Ada kalanya, kegagalan membuat seseorang langsung menyerah dan berhenti mencoba.
Namun, saat yakin masih ada cara yang lebih tepat, usaha untuk mencari strategi baru biasanya akan terus dilakukan sampai berhasil mencapai target.
Inilah yang disebut growth mindset, dan growth mindset adalah satu hal yang penting ditanamkan pada anak sejak dini.
Di artikel ini, Moms & Dads akan diajak mengenal lebih jauh apa itu growth mindset, ciri-cirinya pada anak, sampai cara menumbuhkannya di rumah.
- Apa Itu Growth Mindset?
- Perbedaan Growth Mindset dan Fixed Mindset
- Ciri-Ciri Anak dengan Growth Mindset
- Kenapa Growth Mindset Penting?
- Cara Menumbuhkan Growth Mindset pada Anak
- 1. Berikan Apresiasi pada Setiap Usaha
- 2. Hargai Proses, Bukan Hanya Hasil
- 3. Ajarkan Anak Bahwa Kesalahan adalah Bagian dari Belajar
- 4. Dorong Anak untuk Mencoba Hal Baru
- 5. Gunakan Kalimat yang Mendukung Pola Pikir Berkembang
- 6. Jadilah Contoh Sikap Growth Mindset
- 7. Ciptakan Lingkungan Belajar yang Mendukung
- Contoh Growth Mindset dalam Kehidupan Sehari-hari
Apa Itu Growth Mindset?
Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan seseorang bisa terus berkembang lewat usaha, latihan, dan strategi belajar yang tepat, bukan sesuatu yang sudah paten sejak lahir.
Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh Carol Dweck dari Stanford University, lewat bukunya Mindset: The New Psychology of Success.
Orang yang memiliki growth mindset artinya tidak mudah menganggap kegagalan sebagai batas kemampuan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar.
Ketika menghadapi kesulitan, mereka cenderung mencari cara lain, menerima masukan, dan memperbaiki strategi agar bisa mencapai hasil yang lebih baik.
Perbedaan Growth Mindset dan Fixed Mindset
Supaya lebih mudah dipahami, growth mindset perlu dilihat berdampingan dengan lawannya, yaitu fixed mindset.
Perbedaan utama growth mindset dan fixed mindset terletak pada cara seseorang memandang kemampuan, yaitu sebagai sesuatu yang dapat terus dikembangkan atau sebagai sifat tetap yang sulit diubah.
Orang dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan dapat meningkat melalui proses belajar dan strategi yang sesuai.
Sebaliknya, orang dengan fixed mindset cenderung menganggap kecerdasan dan bakat sebagai sesuatu yang bersifat tetap dan sudah ditentukan sejak awal.
Saat menghadapi tantangan, pemilik growth mindset biasanya terdorong untuk mencoba pendekatan baru, sedangkan pemilik fixed mindset lebih sering menghindarinya karena khawatir terlihat tidak mampu.
Kegagalan juga dipandang secara berbeda. Orang dengan growth mindset melihatnya sebagai bahan evaluasi, sementara orang dengan fixed mindset menafsirkannya sebagai bukti bahwa dirinya memang tidak mampu.
Orang dengan growth mindset memanfaatkan kritik untuk memperbaiki diri, sedangkan orang dengan fixed mindset merasa bahwa kritik tersebut menyerang kemampuan pribadinya.
Namun, arti growth mindset bukan sekadar bekerja keras tanpa arah, tapi juga mengevaluasi kesalahan dan mengganti strategi yang kurang efektif.
Ciri-Ciri Anak dengan Growth Mindset
Sebelum membahas cara menumbuhkannya, ada baiknya orang tua mengenali dulu seperti apa ciri-ciri growth mindset yang biasanya terlihat pada anak sehari-hari.
Ciri-ciri ini bisa jadi patokan sederhana untuk mengenali kebiasaan yang sudah mulai muncul, sekaligus gambaran perilaku yang bisa terus dilatih.
1. Berani Mencoba Hal Baru
Anak dengan growth mindset cenderung tidak takut mencoba kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Misalnya, saat diajak ikut kelas renang untuk pertama kalinya, ia lebih penasaran dan antusias dibanding takut gagal.
2. Tidak Mudah Menyerah saat Mengalami Kesulitan
Ciri ini terlihat saat anak menghadapi soal atau permainan yang sulit, tapi ia tetap mencoba berkali-kali sebelum akhirnya berhasil.
Contohnya, saat menyusun puzzle yang rumit, ia akan mengulang dan mencoba kombinasi berbeda, bukan langsung meminta bantuan atau berhenti pada percobaan pertama.
3. Mau Belajar dari Kesalahan
Anak dengan growth mindset melihat kesalahan sebagai informasi, bukan sebagai aib yang harus disembunyikan.
Misalnya, setelah salah menjawab kuis di sekolah, ia akan bertanya di bagian mana letak kesalahannya, alih-alih merasa malu dan menghindari topik tersebut.
4. Senang Menerima Tantangan
Ketimbang memilih hal yang mudah dan aman, anak dengan growth mindset justru cenderung tertarik pada tantangan yang sedikit di luar kemampuannya saat ini.
Contoh kecilnya, ia lebih memilih permainan level “hard” dibanding level “medium” atau “easy” saat bermain game edukasi.
5. Menghargai Proses Belajar
Anak dengan pola pikir ini tidak hanya fokus pada hasil akhir, tapi juga menikmati proses saat sedang belajar sesuatu.
Ia bisa dengan bangga menceritakan cara yang baru saja ditemukannya untuk menyelesaikan sebuah soal, meskipun nilai akhirnya belum sempurna.
Kenapa Growth Mindset Penting?
Bagi anak, growth mindset penting karena memengaruhi cara mereka menghadapi hampir semua aspek kehidupannya, mulai dari belajar di sekolah, berteman, sampai mengejar cita-citanya di masa depan.
1. Meningkatkan Motivasi Belajar
Anak dengan growth mindset melihat belajar sebagai proses yang menyenangkan, bukan beban yang harus segera selesai.
Ia jadi lebih sering mencari tahu alasan di balik suatu jawaban, dibanding sekadar menghafalnya untuk mengejar nilai.
Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak yang Ampuh
2. Membantu Anak Lebih Percaya Diri
Karena terbiasa mencoba dan gagal tanpa merasa rendah diri, anak dengan growth mindset umumnya tumbuh lebih percaya diri.
Ia berani tampil di depan kelas meski belum sepenuhnya lancar, karena tahu bahwa kemampuannya masih bisa terus diasah.
3. Mengembangkan Kemampuan Problem Solving
Growth mindset melatih anak untuk mencari solusi ketimbang berhenti di titik masalah, inilah yang disebut kemampuan problem solving.
Misalnya, saat mainan robotnya rusak, anak dengan pola pikir ini akan mencoba mengutak-atik dan mencari cara memperbaikinya sendiri, bukan langsung menyerah dan meminta yang baru.
4. Membantu Menghadapi Tantangan
Anak dengan growth mindset lebih siap menghadapi perubahan dan situasi tak terduga, karena terbiasa memandang tantangan sebagai bagian normal dari proses belajar.
Ini sangat berguna terutama saat anak mulai memasuki jenjang sekolah baru atau lingkungan pertemanan yang berbeda.
5. Mendorong Anak untuk Terus Berkembang
Growth mindset menanamkan kebiasaan untuk terus belajar sepanjang hidup, bukan berhenti begitu merasa cukup.
Kebiasaan ini yang nantinya akan sangat membantu anak beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.
Di dunia yang bergerak makin cepat ini, growth mindset saja tidak cukup, anak juga butuh kemampuan komunikasi yang mumpuni.
Salah satu caranya adalah lewat penguasaan bahasa Inggris yang kini jadi bahasa pengantar di dunia pendidikan maupun dunia kerja global.
Bahasa Inggris justru paling mudah diserap jika distimulasi saat anak masih dalam periode otaknya bekerja seperti spons yang bisa menyerap bahasa baru dengan cepat dan natural.
Periode ini terjadi di masa kanak-kanak dan hanya terjadi sekali seumur hidup, sehingga tidak akan bisa diulang lagi jika sudah terlewat.
Faktanya, banyak orang dewasa menyesal karena baru belajar bahasa Inggris setelah berhadapan langsung dengan tuntutan dunia kerja, di mana otak butuh effort yang lebih besar untuk mempelajarinya.
Pastikan ambil langkah sekarang agar si kecil tidak mengalami penyesalan yang sama, ya Moms & Dads!

Sparks English dengan program bahasa Inggris anak usia 3–15 tahun, siap menjadi partner dalam menstimulasi bahasa Inggris dengan konsisten sejak masa keemasan anak!
Lewat metode fun & interactive seperti games, lagu, dan storytelling, plus kurikulum berbasis CEFR, anak belajar sesuai levelnya dengan cara yang menyenangkan.
Didukung suasana full English environment dan pendampingan native teacher serta tutor bersertifikat Cambridge TKT yang berpengalaman, accent dan struktur kalimat anak terbangun lebih natural sejak awal.
Semua fasilitas terbaik ini bisa didapatkan mulai Rp70 ribuan aja per kelas!
Tak heran, lebih dari 25.000 students berhasil jago bahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English!
Coba keseruannya di kelas trial gratis, dan klaim juga potongan harga selagi promonya masih berlangsung!
Cara Menumbuhkan Growth Mindset pada Anak
Kabar baiknya, growth mindset bukan bakat bawaan, melainkan kebiasaan yang bisa dilatih.
Berikut beberapa cara yang bisa mulai diterapkan sehari-hari.
1. Berikan Apresiasi pada Setiap Usaha
Alih-alih hanya memuji hasil akhir, cobalah lebih sering mengapresiasi usaha dan proses yang sudah dilalui anak.
Misalnya, saat anak berlatih menulis huruf berkali-kali sebelum akhirnya rapi, arahkan apresiasi pada ketekunannya lewat kalimat seperti “Wah, adik sedang bikin huruf A, ya? Keren sekali!” bukan sekadar memuji hasil tulisan yang sudah rapi.
2. Hargai Proses, Bukan Hanya Hasil
Saat anak belum mencapai hasil yang diharapkan, penting untuk tetap mengakui usaha yang sudah ia lakukan.
Contohnya, ketika anak kalah dalam pertandingan voli, arahkan perhatian pada caranya bertahan dan berjuang lewat kalimat seperti “Cara kamu blok bola di set 2 tadi hebat banget, lho, Kak!” bukan hanya pada skor akhir yang didapat.
3. Ajarkan Anak Bahwa Kesalahan adalah Bagian dari Belajar
Saat anak melakukan kesalahan, hindari langsung menyalahkan atau membanding-bandingkan dengan anak lain.
Ajak anak me-reviewlangkah-langkah yang sudah ia lakukan lewat pertanyaan seperti “Menurut kamu, bagian mana yang bikin jawabannya jadi keliru?”, sehingga ia bisa menemukan sendiri letak kekeliruannya dan belajar dari situ.
4. Dorong Anak untuk Mencoba Hal Baru
Berikan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi kegiatan baru, meskipun hasilnya belum tentu langsung memuaskan.
Misalnya, ajak anak mencoba les melukis atau olahraga baru, lalu biarkan ia menemukan sendiri apakah ia menikmatinya atau tidak.
Baca Juga: 13 Macam Hobi Anak yang Bermanfaat untuk Tumbuh Kembangnya
5. Gunakan Kalimat yang Mendukung Pola Pikir Berkembang
Pemilihan kata orang tua sehari-hari ternyata sangat memengaruhi cara anak memandang kemampuannya sendiri.
Saat anak merasa belum berhasil melakukan sesuatu, ajarkan ia untuk menambahkan kata “belum”, sehingga dari kalimat “aku tidak bisa” berubah menjadi “aku belum bisa”.
Secara tidak langsung, kata ini memberi makna bahwa anak suatu saat pasti bisa melakukannya, hanya saja butuh cara, usaha, dan waktu yang tepat untuk mencapainya.
6. Jadilah Contoh Sikap Growth Mindset
Anak belajar paling banyak dari apa yang dilihatnya, termasuk cara orang tua bersikap saat menghadapi kegagalan.
Misalnya, saat masakan gosong atau pekerjaan rumah belum selesai tepat waktu, tunjukkan sikap tenang dan segera mencari cara lain untuk memperbaikinya, alih-alih larut dalam kekecewaan di depan anak.
