Moms & Dads mungkin masih ingat hari pertama si kecil masuk sekolah, ia tampak bersemangat belajar, bahkan selalu cerita panjang lebar tentang pelajaran di sekolah.
Namun, sekarang ia cenderung menunda, murung, dan kesal jika diajak belajar.
Anehnya, di hal lain seperti main game atau nonton video favorit, matanya tetap berbinar.
Kalau sudah begini, mungkin pertanda bahwa motivasi belajarnya perlu dibangun lagi.
Jangan khawatir, Moms & Dads, karena di artikel ini, kita akan mengetahui cara meningkatkan motivasi belajar anak yang bisa dilakukan di rumah.
Pastikan simak sampai akhir, ya!
- Mengapa Motivasi Belajar Anak Penting?
- Penyebab Motivasi Belajar Anak Menurun
- Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak
- 1. Berikan Kesempatan Memilih Cara Belajar
- 2. Gunakan Metode Belajar yang Menyenangkan
- 3. Hubungkan Pelajaran dengan Kehidupan Sehari-hari
- 4. Libatkan Anak Membuat Jadwal Belajar yang Konsisten
- 5. Kurangi Gangguan dari Gadget
- 6. Dampingi Tanpa Terlalu Mengontrol
- 7. Jadilah Role Model yang Gemar Belajar
- 8. Bangun Growth Mindset
- 9. Dorong Anak Bertanya dan Bereksplorasi
- 10. Rayakan Pencapaian Kecil
Mengapa Motivasi Belajar Anak Penting?
Jika diibaratkan, motivasi belajar adalah “energi” pada diri anak yang membuatnya tergerak untuk terus mencoba, sekalipun pelajaran terasa sulit.
Motivasi belajar bisa membantu anak lebih fokus, membangun rasa percaya diri, hingga meningkatkan prestasi akademik.
Berikut penjelasan lengkap mengapa motivasi belajar anak penting untuk terus dijaga.
1. Membantu Anak Lebih Fokus
Anak yang termotivasi biasanya lebih mudah berkonsentrasi pada satu tugas sampai selesai.
Misalnya saat mengerjakan PR matematika, ia bisa duduk tenang sampai soal terakhir tanpa harus diingatkan berulang kali.
Sebaliknya, anak yang motivasinya rendah gampang teralihkan.
Baru dua soal, sudah mengeluh lapar atau ngantuk.
2. Membentuk Growth Mindset
Motivasi yang sehat membuat anak melihat kesulitan sebagai tantangan, bukan tanda bahwa dirinya tidak mampu.
Psikolog Carol Dweck dari Stanford University menyebut ini sebagai growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan bisa terus berkembang lewat usaha.
Contohnya, anak yang gagal di ulangan pertama memilih menganggap dirinya belum paham dan perlu belajar lagi, bukan langsung menyimpulkan dirinya tidak bisa matematika.
3. Membangun Rasa Percaya Diri
Setiap kali anak berhasil menyelesaikan tugas karena usahanya sendiri, rasa percaya dirinya ikut terbangun.
Ia jadi tahu bahwa dirinya mampu, bukan hanya mengandalkan bantuan orang lain.
4. Membantu Anak Menyukai Proses Belajar
Motivasi yang datang dari dalam diri membuat anak menikmati proses belajar itu sendiri, bukan sekadar mengejar nilai.
Anak jadi belajar karena penasaran, bukan karena takut dimarahi.
5. Meningkatkan Prestasi Akademik
Motivasi yang konsisten berdampak langsung pada hasil belajar anak.
Anak yang termotivasi cenderung lebih rajin mengulang pelajaran dan lebih siap menghadapi ujian.
Nilai yang bagus pun jadi bonus alami dari proses belajar yang dinikmati, bukan tujuan yang dikejar dengan tertekan.
Penyebab Motivasi Belajar Anak Menurun
Motivasi belajar anak bisa menurun karena berbagai faktor, mulai dari tekanan berlebihan, kebiasaan screen time, hingga metode belajar yang kurang menarik.
1. Terlalu Banyak Tekanan
Target nilai yang terlalu tinggi atau perbandingan dengan kakak maupun adik bisa membuat anak merasa belajar adalah beban, bukan kesempatan.
Lama-lama anak jadi enggan mencoba karena takut mengecewakan.
2. Terlalu Banyak Screen Time
Waktu layar yang berlebihan membuat anak terbiasa dengan stimulasi cepat dan instan dari gadget.
Aktivitas belajar yang butuh waktu dan usaha lebih lama pun terasa membosankan dibanding scroll video pendek.
