Saat ditanya kenapa nggak mau ikut lomba cerdas cermat, si kecil cuma jawab, “nanti kalau aku salah jawab gimana?” Padahal belum tentu jawabannya salah, tapi rasa takutnya udah muncul duluan.
Rasa ragu kayak gini nggak muncul tiba-tiba, lho, Moms & Dads, biasanya ada pemicu di baliknya yang bikin mereka jadi kurang percaya diri.
Penyebab tidak percaya diri bisa datang dari pengalaman, lingkungan, bahkan dari pola asuh.
Yuk, kenali penyebab, ciri-ciri, dampak, sampai cara mengatasi anak yang kurang percaya diri di artikel ini!
- Apa Penyebab Tidak Percaya Diri pada Anak?
- 1. Sering Dibandingkan dengan Anak Lain
- 2. Terlalu Sering Mendapat Kritik
- 3. Takut Melakukan Kesalahan
- 4. Pernah Mengalami Kegagalan atau Penolakan
- 5. Kurang Dukungan dan Apresiasi
- 6. Mengalami Kesulitan dalam Lingkungan Sosial
- 7. Mengalami Perubahan atau Situasi Baru
- 8. Kurang Mendapat Kesempatan untuk Mencoba
- Bagaimana Pola Asuh Memengaruhi Kepercayaan Diri Anak?
- Ciri-Ciri Anak yang Kurang Percaya Diri
- Apa Dampak Anak yang Tidak Percaya Diri?
- Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Tidak Percaya Diri?
Apa Penyebab Tidak Percaya Diri pada Anak?
Penyebab anak kehilangan percaya diri biasanya berkaitan dengan pengalaman yang bikin dia ragu sama kemampuan sendiri atau terlalu khawatir sama penilaian orang lain.
Menurut Child Mind Institute, kepercayaan diri juga berkaitan dengan kemampuan anak menghadapi kesulitan, mencoba hal baru, dan bangkit lagi setelah gagal.
1. Sering Dibandingkan dengan Anak Lain
Kalimat seperti, “Temanmu udah bisa baca sendiri, kok kamu belum?” bisa bikin anak merasa kemampuannya nggak sebaik orang lain.
Kalau terus-menerus dibandingkan kayak gitu, anak akan sibuk melihat pencapaian teman ketimbang sadar dengan perkembangan dirinya sendiri.
2. Terlalu Sering Mendapat Kritik
Mengoreksi anak saat salah kadang memang diperlukan, tapi kalau hampir tiap bikin kesalahan langsung dikritik, anak bisa merasa apa pun yang ia kerjakan selalu salah.
Misalnya, baru saja selesai merapikan tempat tidur tapi dikritik karena melipat selimutnya kurang rapi.
3. Takut Melakukan Kesalahan
Kalau kesalahannya sering direspons dengan cara yang bikin dia malu, anak bisa jadi takut ngelakuin kesalahan.
Akibatnya, anak nggak mau menjawab soal di depan kelas meski ia tahu jawabannya. Bahkan, ia bisa sampai nggak mau mengeksplorasi hal-hal baru.
4. Pernah Mengalami Kegagalan atau Penolakan
Satu pengalaman yang nggak enak bisa membekas lama, apalagi kalau anak belum tahu cara menghadapi rasa kecewanya.
Setelah nggak terpilih masuk tim cerdas cermat sekolah, misalnya, anak mungkin langsung ngerasa dirinya memang nggak cukup bagus dan pantas.
5. Kurang Dukungan dan Apresiasi
Anak perlu tahu kalau usaha dan progresnya juga diperhatikan, bukan cuma hasil akhirnya.
Misalnya, anak udah susah payah menghafal banyak vocabulary bahasa Inggris buat ujian, tapi begitu nilainya keluar, yang ditanya cuma nilainya, tanpa di-notice usahanya saat belajar.
6. Mengalami Kesulitan dalam Lingkungan Sosial
Kesulitan masuk ke lingkungan pertemanan juga bisa berpengaruh ke cara anak melihat dirinya sendiri.
Anak yang beberapa kali nggak diajak main pas jam istirahat, bisa mulai berpikir kalau dirinya memang nggak asyik buat diajak berteman.