7. Ciptakan Lingkungan Belajar yang Mendukung
Lingkungan rumah yang aman untuk anak mencoba dan gagal akan membuatnya lebih berani mengambil risiko dalam belajar.
Sediakan waktu dan ruang khusus untuk anak bereksplorasi, tanpa terlalu banyak interupsi atau tekanan untuk selalu benar sejak percobaan pertama.
Contoh Growth Mindset dalam Kehidupan Sehari-hari
Supaya lebih paham apa itu growth mindset, berikut contoh nyata penerapannya yang mungkin juga pernah dialami anak di rumah.
Suatu sore, Rani mengikuti lomba mewarnai tingkat sekolah dan pulang dengan wajah lesu karena gambarnya tidak masuk nominasi juara.
Awalnya Rani sempat kecewa dan berkata tidak mau ikut lomba lagi, tapi setelah diajak mengobrol oleh orang tuanya, ia mulai melihat kembali hasil karyanya dengan cara yang berbeda.
Ia bertanya pada gurunya, bagian mana dari gambarnya yang masih bisa diperbaiki, lalu mulai berlatih mewarnai dan mencampur warna setiap akhir pekan.
Beberapa bulan kemudian, saat sekolahnya kembali mengadakan lomba serupa, Rani ikut serta lagi dengan lebih percaya diri, dan kali ini karyanya berhasil dipajang di mading sekolah.
Contoh lain datang dari Fajar, yang awalnya kesulitan setiap kali belajar mengendarai sepeda roda dua dan selalu jatuh di beberapa meter pertama.
Alih-alih berpikir “Aku memang tidak bisa naik sepeda,” Fajar diajarkan ayahnya untuk berkata “Aku belum lancar naik sepeda” setiap kali kehilangan keseimbangan.
Dengan latihan singkat setiap sore selama dua minggu, Fajar akhirnya bisa mengayuh sepedanya sendiri tanpa bantuan, dan kini justru menjadi anak yang paling semangat mengajak teman-temannya bersepeda keliling kompleks.
Dari dua contoh sederhana ini, terlihat bahwa growth mindset bukan tentang selalu berhasil pada percobaan pertama, melainkan tentang cara anak bangkit dan terus mencoba setelah mengalami kegagalan.
Pola pikir semacam inilah yang jika dilatih terus-menerus, akan terbawa hingga anak dewasa nanti.
Baca Juga: Anak Sulit Belajar? Ini 10 Cara Rajin Belajar untuk Anak yang Efektif
Jadi, growth mindset adalah pola pikir yang dibentuk dari kebiasaan kecil sehari-hari, mulai dari cara anak merespons kegagalan, cara orang tua memberi apresiasi, lingkungan belajar di rumah, hingga kesempatan eksplorasi hal baru.
Salah satu cara paling nyata untuk melatih growth mindset anak adalah dengan memilih kesempatan eksplorasi yang tepat.
Pilih kegiatan baru yang tidak hanya melatih growth mindset, tetapi juga kemampuan komunikasi, kognitif, dan confidence building, sekaligus jadi investasi masa depan anak, seperti kursus bahasa Inggris.
Nah, biar kemampuan ini bisa terlatih maksimal, penting juga untuk memilih tempat belajar bahasa Inggris yang tepat.
Mengapa Sparks English jadi pilihan kursus bahasa Inggris terbaik?
- Full English environment: Membiasakan anak mendengar sekaligus berbicara bahasa Inggris secara natural setiap kelas.
- Placement test: Memastikan anak belajar sesuai usia dan levelnya, mengikuti standar kurikulum CEFR yang terukur.
- Harga ekonomis: Mulai dari Rp70 ribuan per sesi, dengan fasilitas kelas modern dan kualitas premium.
- Kelas semi-private: Kelas kecil agar setiap anak bisa dipantau perkembangannya secara lebih personal.
- Banyak pilihan cabang dan jadwal fleksibel: Bebas pilih jadwal tersedia dan lokasi center terdekat.
- Trial class gratis: Bisa coba langsung atmosfer kelas dan proses belajarnya sebelum memutuskan bergabung.
Kalau Sparks English bisa kasih semua fasilitas high quality ini dengan harga paling affordable, buat apa cari yang lain?
Yuk ikuti free trial class-nya segera dan dapatkan potongan harga menarik jika daftar sekarang!


