Si kecil yang biasanya manis tiba-tiba sering bilang “nggak mau”?
Saat dibantu, ia justru marah karena ingin melakukan semuanya sendiri?
Tenang dulu, Moms & Dads!
Perubahan tersebut belum tentu menandakan bahwa anak menjadi nakal.
Bisa jadi, si kecil sedang memasuki fase terrible two, yaitu tahap ketika keinginan untuk mandiri berkembang lebih cepat daripada kemampuannya mengendalikan emosi.
Yuk, pahami fase ini di dalam artikel berikut!
Apa Itu Fase Terrible Two?
Terrible two adalah fase perkembangan anak yang biasanya terjadi sekitar usia 18 bulan hingga 3 tahun, ketika anak mulai menunjukkan keinginan kuat untuk mandiri tetapi kemampuan mengelola emosi dan berkomunikasi masih berkembang.
Meskipun dinamakan “two”, fase ini tidak selalu terjadi tepat saat anak berusia 24 bulan.
Fase ini bisa dimulai lebih awal sejak usia 18 bulan dan berlanjut hingga anak berusia 3 tahun.
Pada periode ini, si kecil mulai menyadari bahwa dirinya adalah individu yang terpisah dari orang tuanya, sehingga ia ingin mengekspresikan kehendak, pilihan, dan emosinya sendiri.
Akibatnya, anak mungkin:
- Sering berkata “tidak”
- Menangis ketika keinginannya tidak terpenuhi
- Marah saat mengalami perubahan kecil
- Menolak bantuan orang tua
- Ingin melakukan sesuatu sendiri
Perilaku tersebut sering terlihat menantang bagi orang tua, tetapi sebenarnya merupakan bagian dari proses anak belajar menjadi individu yang lebih mandiri.
Mengapa Fase Terrible Two Terjadi?
Fase terrible two terjadi karena anak mengalami banyak perubahan besar dalam waktu yang relatif singkat.
Pada usia sekitar dua tahun, perkembangan otak, kemampuan bahasa, kemampuan sosial, dan rasa ingin tahu anak berkembang dengan sangat cepat.
Menurut penelitian dalam bidang perkembangan anak, masa toddler merupakan periode ketika anak mulai mengembangkan kemampuan self-regulation atau kemampuan mengatur emosi dan perilaku.
Namun, kemampuan ini masih membutuhkan dukungan dari orang dewasa karena bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri masih dalam tahap perkembangan.
Pada tahap ini, anak sering memiliki keinginan yang lebih besar dibandingkan kemampuan mereka untuk mengekspresikannya.
Baca Juga: Perkembangan Intelektual Anak Usia 0-12 Tahun yang Wajib Diketahui
Apa yang Terjadi pada Anak Saat Fase Terrible Two?
Untuk memahami alasan di balik tingkah laku si kecil, mari kita cermati 5 faktor utama yang melatarbelakangi fase ini:
1. Perkembangan Otak Sedang Sangat Pesat
Otak balita berkembang sangat masif.
Bagian otak yang mengontrol emosi dasar, impresi, dan dorongan impulsif (sistem limbik, khususnya amigdala) berkembang jauh lebih cepat dibandingkan prefrontal cortex, bagian otak depan yang bertanggung jawab atas logika, penalaran, problem solving, dan pengendalian diri.
2. Anak Mulai Ingin Mandiri
Di usia ini, anak mulai menyadari kemampuannya berjalan, berlari, dan memegang benda.
Hal ini memicu dorongan kuat untuk melakukan segala hal sendiri (otonomi), seperti memilih baju, makan sendiri, atau memutuskan arah berjalan.
3. Kemampuan Mengelola Emosi Belum Matang
Karena prefrontal cortex baru berkembang sempurna pada usia awal 20-an, anak usia 2 tahun belum memiliki kapasitas biologis untuk menenangkan diri mereka sendiri ketika merasa frustrasi, lelah, atau lapar.
4. Kemampuan Bahasa Masih Berkembang
Anak sebenarnya memiliki banyak ide, keinginan, dan perasaan yang ingin disampaikan.
