Si kecil sudah menyepakati aturan bahkan sudah diingatkan berkali-kali, tetapi masih saja melanggarnya.
Di sinilah time out bisa dilakukan sebagai salah satu metode disiplin yang layak dicoba.
Time out adalah metode disiplin yang dilakukan dengan memberi jeda pada anak.
Time out perlu diterapkan mengikuti langkah-langkahnya agar nggak keliru dan esensinya tetap dapat terasa oleh anak.
Yuk kita pelajari apa itu timeout dan cara menerapkannya dalam artikel ini!
- Apa Itu Time Out?
- Tujuan Metode Time Out bagi Anak
- Bagaimana Cara Kerja Time Out pada Anak?
- Kapan Time Out Dapat Digunakan?
- Usia Berapa Anak Bisa Diberikan Time Out?
- Bagaimana Cara Menerapkan Time Out yang Tepat?
Apa Itu Time Out?
Gambaran sederhana apa itu timeout adalah satu metode disiplin yang memberi anak waktu sejenak untuk berhenti dari aktivitas setelah melakukan perilaku yang tidak sesuai aturan.
Misalnya, anak terus memukuli kakaknya di kamar, kemudian anak tersebut diberi time out dengan duduk di kursi kecil di sudut ruangan menghadap ke arah tembok.
Metode time out pada anak diterapkan di area yang minim distraksi.
Orang tua juga sebaiknya tidak mengajak anak bicara selama periode timeout tersebut karena anak akan menganggapnya sebagai bentuk perhatian.
Karena bertujuan untuk mengajarkan batasan, penerapannya perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak memahami aturan agar time out tidak terasa sekadar hukuman.
AAP memasukkan time out sebagai salah satu pendekatan disiplin yang dapat digunakan orang tua untuk merespons perilaku tertentu pada anak
Tujuan Metode Time Out bagi Anak
Tujuan metode time out adalah membantu anak memahami bahwa perilaku tertentu dapat membuatnya kehilangan akses sementara terhadap aktivitas atau perhatian.
Time out bukan ditujukan untuk membuat anak merasa malu atau takut sehingga orang tua tetap perlu menghindari bentakan dan hukuman fisik saat menerapkannya.
Tujuan lainnya dari timeout adalah melatih anak mengelola emosinya sendiri.
Metode ini juga memberi orang tua kesempatan untuk ikut tenang, karena emosi yang sudah mereda membuat respons berikutnya jadi lebih terukur.
Bagaimana Cara Kerja Time Out pada Anak?
Time out dilakukan dengan menghentikan sementara aktivitas anak setelah ia melakukan perilaku yang melanggar aturan.
Anak akan diminta duduk diam di tempat yang tenang tanpa mendapat akses terhadap hal yang menyenangkan sampai waktu time out selesai.
1. Memberi Jeda dari Situasi yang Memicu Perilaku
Anak dipindahkan dari situasi di mana dia melanggar aturan agar perilaku tersebut dapat dihentikan.
Jeda ini membuat anak tidak terus terlibat dalam situasi tersebut.
2. Mengurangi Perhatian atau Penguatan terhadap Perilaku Tertentu
Selama time out, anak tidak memperoleh perhatian atau akses ke aktivitas yang menyenangkan.
Dengan begitu, anak tidak mendapatkan keuntungan berupa perhatian atau kesempatan melanjutkan aktivitas setelah melakukan perilaku yang tidak sesuai aturan.
3. Memberi Kesempatan Anak untuk Menenangkan Diri
Time out dapat memberi anak waktu untuk menenangkan diri selama berhenti dari situasi yang sedang berlangsung.
Setelah emosinya lebih terkendali, anak dapat kembali ke aktivitas tanpa melanjutkan perilaku yang sebelumnya membuatnya mendapat time out.
4. Membantu Anak Belajar Mengikuti Batasan
Time out membantu anak memahami bahwa perilaku tertentu memiliki konsekuensi ketika ia melanggar aturan yang sudah ditetapkan.
Dengan konsekuensi yang diberikan secara konsisten, anak dapat belajar mengenali perilaku yang tidak diperbolehkan dan menyesuaikan perilakunya saat berada dalam situasi yang sama.
Kapan Time Out Dapat Digunakan?
Time out dapat digunakan ketika anak melakukan perilaku pelanggaran dan tetap melakukannya setelah mendapatkan arahan.
1. Saat Anak Melanggar Aturan yang Sudah Disepakati
Time out dapat diberikan ketika anak melanggar aturan yang sebelumnya sudah dijelaskan dan disepakati.
Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa aturan yang dibuat memiliki konsekuensi ketika dilanggar.
2. Saat Anak Terus Melakukan Perilaku yang Sudah Diperingatkan
Jika anak tetap melakukan perilaku yang dilarang meski sudah diberi peringatan, orang tua juga dapat menerapkan konsekuensi berupa time out.
Peringatan tersebut membantu anak mengetahui bahwa perilakunya sudah melebihi batas dan perlu segera dihentikan.
3. Saat Perilaku Anak Mengganggu atau Membahayakan Orang Lain
Time out dapat digunakan ketika anak melakukan perilaku yang mengganggu atau membahayakan orang lain, seperti berteriak terus-menerus saat orang lain sedang beraktivitas.
Konsekuensi ini dapat membantu anak memahami bahwa perilaku yang mengganggu orang lain tidak dapat terus dilakukan.
4. Saat Anak Memukul, Menendang, atau Menyakiti Orang Lain
Memukul, menendang, atau menyakiti orang lain merupakan contoh perilaku yang dapat diberi time out.
Dalam kondisi ini, orang tua dapat segera memisahkan anak dari situasi tersebut untuk mencegah perilaku menyakiti orang lain berlanjut sebelum menerapkan time out.
Usia Berapa Anak Bisa Diberikan Time Out?
Time out umumnya mulai dapat diterapkan pada anak sekitar usia 2 tahun, tepatnya ketika anak sudah mulai mampu memahami instruksi dan aturan yang diberikan.
Untuk menentukan durasinya, AAP menyarankan patokan sekitar satu menit untuk setiap tahun usia anak, sehingga anak usia 2 tahun dapat diberikan time out selama kurang lebih 2 menit.
Seiring bertambahnya usia, orang tua perlu menyesuaikan penerapan time out dengan kemampuan anak dalam memahami aturan dan mengikuti arahan, bukan hanya berdasarkan usia.
Anak bisa memahami aturan dan arahan jika kemampuan bahasanya sudah berkembang, inilah yang membuat stimulasi bahasa sejak dini jadi penting banget.
Tak hanya stimulasi bahasa yang digunakan orang tuanya, tapi sebaiknya mulai stimulasi si kecil dengan bahasa yang juga sangat dibutuhkan di masa depan seperti bahasa Inggris.
Apalagi di usia ini kemampuan otak anak dalam menyerap bunyi dan struktur bahasa baru sedang 90% berkembang paling optimal.
Banyak lho, orang tua yang menyesal karena nggak mengenalkan bahasa Inggris sedini mungkin, karena kalau mengenalkannya saat anak sudah jauh lebih besar perlu effort dan waktu yang lebih besar juga untuk diserap oleh otak.
Padahal bahasa Inggris adalah investasi skill masa depan yang nggak akan sia-sia, karena bisa membuka peluang untuk anak masuk sekolah favorit, berprestasi hingga level internasional, hingga jadi modal karier cemerlang di masa depannya.
Jangan biarkan si kecil kehilangan kesempatan belajar skill yang seharusnya bisa dikuasai sejak dini.

Sparks English siap bantu Moms & Dads stimulasi bahasa Inggris anak usia 3–18 tahun secara konsisten sesuai proficiency level dengan CEFR based curriculum.
Metodenya fun & interactive mulai dari storytelling, game edukatif, bahkan group discussion dan mini project agar anak belajar tanpa merasa dibebani.
Di kelas semi-private yang lebih personal, si kecil didampingi native teacher dan Cambridge TKT certified teacher, yang sekaligus bantu membentuk pronunciation anak lebih natural.
Hasilnya sudah dibuktikan oleh lebih dari 25.000 students yang jadi percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan, biayanya mulai Rp70 ribuan per kelas aja!
Kalau ada les bahasa Inggris anak dengan fasilitas premium tapi biayanya tetap irit demi persiapkan masa depan anak yang lebih cerah, yakin nggak mau coba dulu?
Coba kelasnya GRATIS di free trial class sekarang dan jangan lewatkan diskonnya karena kuota terbatas!
Bagaimana Cara Menerapkan Time Out yang Tepat?
Berikut ini langkah-langkah penerapan timeout yang tepat, mulai dari menetapkan aturan hingga mengarahkan anak kembali pada perilaku yang tepat.
1. Tetapkan Aturan Sebelum Anak Melakukan Pelanggaran
Beri tahu anak terlebih dahulu aturan yang berlaku dan perilaku apa yang tidak diperbolehkan agar ia tahu batasan yang perlu diikuti.
