Anak sering penasaran sama hal-hal kecil yang terjadi di sekitarnya, bahkan yang kelihatannya sepele buat orang dewasa.
Melihat es yang lama-lama mencair, memperhatikan kenapa bayangan berubah posisi, atau melihat bulan yang seperti mengikuti terus, semuanya sebenarnya bisa jadi awal yang seru untuk belajar sains.
Jadi, sains nggak melulu soal rumus atau eksperimen yang ribet, ya, Moms & Dads.
Anak justru bisa mengenalnya dari kejadian sehari-hari yang dekat dengan mereka.
Nah, sebenarnya apa saja, sih, manfaat sains untuk perkembangan anak dan bagaimana cara mengenalkannya tanpa terasa berat bagi mereka?
Yuk, bahas selengkapnya!
Apa Itu Belajar Sains?
Belajar sains adalah proses anak memahami bagaimana sesuatu bekerja lewat pengamatan, pertanyaan, dan percobaan sederhana.
Misalnya, saat cokelat yang dibawa dari sekolah meleleh di dalam tas, anak bisa mulai memahami bahwa suhu dapat memengaruhi wujud benda.
Menurut National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, anak sejak usia dini sudah mampu melakukan investigasi sains lewat aktivitas mengamati, bertanya, dan mencari bukti.
Jadi, pembelajaran sains bisa dimulai dari rasa penasaran anak terhadap hal-hal sederhana di sekitarnya.
Manfaat Belajar Sains bagi Perkembangan Anak
Manfaat sains bukan cuma menambah pengetahuan anak, tapi juga melatih cara mereka berpikir, mencari tahu, sampai mencoba menyelesaikan masalah.
1. Melatih Berpikir Kritis
Salah satu alasan mengapa kita harus mempelajari ilmu sains adalah agar terbiasa melihat hasil dulu sebelum menyimpulkan sesuatu, ini juga berlaku pada anak-anak.
Misalnya, ketika dua tanaman diletakkan di tempat dengan cahaya berbeda, anak bisa melihat sendiri kenapa pertumbuhannya juga berbeda.
2. Mengembangkan Rasa Ingin Tahu
Kegiatan sains sering memunculkan pertanyaan baru karena anak melihat langsung hal yang belum mereka pahami.
Saat mengamati titik air di luar gelas dingin, anak jadi penasaran dari mana air itu berasal padahal nggak ada yang menumpahkan dari dalam gelas.
3. Meningkatkan Kemampuan Problem Solving
Percobaan sains mengajarkan anak untuk mencoba lagi kalau cara pertama belum berhasil.
Misalnya, saat melipat pesawat kertas dan nggak berhasil terbang, anak akan coba bentuk lipatan lain yang mungkin berhasil.
4. Mengasah Kreativitas
Belajar sains memberi anak ruang untuk mencoba idenya sendiri.
Misalnya, saat bermain dengan bayangan, anak bisa mencoba berbagai posisi jari dan tangan untuk melihat bentuk apa saja yang muncul.
5. Melatih Observasi dan Analisis
Belajar sains juga melatih anak untuk lebih teliti melihat perubahan yang terjadi.
Misalnya, anak mengamati bayangan pada pagi dan sore hari lalu membandingkan apa yang berubah dari posisi bayangannya.
6. Mengenalkan Konsep Sebab dan Akibat
Lewat percobaan, anak bisa melihat langsung bahwa satu kondisi dapat memberi hasil yang berbeda.
Contohnya, kain yang dijemur di bawah matahari akan lebih cepat kering dibandingkan kain yang diletakkan di tempat teduh.
7. Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Saat anak berhasil melakukan percobaan sederhana dan melihat hasilnya sendiri, muncul rasa bahwa ia ternyata mampu memahami hal baru.
Pengalaman kecil seperti berhasil membuat warna baru dari campuran dua warna bisa membuat anak lebih percaya diri dan antusias untuk mencoba aktivitas sains lainnya.
Baca Juga: 12 Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak!
8. Mempersiapkan Keterampilan Masa Depan
Sains membiasakan anak untuk mencari tahu, melihat fakta, lalu menentukan apa yang perlu dilakukan berikutnya.
Cara berpikir seperti ini akan terus kepakai saat anak menghadapi pelajaran baru, teknologi, maupun masalah sehari-hari.
Selain belajar sains, bahasa Inggris juga jadi skill yang worth it dikenalkan dari sekarang untuk bantu si kecil menghadapi masa depannya.
Apalagi, saat masih kanak-kanak, otak anak masih sangat reseptif menyerap bunyi dan pola bahasa baru secara lebih mudah dan alami.
Itulah yang bikin banyak orang dewasa nyesel banget baru serius belajar bahasa Inggris setelah besar, saat effort yang dibutuhkan juga jauh lebih besar karena otak udah nggak se-reseptif dulu.