3. Takut Gagal
Anak yang pernah dimarahi karena nilai jelek bisa jadi lebih memilih tidak mencoba sama sekali daripada mencoba dan gagal lagi.
Rasa takut ini membuat motivasi belajarnya menurun drastis.
Misalnya, anak jadi malas ikut lomba cerdas cermat karena trauma pernah salah jawab di depan teman-temannya.
4. Kurangnya Dukungan Orang Tua
Anak butuh merasa didampingi, bukan hanya diperintah untuk belajar.
Tanpa dukungan yang terasa nyata, anak bisa merasa belajar cuma urusannya sendiri.
Contohnya, anak yang tidak pernah ditanya soal keseharian atau kegiatannya di sekolah lama-lama merasa proses belajarnya tidak diperhatikan.
5. Metode Belajar Kurang Menarik
Belajar dengan cara yang itu-itu saja, misalnya hanya membaca buku teks dan mengerjakan soal, bisa membuat anak cepat bosan.
Motivasi dalam belajar anak usia sekolah justru lebih mudah terjaga kalau distimulasi lewat cara yang variatif.
6. Lingkungan Belajar Kurang Kondusif
Suasana belajar yang berisik, penuh distraksi, atau tidak nyaman membuat anak susah fokus.
Belum lagi meja belajar yang penuh mainan atau televisi yang menyala di ruang sebelah, itu sangat bisa jadi gangguan besar.
Metode dan lingkungan belajar yang tepat bukan hanya menjaga motivasi anak, tapi juga menentukan seberapa kuat fondasi yang terbentuk.
Dan di masa golden age, ketika otak anak paling responsif menyerap bahasa baru secara alami, inilah waktu terbaik untuk mengajarkan bahasa Inggris pada anak.
Banyak orang dewasa menyesal tidak memanfaatkan masa kanak-kanak untuk belajar bahasa Inggris dengan serius.
Seiring bertambahnya usia, belajar bahasa Inggris membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dan hasilnya tidak pernah senatural belajar di usia dini.
Jangan biarkan si kecil melewatkan kesempatan yang akan ia sesali di kemudian hari!
Sparks English hadir sebagai les bahasa Inggris anak usia 3–15 tahun, bantu anak mahir bahasa Inggris sejak dini.
Kurikulumnya berbasis standar internasional CEFR, dengan materi yang disesuaikan dengan level dan usia.
Dengan metode fun, interactive, dan play-based learning, anak belajar melalui games, role play, storytelling, hingga mini project sehingga anak tidak mudah bosan.
Ditambah lagi, belajarnya dibimbing langsung oleh native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT dalam kelas semi-private, dengan biaya mulai Rp70 ribuan aja.
Hasilnya, lebih dari 25.000 students jadi jago bahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English!
Jangan tunda untuk ikut free trial class-nya dan klaim promo untuk dapat potongan harga menarik!
Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak
Cara meningkatkan motivasi belajar anak sebenarnya tidak harus rumit atau butuh biaya besar.
Kuncinya ada di pendekatan yang konsisten, melibatkan anak secara aktif, dan disesuaikan dengan cara belajar yang paling nyaman untuknya.
Berikut sepuluh cara yang bisa mulai diterapkan di rumah.
1. Berikan Kesempatan Memilih Cara Belajar
Anak yang diberi ruang untuk memilih, misalnya mau belajar sambil duduk di meja atau lesehan di karpet, cenderung lebih semangat menjalani prosesnya.
Rasa punya kendali atas caranya sendiri ini penting untuk motivasi dalam belajar.
Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan menjelaskan bahwa rasa otonomi adalah salah satu kebutuhan dasar yang mendorong motivasi dari dalam diri, termasuk pada anak.
2. Gunakan Metode Belajar yang Menyenangkan
Belajar sambil bermain game edukasi, menyanyi, atau bermain peran biasanya lebih menempel di ingatan anak dibanding metode satu arah.
Otak anak lebih aktif menyerap informasi ketika prosesnya terasa menyenangkan.
Misalnya, anak yang belajar perkalian lewat permainan flash card akan lebih antusias dibanding disuruh menghafal tabel perkalian berulang-ulang.
Baca Juga: 7 Gaya Belajar Anak: Mana yang Paling Cocok untuk Anak?
3. Hubungkan Pelajaran dengan Kehidupan Sehari-hari
Anak lebih mudah paham kalau pelajaran dikaitkan dengan hal yang ia alami langsung.
Konsep pecahan misalnya, bisa dijelaskan lewat cara membagi kue ulang tahun jadi beberapa potong sama besar.
Cara ini membuat anak paham bahwa yang ia pelajari di sekolah memang berguna, bukan sekadar teori di buku.
