Moms & Dads, apakah si kecil cepat menghafal lagu atau mudah memahami pelajaran yang disampaikan secara lisan?
Bisa jadi, ini salah satu tanda si kecil punya gaya belajar auditori yang kuat.
Supaya lebih paham apa itu gaya belajar auditori, mari kita bahas ciri-ciri, kelebihan, dan kekurangannya dalam artikel ini.
Selain itu, kita juga akan membahas strategi belajar yang cocok bagi anak dengan gaya belajar ini.
Pastikan simak sampai akhir, ya!
Apa Itu Gaya Belajar Auditori?
Dalam model VARK, auditory atau aural termasuk salah satu preferensi belajar yang mengacu pada seseorang yang cenderung nyaman menerima informasi melalui mendengar dan berdiskusi.
Gaya belajar auditori adalah preferensi belajar ketika anak lebih mudah memahami, mengingat, dan mengolah informasi melalui suara.
Anak dengan kecenderungan ini biasanya terbantu oleh penjelasan lisan, diskusi, cerita, lagu, podcast, atau pengulangan materi dengan suara.
Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa gaya belajar bukanlah label mutlak.
Anak tetap perlu dilatih membaca, menulis, melihat, dan praktik langsung agar kemampuan belajarnya lebih lengkap.
Ciri-Ciri Gaya Belajar Auditori yang Perlu Dikenali
Ciri ciri gaya belajar auditori dapat dilihat dari kebiasaan anak saat menerima informasi.
Moms & Dads bisa mengamatinya dari cara anak belajar dan merespons suara di sekitar.
1. Lebih Mudah Memahami Materi dengan Mendengarkan
Anak auditori biasanya lebih cepat paham saat materi dijelaskan lewat suara.
Ia lebih mudah menangkap instruksi atau penjelasan jika disampaikan secara runtut, jelas, dan tidak terlalu cepat.
2. Senang Membaca dengan Suara Keras
Saat membaca, anak sering spontan mengucapkan kata-kata dengan suara keras.
Cara ini membantunya mendengar materi yang sedang dipelajari melalui suara, sehingga materi lebih mudah dipahami.
3. Cenderung Aktif Bicara dan Pandai Bercerita
Anak dengan gaya belajar auditori sering menikmati percakapan.
Ia suka bertanya atau menceritakan sesuatu karena berbicara menjadi salah satu caranya memahami materi.
4. Lebih Mudah Mengingat Lirik Lagu, Dialog, dan Percakapan
Jika anak cepat hafal lirik lagu atau dialog yang sering didengar, itu bisa menjadi tanda kemampuan auditori yang kuat.
Hal ini karena informasi yang diterima melalui suara cenderung lebih mudah diproses dan diingat oleh anak.
5. Sangat Peka terhadap Suara
Anak auditori bisa mudah terdistraksi oleh suara di sekitarnya.
Namun, kepekaan ini juga membuatnya lebih cepat menangkap perubahan nada bicara atau emosi dari suara orang lain.
6. Kuat untuk Meniru Aksen atau Intonasi Orang Lain
Anak auditori biasanya lebih mudah meniru cara bicara, aksen, dan intonasi karena peka terhadap pola suara.
Kemampuan ini bisa sangat membantu saat anak belajar bahasa, termasuk dalam melatih pelafalan bahasa Inggris yang cukup tricky bagi penutur bahasa Indonesia.
Di sinilah Full English environment seperti Sparks English bisa sangat membantu.
Di Sparks English, anak mendapatkan exposure bahasa Inggris secara konsisten melalui instruksi, percakapan, dan aktivitas sehari-hari.
Mulai dari Rp70 ribuan aja sudah dapat kelas semi-private dibimbing native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT agar anak mendapat contoh pronunciation, intonasi, dan penggunaan aksen bahasa Inggris yang lebih natural.
Pendekatan ini juga tetap didukung aktivitas visual, games, dan praktik speaking langsung, sehingga anak dengan berbagai gaya belajar apapun tetap bisa mengikuti proses belajar dengan nyaman.
25.000 students berhasil lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English, kini giliran kamu!
Moms & Dads bisa coba free trial class dulu dan dapatkan diskon agar harga lebih hemat!
Baca Juga: 7 Gaya Belajar Anak: Mana yang Paling Cocok untuk Anak?
Kelebihan dan Kekurangan Gaya Belajar Auditori
Setiap gaya belajar pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Untuk gaya belajar auditori, kelebihannya ada pada kemampuan mendengar.
Namun, anak dengan kecenderungan ini juga bisa lebih mudah terganggu saat lingkungan belajar terlalu bising.
Kelebihan Gaya Belajar Auditori
- Lebih mudah memahami penjelasan lisan dari guru atau orang tua.
- Cepat menangkap instruksi verbal, terutama jika disampaikan jelas.
- Kuat dalam mengingat lagu, cerita, dialog, dan percakapan.
- Cenderung percaya diri saat berdiskusi atau menjawab secara lisan.
- Lebih peka terhadap intonasi, ekspresi suara, dan emosi lawan bicara.
- Terbantu saat belajar bahasa asing karena mudah meniru bunyi dan pelafalan.
Kekurangan Gaya Belajar Auditori
| Kekurangan | Solusi Praktis |
| Mudah terdistraksi oleh suara di sekitar | Pilih tempat belajar yang lebih tenang dan minim gangguan suara. |
| Sulit memahami materi jika hanya disajikan dalam bentuk teks | Ubah materi menjadi audio, bacakan secara lisan, atau gunakan text-to-speech. |
| Kurang nyaman membaca bacaan panjang | Bagi bacaan menjadi bagian pendek, lalu ajak anak membaca dengan suara keras. |
| Lebih lambat memahami grafik, diagram, atau tabel tanpa penjelasan | Dampingi materi visual dengan penjelasan lisan singkat agar maksudnya lebih mudah dipahami. |
| Mudah lupa jika materi tidak diulang secara verbal | Gunakan rekaman suara, lagu, rima, mnemonic, atau pengulangan lisan. |
| Sering dianggap berisik karena belajar dengan suara | Tentukan waktu atau area belajar khusus agar anak tetap bisa membaca keras tanpa mengganggu sekitar. |
| Sering ingin berbicara atau bertanya saat belajar | Beri waktu khusus untuk tanya jawab, diskusi, atau menjelaskan ulang materi. |
| Kurang efektif belajar sendiri tanpa interaksi | Ajak anak berdiskusi, tanya jawab, atau menjelaskan ulang materi setelah belajar. |
Strategi Belajar dengan Gaya Belajar Auditori
Anak dengan gaya belajar auditori biasanya lebih mudah fokus ketika materi melibatkan suara, percakapan, dan pengulangan lisan.
1. Rekam Suara Sendiri saat Belajar
Minta anak merekam suaranya saat membaca rangkuman atau materi.
Setelah itu, anak bisa mendengarkan ulang rekaman tersebut untuk memperkuat pemahaman tanpa harus membaca teks berulang kali.
2. Ubah Materi Jadi Audio dengan Manfaatkan Text-to-Speech
Jika anak kurang nyaman membaca teks panjang, bantu anak mengubah materi bacaan menjadi audio dengan fitur text-to-speech.
Fitur ini membantu anak tetap bisa memahami isi materi dengan lebih nyaman dan sesuai preferensinya.
3. Gunakan Teknik Teach-Back
Teknik teach-back dilakukan dengan meminta anak menjelaskan kembali materi yang baru dipelajari.
Cara ini membantu anak menyusun pemahamannya lewat kata-kata sendiri, sekaligus menunjukkan bagian mana yang masih perlu dibantu.
4. Manfaatkan Diskusi dan Sesi Tanya Jawab Aktif
Anak dengan cara belajar auditori biasanya lebih mudah memahami materi ketika diberi ruang untuk berdiskusi.
Setelah belajar, ajak anak membahas kembali inti materi melalui tanya jawab singkat agar ia bisa memproses informasi secara lisan.
5. Baca Materi dengan Suara Keras
Membaca dengan suara keras membantu anak mendengar kembali informasi yang sedang dipelajari.
Cara ini juga membantu anak memproses informasi melalui dua cara sekaligus, yaitu membaca dan mendengar, sehingga materi lebih mudah dipahami dan diingat.
6. Gunakan Irama dan Mnemonic untuk Menghafal
Irama atau mnemonic (teknik mengingat dengan menggunakan singkatan atau kata kunci tertentu) dapat membantu anak mengingat informasi dengan lebih mudah.
Menggabungkan materi dengan lagu, rima, atau pola bunyi tertentu dapat membuat informasi lebih mudah diingat, terutama untuk urutan, istilah, atau konsep yang perlu dihafal.
Baca Juga: Kecerdasan Linguistik: Ciri, Manfaat, dan Cara Mengembangkannya
7. Dengarkan Podcast dan Audiobook
Podcast dan audiobook bisa menjadi media tambahan untuk anak yang nyaman belajar lewat suara.
Pilih materi yang sesuai usia dan dimulai dari yang berdurasi pendek dulu agar anak bisa melatih pemahaman terhadap materi dengan baik.
8. Ikuti Kelas Berbasis Percakapan, Bukan Hafalan
Anak auditori akan lebih terbantu jika belajar dalam kelas yang memberi banyak ruang untuk mendengar dan berbicara, bukan hanya hafalan.
Materi yang disampaikan secara interaktif melalui diskusi, tanya jawab, cerita, dan praktik langsung biasanya lebih mudah dipahami serta diingat oleh anak dengan gaya belajar ini.
Banyak orang dewasa menyesal tidak dibiasakan berani berbicara bahasa Inggris sejak kecil.
Padahal keberanian ini jauh lebih mudah dibentuk di usia muda, sebelum rasa takut salah dan malu mulai mengakar.
Les bahasa Inggris Sparks English hadir untuk membiasakan anak belajar bahasa Inggris lewat real conversation, grup discussion, roleplay, hingga mini project yang mendorong anak untuk berani berbicara.
Kelasnya semi-private sehingga anak punya ruang yang lebih nyaman untuk berani bicara dan teacher dapat memberi perhatian lebih personal pada setiap anak.
Jangan menunda lebih lama lagi, ayo ikutkan si kecil free trial class dulu!
Ambil promonya juga ya karena kuota terbatas lho!



