Tidak seperti orang dewasa, anak mungkin belum bisa mendefinisikan jika ia sedang menghadapi tekanan.
Namun, ada beberapa ciri yang bisa Moms & Dads kenali sebagai tanda anak sedang mengalami stress.
Selain membahas ciri-ciri tersebut, artikel ini juga kita akan membahas penyebab anak bisa merasakan stress dan bagaimana cara mengatasi stress pada anak.
- Apa Itu Stress pada Anak dan Apakah Ini Normal?
- Ciri-Ciri Stress pada Anak yang Perlu Dikenali
- Penyebab Stress pada Anak
- Cara Mengatasi Stress pada Anak yang Efektif
- 1. Jadilah Pendengar Aktif
- 2. Pastikan Anak Tidur yang Cukup dan Berkualitas
- 3. Kurangi Over-Scheduling
- 4. Ciptakan Rumah sebagai Safe Space Emosional
- 5. Kendalikan Ekspektasi
- 6. Batasi Screen Time
- 7. Libatkan Guru atau Konselor Sekolah
- 8. Latih Anak Memberi Nama pada Emosinya
- 9. Journaling atau Menggambar
- 10. Temukan Satu Aktivitas yang Membuat Anak Bahagia
Apa Itu Stress pada Anak dan Apakah Ini Normal?

Menurut Nemours KidsHealth, semua anak dan remaja bisa merasa stress, dan stress adalah respons normal terhadap perubahan atau tantangan.
Stress tidak selalu dipicu oleh kejadian buruk.
Peristiwa yang terlihat menyenangkan sekalipun, seperti masuk sekolah baru, ulang tahun, atau aktivitas baru juga bisa membuat anak merasa tegang karena harus beradaptasi.
Dalam kadar ringan, stress bisa menjadi positive stress.
Misalnya saat anak menghadapi ujian atau presentasi di sekolah, rasa tegang bisa mendorong anak lebih siap dan waspada menghadapi tantangan.
Namun, jika tekanan ini berlangsung lama hingga membuat anak ketakutan, hilang semangat, atau sulit tidur, stress bisa termasuk chronic stress yang perlu penanganan lebih serius.
Ciri-Ciri Stress pada Anak yang Perlu Dikenali
Ciri stress pada anak bisa muncul lewat emosi, perilaku, fisik, hingga perubahan kebiasaan sehari-hari.
Berikut beberapa ciri yang perlu Moms & Dads perhatikan:
- Anak lebih mudah marah, menangis, atau tersinggung.
- Anak sering mengeluh sakit kepala atau sakit perut tanpa sebab medis yang jelas.
- Pola tidur berubah, misalnya sulit tidur, mimpi buruk, atau sering terbangun.
- Nafsu makan menurun atau justru makan berlebihan.
- Anak menarik diri dari keluarga atau teman.
- Anak menolak sekolah, les, atau aktivitas yang biasanya disukai.
- Konsentrasi menurun dan tugas sekolah sering terbengkalai.
- Anak tampak cemas, takut salah, atau sering berkata tidak bisa.
- Anak lebih sering membantah atau menunjukkan perilaku agresif.
- Pada remaja, ciri-ciri stress pada anak remaja bisa terlihat dari perubahan mood, menarik diri, menunda tugas, atau terlihat kehilangan motivasi.
Penyebab Stress pada Anak
Penyebab stress pada anak bisa datang dari keluarga, sekolah, hingga perubahan dalam diri anak sendiri.
Healthdirect mencatat bahwa tekanan akademik, body image, bullying, dinamika keluarga, dan relasi sosial menjadi sumber stress.
1. Stress Akademik
Stress akademik muncul ketika anak merasa tekanan nilai, tugas, dan ekspektasi orang tua lebih besar daripada kemampuan yang ia rasakan.
Jika dibiarkan, anak bisa melihat belajar sebagai sumber tekanan, bukan ruang untuk berkembang.
Banyak anak yang akhirnya kehilangan minat belajar bukan karena tidak mampu, tapi karena pengalaman belajar yang salah sejak dini.
Karena itu, pastikan pengalaman belajar pertama anak selalu terasa positif, termasuk saat belajar bahasa Inggris yang merupakan salah satu skill terpenting untuk masa depan mereka.
Semakin menyenangkan cara belajarnya sejak dini, semakin besar kemungkinan anak berkembang dengan cepat dan mencintai proses belajar itu sendiri.
Di sinilah Sparks English hadir dengan pendekatan fun & interactive learning yang memastikan anak belajar bahasa Inggris tanpa tekanan dan tanpa rasa takut salah.
Pronunciation, vocabulary, dan speaking dilatih sesuai level masing-masing anak dalam kelas semi-private yang supportif.
Apalagi biaya per kelasnya ekonomis, mulai Rp70 ribuan bisa dapat kelas yang dibimbing native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT dalam kelas semi-private agar teacher bisa fokus pada perkembangan setiap anak.
Lebih dari 25.000 students sudah buktikan jadi lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English, saatnya giliran si kecil!
Yuk, ikutkan si kecil ke free trial class untuk merasakan pengalaman belajar menyenangkan dan anti-stress di Sparks English!
2. Stress Sosial
Saat anak merasa tidak diterima dalam lingkungan pertemanan, ia bisa saja terkena stress sosial.
Anak tidak selalu langsung bercerita, atau bahkan kesulitan menjelaskan, saat dirinya mengalami stress sosial.
Orang tua bisa mendeteksinya jika terjadi perubahan sikap pada anak setelah sekolah, menarik diri, atau menolak bertemu teman tertentu.
3. Stress Akibat Konflik Keluarga
Perubahan besar dalam keluarga bisa memicu anak merasa kehilangan zona nyaman dan amannya.
Anak mungkin belum bisa memahami situasi sepenuhnya, tapi mereka bisa menangkap perubahan atmosfer yang muncul di rumah karena perubahan rutinitas atau ketegangan antar anggota keluarga.
Ini bisa terjadi saat kelahiran adik, kematian anggota keluarga, atau kondisi orang tua yang bercerai.
Baca Juga: 5 Cara Mengontrol Emosi pada Anak yang Bisa Orang Tua Coba
4. Stres Krisis Identitas (Khusus Remaja)
Pada remaja, stress sering berkaitan dengan pencarian jati diri, kemandirian, masa depan, hingga penerimaan sosial.
Fase ini bisa menjadi berat jika remaja merasa selalu dinilai tanpa didengar.
Sebagai orang tua, Moms & Dads tidak harus langsung memberi solusi.
Dalam banyak kondisi, remaja lebih membutuhkan ruang aman untuk bicara tanpa merasa takut disalahkan terlebih dulu.
Cara Mengatasi Stress pada Anak yang Efektif
Nasihat panjang tidak selalu menjadi solusi awal dalam menangani stress pada anak.
Malah, anak bisa lebih mudah membaik ketika merasa aman dan dipahami lebih dulu, bukan langsung dihakimi.
1. Jadilah Pendengar Aktif
Dengarkan anak sampai selesai sebelum memberi tanggapan.
Hindari langsung menghakimi, apalagi mengabaikan perasaan anak.
Ada kalanya, sikap tenang dan kesediaan orang tua untuk menjadi pendengar saja sudah bisa membuat anak merasa aman untuk bercerita, bahkan merasa lebih baik.
2. Pastikan Anak Tidur yang Cukup dan Berkualitas
Kurang istirahat yang berkualitas bisa memicu anak lebih mudah marah, membuatnya sulit fokus, hingga merasa kewalahan.
Mayo Clinic merekomendasikan anak usia 6–12 tahun untuk tidur 9–12 jam sehari, sementara remaja 13–18 tahun tidur 8–10 jam per hari.
Baca Juga: 12 Dampak Media Sosial bagi Remaja dan Cara Mengatasinya
3. Kurangi Over-Scheduling
Bukannya membuat anak multi-skill, jadwal yang terlalu penuh bisa jadi malah membuat anak kewalahan dan sulit menemukan waktu untuk memulihkan diri.
Sortir kegiatannya berdasarkan prioritas, kurangi kegiatan yang menguras energi atau tidak lagi memberi manfaat yang signifikan.
Sisakan waktu kosong agar anak bisa beristirahat, bermain bebas, dan kembali punya ruang untuk mengelola emosinya.
4. Ciptakan Rumah sebagai Safe Space Emosional
Daripada tempat lainnya, sebaiknya rumah adalah tempat anak bisa merasa paling aman dan diterima.
Perhatikan obrolan sehari-hari.
Kurangi obrolan mengenai nilai, tugas, atau kesalahan agar anak tidak terus-menerus merasa berada di dalam tekanan.
5. Kendalikan Ekspektasi
Tidak ada salahnya dengan ekspektasi orang tua, justru itu bisa membantu anak berkembang.
Namun, ekspektasi berlebihan bisa menjadi sumber stress bagi anak, apalagi jika kondisi anak sudah tampak tertekan.
Cobalah untuk lebih fokus pada proses dan usaha anak agar ia tidak hanya merasa dihargai saat berhasil.
6. Batasi Screen Time
Screen time berlebihan sangat mungkin mengganggu waktu tidur, span fokus, dan kualitas interaksi dengan keluarga.
Orang tua sebaiknya membuat aturan penggunaan gadget yang jelas dan tegas, seperti membatasi durasi atau menentukan keadaan tertentu yang tidak membolehkan pakai gadget.
Baca Juga: 10 Cara Mengatasi Anak Kecanduan HP Tanpa Marah-Marah
7. Libatkan Guru atau Konselor Sekolah
Jika stress anak berkaitan dengan sekolah, orang tua bisa berkomunikasi dan melibatkan pihak sekolah.
Guru dan konselor dapat membantu memantau perubahan perilaku anak di kelas, memahami pemicunya, dan mencari cara mengatasi stres pada anak sekolah yang paling sesuai dengan kondisi anak.
8. Latih Anak Memberi Nama pada Emosinya
Biasakan melatih anak memberi nama pada emosinya sejak dini.
Ini bisa membuat anak lebih mudah mengelola dan memahami apa yang sedang ia rasakan.
Bantu anak mengenali emosi tanpa menghakimi, dan arahkan cara untuk menyampaikan perasaannya dengan cara yang baik.
9. Journaling atau Menggambar
Sebagian anak bisa menceritakan langsung tentang perasaannya, tapi sebagian lain mungkin merasa tidak nyaman melakukannya.
Menulis jurnal atau menggambar bisa menjadi pilihan solusi untuk menyalurkan isi pikiran dan perasaan anak.
Setelah anak lebih tenang, orang tua bisa membuka percakapan dengan pendekatan yang lembut dan tanpa paksaan.
10. Temukan Satu Aktivitas yang Membuat Anak Bahagia
Anak membutuhkan aktivitas yang tidak selalu diukur dengan nilai atau benar dan salah.
Kegiatan yang membuatnya rileks dan bahagia bisa membantu menurunkan tekanan hariannya.
Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Anak Cengeng dan Penakut Jadi Percaya Diri
Stress pada anak tidak selalu terlihat jelas.
Kadang ia muncul lewat perubahan emosi, pola tidur, nafsu makan, fokus belajar, atau cara anak berinteraksi dengan orang sekitar.
Jika gejalanya berlangsung lama dan mulai mengganggu keseharian, Moms & Dads sebaiknya berkonsultasi dengan konselor sekolah, dokter, hingga psikolog anak.
Memilih lingkungan belajar yang menyenangkan juga bisa menjadi cara untuk membuat anak tidak merasa tertekan.
Bahkan, kegiatan belajar yang menyenangkan bisa menjadi satu aktivitas di mana anak merasa senang dan mengurangi tekanan yang dialaminya.
Sparks English adalah les bahasa Inggris yang menggunakan pendekatan learning through play melalui games, lagu, flashcard, hingga media audiovisual yang menyenangkan dan menarik bagi anak.
Kurikulumnya berbasis CEFR yang diakui internasional sehingga pencapaian kompetensi anak terukur sesuai level dari sisi listening, speaking, reading, hingga writing.
Didukung kurikulum berbasis CEFR, pembelajaran di Sparks English tetap terarah dan disesuaikan dengan level anak, sehingga materinya tidak terlalu sulit maupun terlalu mudah.
Moms & Dads bisa coba langsung kelasnya secara gratis lewat free trial class dulu.
Klaim juga promo potongan harganya sebelum waktu berakhir!



