Memahami cara mengatasi anak cengeng dan penakut tidak bisa dilakukan dengan memaksa atau memarahi.
Sebaliknya, anak membutuhkan dukungan, rasa aman, dan kesempatan untuk membangun kepercayaan dirinya secara bertahap.
Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani, mandiri, dan percaya diri.
Mari pahami lebih jauh di artikel ini!
- Penyebab Anak Menjadi Cengeng dan Penakut
- Cara Mengatasi Anak Cengeng dan Penakut
- Aktivitas yang Dapat Membantu Anak Lebih Berani dan Percaya Diri
Penyebab Anak Menjadi Cengeng dan Penakut
Memahami penyebabnya akan membantu orang tua memilih pendekatan yang sesuai.
Berikut beberapa faktor yang paling sering membuat anak menjadi cengeng dan penakut.
1. Temperamen Bawaan Anak
Beberapa anak memiliki temperamen yang lebih sensitif sejak lahir (highly sensitive child).
Mereka cenderung lebih peka terhadap rangsangan sekitar, seperti suara keras, lingkungan baru, atau perubahan situasi, yang sering kali diekspresikan lewat tangisan.
Anak dengan temperamen sensitif biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenal lingkungan, orang baru, atau rutinitas yang berbeda.
Temperamen bukanlah kesalahan anak maupun orang tua.
Yang penting adalah bagaimana orang tua mendampingi anak agar ia tetap merasa aman, tetapi perlahan-lahan belajar menghadapi situasi baru dengan lebih tenang.
2. Kurang Percaya Diri
Anak yang kurang percaya diri sering merasa takut salah, takut ditertawakan, atau takut tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik.
Akibatnya, ia mudah menangis saat diminta mencoba hal baru, berbicara di depan orang lain, atau bermain dengan teman yang belum terlalu akrab.
Kurangnya rasa percaya diri biasanya muncul karena anak belum memiliki cukup pengalaman berhasil atau jarang diberi kesempatan untuk mencoba sendiri.
3. Pengalaman yang Menakutkan
Pengalaman tidak menyenangkan dapat membuat anak menjadi lebih berhati-hati atau takut mengulangi kejadian serupa.
Misalnya, pernah jatuh saat bermain, pernah dimarahi saat salah menjawab, pernah ditinggal tiba-tiba, atau pernah diejek oleh teman.
Bagi orang dewasa, pengalaman tersebut mungkin terlihat kecil.
Namun bagi anak, pengalaman itu bisa terasa besar dan membekas.
Inilah mengapa orang tua perlu mendengarkan cerita anak tanpa buru-buru meremehkan perasaannya.
4. Pola Asuh yang Terlalu Protektif
Melindungi anak tentunya jadi naluri alami Moms & Dads, tapi perlindungan diberikan secara berlebihan, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan kecil.
Misalnya, anak selalu dijawabkan saat ditanya orang lain, selalu dibantu sebelum mencoba, atau selalu dilarang melakukan sesuatu karena dianggap berisiko.
5. Sering Dimarahi atau Dikritik
Anak yang sering dimarahi, dikritik, atau disalahkan bisa menjadi takut melakukan kesalahan.
Ia mungkin menangis bukan karena manja, tetapi karena merasa tertekan dan tidak tahu cara mengekspresikan rasa takutnya.
6. Kurang Terlatih Bersosialisasi
Interaksi sosial membantu anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik.
Jika anak jarang bertemu teman sebaya, kesempatan untuk melatih keberanian dan kemampuan sosialnya juga menjadi lebih sedikit.
Kemampuan sosial perlu dilatih secara bertahap.
Semakin sering anak berada di lingkungan yang aman, menyenangkan, dan suportif, semakin besar peluang anak untuk belajar berani berkomunikasi dengan orang lain.
Moms & Dads bisa melatih kemampuan sosialisasi anak sambil belajar bahasa Inggris.
Apalagi di masa golden age ini, kemampuan anak dalam menyerap bahasa dan hal di sekitarnya secara natural, termasuk bahasa Inggris.
Banyak orang tua menyesal tidak memberikan stimulasi sosial dan bahasa yang tepat lebih awal pada anak.
Padahal anak yang punya skill bahasa Inggris sejak dini dapat menjadi anak yang lebih percaya diri dan mudah menghadapi persaingan di masa depan.

Disinilah Sparks English hadir melalui pendekatan real conversation dan interactive learning agar anak lebih berani dan percaya diri berbahasa Inggris.
Penyampaian materi bahasa Inggris juga disampaikan dengan metode story telling, play based, mini project, roleplay, dan berbagai aktivitas menarik lainnya sesuai tumbuh kembang usia anak.
Biayanya dijamin ekonomis, mulai 70 ribuan per kelas, anak sudah bisa dapatkan kelas semi-private dibimbing langsung oleh native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT.
Lebih dari 25,000 students terbukti berhasil lebih mahir dan percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English!
Ayo ajak si kecil mulai dari free trial class sekarang dan ambil promonya segera!
Cara Mengatasi Anak Cengeng dan Penakut
Setelah mengetahui penyebabnya, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.
1. Validasi Perasaan Anak Terlebih Dahulu
Saat anak menangis atau takut, hindari langsung menyuruhnya diam.
Cobalah mengatakan, “Kamu takut, ya?” atau “Kamu sedih karena belum berani coba?”
Validasi membuat anak merasa dipahami.
Setelah emosinya lebih tenang, barulah orang tua bisa mengajak anak mencari solusi.
Anak yang merasa aman secara emosional akan lebih mudah diajak belajar menghadapi rasa takutnya.
2. Jangan Langsung Memarahi atau Melabeli Anak
Hindari melabeli anak dengan sebutan “cengeng”, “penakut”, “lemah”, atau “manja”.
Label tersebut dapat tertanam dalam pikiran anak dan membuatnya percaya bahwa ia memang tidak berani.
Ganti dengan kalimat yang lebih membangun, seperti “Kamu sedang belajar berani” atau “Tidak apa-apa pelan-pelan, Mama/Papa temani dulu.”
3. Ajarkan Anak Mengenali dan Mengungkapkan Emosi
Anak sering menangis karena belum mampu menjelaskan apa yang ia rasakan.
Orang tua dapat membantu anak mengenali emosi dengan kata-kata sederhana, seperti takut, sedih, marah, kecewa, malu, atau bingung.
Misalnya, ketika anak menangis sebelum masuk kelas, orang tua bisa berkata, “Kamu takut karena belum kenal teman-teman di kelas, ya?”
Dengan begitu, anak belajar bahwa perasaannya memiliki nama dan bisa diungkapkan lewat kata-kata, bukan hanya tangisan.
4. Latih Keberanian Secara Bertahap
Jangan memaksa anak untuk langsung berani menghadapi ketakutannya.
Jika mereka takut ruangan gelap, mulailah dengan menyalakan lampu tidur yang redup terlebih dahulu.
Proses yang bertahap (desensitisasi) jauh lebih efektif dan minim trauma.
5. Berikan Kesempatan Anak Menyelesaikan Masalah Sendiri
Berikan waktu bagi anak untuk mencoba.
Moms & Dads bisa memberi arahan tanpa langsung mengambil alih.
Dengan begitu, anak belajar bahwa ia punya kemampuan untuk menghadapi situasi kecil secara mandiri dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
6. Berikan Pujian atas Usaha Anak
Pujian yang tepat dapat membantu membangun rasa percaya diri anak.
Fokuslah memuji usaha, bukan hanya hasil.
Misalnya, “Kamu hebat sudah mau mencoba”.
Pujian seperti ini membantu anak memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak takut sama sekali, tetapi tetap mau mencoba meski merasa takut.
7. Hindari Membandingkan Anak dengan Temannya
Membandingkan anak dengan saudara atau teman dapat membuat anak merasa tidak cukup baik.
Kalimat seperti “Lihat temanmu berani, masa kamu tidak?” justru bisa membuat anak semakin malu dan tertekan.
Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda.
Lebih baik bandingkan anak dengan dirinya sendiri, misalnya, “Kemarin kamu masih takut masuk kelas, hari ini kamu sudah mau masuk sambil pegang tangan Mama. Itu kemajuan.”
8. Jadilah Contoh dalam Mengelola Emosi
Anak belajar banyak dari cara orang tua merespons situasi.
Jika orang tua mudah panik, marah, atau berteriak saat menghadapi masalah, anak bisa meniru pola yang sama.
Maka dari itu, Moms & Dads harus bisa menunjukkan cara mengelola emosi dengan tenang.
Misalnya, saat orang tua sedang kesal, katakan, “Mama sedang marah, jadi Mama tarik napas dulu supaya lebih tenang.”
Contoh sederhana ini mengajarkan anak bahwa emosi bisa dikelola, bukan dilampiaskan.
9. Ajak Anak Bermain yang Melatih Kepercayaan Diri
Bermain adalah cara alami anak belajar.
Orang tua dapat memilih permainan yang melatih keberanian, komunikasi, dan rasa percaya diri.
Misalnya bermain peran sebagai guru dan murid, bermain toko-tokoan, bernyanyi bersama, atau mengikuti permainan kelompok.
Anak juga bisa diajak mengikuti playdate agar terbiasa berinteraksi dengan teman sebaya dalam suasana santai.
Baca Juga: 10 Penyebab Anak Manja, Ini yang Harus Dihindari Orang Tua!
Aktivitas yang Dapat Membantu Anak Lebih Berani dan Percaya Diri
Selain dukungan dari orang tua, beberapa aktivitas berikut juga efektif membantu perkembangan keberanian anak.
1. Bermain Peran (Role Play)
Role play membantu anak berlatih menghadapi situasi tertentu sebelum mengalaminya secara langsung.
Misalnya:
- menjadi kasir
- menjadi dokter
- menjadi guru
- menjadi pembawa acara
Aktivitas ini meningkatkan kemampuan komunikasi sekaligus rasa percaya diri.
2. Permainan Kelompok
Permainan kelompok melatih anak untuk bekerja sama, menunggu giliran, mengikuti instruksi, dan berani berinteraksi.
Contoh permainan kelompok yang bisa dilakukan adalah tebak gambar, Simon Says, passing ball, treasure hunt, atau matching games.
3. Public Speaking untuk Anak
Untuk anak-anak, public speaking bisa dimulai dari aktivitas sederhana, seperti memperkenalkan diri, menyebutkan warna favorit, menceritakan mainan kesukaan, atau menjawab pertanyaan singkat.
Latihan public speaking membantu anak terbiasa menggunakan suara, kontak mata, dan ekspresi tubuh.
4. Bermain Musik dan Bernyanyi
Musik dan lagu dapat membantu anak lebih rileks.
Bernyanyi bersama juga membuat anak berani mengeluarkan suara tanpa merasa sedang diuji.
Untuk anak yang pemalu, lagu bisa menjadi jembatan yang menyenangkan untuk mulai berbicara.
Aktivitas ini cocok untuk anak yang masih takut berbicara karena suasananya ringan dan menyenangkan.
5. Belajar Bahasa Inggris Secara Interaktif
Belajar bahasa Inggris secara interaktif dapat membantu anak melatih keberanian, komunikasi, dan kepercayaan diri.
Anak tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga diajak berbicara, bernyanyi, bermain, menjawab pertanyaan, bergerak, dan berinteraksi dengan teman.
Kelas bahasa Inggris yang dirancang untuk anak biasanya menggunakan pendekatan fun learning.
Salah satunya, kursus bahasa Inggris anak Sparks English yang punya metode interaktif dan fun.
Kurikulumnya berbasis CEFR, di mana materi belajar disesuaikan dengan standar internasional sehingga kompetensi anak pastinya diakui sesuai level internasional.
Dimana lagi Moms & Dads bisa dapatkan les bahasa Inggris berkualitas dengan harga terjangkau selain Sparks English!
Lebih dari 25.000 students sudah buktikan hasilnya, kini giliran si kecil!
Coba keseruan metode belajarnya lewat kelas trial gratis sekarang, promo potongan harga hanya berlaku sebelum waktu berakhir lho!


