Apa Itu Sibling Rivalry? Penyebab, Dampak, dan 9 Cara Mengatasinya

4 August 2026
sibling rivalry

Meski tampak berlebihan, sibling rivalry bisa dimulai dari memberikan potongan kue yang ukurannya berbeda.

Dari hal yang bagi Moms & Dads mungkin tampak sepele, anak bisa cemburu bahkan merasa diperlakukan tidak adil, yang berujung pada persaingan bahkan perkelahian.

Dalam beberapa kasus, persaingan antarsaudara ini bisa terus terbawa hingga mereka dewasa.

Nah, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan sibling rivalry? Apa penyebabnya dan dampaknya bagi masing-masing anak? Dan apakah sibling rivalry bisa diatasi?

Artikel ini akan menjawab semua pertanyaan tersebut, jadi pastikan Moms & Dads menyimaknya sampai selesai!

 

 

Apa Itu Sibling Rivalry?

Sibling rivalry adalah persaingan atau konflik antarsaudara yang dapat muncul karena berbagai faktor.

Kakak mungkin kesal karena adiknya boleh tidur bersama orang tua, sedangkan adik merasa iri karena kakaknya diperbolehkan bermain lebih lama.

Sibling rivalry juga kerap muncul saat seorang anak memiliki adik baru dengan jarak usia dekat.

Sang kakak yang semula dapat perhatian penuh, tiba-tiba merasa kurang diperhatikan sejak sang adik lahir.

Menurut Nationwide Children’s Hospital, konflik antarsaudara merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang karena setiap anak memiliki kepribadian dan kebutuhan yang berbeda.

Namun, pendampingan tetap diperlukan jika persaingan mulai disertai ejekan atau tindakan fisik.

 

Penyebab Sibling Rivalry

Ada berbagai faktor yang menyebabkan munculnya sibling rivalry, mulai dari rasa cemburu terhadap saudara, persaingan mencari perhatian orang tua, hingga adanya perubahan dalam keluarga.

 

1. Perasaan Cemburu terhadap Saudara

Anak dapat merasa cemburu ketika melihat saudaranya menerima perhatian yang sebenarnya juga ia inginkan.

Misalnya, kakak mengganggu adik yang sedang belajar karena ia juga ingin ditemani, tetapi belum mampu menyampaikannya.

 

2. Persaingan Mencari Perhatian Orang Tua

Anak dapat bersaing karena merasa perhatian orang tua kepada saudaranya lebih banyak daripada perhatian yang ia terima.

Misalnya, anak menjadi lebih manja atau sering memamerkan pencapaiannya agar orang tua kembali memperhatikannya.

 

3. Perbedaan Usia dan Tahap Perkembangan

Anak usia 4 tahun dan anak usia 7 tahun tentu memiliki tahap perkembangan yang berbeda.

Anak usia 4 tahun mungkin langsung menangis saat mainannya diambil, sedangkan kakak merasa selalu disalahkan karena dianggap lebih besar sehingga konflik antarsaudara pun mudah muncul.

 

4. Perbandingan yang Dilakukan Orang Tua

Membandingkan anak dengan saudaranya dapat membuat ia merasa kurang dihargai, lalu memicu rasa iri dan keinginan untuk terus bersaing.

Misalnya, anak yang sering mendengar bahwa kakaknya lebih rajin dapat merasa tidak cukup baik dan mulai memandang saudaranya sebagai lawan.

 

5. Perubahan dalam Keluarga

Menurut Anna Freud Centre, perubahan dalam keluarga, seperti kelahiran adik baru, bisa memunculkan perasaan positif dan negatif secara bersamaan pada anak.

Anak bisa merasa senang sekaligus sedih karena perhatian orang tua lebih sering ditujukan kepada adiknya yang masih bayi.

Perubahan ini membuatnya kehilangan rutinitas yang selama ini sudah membuatnya nyaman.

 

Dampak Sibling Rivalry Jika Tidak Diatasi

Jika tidak ditangani dengan baik, sibling rivalry bisa berdampak pada hubungan saudara yang tidak harmonis, sulitnya bekerja sama, hingga konflik yang berlanjut hingga dewasa.

 

1. Hubungan Saudara Menjadi Tidak Harmonis

Konflik yang dibiarkan dapat membuat anak terbiasa melihat saudaranya sebagai saingan bahkan musuh.

Salah satu contoh efeknya, anak menjadi enggan menyapa atau membantu saudaranya karena hubungan mereka sudah penuh rasa kesal.