Namun, kosa kata dan struktur bahasa mereka masih sangat terbatas. Ketidakmampuan menyampaikan keinginan secara verbal memicu rasa frustrasi yang mendalam pada anak.
5. Anak Sedang Belajar Mengenali Batasan
Melalui respons dan tindakan spontan, balita sedang menguji batas-batas lingkungan sosialnya.
Mereka ingin melihat apa yang terjadi jika mereka menolak, menjatuhkan benda, atau menangis keras.
Masa toddler adalah salah satu fase paling krusial dalam tumbuh kembang anak, termasuk untuk membangun kemampuan bahasa Inggris.
Di usia ini, otak anak berada di puncak kemampuannya menyerap bahasa baru secara natural, jauh lebih mudah dan cepat dibanding saat dewasa.
Banyak orang dewasa menyesal karena melewatkan fase ini dan baru serius belajar bahasa Inggris setelah besar, saat prosesnya jauh lebih berat dan memakan waktu jauh lebih lama.
Jangan sampai si kecil merasakan penyesalan yang sama di kemudian hari!

Di sinilah Sparks English hadir melalui program Little Sparks.
Program ini dirancang untuk anak balita dengan pembelajaran berbasis kurikulum internasional CEFR.
Melalui aktivitas bermain, storytelling, latihan speaking, dan kegiatan interaktif, anak dapat mengenal bahasa Inggris tanpa merasa sedang dibebani pelajaran.
Apalagi, si kecil akan belajar dalam kelas semi-private dengan bimbingan langsung native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT dengan biaya mulai Rp70 ribuan aja!
Tak heran, lebih dari 25.000 students jadi lebih jago bahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English!
Yuk ajak si kecil coba free trial class sekarang dan klaim diskon selagi promonya masih berlaku!
Ciri-Ciri Fase Terrible Two
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, tetapi beberapa tanda berikut sering muncul saat anak memasuki fase terrible two.
1. Sering Tantrum
Tantrum merupakan salah satu ciri paling umum dari fase terrible two.
Anak mungkin menangis, berteriak, menjatuhkan diri, atau menolak melakukan sesuatu ketika merasa kecewa.
Biasanya tantrum terjadi karena:
- Keinginan anak tidak terpenuhi
- Anak merasa lelah atau lapar
- Anak sulit mengungkapkan perasaan
Yang penting, orang tua perlu melihat tantrum sebagai kesempatan untuk mengajarkan regulasi emosi, bukan hanya sebagai perilaku yang harus dihentikan.
Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Anak Tantrum Tanpa Panik dan Marah-Marah
2. Mudah Mengatakan “Tidak”
Anak usia dua tahun sering menggunakan kata “tidak” karena mereka sedang belajar memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri.
Bagi anak, mengatakan “tidak” adalah salah satu cara menunjukkan:
“Aku punya pilihan.”
Orang tua dapat mengurangi konflik dengan memberikan pilihan sederhana.
Contoh:
“Adik mau pakai sepatu merah atau biru?”
3. Ingin Melakukan Segalanya Sendiri
Anak mungkin mulai ingin:
- Makan sendiri
- Memilih pakaian sendiri
- Mengambil barang sendiri
Walaupun terkadang membutuhkan waktu lebih lama, memberikan kesempatan mencoba dapat membantu perkembangan kemandirian anak.
4. Sulit Dialihkan Saat Keinginannya Ditolak
Anak belum memiliki kemampuan yang matang untuk menerima penolakan.
Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, mereka dapat merasa sangat kecewa.
Orang tua dapat membantu dengan:
- Menjelaskan alasan sederhana
- Memberikan pilihan alternatif
- Tetap konsisten dengan aturan
5. Suasana Hati Cepat Berubah
Pada fase terrible two, perubahan mood dapat terjadi dengan cepat.
Anak bisa tertawa beberapa menit sebelumnya lalu menangis karena hal kecil.
Hal ini terjadi karena sistem regulasi emosi mereka masih berkembang.
