Salah satu cara yang bisa dicoba untuk membantu anak menentukan prioritas dalam belajar adalah teknik Eat the Frog.
Eat the Frog adalah teknik produktivitas yang mengutamakan tugas paling penting dan menantang untuk dikerjakan lebih dahulu.
Tugas tersebut disebut sebagai “frog” atau katak.
Istilah tersebut merupakan perumpamaan untuk tugas yang terasa berat dan sering kali ingin dihindari.
Lalu, bagaimana teknik ini bisa diterapkan dalam kegiatan belajar anak?
- Apa Itu Teknik Eat the Frog?
- Manfaat Metode Eat the Frog untuk Belajar
- Bagaimana Cara Menerapkan Eat the Frog?
- Contoh Eat the Frog untuk Anak dan Remaja
Apa Itu Teknik Eat the Frog?
Teknik Eat the Frog adalah metode manajemen waktu dan prioritas yang mendorong seseorang untuk menyelesaikan tugas paling penting atau menantang terlebih dahulu sebelum beralih ke tugas lain.
Konsep Eat That Frog dipopulerkan oleh Brian Tracy.
Dalam metode ini, “frog” menggambarkan tugas penting yang kemungkinan besar akan ditunda jika tidak segera dikerjakan.
Dalam konteks belajar, frog bisa berupa PR Matematika yang sulit, latihan presentasi, belajar untuk ujian, membuat proyek sekolah, atau tugas lain yang membutuhkan konsentrasi lebih besar.
Namun, tugas yang paling sulit tidak selalu otomatis menjadi frog.
Anak juga perlu mempertimbangkan tingkat kepentingan dan deadline.
Misalnya, anak mempunyai tugas yang sulit tetapi baru dikumpulkan minggu depan.
Di sisi lain, ada tugas yang harus dikumpulkan besok.
Tugas dengan deadline terdekat bisa menjadi prioritas terlebih dahulu.
Karena itu, penerapan metode ini sebaiknya tidak sekadar mengajarkan anak untuk “kerjakan yang paling susah dulu”, tapi juga membantu mereka mengenali tugas mana yang perlu diprioritaskan.
Manfaat Metode Eat the Frog untuk Belajar
Menerapkan metode Eat the Frog memberikan berbagai dampak positif bagi pola belajar anak dan remaja:
1. Membantu Mengurangi Kebiasaan Menunda
Tugas yang terasa sulit sering kali menjadi tugas yang paling ingin ditunda.
Anak mungkin memilih melakukan aktivitas lain atau mengerjakan tugas yang lebih mudah karena terasa lebih cepat selesai.
Akibatnya, tugas utama tetap belum tersentuh hingga waktu pengumpulan semakin dekat.
Teknik Eat the Frog membalik kebiasaan tersebut.
Anak diarahkan untuk mulai mengerjakan tugas yang menjadi prioritas sebelum beralih ke pekerjaan lain.
Tidak harus langsung selesai dalam sekali duduk.
Yang penting, anak sudah memulai dan memiliki progres yang jelas.
2. Membantu Anak Menentukan Prioritas
Saat semua tugas terlihat sama pentingnya, anak bisa bingung harus mulai dari mana.
Dengan metode Eat the Frog, anak belajar melihat beberapa faktor sebelum menentukan prioritas, seperti:
- Kapan tugas harus dikumpulkan?
- Seberapa penting tugas tersebut?
- Berapa banyak waktu yang dibutuhkan?
- Tugas mana yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi?
- Tugas mana yang paling sering ditunda?
Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak memahami bahwa membuat prioritas bukan sekadar memilih tugas yang disukai.
3. Melatih Fokus pada Satu Tugas
Dalam teknik Eat the Frog, anak memilih satu tugas utama untuk menjadi fokus terlebih dahulu.
Cara ini membuat kegiatan belajar lebih terarah dan melatih fokus.
Anak tahu apa yang sedang dikerjakan dan kapan waktunya beralih ke tugas berikutnya.
Orang tua juga dapat membantu dengan menciptakan area belajar yang minim distraksi, misalnya menjauhkan gadget jika memang tidak diperlukan untuk mengerjakan tugas.
4. Membantu Mengurangi Rasa Kewalahan
Tumpukan tugas sekolah sering kali membuat anak stres karena bingung memulai dari mana.
Eat the Frog membantu menyederhanakan keputusan tersebut.
Daripada memikirkan seluruh tugas sekaligus, anak cukup menentukan satu prioritas utama untuk dikerjakan terlebih dahulu.
Jika tugas tersebut masih terasa terlalu besar, orang tua dapat membantu membaginya menjadi beberapa bagian kecil.
Contohnya, daripada meminta anak “selesaikan 30 soal”, target awal bisa dibuat lebih ringan: kerjakan lima soal terlebih dahulu, periksa jawabannya, kemudian lanjutkan ke bagian berikutnya.
5. Membangun Rasa Pencapaian setelah Menyelesaikan Tugas
Ada rasa lega ketika tugas yang sejak awal dianggap sulit akhirnya selesai.
Pengalaman tersebut bisa memberi anak rasa pencapaian sebelum melanjutkan tugas berikutnya.
Tugas yang lebih ringan pun tidak lagi dibayangi oleh pekerjaan besar yang belum disentuh.
Namun, orang tua tetap perlu menghindari tuntutan berlebihan.
Tujuan metode ini bukan membuat anak harus selalu produktif, melainkan membantu mereka belajar menentukan prioritas dan mengelola tugas dengan lebih teratur.
Belajar bahasa Inggris sering kali terasa seperti “Frog” bagi anak, tapi dengan metode yang tepat setiap anak bisa berbahasa Inggris dengan cepat.
Apalagi di usia ini kemampuan otak anak dalam menyerap bunyi dan struktur bahasa baru sedang 90% berkembang pesat.
Banyak lho, orang tua yang menyesal karena nggak mengenalkan bahasa Inggris sedini mungkin, karena kalau baru mengenalkannya saat anak sudah jauh lebih besar perlu effort dan waktu yang lebih besar juga untuk diserap oleh otak.
Padahal bahasa Inggris adalah investasi skill masa depan yang nggak akan sia-sia, karena bisa membuka peluang untuk anak masuk sekolah favorit, berprestasi hingga level internasional, hingga jadi modal karier cemerlang di masa depannya.
Jangan biarkan si kecil kehilangan kesempatan belajar skill yang seharusnya bisa dikuasai sejak dini.

Sparks English siap bantu stimulasi bahasa Inggris anak dengan kurikulum berbasis CEFR yang terstruktur dan bertahap mengikuti level proficiency.
Menggunakan metode fun & interactive, anak akan belajar tanpa merasa terbebani, karena prosesnya dirancang terasa seperti bermain dan dekat dengan dunia anak.
Apalagi kelasnya semi-private dibimbing langsung oleh native teacher dan Cambridge TKT certified teacher agar anak sekaligus belajar accent yang natural.
Dengan biaya mulai Rp70 ribuan per kelas, metode ini sudah terbukti membantu 25.000+ students lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan!
Jangan tunggu lagi, coba free trial class sekarang, selagi ada diskon Rp1 juta yang bisa di klaim dulu karena kuota terbatas!
Bagaimana Cara Menerapkan Eat the Frog?
Cara menerapkan Eat the Frog untuk anak sebenarnya cukup sederhana, buat daftar tugas, tentukan prioritas, pilih tugas yang paling membutuhkan perhatian, lalu mulai mengerjakannya.
Berikut langkah-langkahnya!
1. Buat Daftar Tugas yang Perlu Diselesaikan
Mulailah dengan mencatat tugas yang perlu dikerjakan.
Misalnya:
- PR Matematika
- Latihan Bahasa Inggris
- Membaca materi IPA
- Menyiapkan presentasi
- Belajar untuk kuis
Daftar tersebut membantu anak melihat tugas secara lebih jelas daripada hanya mencoba mengingat semuanya.
2. Tentukan Tugas yang Paling Penting
Setelah semua tugas dicatat, jangan langsung memilih yang paling sulit.
Periksa terlebih dahulu tugas mana yang paling penting dan perlu segera diselesaikan.
Salah satu cara paling sederhana adalah melihat deadline.
PR yang harus dikumpulkan besok tentu perlu mendapat perhatian lebih dahulu dibandingkan tugas yang baru dikumpulkan minggu depan.
Setelah itu, pertimbangkan juga waktu dan usaha yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
3. Pilih Tugas yang Paling Sulit atau Sering Ditunda
Dari beberapa tugas penting tadi, cari tugas yang membutuhkan usaha atau konsentrasi lebih besar.
Tugas itulah yang bisa menjadi frog hari ini.
Coba tanyakan kepada anak, “Dari tugas-tugas ini, mana yang paling bikin kamu malas mulai?”
Jawabannya bisa membantu orang tua mengetahui tugas yang selama ini cenderung dihindari anak.
4. Pecah Tugas Besar Menjadi Langkah Kecil
Jika frog terlalu besar, jangan memaksa anak menyelesaikan semuanya sekaligus.
Pecah menjadi target-target yang lebih mudah dilakukan.
Misalnya, anak harus membuat presentasi Bahasa Inggris.
Daripada menulis target “selesaikan presentasi”, tugas tersebut bisa dibagi menjadi:
- menentukan topik;
- mencari informasi;
- membuat tiga slide pertama;
- menyelesaikan seluruh slide;
- memeriksa kembali isi presentasi; dan
- latihan berbicara.
Dengan begitu, anak tahu persis langkah pertama yang perlu dilakukan.
5. Kerjakan Tugas Utama Tanpa Banyak Distraksi
Setelah frog ditentukan, waktunya mulai bekerja.
Siapkan tempat belajar yang nyaman dan kurangi hal-hal yang mudah mengalihkan perhatian.
Jika ponsel tidak dibutuhkan untuk belajar, misalnya, letakkan sementara di tempat lain.
Pada tahap ini, anak cukup fokus pada satu target yang sudah ditentukan.
Tidak perlu sekaligus memikirkan tugas berikutnya.
Untuk anak yang masih kecil atau mudah kehilangan fokus, durasi belajar juga dapat disesuaikan dengan kemampuan konsentrasinya.
6. Beri Jeda dan Lanjut ke Tugas Berikutnya
Anak tidak harus terus-menerus belajar tanpa istirahat.
Setelah target utama selesai atau anak sudah mencapai bagian tertentu, beri kesempatan untuk mengambil jeda.
Anak bisa minum, makan camilan, melakukan peregangan ringan, atau beristirahat sejenak.
Setelah itu, lanjutkan ke tugas berikutnya berdasarkan daftar prioritas.
Dengan cara ini, Eat the Frog tidak berubah menjadi sesi belajar panjang yang justru membuat anak kelelahan.
Contoh Eat the Frog untuk Anak dan Remaja
Bayangkan seorang anak memiliki tiga agenda belajar untuk sore hari:
- Mengerjakan PR Matematika tentang pecahan yang terasa rumit.
- Membaca materi IPA.
- Mengisi soal latihan Bahasa Inggris yang tergolong mudah baginya.
Penerapan Teknik:
Anak memilih PR Matematika sebagai frog karena membutuhkan fokus paling besar dan tingkat energi paling tinggi.
Anak menyelesaikannya terlebih dahulu saat pikiran masih segar.
Setelah PR Matematika tuntas, membaca materi IPA dan mengerjakan latihan Bahasa Inggris dapat diselesaikan dengan lebih santai dan tanpa beban pikiran.
Baca Juga: Apa Itu Teknik Feynman? Cara Belajar yang Bikin Cepat Paham!
Jadi, frog setiap anak bisa berbeda, bahkan frog hari ini belum tentu menjadi frog besok.
Semuanya bergantung pada prioritas, deadline, tingkat kesulitan, dan kebutuhan belajar anak saat itu.
Hal yang sama berlaku ketika anak belajar bahasa Inggris.
Anak akan lebih mudah terlibat ketika materi dan aktivitas belajar sesuai dengan usia serta kemampuan mereka.

Di kursus bahasa Inggris Sparks English, tersedia program bahasa Inggris untuk anak dengan pembelajaran yang fun dan interaktif untuk usia 3-18 tahun.
Anak pun mendapat kesempatan untuk menggunakan bahasa Inggris secara lebih aktif melalui berbagai kegiatan belajar, bukan sekadar menghafal grammar dan vocabulary.
Bisa bebas pilih jadwal tersedia dan kelasnya semi-private agar setiap student bisa mengembangkan potensi terbaiknya dengan optimal!
Apalagi ada bonus free extra sessions tiap pekan bareng native teacher yang bikin ruang belajar bahasa Inggris anak makin variatif dan menyenangkan.
Fasilitas selengkap ini nggak mungkin bisa didapatkan di tempat lain dengan harga yang ekonomis ramah banget di kantong!
Biar lebih yakin, coba free trial class sekarang juga, bisa lewat live booking instan cuma 1 menit.


