“Nggak mau, Pa! Ini susah banget!”
Si kecil langsung membanting kepingan puzzle yang nggak mau pas di tempatnya, atau langsung nutup buku matematika saat ketemu soal yang sulit.
Kalau ini sering kejadian, wajar jika Moms & Dads jadi khawatir.
Jangan-jangan si kecil bakal tumbuh jadi anak yang gampang menyerah tiap ketemu kesulitan?
Padahal, kebiasaan ini muncul dari cara anak memandang kegagalan, dan gimana orang-orang di sekitarnya bereaksi waktu dia bikin salah.
Agar kondisinya nggak berlarut-larut, kenali penyebab, ciri-ciri, dampak, sampai cara mengatasi anak yang mudah menyerah di artikel ini!
Penyebab Anak Mudah Menyerah
Anak mudah menyerah bukan karena malas, ia hanya masih belajar bagaimana cara menghadapi sesuatu yang berjalan nggak sesuai harapan.
Beberapa hal di bawah ini yang sering jadi pemicunya.
1. Merasa Takut Gagal
Sebagian anak merasa takut gagal karena terasa memalukan dan mengecewakan.
Jadi, nggak mencoba sejak awal terasa lebih aman daripada mendapat hasil yang nggak sesuai harapan.
Misalnya, anak memilih nggak ikut lomba menggambar karena takut gambarnya jelek, padahal sebenarnya ia sangat hobi menggambar.
2. Terlalu Sering Dibandingkan dengan Orang Lain
Kalau sering dibandingkan, anak bisa merasa usahanya selalu kurang.
Standar yang ia lihat dan coba lampaui bukan lagi perkembangan dirinya sendiri, tapi pencapaian orang lain.
3. Kurang Percaya Diri
Anak yang kurang percaya diri gampang menganggap sesuatu terlalu sulit, bahkan sebelum benar-benar dicoba.
Baru lihat PR matematika yang bentuknya beda sedikit dari contoh saat dijelaskan guru, ia langsung bilang nggak bisa meski sebenarnya sudah paham materi dasarnya.
Baca Juga: 12 Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak!
4. Terbiasa Dibantu Orang Tua
Kalau semua hal terbiasa dibantu, anak jadi jarang mencari solusi sendiri saat bertemu kesulitan.
Akhirnya, saat LEGO runtuh atau tugas sekolah terasa sulit, yang pertama kepikiran adalah minta bantuan, bukan coba-coba cara lain dulu.
5. Kurangnya Pengalaman Menghadapi Tantangan
Kemampuan bertahan di saat sulit juga perlu dilatih, karena anak yang jarang dikasih kesempatan menghadapi tantangan cenderung gampang kewalahan.
Contohnya, anak yang selalu dibantu mengerjakan proyek sekolah bisa sangat frustrasi saat harus mengerjakannya sendirian.
6. Lingkungan yang Kurang Mendukung
Anak akan lebih takut nyoba kalau setiap kesalahan langsung dibalas kritik, olokan, atau komentar yang nggak membangun.
Kalau pernah salah dan langsung ditertawakan teman, ke depannya sangat mungkin ia akan memilih tak menjawab pertanyaan meski tahu jawabannya.
Ciri-Ciri Anak yang Mudah Menyerah
Ciri anak yang mudah menyerah bisa terlihat dari responsnya saat menghadapi sesuatu yang terasa sulit atau nggak langsung berhasil saat mencoba pertama kali.
Beberapa tandanya antara lain:
- Sering bilang “aku nggak bisa” sebelum benar-benar mencoba.
- Langsung berhenti setelah percobaan pertama gagal.
- Mudah kesal saat harus menyelesaikan tugas lebih lama dari yang ia harapkan.
- Sering minta bantuan untuk hal yang sebenarnya masih bisa dicoba sendiri.
- Enggan mencoba lagi setelah sebelumnya pernah gagal.
- Lebih memilih aktivitas yang sudah dikuasai daripada mencoba hal baru.
- Cepat kehilangan semangat setelah mendapat hasil yang kurang sesuai harapan.
- Sering meragukan kemampuannya sendiri saat melihat teman lebih cepat berhasil.
- Menghindari tugas yang menurutnya sulit, bahkan sebelum tahu seberapa susah tugas itu.
- Butuh terus diyakinkan atau didorong untuk menyelesaikan sesuatu sampai akhir.
Kalau satu-dua tanda ini muncul sesekali, nggak perlu terlalu dipikirkan dulu, karena bisa saja anak memang sedang lelah atau sedang menghadapi tantangan yang cukup sulit.
Yang perlu lebih diperhatikan adalah kalau pola ini sering muncul setiap kali sesuatu nggak berjalan sesuai keinginan si kecil.
Dampak Anak yang Mudah Menyerah Jika Tidak Diatasi
Kalau orang tua tidak segera mengatasi anak yang mudah menyerah, kebiasaan ini bisa makin terbawa dan membuat anak sulit membangun ketekunan serta kemandirian.
Dalam jangka panjang, dampaknya juga dapat terasa pada proses belajar sampai cara anak menghadapi tantangan baru.
1. Prestasi Belajar Menurun
Pelajaran tertentu memang butuh beberapa kali latihan sebelum benar-benar dipahami.
Akibatnya, anak yang cepat berhenti bisa kehilangan kesempatan buat mengejar bagian yang belum ia kuasai.
Misalnya, ia langsung meninggalkan soal matematika yang sulit tanpa mencoba cara lain, lalu makin tertinggal saat materi berikutnya masih pakai konsep yang sama.
2. Kepercayaan Diri Berkurang
Semakin sering nyerah sebelum mencoba, semakin sedikit pengalaman yang menunjukkan kalau ia sebenarnya mampu.
Lama-lama, kepercayaan dirinya pun bisa ikut terkikis.
Akhirnya, tugas baru jadi terasa menakutkan karena anak sudah lebih dulu berpikir bahwa dirinya nggak akan berhasil.
3. Sulit Mengembangkan Potensi
Kemampuan anak sering kali baru muncul jika ia punya cukup waktu untuk berlatih.
Kalau baru beberapa kali latihan piano lalu berhenti karena merasa nggak kunjung bisa, ia jadi nggak tahu sejauh mana kemampuannya bisa berkembang.
4. Kurang Mandiri
Kebiasaan menyerah juga bikin anak gampang bergantung pada orang lain tiap kali menemui masalah.
Contohnya saat tugas sekolah terasa membingungkan, ia memilih langsung minta jawaban daripada baca instruksinya lagi atau mencoba menyelesaikan bagian yang ia pahami lebih dulu.
5. Kesulitan Bersaing di Masa Depan
Semakin tumbuh besar, tantangan yang dihadapi anak akan makin kompleks dan nggak semuanya bisa terselesaikan dalam satu kali coba.
Kalau nggak terbiasa bertahan ketika hasil belum sesuai harapan di percobaan pertama, anak bisa melakukan hal yang sama saat belajar skill baru, menghadapi kompetisi, atau mengejar target lain yang butuh usaha berulang-ulang.
Semakin tumbuh besar, tantangan yang dihadapi anak juga bakal makin berat, sehingga mengatasi anak yang mudah menyerah perlu dilakukan sejak sekarang.
Apalagi, banyak skill penting untuk masa depannya yang butuh proses dan ketekunan untuk dikuasai, salah satunya bahasa Inggris.
Mumpung masih di usia kanak-kanak, otak anak juga lebih reseptif menerima stimulasi bahasa baru secara natural, karena ke depannya kemampuan ini akan perlahan menurun seiring anak bertambah usia.
Makanya, banyak orang tua yang menyesal karena baru mengenalkan bahasa Inggris saat anak sudah semakin besar dan otaknya nggak lagi sereseptif dulu.
Yang Moms & Dads perlu ingat, setiap satu hari yang terlewat tanpa stimulasi sama dengan satu hari potensi berharga juga terbuang sia-sia.

Untuk itulah Sparks English hadir dengan program bahasa Inggris yang membantu Moms & Dads konsisten menstimulasi si kecil sejak dini.
Dengan kurikulum berbasis CEFR, anak akan belajar dengan materi yang lebih terarah sesuai proficiency level.
Metodenya dibuat fun & interactive sehingga mendorong anak lebih berani mencoba dan nggak takut saat salah.
Kelasnya juga dirancang semi-private agar anak dapat perhatian lebih personal dari native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT selama proses belajar.
Lebih dari 25.000 students sudah membuktikan mereka berhasil makin percaya diri berbahasa Inggris hanya dalam 6 bulan!
Segera ajak si kecil coba free trial class sekarang dan klaim diskon Rp1 jutanya sebelum promo berakhir!
Cara Mengatasi Anak yang Mudah Menyerah
Cara mengatasi anak yang mudah menyerah bukan dengan terus menyuruh dia lebih kuat.
Justru, sebagai orang tua, sebaiknya Moms & Dads bantu si kecil terbiasa menghadapi kesulitan sedikit demi sedikit sampai ia merasa lebih mampu.
Hal ini bisa dilatih lewat respons sehari-hari, terutama saat anak gagal atau belum dapat hasil sesuai harapannya.
1. Berikan Apresiasi pada Proses Anak
Jangan cuma fokus pada hasil akhir, tapi tunjukkan juga kalau usaha yang ia lakukan juga dihargai.
Misalnya, setelah anak mencoba mengerjakan soal beberapa kali tetapi belum berhasil, bilang kalau caranya berusaha mencari cara lain sudah sangat baik meski jawabannya belum tepat.
2. Ajarkan bahwa Gagal Adalah Bagian dari Belajar
Gagal akan terasa lebih menakutkan kalau anak menganggapnya sebagai tanda bahwa dirinya nggak mampu.
Kalau anak jatuh saat belajar naik sepeda, bantu ia berdiri lalu ajak coba lagi beberapa meter, daripada mengiyakan saat ia enggan mencoba lagi.
3. Berikan Tantangan Sesuai Kemampuan Anak
Tantangan yang pas sebaiknya cukup menantang untuk anak berusaha, tapi di sisi lain juga harus masih masuk akal agar bisa diselesaikan dengan kemampuan yang ia punya.
Contohnya, anak yang baru belajar membaca, lebih cocok diminta menyelesaikan satu cerpen daripada langsung baca buku atau majalah anak.
4. Hindari Terlalu Cepat Membantu Anak
Melihat anak sedang kesulitan memang sering bikin orang tua ingin segera turun tangan, padahal sedikit waktu tambahan bisa beri anak ruang buat ia mencoba sendiri.
Kalau anak kesulitan mengancingkan bajunya sendiri, jangan langsung mengambil alih.
Beri ia waktu untuk mencoba lagi sebelum dibantu.
5. Ajarkan Anak Menetapkan Target Kecil
Target yang terlalu besar sering terasa terlalu berat bagi anak.
Coba pecah prosesnya jadi target-target kecil yang gampang dilihat hasilnya.
Daripada langsung minta anak belajar satu bab, mulai dari menyelesaikan satu atau dua halaman lalu lanjut setelah ia benar-benar paham bagian itu.
6. Jadilah Contoh yang Pantang Menyerah
Anak juga memperhatikan gimana orang dewasa di sekitarnya bereaksi ketika sesuatu nggak berjalan sesuai rencana.
Kalau tanaman yang dirawat Moms & Dads ternyata layu, misalnya, tunjukkan kalau kita bisa cari tahu penyebabnya lalu coba merawatnya dengan cara berbeda, bukan langsung membuang dan berhenti menanam.
7. Latih Anak Menyelesaikan Masalah Sendiri
Saat anak punya masalah, coba tahan dulu keinginan untuk langsung kasih solusinya.
Kalau ia nggak nemu buku sekolah, beri arahan untuk mengingat tempat terakhir ia menggunakannya sebelum ikut bantu cari.
Dengan bersikap seperti ini, orang tua juga melatih anak mengembangkan skill problem solving.
8. Bangun Kebiasaan Growth Mindset
Growth mindset bantu anak memahami bahwa belum bisa sekarang bukan berarti nggak akan pernah bisa.
Biasakan ganti ucapan seperti “aku memang nggak pintar matematika” jadi “aku belum paham bagian ini” supaya fokusnya berpindah pada usaha yang masih bisa ia coba.
9. Berikan Kesempatan Anak Mengambil Keputusan
Melatih anak mengambil keputusan tanpa selalu nunggu arahan orang lain bisa sekaligus melatih rasa tanggung jawabnya.
Untuk hal kecil, biarkan ia memilih sendiri.
Apakah ingin mengerjakan tugas dulu atau mandi lebih dulu, selama keduanya tetap selesai sesuai waktu yang disepakati.
10. Pilihkan Lingkungan Belajar yang Positif dan Mendukung
Lingkungan belajar yang suportif bikin anak lebih nyaman karena nggak harus menerima respons negatif saat berbuat kesalahan.
Kalau salah jawab di kelas, feedback yang tenang dari guru akan bantu anak lebih berani mencoba lagi daripada memberi komentar yang bikin dia malu di depan teman.
Selain untuk mengatasi anak yang mudah menyerah, membangun lingkungan yang suportif juga penting saat sedang membangun skill baru, termasuk bahasa Inggris.
Lingkungan yang aman dan nyaman seperti ini membuat anak mau terus mencoba dan nggak mudah ngerasa takut salah.
Apalagi, skill bahasa Inggris adalah investasi yang bisa membuka peluang untuk mendapatkan beasiswa, mengikuti student exchange, kuliah di luar negeri, hingga bekerja di lingkup global.
Sparks English adalah les bahasa Inggris anak usia 3–15 tahun dengan full English environment yang membiasakan anak aktif speaking.
Dengan pendekatan supportive learning dari professional teacher, anak jadi nggak mudah menyerah saat salah dalam pronunciation atau belum bisa menyusun kalimat dengan benar.
Moms & Dads juga bebas pilih jadwal kelas tersedia dan lokasi center terdekat yang bisa lebih gampang menyesuaikan jadwal belajar dengan rutinitas anak.
Kelas dengan fasilitas super lengkap dan kualitas standar internasional ini bisa Moms & Dads dapatkan mulai dari Rp70 ribuan aja per kelas!
In this economy bisa upgrade skill dengan biaya terjangkau demi masa depan anak, it’s definitely worth every penny!
Masih ragu-ragu? Coba dulu free trial class-nya! Ada diskon Rp1 Juta juga, lho kalau daftar sekarang!


