Zaman semakin maju, cara anak bermain pun ikut berubah.
Kalau dulu Moms & Dads tumbuh dengan permainan seperti kelereng, congklak, dan petak umpet, sekarang anak-anak lebih akrab dengan permainan online seperti Mobile Legends.
Perubahan ini sebetulnya wajar, tetapi dampak negatif Mobile Legends perlu diperhatikan.
Apalagi jika anak mulai sulit berhenti bermain, mudah marah setelah kalah, atau lebih memilih game dibanding belajar.
Dalam artikel ini kita akan membahas mengapa Mobile Legends begitu menarik bagi anak, apa saja akibat sering main game Mobile Legends, dan bagaimana cara mengatasinya dengan bijak.
- Mengapa Game Mobile Legends Begitu Adiktif bagi Anak-Anak?
- Dampak Negatif Mobile Legends bagi Perkembangan Anak
- Dampak Mobile Legends terhadap Kesehatan Anak
- Cara Bijak Mengatasi Anak yang Kecanduan Mobile Legends
Mengapa Game Mobile Legends Begitu Adiktif bagi Anak-Anak?
Mobile Legends adalah game online 5 lawan 5 yang dimainkan secara real-time bersama pemain lain.
Di dalam permainan Mobile Legends, anak memilih hero, bekerja sama dengan tim, dan berusaha mengalahkan tim lawan untuk memenangkan pertandingan.
Game ini terasa menarik bukan hanya karena memberi hiburan, tetapi juga ada kompetisi yang membuat anak sering merasa “tanggung” untuk berhenti bermain.
Beberapa faktor yang membuat anak kecanduan Mobile Legends antara lain:
- Sistem reward yang terus berjalan: Anak terus mendapat target baru seperti level, bintang, badge, skin, atau hadiah event.
- Keinginan untuk naik rank: Anak terdorong bermain lagi agar peringkatnya naik atau menebus kekalahan.
- Durasi tiap match terasa singkat: Satu match terasa sebentar sehingga anak mudah memulai satu match lagi.
- Tekanan dari teman sebaya: Anak bisa jadi merasa harus ikut bermain agar tidak tertinggal dari teman sebaya atau kelompoknya.
- Rasa bangga saat performa diakui: Pujian dari teman saat menang atau bermain bagus membuat anak ingin mengulang lagi pengalaman yang sama terus-menerus.
- Fitur komunikasi dalam game: Dalam Mobile Legends ada chat dan voice chat yang membuat game terasa seperti ruang sosial, bukan sekadar permainan.
- Pembelian item dalam game: Anak bisa tertarik membeli item tertentu untuk pengalaman bermain yang lebih seru.
Karena bentuknya kompetitif dan melibatkan interaksi dengan pemain lain, wajar jika banyak orang tua bertanya, Mobile Legends untuk umur berapa?
Berdasarkan keterangan Google Play, pemain harus berusia minimal 12 tahun untuk bermain atau mengunduh Mobile Legends, sementara App Store menampilkan age rating 13+.
Karena itu, pendampingan orang tua tetap penting, terutama jika anak mulai bermain tanpa batasan.
Dampak Negatif Mobile Legends bagi Perkembangan Anak
Dampak Mobile Legends pada anak tidak selalu langsung terlihat.
Biasanya perubahan mulai muncul dari kebiasaan kecil seperti sulit berhenti bermain atau mudah kesal saat kalah.
Berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan agar bisa mengambil langkah lebih cepat:
1. Kecanduan Bermain Game
Kecanduan Mobile Legends bisa terlihat saat anak mulai sulit mengontrol durasi bermain meski sudah diingatkan.
WHO juga menjelaskan bahwa kebiasaan bermain game perlu diwaspadai jika game mulai lebih diprioritaskan dibanding aktivitas lain dan tetap dilakukan meski sudah menimbulkan dampak negatif.
2. Paparan Toxic Lingual
Mobile Legends memiliki fitur chat dan voice chat yang memungkinkan anak berkomunikasi dengan pemain lain.
Sayangnya, ruang ini juga bisa membuat anak terbiasa mendengar bahasa kasar yang kemudian ditiru dalam percakapan sehari-hari.
3. Anak Menjadi Mudah Marah dan Emosional
Game kompetitif bisa memicu emosi tinggi, terutama saat anak kalah atau disalahkan tim.
Jika belum terbiasa mengelola emosi, anak bisa melampiaskan kekesalan dengan respons yang berlebihan, seperti mengamuk dan melempar barang.
4. Penurunan Prestasi Akademik
Akibat sering main Mobile Legends, anak bisa mulai menunda tugas sekolah dan sulit fokus saat belajar.
Ini terjadi bukan karena anak tidak mampu mengikuti pelajaran, tetapi energi mental dan waktunya sudah banyak terserap untuk bermain.
5. Gangguan Tidur
Bermain terlalu lama, apalagi sebelum tidur, dapat membuat otak anak tetap aktif.
Anak bisa jadi masih kepikiran dengan permainan terakhirnya sehingga sulit benar-benar rileks sebelum tidur.
6. Kurang Aktivitas Fisik
Jika waktu bermain game terlalu dominan, anak kehilangan banyak waktu untuk aktivitas fisik yang penting bagi kesehatannya.
Padahal, WHO merekomendasikan anak dan remaja usia 5–17 tahun untuk melakukan minimal 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setiap hari.
7. Risiko Cyberbullying dalam Game
Cyberbullying bisa terjadi ketika anak mendapatkan komentar negatif dari pemain lain.
Walau terjadi di dunia online, pengalaman ini tetap bisa memengaruhi rasa percaya diri dan kondisi emosional anak.
8. Perkembangan Sosial Anak yang Terhambat
Meski ada interaksi dalam game tersebut tetapi tidak bisa menggantikan komunikasi sosial di dunia nyata.
Jika anak terlalu sering bermain sendiri dengan HP, kemampuan bersosialisasi langsung bisa jadi kurang terlatih.
Baca Juga: Tahap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini 1-6 Tahun
Dampak Mobile Legends terhadap Kesehatan Anak
Selain memengaruhi emosi dan kebiasaan belajar anak Mobile Legends juga bisa berdampak pada kondisi fisik dan kesehatan jika dimainkan terlalu lama.
Risiko ini makin besar jika anak bermain dalam posisi yang tidak ergonomis dan jarang mengambil jeda.
Berikut beberapa dampak kesehatan yang sering muncul akibat penggunaan gadget berlebihan:
1. Mata Lelah dan Gangguan Penglihatan
Menatap layar terlalu lama dapat membuat mata anak terasa kering, lelah, atau perih.
Kondisi ini termasuk gejala digital eye strain yaitu ketidaknyamanan pada mata akibat penggunaan layar digital dalam waktu lama.
2. Nyeri Leher dan Gangguan Postur Tubuh
Anak yang terlalu lama bermain Mobile Legends sering berada dalam posisi menunduk tanpa sadar.
Jika dilakukan berulang, kebiasaan ini dapat memberi tekanan pada leher, bahu, dan punggung.
Kondisi ini disebut sebagai tech neck, yaitu nyeri atau kaku pada leher akibat postur buruk saat menggunakan perangkat digital.
3. Kelelahan Mental akibat Bermain Terlalu Lama
Mobile Legends menuntut konsentrasi tinggi dalam waktu singkat.
Jika dimainkan terlalu lama, otak anak bisa terasa lelah karena terus berada dalam mode kompetitif.
Akibatnya, anak lebih mudah kehilangan fokus saat kembali ke aktivitas lain.
4. Jarang Bergerak dan Kurang Olahraga
Ketika waktu luang lebih banyak dihabiskan untuk bermain game, anak menjadi semakin jarang bergerak.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi stamina, kebugaran, dan keseimbangan aktivitas harian anak.
Cara Bijak Mengatasi Anak yang Kecanduan Mobile Legends
Mengatasi anak yang terlalu sering bermain Mobile Legends tidak harus dimulai dengan larangan keras.
Justru, pendekatannya yang terlalu menghakimi bisa membuat anak defensif dan makin sulit diajak bekerja sama.
Berikut ini adalah beberapa cara bijak yang bisa dilakukan orang tua untuk mengurangi dampak negatif Mobile Legends.
1. Terapkan Aturan Screen Time
Buat aturan screentime yang spesifik, bukan sekadar perintah “jangan main lama-lama”.
Misalnya, game hanya boleh dimainkan setelah tugas selesai dan dengan durasi yang ditentukan.
Baca Juga: 12 Dampak Screen Time bagi Anak dan Tips Membatasinya
2. Batasi Pembelian Dalam Game
Mobile Legends memiliki fitur pembelian dalam aplikasi yang bisa menggoda anak membeli item-item seperti skin, diamond, atau lainnya.
Orang tua bisa mengunci sistem pembayaran digital dan menjelaskan bahwa uang virtual tetap memakai uang sungguhan.
3. Bangun Komunikasi Dua Arah Tanpa Harus Menghakimi Anak
Tanyakan apa yang membuat anak suka bermain, jangan langsung menyalahkan.
Dari sana, orang tua bisa memahami apakah anak sedang mencari hiburan, tertekan di sekolah, atau bahkan membutuhkan validasi dari teman-temannya.
Sehingga, orang tua bisa mengambil langkah solutif yang tepat.
4. Gunakan Fitur Digital Wellbeing dan Parental Control
Fitur digital wellbeing dan parental control dapat membantu orang tua memantau durasi penggunaan HP.
Fitur ini bukan untuk memata-matai anak, tetapi membantu membangun kebiasaan digital anak yang lebih sehat.
5. Alihkan Kecanduan Game ke Keterampilan Masa Depan
Anak yang suka game biasanya tertarik pada tantangan dan pencapaian.
Energi yang besar ini bisa diarahkan ke aktivitas lain yang membangun skill masa depan, seperti belajar coding dasar, public speaking, olahraga, hingga belajar bahasa Inggris.
Baca Juga: 7 Bahaya Game Roblox bagi Anak dan Cara Mengatasi Kecanduan
Setiap aktivitas tentu punya manfaatnya masing-masing.
Coding bisa melatih logika, olahraga membantu disiplin dan kesehatan fisik, public speaking membangun keberanian tampil, sedangkan bahasa Inggris mendukung kemampuan komunikasi anak di lingkungan yang lebih luas.
Karena itu, bahasa Inggris bisa menjadi salah satu pilihan yang relevan untuk mulai dikenalkan sejak dini.
Apalagi, British Council juga menjelaskan bahwa anak kecil memiliki kemampuan alami untuk menangkap dan membedakan bunyi bahasa lain ketika dikenalkan sejak dini.
Dengan pendekatan yang tepat, belajar bahasa Inggris tidak harus terasa seperti beban.
Justru, aktivitas ini bisa menjadi alternatif screen time yang lebih produktif sekaligus membantu anak membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi.
Sparks English adalah les bahasa Inggris anak yang mengedepankan interactive learning agar anak merasa nyaman untuk berani berbahasa Inggris.
Pendekatan confidence building juga membantu anak tidak hanya mengenal bahasa Inggris, tetapi lebih percaya diri saat mendengar, merespons, dan berbicara.
Orang tua juga tidak perlu khawatir karena tersedia sesi konsultasi perkembangan anak sehingga bisa membantu memantau progress si kecil.
Dengan suasana Full English environment dan bimbingan tutor bersertifikat Cambridge TKT serta native teacher, anak mendapat exposure bahasa Inggris yang lebih konsisten dan terbiasa mendengar bahasa tersebut dengan natural accent.
Semua fasilitas ini bisa didapatkan dengan biaya ekonomis, mulai Rp70 ribuan aja per kelas!
Lebih dari 25.000 students berhasil lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English!
Moms & Dads bisa mulai dari free trial class dan klaim promonya sebelum berakhir!



