Positive Parenting: Manfaat bagi Anak dan Cara Menerapkannya

29 July 2026
positive parenting

Pengasuhan positif adalah metode mendidik dan membimbing anak yang berlandaskan pada prinsip empati, komunikasi terbuka, rasa saling menghargai, serta penetapan batas yang jelas tanpa kekerasan fisik atau verbal.

Lalu, seperti apa penerapannya dalam kehidupan sehari-hari?

Yuk, Moms & Dads, pelajari pengertian, manfaat, dan contoh positive parenting berikut ini!

 

 

Apa itu Positive Parenting?

Pengasuhan positif adalah gaya mendidik dan membimbing anak yang berfokus pada pengembangan hubungan yang sehat antara orang tua dan anak berlandaskan empati, rasa saling menghargai, komunikasi positif, serta konsistensi. 

Metode ini menekankan pada pengajaran perilaku baik (encouragement) daripada sekadar memberi hukuman atas kesalahan anak.

Berbeda dengan pengasuhan otoriter yang mengandalkan rasa takut atau pengasuhan permisif tanpa aturan, pengasuhan yang baik secara positif mengombinasikan ketegasan dengan kasih sayang. 

Orang tua menetapkan batas-batas yang jelas (firm boundaries) sambil tetap menghormati emosi dan sudut pandang anak.

 

Baca Juga: Parenting Anak: 4 Aspek Penting dan 8 Cara Menerapkannya

 

Manfaat Positive Parenting bagi Anak

Berikut adalah beberapa utama manfaat pengasuhan anak berbasis positive parenting:

 

1. Membentuk Karakter Positif

Anak-anak bereaksi dan belajar melalui contoh yang diberikan oleh lingkungan terdekatnya. 

Ketika orang tua menunjukkan rasa hormat, kejujuran, dan empati dalam interaksi harian, anak secara alami akan menginternalisasi nilai-nilai moral tersebut menjadi bagian dari karakter dasarnya.

 

2. Membantu Anak Mengelola Emosi

Positive parenting tidak melarang anak merasa sedih, marah, atau kecewa. 

Sebaliknya, metode ini mengajarkan anak untuk mengenali nama emosinya (emotional labeling) dan menyalurkannya dengan cara yang aman dan sehat, sehingga anak tumbuh dengan kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi.

 

3. Membangun Hubungan Orang Tua dan Anak yang Lebih Dekat

Komunikasi dua arah yang hangat menciptakan rasa aman (secure attachment). 

Anak merasa didengar dan dihargai, sehingga ketika mereka menghadapi masalah di luar rumah (seperti di sekolah atau pergaulan), orang tua menjadi tempat pertama yang mereka cari untuk bercerita.

 

4. Mengembangkan Kemandirian

Dengan memberikan kebebasan yang terukur serta membimbing anak untuk memecahkan masalahnya sendiri, pengasuhan positif melatih rasa tanggung jawab anak sejak dini. 

Anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang wajar.

 

5. Mendukung Prestasi Belajar

Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang positif dan suportif memiliki tingkat stres yang lebih rendah. 

Rasa aman secara emosional ini membuat fokus belajar, daya ingat, dan kognitif anak bekerja optimal di sekolah maupun tempat les.

 

6. Meningkatkan Kepercayaan Diri

Pujian yang berfokus pada usaha (growth mindset) membuat anak tidak takut gagal. 

Positive parenting yang konsisten tidak hanya membangun kepercayaan diri anak di rumah, tapi juga mempersiapkan mereka untuk berani tampil di dunia yang lebih luas. 

Salah satu bekal terpenting untuk itu adalah kemampuan bahasa Inggris, yang paling mudah dibangun justru di usia kanak-kanak karena otak masih mudah menyerap bahasa baru secara natural.

Banyak orang dewasa menyesal tidak dibiasakan berani berbahasa Inggris sejak kecil, karena setelah besar prosesnya jauh lebih berat dan hasilnya tidak pernah senatural belajar di usia kanak-kanak. 

Jadi, jangan biarkan si kecil merasakan penyesalan yang sama!

 

design new banner 2026
Di Sparks English, anak dapat belajar bahasa Inggris melalui metode fun and interactive learning yang mendorong mereka untuk berani dan aktif speaking.

Kurikulumnya berbasis CEFR, kegiatan belajar dirancang agar anak tidak hanya memahami materi, tetapi juga lebih berani menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai situasi.

Harga lesnya juga ekonomis, mulai dari Rp70 ribu aja, sudah bisa dapat fasilitas kelas semi-private dibimbing oleh native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT.

Metode ini berhasil membawa lebih dari 25.000 students lebih jago bahasa Inggris dalam 6 bulan!

Ayo daftar free trial class sekarang dan ambil promonya sebelum berakhir!

 

Cara Menerapkan Positive Parenting dalam Kehidupan Sehari-hari

Berikut ini beberapa cara menerapkan positive parenting yang bisa Moms & Dads coba.

 

1. Dengarkan Anak dengan Penuh Perhatian

Ketika anak sedang bercerita, usahakan untuk menghentikan aktivitas sejenak, melakukan kontak mata, dan mendengarkan sampai anak selesai berbicara.

Hindari langsung memberikan ceramah, menyalahkan, atau memotong cerita anak. 

Moms & Dads dapat mengajukan pertanyaan terbuka agar anak mau menjelaskan perasaannya.

Contoh percakapan:

Anak: “Aku tidak mau sekolah besok.”

Orang tua: “Kamu kelihatannya sedang tidak nyaman. Boleh ceritakan apa yang terjadi di sekolah?”

Anak: “Temanku tidak mau mengajakku bermain.”

Orang tua: “Kamu sedih karena merasa tidak diajak, ya. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan besok?”

Percakapan tersebut membantu anak merasa dipahami sekaligus mengajaknya memikirkan solusi.

Mendengarkan bukan berarti orang tua harus menyetujui semua perkataan anak. 

Tujuan utamanya adalah memahami situasi sebelum memberikan respons.

 

2. Berikan Pilihan yang Sesuai Usia

Memberikan pilihan terbatas memberi anak rasa kendali atas dirinya sekaligus mengajarkan pengambilan keputusan.

Contoh percakapan:

Orang tua: “Kamu mau mengerjakan PR sebelum makan malam atau setelah makan malam?”

Bukan:

Orang tua: “Kamu mau mengerjakan PR atau tidak?”

Pilihan kedua memberi kesan bahwa mengerjakan PR merupakan hal yang boleh ditolak. 

Padahal, tanggung jawabnya tetap perlu dilakukan.

 

3. Gunakan Kalimat Positif

Kalimat positif berfokus pada perilaku yang diharapkan, bukan hanya pada perilaku yang dilarang.

Daripada mengatakan:

Orang tua: “Jangan berantakan!”

Moms & Dads dapat mengatakan:

Orang tua: “Setelah selesai bermain, masukkan baloknya ke dalam kotak, ya.”

Contoh lainnya:

  • Ganti “Jangan berlari!” menjadi “Jalan pelan-pelan di dalam rumah.”
  • Ganti “Jangan teriak!” menjadi “Bicara dengan suara yang lebih pelan.”
  • Ganti “Jangan malas!” menjadi “Ayo mulai dari satu tugas yang paling mudah.”
  • Ganti “Kamu selalu ceroboh!” menjadi “Pegang gelasnya dengan dua tangan supaya tidak tumpah.”

 

Hindari memberikan label negatif, seperti malas, nakal, cengeng, atau bodoh. 

Kritiklah perilakunya, bukan identitas anak.

 

4. Tetapkan Konsekuensi yang Logis

Konsekuensi logis adalah akibat yang berkaitan langsung dengan perilaku anak.

Sebagai contoh, jika anak melempar mainan, konsekuensinya dapat berupa mainan tersebut disimpan untuk sementara. 

Jika anak mencoret meja, ia perlu membantu membersihkannya.

Contoh percakapan:

Orang tua: “Kamu melempar mainan setelah Mama mengingatkan bahwa mainan harus digunakan dengan aman. Mainannya akan Mama simpan sampai besok.”

Moms & Dads sebaiknya menjelaskan konsekuensi dengan tenang dan singkat. 

Hindari menambahkan ancaman yang tidak berkaitan, seperti melarang anak pergi bermain selama satu minggu karena ia menumpahkan minuman.

Konsekuensi juga harus realistis dan dapat dijalankan. 

Jangan mengatakan sesuatu yang kemungkinan besar tidak akan dilakukan karena anak dapat belajar bahwa aturan tersebut tidak benar-benar berlaku.

 

5. Berikan Pujian yang Membangun

Pujian yang membangun menjelaskan perilaku positif yang dilakukan anak.

Daripada hanya mengatakan:

Orang tua: “Anak hebat!”

Moms & Dads dapat mengatakan:

Orang tua: “Kamu mengembalikan buku ke rak tanpa diminta. Itu tindakan yang bertanggung jawab.”

Contoh lainnya:

  • “Kamu sabar menunggu giliran bermain.”
  • “Kamu berani bertanya ketika belum memahami pelajaran.”
  • “Kamu mencoba lagi meskipun sebelumnya salah.”
  • “Kamu membantu adik mengambil mainannya.”
  • “Kamu sudah berlatih mengucapkan kata bahasa Inggris itu beberapa kali.”

Pujian tidak harus diberikan untuk setiap hal kecil. 

Gunakan pujian dengan tulus dan spesifik agar anak memahami perilaku yang patut dipertahankan.

Hindari pula membandingkan anak.

 

6. Luangkan Quality Time Bersama Anak

Quality time tidak harus berupa liburan mahal atau aktivitas yang berlangsung sepanjang hari. 

Luangkan waktu khusus setidaknya 15–30 menit sehari kegiatan tanpa HP.

Gunakan waktu ini untuk bermain, membaca buku cerita, atau sekadar mengobrol santai mengenai kegiatan anak di sekolah atau tempat les.

 

7. Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan Sederhana

Melibatkan anak dalam keputusan keluarga dapat membantu mereka belajar menyampaikan pendapat, mempertimbangkan pilihan, dan menerima hasil keputusan.

Keputusan yang diberikan harus sesuai dengan usia serta tidak menempatkan tanggung jawab orang dewasa pada anak.

Anak merasa pendapatnya dihargai, tetapi tetap memahami bahwa keputusan memiliki aturan dan tanggung jawab.

 

8. Jadilah Role Model bagi Anak

Anak adalah peniru yang handal. 

Jika orang tua ingin anak berbicara santun dan mengendalikan emosi, tunjukkanlah cara mengelola emosi dan berkomunikasi yang santun saat berbicara dengan anak maupun pasangan.

Ketika Moms & Dads melakukan kesalahan, tunjukkan cara memperbaikinya.

Contoh percakapan:

Orang tua: “Tadi Papa berbicara terlalu keras karena sedang kesal. Itu bukan cara yang baik. Papa minta maaf dan akan mencoba berbicara lebih tenang.”

Meminta maaf tidak membuat orang tua kehilangan wibawa. Justru, anak melihat bahwa setiap orang perlu bertanggung jawab atas perilakunya.

 

Kesalahan yang Sering Dilakukan saat Menerapkan Positive Parenting

Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi.

  • Menganggap positive parenting berarti tidak boleh berkata “tidak”. Orang tua tetap boleh menolak keinginan anak, terutama ketika berkaitan dengan keselamatan, kesehatan, aturan keluarga, atau tanggung jawab.
  • Kurang konsisten dalam menerapkan aturan. Aturan yang berubah-ubah tergantung suasana hati (mood) orang tua akan membuat anak bingung dan tidak belajar tentang batasan.
  • Terlalu berekspektasi tinggi pada anak. Mengharapkan anak tidak pernah menangis, marah, atau bertengkar adalah ekspektasi yang tidak realistis. Tangisan adalah bagian dari proses belajar regulasi emosi anak.
  • Menuntut kesempurnaan pada diri sendiri. Orang tua juga manusia. Jika tanpa sengaja Anda kehilangan kesabaran, mintalah maaf kepada anak secara jujur dan jadikan itu momen pembelajaran empati.
  • Hanya fokus pada ucapan tanpa memperbaiki tindakan. Menggunakan kalimat positif tidak akan efektif jika gestur atau nada suara orang tua tetap menunjukkan ketegangan dan kemarahan yang intens.

 

Positive parenting membantu anak merasa aman untuk mencoba, bertanya, dan belajar dari kesalahan. 

Prinsip yang sama juga penting ketika anak mempelajari bahasa Inggris.

Les bahasa Inggris Anak Sparks English menghadirkan program belajar bahasa Inggris untuk anak dengan metode fun and interactive learning. 

Proses belajar dirancang agar anak dapat mengikuti aktivitas secara aktif, menikmati pembelajaran, dan membangun keberanian menggunakan bahasa Inggris.

Tak hanya itu, masih ada bonus free extra sessions, student kit, sampai konsultasi professional teacher untuk mengetahui progress kemampuan anak.

Dimana lagi ada tempat kursus high quality yang dibimbing native teacher langsung tapi harganya terjangkau kalau bukan di Sparks English?

Yuk, jangan ditunda lagi langsung daftar free trial class dan ambil promonya sebelum waktu habis!

Author:

Topik:

Share article: