sempat membuka lagi catatannya keesokan harinya atau mencoba soal serupa di rumah, sebab pengulangan seperti inilah yang membuat informasi berpindah dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.
Pola yang sama berlaku juga saat anak belajar bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, yang sering terasa berat kalau hanya dihafal tanpa dipraktikkan langsung.
Waktu mulai belajar bahasa Inggris juga jadi faktor penting yang menentukan seberapa mudah bahasa akan nempel di kepala anak.
Di awal-awal usianya, otak anak sedang berada di fase paling reseptif untuk menyerap bahasa baru secara natural, jauh lebih mudah dibanding saat sudah dewasa.
Makanya, nggak sedikit orang tua menyesal karena baru serius menstimulasi bahasa Inggris anak setelah besar, padahal effort belajarnya bisa berkali lipat lebih berat dibandingkan saat dimulai sejak kecil.

Sparks English hadir untuk bantu anak 3–15 tahun lancar bahasa Inggris dengan kurikulum berbasis CEFR yang bikin progress belajarnya terukur sesuai tahapan usia.
Kelasnya juga dikemas dengan fun & interactive dalam kelas semi-private, jadi si kecil tetap bisa belajar dengan seru dan teacher fokus pada perkembangan setiap anak.
Dibimbing langsung oleh native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT dengan biaya mulai dari Rp70 ribuan aja!
Nggak usah ragu karena Sparks English udah terbukti bantu lebih dari 25.000 students makin percaya diri ngomong bahasa Inggris dalam 6 bulan!
Momen belajar terbaik bisa dimulai dari free trial class dulu, apalagi ada diskon spesial senilai 1 jutaan kalau daftar sekarang juga!
Bagaimana Ciri-Ciri Belajar Tidak Masuk Otak?
Belajar yang tidak masuk otak biasanya terlihat saat anak diminta menjelaskan ulang materi tanpa melihat catatan.
1. Sulit Menjelaskan Kembali Materi
Anak yang benar-benar paham biasanya bisa menceritakan ulang materi dengan kalimatnya sendiri, meski tidak persis sama seperti di buku.
Kalau yang keluar hanya potongan kalimat yang diingat dari catatan, itu tanda materinya baru sebatas dihafal, belum benar-benar dipahami maknanya.
2. Cepat Lupa setelah Belajar
Ada anak yang malam ini terlihat lancar mengerjakan latihan soal, tapi keesokan paginya sudah kesulitan lagi.
Lupa yang terlalu cepat seperti ini biasanya menunjukkan bahwa materi yang ia pelajari hanya sampai di ingatan jangka pendek, belum sempat berpindah ke ingatan jangka panjang.
3. Harus Membaca Materi Berulang Kali
Ciri lainnya materi belum benar-benar dipahami adalah ketika anak sudah membaca bagian yang sama beberapa kali.
Namun, saat diminta menjelaskan ulang dengan kata-kata sendiri, ia masih terlihat kesulitan.
4. Bingung saat Mengerjakan Soal
Anak yang belum paham materi biasanya kesulitan untuk menyesuaikan cara menjawab saat soalnya dibolak-balik dari contoh yang pernah dipelajari.
5. Bisa Menghafal tetapi Tidak Memahami Konsep
Ada anak yang hafal rumus kecepatan benda, tetapi ketika disuruh menghitung kecepatan truk lewat soal cerita, ia masih kebingungan.
Hafalan tanpa pemahaman konsep biasanya hanya berlaku untuk soal yang mirip persis dengan contoh, sehingga begitu situasinya berubah sedikit, otak langsung buntu.
Bagaimana Cara Mengatasi Belajar yang Tidak Masuk Otak?
Menambah jam belajar tidak otomatis mengatasi belajar yang tidak masuk otak, berikut ini beberapa cara yang tepat.
1. Mulai dari Konsep Dasar
Sebelum lanjut ke materi yang lebih rumit, pastikan dulu anak benar-benar paham dan kuat dalam konsep dasarnya.
Kalau perlu, ulang lagi materi dari beberapa bab sebelumnya sampai anak bisa menjelaskan kembali konsep itu dengan bahasa sendiri, baru lanjut ke materi selanjutnya.
2. Pecah Materi Menjadi Bagian yang Lebih Kecil
Materi satu bab penuh yang dipelajari sekaligus sangat mungkin terasa berat bagi anak, sehingga mereka jenuh dan menyerah di tengah jalan.
Coba pecah menjadi beberapa bagian kecil, misalnya belajar sub-bab pertama dulu sampai benar-benar dikuasai, baru lanjut ke sub-bab berikutnya di sesi lain.
3. Gunakan Active Recall
Active recall adalah cara belajar dengan mencoba mengingat ulang materi dari memori, bukan sekadar membaca ulang catatan.
Riset dari Roediger dan Karpicke bahkan menunjukkan, siswa yang terbiasa menguji ingatannya sendiri lewat semacam kuis biasanya lebih nempel di kepala dalam jangka panjang, dibanding yang cuma membaca ulang catatan berkali-kali.
Baca Juga: 9 Cara Ranking 1 Tanpa Belajar dengan Cara yang Lebih Cerdas
4. Jelaskan Materi dengan Kata-Kata Sendiri
Minta anak menjelaskan ulang apa yang baru dipelajari dengan kalimatnya sendiri.
Proses menerjemahkan materi ke bahasa sendiri inilah yang membuat otak benar-benar mengolah informasinya.
5. Gunakan Contoh agar Materi Lebih Kontekstual
Konsep abstrak seperti pecahan atau volume akan lebih mudah dipahami kalau dikaitkan dengan sesuatu yang familiar bagi anak.
Misalnya, jelaskan pecahan dengan potongan pizza atau cokelat yang dibagi rata ke beberapa orang, sehingga anak punya gambaran nyata.
6. Kerjakan Latihan setelah Mempelajari Konsep
Membaca teori saja tanpa langsung dipraktikkan membuat pemahaman anak mudah menguap.
Coba ajak anak langsung mencoba beberapa soal latihan sesaat setelah materinya dipelajari, supaya jelas bagian mana yang masih perlu di-improve.
7. Ulangi Materi secara Berkala
Materi yang hanya dipelajari sekali biasanya lebih cepat hilang dibanding yang sempat dipelajari ulang beberapa kali.
Coba jadwalkan pengulangan singkat, misalnya sehari setelah belajar, tiga hari kemudian, dan sekali lagi seminggu setelahnya, supaya materinya semakin nempel di otak.
8. Belajar dengan Teman atau Mentor
Belajar bersama teman atau kakak kelas bisa banget membuat anak lebih berani bertanya dibanding belajar sendirian atau di depan guru.
Proses saling menjelaskan ke teman ini juga melatih anak mengolah materi dengan caranya sendiri, yang pada akhirnya membuat pemahamannya semakin kuat.
Baca Juga: Anak Gampang Ngantuk? Ini 10 Cara agar Tidak Ngantuk saat Belajar!
Moms & Dads, penyebab belajar tidak masuk otak nggak otomatis berarti anak kurang pintar atau kurang usaha.
Sering kali itu justru tanda kalau cara belajarnya perlu disesuaikan lagi, entah dari gaya belajarnya, kondisi lingkungan, atau tingkat fokusnya.
Kalau sudah nemu cara yang pas, si kecil akan lebih mudah belajar apa saja, termasuk belajar bahasa Inggris.
Di era global yang makin kompetitif ini, skill bahasa Inggris bakal jadi investasi penting bagi masa depan anak agar ia bisa bersaing di masa depannya.
Disinilah Sparks English hadir sebagai kursus bahasa Inggris anak dengan full English environment yang bikin proses belajar lebih dari sekadar hafalan.
Di sini anak nggak cuma belajar dari buku dan materi, tapi juga diajak aktif speaking lewat permainan, conversation, mini project, dan aktivitas interaktif lainnya yang bantu anak lebih percaya diri.
Ada juga segudang benefit lain yang bisa didapat, mulai dari free extra sessions tiap pekan, free student kit, sampai sesi parent-teacher consultation buat pantau perkembangan si kecil.
In this economy, di mana lagi bisa nemuin kursus bahasa Inggris dengan fasilitas selengkap ini yang berani kasih harga ramah di kantong selain Sparks English?
Langsung daftar kelas trial gratis-nya atau bisa lewat booking instan hanya perlu 1 menit!