Jadi, sayang kan, kalau kesempatan belajar senatural ini dilewatin gitu aja oleh anak.

Biar si kecil nggak merasakan penyesalan yang sama, Sparks English hadir untuk bantu Moms & Dads memberi stimulasi efektif dan terarah bagi si kecil sejak dini.
Aktivitas belajarnya juga disesuaikan sama usia dan level CEFR, jadi materi dan target belajarnya punya arah yang jelas sesuai tahap kemampuan anak.
Lewat proyek kreatif, storytelling, sampai group discussion dan problem solving, anak punya lebih banyak ruang untuk practice dan makin berani ngomong bahasa Inggris.
Nggak heran kalau metode Sparks English udah bantu lebih dari 25.000 students jago bahasa Inggris dalam 6 bulan!
Ajak si kecil coba free trial class-nya dan klaim promonya kalau mau dapat harga lebih hemat!
Cara Mengajarkan Sains kepada Anak
Mengajarkan sains ke anak nggak harus selalu pakai alat khusus atau aktivitas yang ribet.
Moms & Dads bisa mulai dari hal-hal yang dekat dengan keseharian supaya anak lebih gampang memahami sains lewat pengalaman langsung.
1. Mulai dari Fenomena Sehari-Hari
Hal sederhana di rumah bisa jadi bahan belajar sains yang lebih gampang dipahami anak.
Misalnya, saat es batu mencair di meja, ajak anak memperhatikan perubahan bentuknya dan penasaran kenapa hal itu bisa terjadi.
2. Ajak Anak Bertanya dan Berdiskusi
Saat belajar sains, beri anak ruang untuk bertanya dan ikut memikirkan apa yang sedang terjadi.
Misalnya, setelah gula diaduk ke dalam air sampai tidak terlihat lagi, kemudian ajak anak membahas ke mana gula tersebut pergi.
3. Gunakan Eksperimen Sederhana
Percobaan kecil membuat anak lebih mudah memahami konsep karena mereka melihat hasilnya secara langsung.
Coba campurkan dua warna berbeda, lalu ajak anak melihat warna baru yang muncul dari campuran tersebut.
Baca Juga: 10+ Ide Eksperimen untuk Anak TK yang Seru dan Edukatif
4. Libatkan Anak secara Aktif
Anak akan lebih aktif terlibat kalau mereka ikut melakukan prosesnya, bukan cuma melihat orang dewasa mencoba.
Saat menanam biji kacang, misalnya, biarkan anak memasukkan tanah, menyiram, lalu mengecek pertumbuhannya setiap hari.
5. Berikan Kesempatan Anak untuk Bereksplorasi
Nggak semua kegiatan sains harus selalu diatur step by step, karena anak juga perlu kesempatan untuk mencoba sendiri.
Misalnya, sediakan beberapa benda di dekat ember berisi air dan biarkan anak mencoba sendiri benda mana yang mengapung atau tenggelam jika dimasukkan ke dalam air.
6. Hubungkan Sains dengan Kehidupan Nyata
Konsep sains akan lebih mudah dipahami kalau anak tahu kaitannya dengan hal yang mereka temui sehari-hari.
Misalnya, saat hujan turun, anak bisa dikenalkan secara sederhana proses air menguap yang kembali turun sebagai hujan.
7. Jadikan Belajar sebagai Aktivitas yang Menyenangkan
Sains akan terasa lebih menarik kalau dilakukan seperti aktivitas bermain, bukan sesi belajar yang penuh aturan.
Coba ajak anak berburu benda yang bisa menempel pada magnet atau mencari benda transparan di sekitar rumah.
Sama kayak belajar sains, belajar bahasa Inggris juga lebih enak kalau dibuat seru dan nggak terasa seperti sedang belajar.
Apalagi, skill bahasa Inggris bakal berguna banget buat masa depan si kecil, mulai dari membuka peluang student exchange, studi di luar negeri, sampai kesempatan berkarier yang lebih luas.
Sparks English hadir sebagai les bahasa Inggris anak usia 3–15 tahun dengan metode fun & interactive supaya anak tetap enjoy dan antusias belajar.
Belajarnya dibimbing oleh native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT dalam kelas semi-private, jadi anak juga terbiasa mendengar pronunciation dan accent yang lebih tepat.
Plus masih ada free extra sessions, free student kit, sampai free teacher-parent consultation yang melengkapi dukungan belajar anak.
Fasilitas premium sekomplit ini bisa didapat mulai Rp70 ribuan per kelas aja lho!
In this economy, yakin bisa nemu tempat lain dengan fasilitas sama tapi harganya se-affordable ini?
Daripada kelamaan ragu, mending langsung ajak si kecil cobain free trial class-nya!