 

2. Anak Mudah Marah dan Sulit Mengelola Emosi

Konflik antarsaudara yang terus berulang dapat membuat anak menyimpan rasa kesal setiap kali berinteraksi dengan saudaranya.

Akibatnya, masalah kecil pun lebih mudah memicu kemarahan karena anak sudah terbiasa menganggap saudaranya sebagai sumber gangguan.

 

3. Sulit Belajar Bekerja Sama

Ketika anak sudah menganggap saudaranya sebagai rival, ia cenderung enggan membantu atau melakukan sesuatu bersama.

Padahal, hubungan antarsaudara dapat menjadi tempat pertama bagi anak untuk melatih kemampuan sosial-emosional, termasuk berbagi dan menyelesaikan perbedaan.

 

4. Konflik Dapat Berlanjut hingga Dewasa

Salah satu dampak yang mengkhawatirkan dari sibling rivalry adalah konflik yang terus terbawa hingga dewasa.

Perasaan tidak adil yang hanya dipendam, misalnya, dapat tersimpan hingga anak bertumbuh dewasa dan mungkin meninggalkan luka inner child.

Konflik lama yang tak terselesaikan tersebut mungkin muncul kembali ketika saudara harus membagi tanggung jawab keluarga atau mengambil keputusan penting bersama.

 

5. Menurunnya Rasa Percaya Diri

Anak yang sering dibandingkan dapat merasa dirinya tidak sepintar atau sehebat saudaranya.

Ia bisa saja berhenti mencoba suatu aktivitas baru karena sudah percaya bahwa hasilnya tidak akan pernah cukup baik.

 

Salah satu cara menumbuhkan kembali rasa percaya diri anak adalah dengan memberi ruang untuk memaksimalkan potensinya, contohnya kemampuan berinteraksi dalam bahasa Inggris.

Apalagi jika pembelajaran bahasa Inggris dimulai sejak dini, saat otak anak lebih reseptif menerima bahasa baru sehingga kemampuannya dapat berkembang secara natural melalui pendampingan yang tepat dan terarah.

Banyak orang dewasa menyesal tidak serius belajar bahasa Inggris sejak kecil sehingga harus mengeluarkan usaha lebih besar dan waktu lebih lama untuk diserap otak karena baru memulainya saat dewasa.

Jangan sampai anak merasakan hal yang sama!

design new banner 2026

Sparks English hadir sebagai untuk anak usia 3–15 tahun dengan program yang disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhan belajar setiap anak.

Pembelajarannya menggunakan kurikulum berbasis CEFR agar perkembangan kemampuan bahasa Inggris anak lebih terarah sesuai standar internasional.

Metode fun & interactive membantu anak lebih berani mencoba, dan kelas semi-private yang supportive memberi kesempatan belajar lebih personal pada anak tanpa merasa tertinggal dari teman lain.

Mulai Rp70 ribuan per sesi, anak akan dibimbing langsung oleh native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT.

Metode ini terbukti membuat lebih dari 25.000 students percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan.

Jangan tunda lagi! Ikuti free trial class dan klaim diskonnya sebelum kuota habis!

 

Cara Mengatasi Sibling Rivalry

Dampak sibling rivalry sangat wajar jika membuat Moms & Dads resah.

Namun, tidak perlu khawatir, karena ada banyak cara untuk mengatasinya, bahkan bisa dimulai dari hal paling dasar yaitu tidak membandingkan anak.

 

1. Hindari Membandingkan Anak

Meskipun lahir dari orang tua yang sama, setiap anak pasti memiliki kemampuan dan kecepatan perkembangan yang berbeda.

Jika anak belum bisa mengikat tali sepatu sendiri, cukup fokus untuk membantunya berlatih.

Jangan malah mengatakan bahwa saudaranya sudah pandai mengikat tali sepatu saat seusianya. 

Bukannya memotivasi, itu hanya akan membuat anak merasa buruk.

 

2. Berikan Waktu Khusus untuk Setiap Anak

Setiap anak butuh perhatian orang tuanya.

Memberi waktu khusus bagi setiap anak membantu mereka merasa tetap penting meskipun perhatian orang tua harus dibagi.

Momen sederhana seperti membaca buku sebelum tidur dapat membuat anak merasa berharga dan diperhatikan secara penuh.

 

3. Dengarkan Semua Pendapat dan Perasaan Anak

Saat anak bertengkar, hindari langsung menyimpulkan siapa yang salah hanya karena salah satu menangis lebih dahulu.