Aturan sebaiknya disampaikan sebelum terjadi masalah sehingga anak tidak merasa time out diberikan secara tiba-tiba ketika ia melakukan pelanggaran.
2. Berikan Peringatan Singkat
Saat anak mulai melakukan perilaku yang melanggar aturan, berikan satu peringatan agar ia memiliki kesempatan untuk menghentikannya sebelum time out diberikan.
Peringatan juga membantu anak menghubungkan perilakunya dengan konsekuensi yang akan diberikan jika ia tetap melanggar aturan.
3. Jelaskan Alasan Memberikan Time Out
Jika anak tetap melakukan perilaku tersebut, jelaskan secara singkat alasan ia perlu menjalani time out tanpa memberikan ceramah panjang.
Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Kamu memukul adik, jadi sekarang waktunya time out,” agar anak mengetahui perilaku apa yang menjadi alasan diberikannya konsekuensi.
Baca Juga: Parenting VOC Adalah: Arti, Ciri, Dampak, dan Cara Mengubah Pola Asuhnya
4. Pilih Tempat Time Out yang Aman dan Tenang
Pilih tempat yang aman dan minim gangguan agar anak dapat menjalani time out tanpa mendapatkan perhatian atau hiburan dari lingkungan sekitarnya.
Hindari tempat yang dapat membuat anak merasa takut atau dipermalukan, seperti kamar gelap atau area yang menjadi tontonan orang lain.
5. Tentukan Durasi Sesuai Usia Anak
Durasi time out dapat menggunakan patokan sekitar satu menit untuk setiap tahun usia anak, sehingga anak berusia 2 tahun dapat menjalani time out selama kurang lebih 2 menit.
Tidak perlu durasi yang terlalu panjang karena tujuan time out adalah memberi konsekuensi secara singkat sebelum anak kembali ke aktivitasnya.
6. Akhiri Time Out tanpa Mempermalukan Anak
Setelah waktunya selesai, biarkan anak kembali beraktivitas tanpa memberikan julukan atau komentar yang dapat membuatnya merasa dipermalukan.
Fokuskan respons pada perilakunya, bukan pada label terhadap dirinya, agar anak memahami bahwa yang perlu diperbaiki adalah tindakannya.
Baca Juga: Tiger Parenting: Kenali Ciri, Dampak dan 8 Cara Menyikapinya
7. Ajari Anak Akui Kesalahan dan Minta Maaf
Jika perilaku anak berdampak pada orang lain, bantu ia memahami dampaknya dan tunjukkan cara memperbaiki situasi tersebut.
Misalnya, setelah memukul saudaranya, anak dapat diarahkan untuk mengecek keadaan saudaranya dan meminta maaf setelah ia sudah tenang.
8. Arahkan Anak untuk Kembali pada Perilaku yang Tepat
Setelah time out selesai, ingatkan kembali perilaku yang diharapkan dan berikan apresiasi ketika anak berhasil melakukannya.
Dengan begitu, anak tidak hanya mengetahui perilaku yang perlu dihentikan, tetapi juga mendapat arahan tentang apa yang sebaiknya dilakukan setelah time out.
Baca Juga: 10 Kebiasaan Buruk Anak yang Perlu Diperhatikan dan Solusinya
Tujuan orang tua menerapkan disiplin pada anak sebenarnya tak lain untuk menyiapkan anak menghadapi dunia di luar rumah dengan lebih bermoral dan percaya diri.
Ada hal lain yang juga wajib disiapkan sejak usia dini sebagai investasi skill untuk masa depan anak, yaitu bahasa Inggris.
Bahasa Inggris adalah skill yang akan terus terpakai di setiap fase kehidupan anak, mulai dari sekolah, bangku kuliah, hingga menjadi modal di dunia kerja untuk bisa bersaing.

Sparks English sebagai les bahasa Inggris anak, hadir dengan berbagai program sesuai usia agar si kecil bisa mengoptimalkan skill bahasa Inggris sesuai tahap tumbuh kembangnya.
Meski belajar dalam full English environment, akan ada placement test di awal yang memastikan si kecil ditempatkan di level yang tepat sesuai kemampuannya.
Setiap students dapat bonus free extra sessions bareng internasional teacher, student kit, hingga bonus konsultasi dengan profesional teacher gratis untuk menunjang progres belajar anak.
Fasilitas selengkap ini nggak mungkin bisa didapatkan di tempat lain dengan harga yang ekonomis ramah banget di kantong!
Coba dulu lewat free trial class sekarang, bisa lewat live booking instan cuma 1 menit!