4. Libatkan Anak Membuat Jadwal Belajar yang Konsisten
Ajak anak ikut menentukan kapan waktu belajar yang paling nyaman untuknya, misalnya sore setelah main atau malam setelah makan malam.
Anak yang dilibatkan dalam membuat jadwal biasanya lebih patuh menjalankannya.
Konsistensi ini penting supaya aktivitas belajar jadi rutinitas, bukan sesuatu yang dadakan dan bikin anak enggan setiap kali diminta belajar.
5. Kurangi Gangguan dari Gadget
Jauhkan ponsel atau tablet dari meja belajar selama sesi belajar berlangsung.
Notifikasi yang terus muncul bisa memecah konsentrasi anak dalam hitungan detik.
Jika terpaksa menggunakan gadget untuk tugas tertentu, coba nyalakan fitur “do not disturb” dan pastikan penggunaannya didampingi orang tua.
6. Dampingi Tanpa Terlalu Mengontrol
Duduk di dekat anak saat belajar tanpa terus-menerus mengoreksi setiap langkahnya bisa membuat anak merasa didukung, bukan diawasi.
Saat anak salah menjawab soal, hindari untuk langsung mengoreksi, melainkan beri kesempatan ia mencari sendiri letak kesalahannya terlebih dahulu,
7. Jadilah Role Model yang Gemar Belajar
Anak belajar banyak dari apa yang dilihat, bukan hanya dari apa yang didengar.
Melihat orang tua membaca buku atau mencoba hal baru bisa menular ke kebiasaan anak.
Contohnya, anak yang sering melihat orang tuanya membaca sebelum tidur biasanya ikut penasaran dan minta dibacakan buku juga.
8. Bangun Growth Mindset
Growth mindset dibangun lewat keyakinan bahwa kemampuan anak bisa terus berkembang lewat usaha, bukan sesuatu yang sudah paten sejak lahir.
Ajarkan bahwa kesalahan adalah salah satu cara mengetahui bagian mana yang masih perlu dilatih, bukan bukti bahwa anak memang tidak mampu.
Berikan juga pujian karena anak tetap mau mencoba lagi dan tidak menyerah meski sempat gagal di percobaan pertama.
9. Dorong Anak Bertanya dan Bereksplorasi
Ciptakan suasana rumah yang membuat anak merasa aman menyuarakan rasa penasarannya, dan sesekali pancing dengan pertanyaan santai tentang hal yang menarik perhatiannya hari itu.
Semakin sering anak diberi ruang untuk bertanya, semakin terbiasa pula ia mengeksplorasi dunia di sekitarnya.
Dorong juga anak mencoba dan mencari tahu sendiri lewat pengalaman langsung, alih-alih selalu diberi jawaban jadi.
Misalnya, biarkan anak mencampur air dan minyak untuk melihat sendiri kenapa keduanya tidak bisa menyatu, sebelum dijelaskan alasannya.
10. Rayakan Pencapaian Kecil
Tidak perlu menunggu nilai sempurna untuk memberi apresiasi.
Perkembangan kecil, seperti anak yang akhirnya berani maju ke depan kelas, juga layak dirayakan.
Apresiasi sederhana seperti pelukan atau ucapan bangga bisa jadi motivasi besar untuk anak terus mencoba di kesempatan berikutnya.
Baca Juga: Anak Sulit Belajar? Ini 10 Cara Rajin Belajar untuk Anak yang Efektif
Motivasi belajar tidak tumbuh dalam satu malam, melainkan dibangun melalui pengalaman kecil yang dilakukan secara konsisten.
Sama halnya dengan membangun kemampuan bahasa Inggris.
Sebagai investasi skill untuk masa depan, bahasa Inggris perlu dilatih sejak dini secara konsisten, menyenangkan, dan disesuaikan dengan level, bukan hanya dihafal secara instan.
Saat beranjak besar, skill bahasa Inggris dapat membuka berbagai peluang seperti beasiswa, melanjutkan pendidikan di sekolah atau kampus impian, hingga karier internasional.
Di sinilah les bahasa Inggris Sparks English hadir untuk memastikan anak mendapat metode dan lingkungan belajar terbaik agar skillnya berkembang optimal.
Setiap program dirancang dengan metode dan level yang mendorong anak active speaking guna mempercepat proses mencapai tahap fluent.
Dilengkapi dengan free extra sessions, student kit, sampai free konsultasi professional teacher untuk mengetahui progress kemampuan anak.
Cuma Sparks English yang berani kasih kualitas belajar high quality dengan harga tetap ramah di kantong!
Daftar free trial class sekarang juga dan dapatkan diskon potongan harganya!



