Pola Asuh Permisif: Ciri, Contoh, dan Dampaknya bagi Anak

26 May 2026
pola asuh permisif adalah

Banyak orang tua ingin menjadi teman terbaik bagi anak.

Keinginan ini tentu baik, karena anak memang membutuhkan kehadiran dan hubungan hangat dengan orang tua.

Namun, jika orang tua malah jadi terlalu takut memberi batasan, hubungan yang awalnya ingin dibangun seperti teman malah berubah menjadi pola asuh permisif.

Pola asuh permisif adalah pola pengasuhan yang cenderung memberi kebebasan pada anak, tetapi kurang disertai aturan dan konsekuensi. 

Pola asuh seperti ini sering kali tidak disadari karena terasa seperti bentuk kasih sayang.

Di artikel ini, kita akan bahas tuntas pola asuh permisif, mulai dari ciri-ciri, contoh, penyebab, dampak, hingga cara mengatasinya.

 

 

Apa Itu Pola Asuh Permisif?

Pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan yang hangat dan responsif, tetapi minim aturan, batasan, serta konsekuensi yang konsisten.

Dalam praktiknya, orang tua cenderung banyak membolehkan keinginan anak agar tidak rewel, atau karena kondisi orang tua yang terlalu lelah.

Pola ini sering tidak disadari karena terlihat seperti bentuk kasih sayang. 

Padahal, anak tetap membutuhkan batasan agar belajar disiplin, tanggung jawab, dan regulasi emosi.

 

Ciri-ciri Pola Asuh Permisif

Pola asuh permisif atau permissive parenting sering terlihat seperti bentuk kasih sayang. 

Padahal, keduanya berbeda secara prinsip.

Agar lebih mudah mengenalinya, berikut beberapa ciri pola asuh permisif yang bisa Moms & Dads perhatikan dan waspadai.

 

1. Anak Dibiarkan Bebas Tanpa Batasan

Menurut KBBI, permisif artinya bersifat serba membolehkan atau suka mengizinkan.

Ini senada dengan salah satu ciri yang paling jelas terlihat dari pola asuh permisif, yaitu memberi kebebasan luas pada anak.

Contohnya, anak diperbolehkan main gadget kapan saja, tidur larut malam, atau menolak makan, dan tidak ada arahan yang jelas dari orang tua.

 

2. Orang Tua Jarang Memberikan Aturan

Dalam pola asuh permisif, aturan biasanya tidak dibuat secara jelas. 

Kalaupun ada, penerapannya sering berubah-ubah.

Hari ini anak tidak boleh tidur larut, tapi besok diperbolehkan karena orang tua sedang lelah menghadapi rengekan anak.

Akibatnya, anak mengambil kesimpulan bahwa aturan bisa dinegosiasi dengan rengekan, sehingga ia akan mengulangi pola itu ketika menginginkan sesuatu.

 

3. Anak Sulit Mengikuti Aturan

Karena aturan jarang ditegakkan di rumah, anak jadi kesulitan untuk mematuhi aturan di lingkungan lain.

Saat berada di sekolah, misalnya, anak jadi sulit mematuhi aturan untuk mendengarkan instruksi guru, menyelesaikan tugas, atau menjaga perilaku saat bermain dengan teman.

 

4. Orang Tua Cenderung Menghindari Konflik

Orang tua permisif sering kali tidak nyaman melihat anak menangis, marah, atau kecewa. 

Akhirnya, mereka memilih menuruti keinginan anak daripada menghadapi konflik.

Padahal, konflik kecil dalam parenting tidak selalu buruk. 

Jika dihadapi dengan tenang, momen ini bisa jadi kesempatan untuk mengajarkan anak regulasi emosi.

 

5. Anak Terbiasa Mendapatkan Apa yang Diinginkan

Pola asuh permisif cenderung membuat anak terbiasa mendapatkan keinginannya dengan mudah.

Jika hal ini terjadi terus-menerus, anak mungkin sulit menerima penolakan. 

Mereka bisa merasa kecewa berlebihan saat permintaannya tidak dipenuhi.

Padahal, dalam jangka panjang, anak harus belajar bahwa tidak semua hal bisa didapatkan saat itu juga.

 

Bagaimana Contoh Pola Asuh Permisif?

Pola asuh permisif bisa muncul dalam aktivitas pengasuhan sehari-hari. 

Berikut beberapa contoh penerapannya:

  • Anak meminta bermain gadget lebih lama, lalu orang tua mengizinkan meskipun sebelumnya sudah ada kesepakatan batas waktu.
  • Anak menolak membereskan mainan, tetapi orang tua malah membereskannya sendiri tanpa memberi arahan pada anak.
  • Anak berteriak dan berbicara kasar, tetapi orang tua memakluminya karena menganggapnya “masih kecil”.
  • Anak tidak mau mengerjakan PR, lalu orang tua membiarkan karena tidak ingin anak menangis.
  • Anak selalu diberi pilihan tanpa batas, bahkan untuk hal yang sangat penting untuk diarahkan orang tua, seperti jam tidur atau aturan yang berkaitan dengan keselamatan.

Contoh-contoh di atas terlihat sederhana, tetapi jika itu terasa familiar, Moms & Dads bisa mulai waspada. 

Bisa jadi, kebiasaan tersebut sudah mengarah pada pola asuh permisif dan perlu diperbaiki secara perlahan.