7. Mengalami Perubahan atau Situasi Baru
Anak yang baru pindah sekolah, masuk kelas baru, atau join ekskul butuh waktu buat adaptasi dulu.
Ia belum tahu seperti apa lingkungan barunya, sehingga ia bisa merasa tegang dan nggak percaya diri buat kenalan atau memulai pembicaraan.
8. Kurang Mendapat Kesempatan untuk Mencoba
Kalau banyak hal selalu diambil alih orang dewasa, anak jadi punya sedikit kesempatan untuk pembuktian diri.
Contohnya, waktu anak sedang nyoba menuang susu ke gelas tetapi langsung direbut orang tua karena takut tumpah.
Selain ruang untuk bereksplorasi, ada satu hal lain yang juga penting disiapkan sejak dini untuk si kecil, yaitu kemampuan bahasa Inggris.
Soalnya, skill ini bukan cuma dipakai sebagai nilai di sekolah, tapi juga jadi bekal yang akan nentuin seberapa jauh anak bisa melangkah, dari beasiswa, student exchange, sampai karier impian yang nggak terbatas.
Apalagi, di usia kanak-kanak, otak masih sangat fleksibel buat nyerap bahasa baru secara natural.
Banyak orang dewasa yang nyesel karena baru serius belajar bahasa Inggris setelah besar, padahal kalau dimulai dari kecil, prosesnya jauh lebih mudah diserap otak dan hasilnya jauh lebih optimal.
Jangan biarkan si kecil kehilangan starting point yang seharusnya bisa mereka kuasai sejak dini ya Moms & Dads!
Sparks English hadir dengan metode fun & interactive learning, bantu anak mahir bahasa Inggris sejak dini!
Dengan kurikulum berbasis CEFR, perkembangan kemampuan bahasa Inggris anak lebih terarah sesuai level standar internasional.
Kelasnya semi-private, langsung didampingi native teacher dan teacher bersertifikasi Cambridge TKT sehingga anak bisa active speaking bahkan dengan accent alami ala native!
Metode belajar ini sudah terbukti membantu lebih dari 25.000 students jago dan percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan!
Agar si kecil nggak ketinggalan, yuk mulai perjalanan belajar bahasa Inggrisnya lewat free trial class! Atau bisa juga booking instan langsung cuma 1 menit!
Bagaimana Pola Asuh Memengaruhi Kepercayaan Diri Anak?
Pola asuh bukan satu-satunya penyebab kurang percaya diri pada anak, respons yang ia terima setiap hari juga ikut membentuk cara ia melihat dan menilai kemampuannya sendiri.
Beberapa kebiasaan yang mungkin kelihatan sederhana berikut ini justru bisa jadi salah satu pemicunya.
1. Terlalu Sering Membandingkan Anak
Membandingkan anak dengan saudara atau teman bisa bikin standar keberhasilannya bergantung pada pencapaian orang lain.
Kalimat seperti, “Kakak waktu seumur kamu udah berani tampil, lho” bukannya menjadi motivasi malah akan membuat anak merasa dirinya tertinggal.
2. Terlalu Cepat Membantu Anak
Niatnya memang mau mempermudah, tapi dengan langsung mengambil alih setiap kali anak kesulitan bikin anak nggak sempat menyadari kemampuannya.
Saat anak belum bisa mengambil baju di lemari dengan rapi, berikan kesempatan dulu untuknya mencoba berkali-kali sambil diarahkan, jangan malah langsung mengambilkannya.
3. Tidak Memberi Kesempatan Anak Mengambil Keputusan
Meski hanya mengambil keputusan simpel seperti ingin pakai baju warna apa, bisa membantu anak belajar bahwa pendapat dan pilihannya punya nilai.
Kalau hal-hal kayak menu camilan, baju, sampai buku yang mau dibaca aja selalu ditentukan orang tua, anak jadi punya sedikit kesempatan untuk belajar mengambil keputusan.
4. Memberikan Label kepada Anak
Memberi anak label negatif seperti “pemalu”, “ceroboh”, atau “memang nggak jago matematika” membuat anak merasa mereka memang seperti itu.
Kalau sudah berpikir begitu, anak bisa menolak ikut lomba storytelling karena udah tertanam dalam otaknya kalau dia pemalu.
5. Lebih Fokus pada Hasil daripada Proses
Nilai memang penting, tapi terlalu fokus pada hasil bisa bikin anak ngerasa kalau keberhasilannya hanya dihargai saat dapat nilai yang sempurna.
American Psychological Association menjelaskan bahwa apresiasi terhadap usaha dan strategi lebih membantu anak melihat kemampuan sebagai sesuatu yang bisa terus dikembangkan, bukan sekadar memuji kepintaran.
Ciri-Ciri Anak yang Kurang Percaya Diri
Rasa kurang percaya diri bisa dilihat dari cara anak merespons situasi tertentu dalam kesehariannya, seperti:
- Takut mencoba hal baru meski sebenarnya tertarik.
- Enggan bicara atau tampil di depan orang lain.
- Sering bilang “aku nggak bisa” sebelum mencoba.
- Terlalu sering minta validasi dari orang lain.
- Mudah malu setelah melakukan kesalahan kecil.
- Sulit menerima pujian karena merasa dirinya belum cukup baik.
- Sering membandingkan kemampuan dirinya dengan teman.
- Lebih memilih diam meski punya pendapat atau tahu jawabannya.
Apa Dampak Anak yang Tidak Percaya Diri?
Rasa tidak percaya diri bisa membatasi keberanian anak dalam belajar dan menjalani aktivitas sehari-hari.
- Menghindari pengalaman atau aktivitas baru.
- Mudah menyerah ketika menemui kesulitan.
- Takut mengambil keputusan sendiri.
- Terlalu bergantung pada penilaian orang lain.
- Enggan menunjukkan kemampuan yang sebenarnya dimiliki.
- Kesulitan menyampaikan pendapat atau kebutuhan.
- Melewatkan kesempatan karena takut gagal.
- Sulit bangkit setelah melakukan kesalahan.
Baca Juga: 10 Cara Melatih Mental Anak agar Berani, Kuat & Percaya Diri
Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Tidak Percaya Diri?
Kepercayaan diri anak bisa dibangun melalui respons dan kebiasaan kecil yang ia terima setiap hari. Misalnya:
- Beri kesempatan anak mencoba sendiri sebelum langsung dibantu.
- Hargai usaha dan progresnya, bukan cuma hasil akhir.
- Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman.
- Libatkan anak dalam pilihan sederhana biar ia terbiasa percaya sama keputusannya sendiri.
- Jangan kasih label seperti “pemalu” atau “ceroboh” yang bisa melekat di cara anak melihat dirinya.
- Bantu anak melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
- Dorong anak buat coba hal baru secara bertahap, tanpa dipaksa.
Kalau Moms & Dads ingin mempelajari lebih lengkap tentang cara meningkatkan percaya diri pada anak, Sparks English sudah pernah membahasnya di artikel ini.
Anak yang percaya diri bukan cuma lebih berani mencoba hal baru, tapi juga lebih siap menghadapi persaingan yang makin ketat seiring mereka tumbuh besar.
Dan orang tua yang paling bijak adalah yang sudah menyiapkan bekalnya jauh sebelum persaingan itu datang.
Salah satu bekal yang paling worth it untuk disiapkan sejak sekarang adalah bahasa Inggris.
Bukan karena tren, tapi karena faktanya anak yang fasih bahasa Inggris sejak dini punya keunggulan lebih banyak untuk bisa bersaing di masa depan.

Nah, biar prosesnya lebih terarah, Sparks English hadir sebagai kursus bahasa Inggris anak usia 3–15 tahun yang juga didesain buat bantu bangun rasa percaya diri mereka.
Dengan pendekatan yang berfokus pada confidence building, anak nggak cuma menghafal materi, tapi juga dilatih berani ngomong tanpa takut salah.
Masih banyak benefit lain yang bisa didapatkan di Sparks English seperti free extra sessions, student kit, hingga parent-teacher consultation.
Semua fasilitas ini bisa Moms & Dads dapatkan mulai Rp70 ribuan per sesi aja, yang pasti worth it in this economy!
Biar tambah yakin, coba aja dulu free trial class-nya, sekaligus klaim diskon 1 jutanya sebelum berakhir!