Beri kesempatan kepada setiap anak untuk menceritakan kejadian dari sudut pandangnya masing-masing setelah suasana mulai tenang.

Dengan cara ini, anak belajar bahwa perasaannya sama-sama didengar dengan adil.

 

4. Berikan Apresiasi pada Setiap Anak

Anak yang merasa dihargai tidak perlu terus bersaing untuk mendapatkan perhatian orang tua.

Berikan apresiasi pada perilaku yang spesifik, misalnya ketika anak berhasil mengerjakan PR sendiri.

Hindari menambahkan bahwa kakaknya juga rajin karena pujian seperti itu justru dapat mengubah pencapaian anak menjadi perbandingan antarsaudara.

 

5. Buat Aturan yang Adil

Aturan yang adil membantu anak memahami bahwa tidak ada saudara yang selalu menang atau selalu harus mengalah.

Misalnya, setiap anak wajib meminta izin sebelum memakai barang milik saudaranya, lalu mengembalikannya setelah selesai.

Hindari terus meminta kakak mengalah hanya karena usianya lebih tua, sebab kebiasaan tersebut dapat membuatnya merasa adik selalu lebih dibela.

 

6. Ajarkan Empati Sejak Dini

Tidak semua anak paham bahwa tindakannya melukai perasaan kakak atau adiknya.

Ketika adik menangis karena mainannya direbut, ajak kakak membayangkan bagaimana rasanya jika hal yang sama terjadi kepadanya.

Kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa saudaranya juga memiliki perasaan.

Interaksi dengan saudara seperti ini juga menjadi latihan awal bagi anak untuk membangun kemampuan sosial sebelum menghadapi lingkungan yang lebih luas.

 

Baca Juga: 9 Cara Menumbuhkan Empati Anak agar Peka!

 

7. Jadilah Contoh dalam Menyelesaikan Konflik

Anak banyak belajar dari pengamatan, termasuk bagaimana orang tua menyelesaikan konflik.

Jika orang tua terbiasa berbicara dengan tenang saat kesal, anak akan memiliki contoh respons yang sehat tersebut.

Jangan ragu meminta maaf ketika melakukan kesalahan. 

Tunjukkan bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan, justru merupakan cara menyelesaikan konflik yang baik.

 

Baca Juga: Positive Parenting: Manfaat bagi Anak dan Cara Menerapkannya

 

8. Dorong Anak Bekerja Sama

Anak yang terbiasa menganggap saudaranya sebagai rival perlu dilibatkan dalam kegiatan yang membuat mereka merasa berada di pihak yang sama.

Misalnya, minta kakak menata piring sementara adik menaruh sendok sebelum makan malam agar meja makan siap digunakan bersama.

Saat berhasil menyelesaikan tugas tersebut, anak belajar bahwa saudaranya bukan hanya pesaing, tetapi juga partner yang bisa diajak bekerja sama.

 

9. Dukung Minat dan Perkembangan Setiap Anak

Setiap anak adalah individu yang membutuhkan ruang untuk perkembangannya masing-masing.

Jika kakak menyukai olahraga, adik tidak harus diarahkan pada kegiatan yang sama.

Dukungan terhadap minat masing-masing membuat anak lebih percaya diri dan tidak merasa perlu bersaing untuk mendapatkan pengakuan.

Dukungan tersebut juga bisa diberikan dengan membuka kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan baru yang sesuai dengan tahap usia dan kebutuhannya.

Salah satunya adalah bahasa Inggris yang sekaligus menjadi investasi masa depan anak untuk membuka peluang beasiswa, student exchange, kuliah di luar negeri, hingga karier internasional.

 

design new banner 2026
Sparks English hadir sebagai kursus bahasa Inggris untuk anak usia 3–15 tahun dengan pendekatan supportive learning agar setiap anak berkembang tanpa merasa tertekan atau dibandingkan dengan kemampuan anak lain.

Melalui full English environment anak didorong untuk active speaking sehingga lebih percaya diri dalam menyampaikan ide atau berkomunikasi sehari-hari.

Setiap anak akan melalui placement test lebih dulu untuk mengetahui program yang paling sesuai.

Setelah itu, Moms & Dads juga bisa memantau perkembangan anak lewat free teacher-parent consultation.

Di mana lagi bisa menemukan kursus bahasa Inggris yang punya fasilitas selengkap ini dengan harga super affordable selain Sparks English?

Coba dulu metode belajarnya dengan ikut free trial class dan klaim diskonnya selama periode promo masih berlangsung!

Author:

Topik:

Share article: