Mindful parenting adalah pendekatan pengasuhan yang mengajak orang tua untuk hadir dan memberikan perhatian penuh saat berinteraksi dengan anak, sekaligus menyadari emosi diri sebelum memberikan respons.
Jadi, bukan berarti orang tua harus selalu tenang atau tidak boleh marah.
Intinya adalah belajar merespons anak dengan lebih sadar, bukan sekadar bereaksi secara otomatis.
Yuk, pahami konsep mindful parenting dan cara sederhana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari!
- Apa Itu Mindful Parenting?
- Ciri-Ciri Orang Tua yang Menerapkan Mindful Parenting
- Manfaat Mindful Parenting bagi Anak
- Contoh Mindful Parenting dalam Kehidupan Sehari-hari
- Cara Menerapkan Mindful Parenting pada Anak
Apa Itu Mindful Parenting?
Mindful parenting adalah cara mengasuh anak dengan membawa perhatian penuh pada interaksi antara orang tua dan anak pada saat ini, tanpa terburu-buru memberikan penilaian atau reaksi.
Dalam praktiknya, orang tua berusaha menyadari pikiran, perasaan, dan respons diri sendiri sekaligus memahami apa yang sedang dialami anak.
Beberapa prinsip yang sering dikaitkan dengan mindful parenting meliputi:
- mendengarkan anak dengan penuh perhatian;
- menerima perasaan anak tanpa langsung menghakimi;
- menyadari emosi diri sendiri dan emosi anak;
- mengatur respons sebelum bereaksi;
- berusaha memahami sudut pandang anak;
- menunjukkan empati dalam interaksi sehari-hari.
Namun, menerima emosi anak bukan berarti Moms & Dads harus membenarkan semua perilakunya.
Misalnya, anak boleh merasa marah karena waktu bermainnya selesai.
Tetapi, orang tua tetap dapat menetapkan batasan bahwa memukul, berteriak kepada orang lain, atau melempar barang bukan perilaku yang dapat diterima.
Dengan begitu, anak belajar bahwa perasaannya dapat diterima, sementara perilakunya tetap memiliki batas.
Baca Juga: 12 Tips Parenting agar Anak Tumbuh Cerdas dan Mandiri
Ciri-Ciri Orang Tua yang Menerapkan Mindful Parenting
Mindful parenting biasanya terlihat dari kebiasaan-kebiasaan sederhana dalam interaksi sehari-hari.
Berikut beberapa cirinya.
1. Hadir dan Fokus saat Bersama Anak
Salah satu ciri utama mindful parenting adalah memberikan perhatian ketika sedang bersama anak.
Bukan berarti Moms & Dads harus menemani anak sepanjang hari.
Namun, ketika sedang berbicara atau bermain bersama, cobalah untuk benar-benar hadir.
Misalnya, letakkan ponsel sejenak ketika anak sedang bercerita tentang kegiatannya di sekolah.
Perhatian sederhana seperti melakukan kontak mata, mendengarkan, dan memberikan respons dapat membuat anak merasa bahwa ceritanya penting bagi orang tua.
2. Mendengarkan Anak tanpa Terburu-Buru
Saat anak bercerita tentang masalahnya, orang tua sering kali ingin segera memberikan solusi.
Padahal, terkadang anak hanya ingin didengarkan terlebih dahulu.
Misalnya, ketika anak berkata:
“Aku nggak mau main sama dia lagi.”
Daripada langsung menjawab, “Jangan begitu, dong. Harus berteman,” Moms & Dads dapat mencoba bertanya:
“Memangnya tadi terjadi apa?”
Memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan ceritanya membantu orang tua memahami situasi sebelum memberikan tanggapan.
Baca Juga: 10 Cara Melatih Komunikasi Anak agar Percaya Diri Bicara
3. Menyadari Emosi Diri sebelum Merespons
Mindful parenting juga mengajak orang tua mengenali kondisi emosinya sendiri.
Ketika sedang lelah setelah bekerja, misalnya, suara anak yang ramai mungkin terasa jauh lebih mengganggu daripada biasanya.
Sebelum bereaksi, coba kenali terlebih dahulu apa yang sedang Moms & Dads rasakan.
Apakah benar perilaku anak yang menjadi masalah, atau kondisi tubuh dan pikiran sedang lelah?
Kesadaran seperti ini dapat membantu orang tua mengurangi respons impulsif yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan kesalahan anak.
4. Menerima Perasaan Anak tanpa Menghakimi
Anak bisa merasa takut, kecewa, cemburu, sedih, atau marah karena berbagai hal yang mungkin terlihat sederhana bagi orang dewasa.
Namun, bagi anak, perasaan tersebut tetap terasa nyata.
Misalnya, jangan buru-buru mengatakan:
“Begitu saja kok nangis?”
Moms & Dads dapat menggantinya dengan:
“Kamu sedih karena mainanmu rusak, ya?”
Respons seperti ini tidak berarti orang tua membesar-besarkan masalah.
Orang tua hanya membantu anak mengenali apa yang sedang ia rasakan.
5. Berusaha Memahami Sudut Pandang Anak
Anak belum memiliki pengalaman dan kemampuan berpikir yang sama seperti orang dewasa.
Karena itu, perilaku yang terlihat tidak masuk akal bagi orang tua bisa saja memiliki alasan yang cukup besar dari sudut pandang anak.
Anak usia dini yang menangis ketika harus berhenti bermain, misalnya, belum tentu sedang sengaja membangkang.
Ia mungkin masih kesulitan berpindah dari aktivitas yang menyenangkan ke kegiatan berikutnya.
Memahami sudut pandang ini membantu Moms & Dads menentukan respons yang lebih sesuai dengan usia anak.
Baca Juga: 5 Ciri Helicopter Parenting dan Dampaknya pada Anak
6. Merespons Anak dengan Lebih Tenang
Mindful parenting tidak menuntut orang tua menjadi tenang setiap saat.
Yang perlu dilatih adalah memberikan sedikit jeda antara emosi dan respons.
Ketika anak melakukan kesalahan, Moms & Dads dapat berhenti beberapa detik sebelum berbicara.
Jeda tersebut memberi kesempatan untuk memilih kalimat yang lebih jelas dan tetap tegas tanpa harus langsung membentak.
Manfaat Mindful Parenting bagi Anak
Penerapan mindful parenting dapat mendukung kualitas hubungan antara orang tua dan anak.
Ketika dilakukan secara konsisten, beberapa manfaat yang dapat dirasakan antara lain:
- Membantu anak merasa didengar. Anak memiliki ruang untuk menceritakan pikiran dan perasaannya tanpa langsung mendapatkan penilaian.
- Membangun komunikasi yang lebih terbuka. Anak cenderung lebih nyaman bercerita ketika mengetahui orang tuanya mau mendengarkan.
- Membantu anak mengenali emosi. Orang tua dapat membantu anak memahami apakah ia sedang sedih, kecewa, takut, marah, atau frustrasi.
- Memberikan contoh cara mengelola emosi. Anak belajar dengan memperhatikan bagaimana orang tuanya menghadapi situasi sulit.
- Mendukung hubungan orang tua dan anak yang lebih hangat. Interaksi yang penuh perhatian dapat memperkuat rasa aman dalam hubungan keluarga.
- Mengurangi respons yang terlalu impulsif. Orang tua belajar berhenti sejenak sebelum merespons perilaku anak.
- Menciptakan lingkungan yang lebih nyaman untuk belajar. Anak yang tidak takut melakukan kesalahan biasanya memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertanya, mencoba, dan belajar dari pengalaman.
Lingkungan yang mendukung anak untuk belajar akan membuatnya berani berpendapat dan tidak takut salah.
Termasuk ketika anak belajar bahasa Inggris, mereka akan punya rasa penasaran yang tinggi dan percaya diri.
Ini menjadi stimulus yang baik, apalagi di usia dini di mana otak anak dalam menyerap bunyi dan struktur bahasa baru sedang 90% berkembang pesat dan paling optimal.
Banyak orang tua yang menyesal karena nggak mengenalkan bahasa Inggris sedini mungkin, karena kalau mengenalkannya saat anak sudah jauh lebih besar perlu effort dan waktu yang lebih besar untuk diserap oleh otak.
Padahal bahasa Inggris adalah investasi skill masa depan yang sangat berguna, baik untuk akademik, prestasi tingkat internasional, hingga karir masa depannya nanti.
Jangan biarkan si kecil kehilangan kesempatan belajar skill yang seharusnya bisa dikuasai sejak dini.

Sparks English punya program yang bantu anak usia 3-18 tahun belajar bahasa Inggris secara konsisten lewat kurikulum berbasis CEFR yang disusun berjenjang sesuai proficiency level.
Kelasnya semi-private dibimbing langsung oleh native teacher dan Cambridge TKT certified teacher, jadi anak dapat lebih banyak kesempatan untuk active speaking sekaligus melatih pronunciation-nya.
Dengan biaya mulai Rp70 ribuan per kelas aja, metode ini sudah terbukti bantu 25.000+ students percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan!
Kalau ada les bahasa Inggris anak dengan fasilitas premium tapi biayanya tetap irit demi persiapkan masa depan anak yang lebih cerah, yakin nggak mau coba dulu?
Coba free trial class sekarang dan klaim diskon Rp1 jutanya khusus untuk yang daftar trial sekarang juga!
Contoh Mindful Parenting dalam Kehidupan Sehari-hari
Mindful parenting sebenarnya dapat dimulai dari perubahan kecil dalam cara orang tua merespons anak.
Berikut beberapa contohnya.
Situasi 1: Anak tidak mau mengerjakan PR
Respons spontan:
“Kamu kok malas sekali? Dari tadi disuruh belajar nggak mau!”
Respons yang lebih mindful:
“Kamu kelihatannya sedang nggak semangat mengerjakan PR. Ada yang sulit atau kamu sedang capek?”
Kalimat kedua membantu orang tua mencari tahu penyebab masalah sebelum menentukan apa yang harus dilakukan.
Situasi 2: Anak menumpahkan minuman
Respons spontan:
“Aduh, kamu ceroboh banget, sih!”
Respons yang lebih mindful:
“Minumannya tumpah, ya. Yuk, kita bersihkan dulu. Besok coba gelasnya dipegang dengan dua tangan.”
Anak tetap belajar bertanggung jawab, tetapi tanpa harus diberi label negatif.
Situasi 3: Anak kecewa karena kalah bermain
Moms & Dads dapat mengatakan:
“Kamu kecewa karena tadi kalah, ya? Nggak apa-apa kalau sedih dulu. Kalau sudah siap, nanti bisa coba lagi.”
Situasi 4: Anak marah karena waktu bermain selesai
Moms & Dads dapat mengatakan:
“Mama tahu kamu masih ingin main. Kamu boleh kecewa, tapi sekarang waktunya mandi. Setelah mandi, kita lanjut ke kegiatan berikutnya.”
Perasaan anak tetap divalidasi, tetapi batasan tidak berubah.
Itulah salah satu inti mindful parenting: memahami emosi anak tidak sama dengan mengikuti semua keinginannya.
Orang tua tetap dapat memberikan aturan, konsekuensi, dan batasan dengan cara yang lebih tenang dan jelas.
Cara Menerapkan Mindful Parenting pada Anak
Tidak perlu mengubah seluruh pola pengasuhan sekaligus.
Moms & Dads bisa mulai dari kebiasaan kecil berikut.
1. Luangkan Waktu untuk Benar-Benar Hadir
Tidak harus berjam-jam.
Coba sediakan beberapa menit tanpa gangguan untuk berbicara, membaca buku, makan bersama, atau bermain dengan anak.
Saat sedang bersama anak, berusahalah benar-benar berada dalam aktivitas tersebut.
2. Dengarkan Anak sampai Selesai Berbicara
Ketika anak sedang bercerita, tahan keinginan untuk langsung memotong, mengoreksi, atau memberikan nasihat.
Dengarkan dulu sampai selesai.
Setelah itu, Moms & Dads bisa bertanya:
“Terus, apa yang terjadi?”
atau:
“Menurut kamu, bagian mana yang paling bikin kesal?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak mengembangkan kemampuan bercerita sekaligus mengekspresikan pikirannya.
3. Kenali Emosi Diri sebelum Bereaksi
Sebelum merespons perilaku anak, coba perhatikan kondisi diri sendiri.
Apakah sedang lelah?
Sedang terburu-buru?
Kesal karena pekerjaan?
Atau memang perilaku anak yang menjadi masalah?
Mengenali sumber emosi membantu Moms & Dads memberikan respons yang lebih proporsional.
Baca Juga: 5 Cara Mengontrol Emosi pada Anak yang Bisa Orang Tua Coba
4. Beri Nama pada Emosi yang Dirasakan Anak
Anak belum selalu mampu menjelaskan perasaannya.
Orang tua bisa membantu dengan memberikan nama pada emosi tersebut.
Misalnya:
“Kamu kelihatannya kecewa karena rencana bermainnya batal.”
“Kamu agak gugup karena besok harus presentasi?”
Cara ini membantu anak mengenali kosakata emosi yang sedang dirasakan.
5. Validasi Perasaan tanpa Selalu Menyetujui Perilaku
Validasi bukan berarti menyetujui semua tindakan anak.
Contohnya:
“Kakak boleh marah karena adik mengambil mainan tanpa izin. Tapi kakak tetap tidak boleh mendorong adik.”
Orang tua mengakui perasaannya sekaligus memberikan batasan terhadap perilakunya.
6. Ajukan Pertanyaan untuk Memahami Masalah
Daripada langsung berasumsi, coba cari tahu apa yang terjadi.
Gunakan pertanyaan terbuka seperti:
“Apa yang terjadi?”
“Bagian mana yang bikin kamu kesal?”
“Menurut kamu, apa yang bisa kita lakukan?”
“Ada yang bisa Mama atau Papa bantu?”
Pertanyaan terbuka memberikan kesempatan kepada anak untuk memproses pengalaman dan menyampaikan sudut pandangnya.
Baca Juga: Apa Itu Time Out pada Anak? Ini Cara Menerapkannya dengan Tepat
7. Berikan Respons setelah Emosi Lebih Tenang
Tidak semua masalah harus diselesaikan saat itu juga.
Jika orang tua atau anak masih sangat emosional, beri waktu sebentar untuk menenangkan diri.
Setelah situasi lebih tenang, baru bicarakan perilaku, konsekuensi, atau solusi yang perlu dilakukan.
Cara ini juga menunjukkan kepada anak bahwa keputusan tidak harus dibuat ketika sedang marah.
8. Mengatur Ekspektasi pada Anak
Setiap anak memiliki usia, kemampuan, temperamen, dan tahap perkembangan yang berbeda.
Ekspektasi perlu disesuaikan dengan kondisi tersebut.
Anak usia 4 tahun, misalnya, belum tentu mampu duduk diam selama satu jam seperti anak yang lebih besar.
Begitu juga saat belajar. Ada anak yang cepat memahami materi tertentu, sementara anak lain membutuhkan lebih banyak latihan.
Daripada terus membandingkan anak dengan teman atau saudaranya, perhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu.
Apakah sekarang anak lebih mampu menyampaikan perasaan? Lebih berani bertanya? Lebih mandiri? Atau lebih tenang ketika menghadapi masalah?
Perubahan kecil tersebut juga merupakan bagian dari perkembangan.
Baca Juga: Tiger Parenting: Kenali Ciri, Dampak dan 8 Cara Menyikapinya
Moms & Dads nggak perlu jadi orang tua yang selalu sabar untuk disebut mindful.
Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran sebelum bereaksi, dan ruang aman bagi anak untuk terus mencoba, termasuk memberikan stimulasi bahasa Inggris demi masa depan anak yang cemerlang.

Di les bahasa Inggris Sparks English, kegiatan belajar menerapkan play-based learning, di mana kosakata dan bunyi bahasa baru diserap lewat permainan seru, bukan lewat hafalan yang bikin anak cepat bosan.
Kelasnya sudah menerapkan full English environment sehingga anak terbiasa speaking dan listening dalam bahasa Inggris dalam kesehariannya.
Bisa juga bebas pilih jadwal kelas tersedia dan ada bonus free extra sessions bareng internasional teacher yang bikin ruang belajar anak makin variatif.
Fasilitas selengkap ini nggak mungkin bisa didapatkan di tempat lain, apalagi harganya ekonomis ramah banget di kantong!
Yuk daftar free trial class sekarang atau booking instan cuma butuh 1 menit!


