Salah satu fenomena psikologis yang sering kali mewarnai dinamika pergaulan anak adalah peer pressure.
Pada anak dan remaja, pengaruh ini cukup umum terjadi karena pertemanan mulai memiliki peran yang semakin besar dalam kehidupan mereka.
Meski sering dikaitkan dengan perilaku negatif, sebenarnya peer pressure tidak selalu buruk.
Lalu, apa sebenarnya arti peer pressure? Apa saja contohnya pada anak?
Dan bagaimana Moms & Dads dapat membantu si kecil menghadapinya?
Yuk, kenali lebih jauh!
Peer Pressure Adalah Apa?
Secara kebahasaan, kata peers artinya teman sebaya, rekan seumuran, atau kelompok orang yang memiliki kesamaan usia, status, serta latar belakang sosial.
Sementara itu, kata pressure artinya tekanan (dalam penulisan Bahasa Inggris yang baku dieja sebagai pressure).
Jadi, secara harfiah maupun istilah, peer pressure adalah bentuk dorongan, pengaruh, atau tekanan sosial dari kelompok teman sebaya yang membujuk seseorang untuk mengubah sikap, nilai, maupun perilakunya agar sesuai dengan harapan atau standar kelompok tersebut.
Pada anak, tekanan tersebut biasanya datang dari teman sekolah, teman bermain, teman di tempat les, maupun lingkungan pertemanan lainnya.
Jenis-Jenis Peer Pressure
Peer pressure tidak selalu berkonotasi negatif.
Berdasarkan bentuk dan sifat dorongannya, terdapat beberapa jenis tekanan teman sebaya yang perlu dikenali oleh orang tua:
Jenis Peer Pressure | Penjelasan | Contoh dalam Kehidupan |
| Direct Peer Pressure (Tekanan Langsung) | Bujukan, ajakan, atau paksaan secara terang-terangan yang disampaikan langsung kepada anak. | Teman menantang anak: “Kalau kamu berani, coba bolos kelas bareng kita sekarang!” |
| Indirect Peer Pressure (Tekanan Tidak Langsung) | Pengaruh tersirat tanpa ajakan verbal, namun membuat anak merasa harus mengikuti tren agar merasa ‘diterima’. | Anak merasa minder dan wajib membeli sepatu merk tertentu karena seluruh anggota geng pertemanannya memakai merk tersebut. |
| Positive Peer Pressure (Tekanan Positif) | Dorongan dari teman sebaya yang membawa dampak baik bagi perkembangan karakter, kebiasaan, dan prestasi anak. | Kelompok teman di sekolah mengajak anak untuk rajin mengulang pelajaran dan aktif mengikuti les bahasa Inggris bersama. |
| Negative Peer Pressure (Tekanan Negatif) | Pengaruh buruk yang merugikan dan mendorong anak melakukan tindakan berbahaya atau melanggar aturan. | Ajakan untuk menyebarkan kabar bohong (hoax) di media sosial, membolos, atau mencoba rokok dan minuman terlarang. |
| Spoken Peer Pressure (Tekanan Lisan) | Bentuk bujukan, sindiran, atau intimidasi melalui kata-kata verbal dari teman. | “Ah, kamu cemen banget kalau nggak mau ikut nongkrong sampai malam!” |
| Unspoken Peer Pressure (Tekanan Tanpa Kata) | Pengamatan terhadap norma implisit di dalam kelompok sosial tanpa adanya perkataan langsung. | Anak meniru gaya berpakaian, gaya bicara, atau gestur temannya agar tidak terlihat aneh atau ‘beda sendiri’. |
Penyebab Peer Pressure pada Anak dan Remaja
Beberapa faktor utama penyebab terjadinya peer pressure antara lain:
1. Keinginan untuk Diterima dalam Kelompok
Naluri dasar manusia, terutama pada usia sekolah dan remaja, adalah ingin memiliki rasa memiliki (sense of belonging).
Rasa takut ditolak, diabaikan, atau diasingkan dari lingkaran pertemanan membuat anak rela menuruti apa pun permintaan teman-temannya.
2. Masa Pencarian Jati Diri
Anak usia 10–15 tahun sedang berada pada fase krisis identitas.
Mereka mulai menggeser orientasi kenyamanan dari keluarga ke kelompok sebaya demi mencari jawaban atas siapa diri mereka sebenarnya di mata dunia luar.
Baca Juga: Perkembangan Anak 10 Tahun dan 8 Cara Tepat Stimulasinya
3. Pengaruh Media Sosial
Kehadiran platform digital memperluas jangkauan teman sebaya secara tak terbatas.
Tren viral, standar gaya hidup, serta budaya perbandingan di media sosial menciptakan tekanan sosial secara konstan (FOMO – Fear of Missing Out).
4. Kurangnya Kemampuan Menolak Ajakan
Banyak anak belum dibekali dengan keterampilan berkomunikasi secara asertif.
Mereka merasa bersalah, ragu, atau canggung untuk mengatakan “tidak” karena takut menyinggung perasaan teman atau dianggap sombong.
5. Kurangnya Rasa Percaya Diri
Anak dengan tingkat self-esteem yang rendah cenderung menganggap pandangan orang lain lebih penting daripada prinsip atau keyakinannya sendiri, sehingga sangat mudah disetir oleh ajakan lingkungan.
Anak yang percaya diri tidak mudah goyah oleh peer pressure, dan kepercayaan diri itu dibangun dari skill nyata yang membuat mereka merasa capable.
Bahasa Inggris adalah salah satunya.
Di usia ini, fondasi bahasa Inggris bisa terbentuk secara natural dan mudah diserap oleh otak dengan cara yang tidak akan pernah bisa diulang saat dewasa.
Jangan tunggu sampai momennya berlalu, karena penyesalan terbesar orang dewasa yang tidak bisa bahasa Inggris selalu dimulai dari kesempatan yang tidak diambil di usia kecil.
Lewat program Sparks Teen, anak nggak cuma belajar bahasa Inggris, tapi juga dilatih untuk berani speaking, bertukar pendapat, dan mencari solusi lewat aktivitas seperti group discussion dan problem solving dengan topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Didukung oleh native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT dalam kelas semi-private, proses belajar dibuat lebih aktif dan mendorong anak untuk benar-benar menggunakan bahasa Inggris dalam real conversation.
25.000+ students di seluruh Indonesia sudah belajar bersama Sparks English dan jago bahasa Inggris dalam 6 bulan!
In this economy, kalau ada les bahasa Inggris yang fasilitasnya high quality tapi biayanya mulai Rp70 ribuan aja seperti di Sparks English, yakin nggak mau coba dulu?
Buruan daftar free trial class sekarang dan klaim extra diskonnya!
Dampak Peer Pressure bagi Anak dan Remaja
Pengaruh teman sebaya memiliki dua sisi mata uang yang sangat memengaruhi masa depan dan karakter anak:
Dampak Positif
- Anak menjadi lebih termotivasi untuk belajar.
- Anak tertarik mengikuti kegiatan produktif karena melihat teman melakukannya.
- Kemampuan bersosialisasi dan bekerja sama dapat berkembang.
- Anak bisa lebih berani mencoba hal baru.
- Anak termotivasi meningkatkan kemampuan komunikasi karena berada di lingkungan yang aktif.
- Lingkungan positif dapat membangun kebiasaan baik secara lebih natural.
Dampak Negatif
- Anak menjadi terlalu bergantung pada persetujuan orang lain.
- Anak melakukan sesuatu yang sebenarnya membuatnya tidak nyaman.
- Kepercayaan diri bisa menurun.
- Anak menjadi takut memiliki pendapat berbeda.
- Perilaku dan prestasi akademis dapat berubah.
- Hubungan dengan orang tua bisa menjadi lebih tertutup.
- Dalam situasi tertentu, anak dapat mengambil keputusan berisiko hanya karena mengikuti kelompok.
Contoh Peer Pressure dalam Kehidupan Sehari-Hari
Berikut adalah beberapa situasi nyata tekanan teman sebaya yang kerap dialami anak dan remaja di sekolah maupun lingkungan sekitar:
- Dipaksa membolos sekolah atau pura-pura tidak mengerjakan tugas bersama agar tidak dijuluki ‘sok pintar’ atau ‘anak mami’.
- Merasa harus memiliki gadget, pakaian, atau sepatu dengan merk tertentu karena semua kawan di sekolah menggunakannya.
- Ikut-ikutan melakukan prank atau mengejek siswa lain di sekolah demi mendapatkan pengakuan atau pujian dari geng pertemanan.
- Diajak bergabung dengan klub belajar atau program kursus bahasa Inggris karena teman-teman terdekatnya mendaftar.
- Ditantang melakukan aksi berbahaya di media sosial demi konten viral dan validasi dari kawan seumuran.
Cara Mengatasi Peer Pressure pada Anak
Peran orang tua sangat krusial dalam membimbing anak agar tangguh menghadapi tekanan teman sebaya.
Berikut langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan di rumah:
1. Bangun Komunikasi yang Terbuka
Ciptakan suasana rumah yang hangat, aman, dan nyaman agar anak berani menceritakan masalah pergaulannya tanpa takut langsung dihakimi atau dimarahi.
2. Ajarkan Anak Mengenali Nilai-Nilai Positif
Tanamkan nilai moral, etika, dan prinsip hidup yang kuat sejak dini sebagai pedoman bagi anak untuk membedakan mana hal yang bermanfaat dan mana tindakan yang merugikan.
3. Latih Anak Mengatakan “Tidak”
Ajarkan keterampilan berkomunikasi secara asertif.
Latih anak cara menolak ajakan negatif dengan sopan namun tegas tanpa rasa ragu, contohnya: “Maaf, aku tidak bisa ikut karena ada janji lain.”
4. Tingkatkan Kepercayaan Diri Anak
Berikan apresiasi atas usaha dan kelebihan unik anak.
Anak yang memiliki rasa percaya diri tinggi tidak akan merasa perlu mencari pengakuan sosial lewat cara-cara yang salah.
Baca Juga: 10 Cara Melatih Mental Anak agar Berani, Kuat & Percaya Diri
5. Ajarkan Cara Memilih Teman yang Baik
Bantu anak memahami kriteria teman yang suportif, saling menghargai, dan membawa pengaruh baik bagi masa depannya.
6. Berikan Dukungan Emosional kepada Anak
Selalu hadir saat anak mengalami masa-masa sulit atau merasa kesepian.
Pastikan anak tahu bahwa keluarga adalah tempat berlindung utama yang selalu menerima mereka apa adanya.
7. Berikan Contoh Cara Mengambil Keputusan
Libatkan anak dalam diskusi keluarga untuk melatih mereka menimbang risiko, berpikir kritis, dan berani mengambil keputusan secara mandiri.
8. Beri Lingkungan Positif untuk Pergaulan Anak
Salurkan minat dan bakat anak ke dalam wadah atau komunitas yang konstruktif. Lingkungan belajar yang interaktif dan penuh persahabatan positif akan membentengi anak dari pergaulan yang salah.
Baca Juga: Kenapa Anak Harus Banyak Eksplorasi di Usia Dini? Ini 8 Alasannya!
Peer pressure memang jadi bagian dari masa tumbuh kembang anak.
Karena itu, penting untuk membekali anak dengan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi sejak dini.
Salah satu skill yang bisa jadi bekal untuk jangka panjang adalah bahasa Inggris.
Bukan cuma membantu anak lebih percaya diri saat berkomunikasi, kemampuan bahasa Inggris juga bisa membuka lebih banyak kesempatan untuk belajar, berkembang, dan bersaing di masa depan.
Kursus bahasa Inggris Sparks English bisa jadi pilihan untuk membangun kemampuan bahasa Inggris sekaligus kepercayaan diri anak.
Moms & Dads juga bebas pilih jadwal kelas tersedia dan lokasi center terdekat yang paling sesuai dengan aktivitas si kecil.
Masih banyak benefit lain yang bisa anak dapatkan saat belajar di Sparks English seperti free extra sessions, student kit, hingga konsultasi professional teacher.
Mulai Rp70 ribuan aja lho! In this economy, it’s definitely worth every penny!
Ayo, coba free trial class sekarang dan klaim promo spesialnya!