Cara Menghadapi Fase Terrible Two
Menghadapi anak di fase ini membutuhkan kesabaran ekstra dan strategi pengasuhan yang tepat.
Berikut langkah-langkah practical yang bisa Moms & Dads terapkan:
1. Tetap Tenang Saat Anak Tantrum
Respons orang tua sangat memengaruhi bagaimana anak belajar mengelola emosi.
Ketika anak tantrum, cobalah:
- Berbicara dengan suara tenang
- Menunggu anak lebih stabil
- Menghindari reaksi berlebihan
Anak belajar regulasi emosi melalui contoh yang diberikan orang dewasa di sekitarnya.
2. Validasi Perasaan Anak
Validasi bukan berarti selalu mengikuti keinginan anak.
Validasi berarti membantu anak memahami bahwa perasaannya diterima.
Contoh:
“Adek sedih ya karena tidak boleh bermain lebih lama.”
Kalimat sederhana seperti ini membantu anak belajar mengenali emosinya.
3. Berikan Pilihan Sederhana
Memberikan pilihan membantu anak merasa memiliki kontrol.
Contoh:
“Adik mau mandi sekarang atau lima menit lagi?”
Pilihan sederhana dapat mengurangi konflik karena anak merasa dilibatkan.
4. Terapkan Aturan yang Konsisten
Anak membutuhkan batasan yang jelas.
Jika aturan berubah-ubah, anak akan kesulitan memahami ekspektasi.
Gunakan aturan yang:
- Sederhana
- Konsisten
- Sesuai usia anak
5. Hindari Membentak atau Menghukum Berlebihan
Membentak mungkin menghentikan perilaku sementara, tetapi tidak membantu anak memahami cara mengelola emosi.
Lebih baik fokus pada:
- Mengajarkan perilaku yang tepat
- Memberikan arahan positif
- Membantu anak memahami konsekuensi
6. Ajarkan Anak Mengungkapkan Perasaan
Bantu anak mengenali kosakata emosi.
Contohnya:
“Kamu marah karena mainannya diambil?”
“Kamu sedih karena waktunya selesai?”
Semakin banyak kosakata yang dimiliki anak, semakin mudah mereka berkomunikasi.
7. Berikan Pujian untuk Perilaku Positif
Anak perlu mengetahui ketika mereka melakukan sesuatu dengan baik.
Contoh:
“Wah, kamu sudah mau berbagi mainan. Bagus sekali!”
Pujian membantu memperkuat perilaku positif.
8. Bangun Rutinitas Harian
Rutinitas membantu anak merasa aman karena mereka mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya.
Rutinitas sederhana seperti:
- Waktu makan
- Waktu bermain
- Waktu tidur
- Waktu belajar
Baca Juga: Apa Itu Fase Fournado? Ini Ciri dan 8 Cara Menghadapinya!
Terrible two adalah fase normal ketika anak mulai belajar mandiri, mengenal batasan, dan memahami emosinya sendiri.
Tantrum dan penolakan yang terjadi bukan tanda anak bermasalah, melainkan tanda ia sedang berkembang.
Kemampuan bahasa Inggris yang dibangun sejak dini adalah salah satu investasi terbaik yang bisa Moms & Dads berikan untuk masa depan si kecil.
Bukan hanya untuk nilai di sekolah, tapi untuk kepercayaan diri, peluang beasiswa, hingga karir tanpa batas di masa depannya.
Moms & Dads bisa daftarkan anak di kursus bahasa Inggris Sparks English agar anak mahir bahasa Inggris sejak dini melalui pengalaman belajar yang aktif dan menyenangkan.
Dengan kurikulum berbasis CEFR, metode yang dekat dengan dunia anak, serta pendampingan professional teacher dan native teacher, setiap anak bisa belajar tanpa merasa tertekan.
Jangan biarkan masa emas perkembangan anak berlalu begitu saja!
Yuk daftar free trial class sekarang dan ambil promonya agar dapat harga lebih hemat!