 

Penyebab Orang Tua Menerapkan Pola Asuh Permisif

Permisif adalah sikap yang cenderung membolehkan atau memberi kelonggaran.

Dalam pengasuhan, sikap ini tak selalu muncul karena orang tua sengaja ingin memanjakan anak.

Ada banyak alasan emosional dan situasional yang bisa membuat orang tua menjadi terlalu longgar dalam memberi batasan. 

Beberapa di antaranya seperti:

  • Ingin menjadi teman anak, sehingga orang tua takut bila terlalu tegas anak akan menjaga jarak.
  • Merasa tidak tega melihat anak menangis, marah, atau kecewa.
  • Takut anak merasa tidak disayang ketika keinginannya ditolak.
  • Orang tua terlalu lelah setelah seharian bekerja, sehingga mencari cara paling cepat agar anak tidak rewel.
  • Memiliki trauma pengasuhan saat kecil dan tidak mau itu terulang kepada anaknya.
  • Merasa bersalah karena tidak memiliki banyak waktu bersama anak, lalu menebusnya dengan menuruti semua permintaan anak.
  • Ayah dan ibu kurang kompak dalam menerapkan aturan.

 

Baca Juga: Gentle Parenting Bukan Memanjakan Anak, Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua

 

Dampak Pola Asuh Permisif pada Anak

Dampak pola asuh permisif tidak selalu terlihat sejak awal. 

Namun, jika terus terjadi, anak bisa kesulitan belajar, mengontrol emosi, dan memahami aturan sosial.

 

1. Rendahnya Prestasi Akademik

Anak yang tidak dibiasakan dengan aturan dalam keseharian bisa lebih sulit membangun kebiasaan belajar.

Misalnya, anak terbiasa bebas memilih kapan main gadget, kapan nonton TV, dan kapan belajar. 

Dengan kebiasaan seperti ini, anak tidak memiliki arahan yang konsisten, sehingga sulit untuk mencapai prestasi akademik yang optimal.

Sebuah studi dalam Children and Youth Services Review tahun 2025 yang melibatkan remaja dan dewasa muda dari 10 negara Eropa Tenggara menemukan bahwa pola asuh otoritatif berkaitan positif dengan hasil akademik, sementara pola asuh permisif memiliki hubungan negatif dengan capaian pendidikan jangka panjang.

 

2. Kesulitan Mengontrol Emosi

Anak perlu belajar bahwa kecewa, marah, atau sedih adalah emosi yang wajar, tetapi tetap harus diekspresikan dengan cara yang tepat.

Jika orang tua selalu menghindari konflik dan langsung memenuhi keinginan anak, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar regulasi emosi.

Akibatnya, anak mungkin lebih mudah tantrum, marah saat ditolak, atau sulit menenangkan diri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.

 

3. Rendahnya Tanggung Jawab

Rasa tanggung jawab perlu dilatih sejak kecil. 

Misalnya, membereskan mainan setelah bermain, menyimpan sepatu pada tempatnya, atau menyelesaikan tugas sebelum menonton.

Jika semua hal selalu dibantu, anak bisa terbiasa mengandalkan orang lain.

Anak mungkin belajar bahwa ia bisa menolak tanggung jawab karena orang tua akan mengambil alih.

 

4. Sulit Mengikuti Aturan Sosial

Kehidupan sosial penuh dengan aturan, seperti aturan antre, aturan berbicara dengan sopan, dan menghormati orang lain.

Jika anak hampir tidak pernah diberi batasan, aturan sosial di luar rumah bisa terasa berat.

Misalnya, saat bermain dengan teman, anak bisa kesulitan berbagi mainan atau marah ketika permainan tidak berjalan sesuai keinginannya.

 

5. Cenderung Egois

Anak yang terlalu sering dituruti bisa melihat bahwa keinginannya adalah hal yang paling utama untuk dipenuhi. 

Akibatnya, ia mungkin lebih sulit memahami bahwa orang lain juga punya keinginan.

Misalnya, tidak mau bergiliran dengan anak lain saat main ayunan di taman. 

Jika dibiarkan, kebiasaan ini berpotensi membuat anak menjadi lebih egois.

 

Cara Mengatasi Pola Asuh Permisif agar Anak Lebih Disiplin

Pola asuh permisif bisa diperbaiki secara bertahap. 

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Yang jelas, semua cara ini perlu dilakukan secara konsisten.

 

1. Mulai Menerapkan Aturan yang Jelas

Aturan membuat anak memahami mana perilaku yang boleh dilakukan, mana yang perlu dibatasi, dan selalu ada konsekuensi bila aturan dilanggar.

Mulailah dari aturan sederhana seperti durasi penggunaan gadget, kapan harus tidur, dan kapan harus belajar.

Agar anak mudah mengikuti, gunakan kalimat yang singkat dan lugas, misalnya, “Mainan harus dibereskan sebelum tidur.”

Hindari aturan yang terlalu bertele-tele karena akan membuat anak bingung menangkap maksud dan apa yang harus dilakukannya.

 

2. Berani Mengatakan Tidak pada Anak

Orang tua perlu memahami bahwa mengatakan “tidak” pada anak bukan berarti tidak sayang.

Justru, anak belajar bahwa tidak semua hal bisa dan harus terpenuhi. 

Yang penting, cara menyampaikannya tetap tenang agar anak memahami batasan tanpa merasa dipermalukan.

Contohnya, ketika anak meminta camilan manis sebelum makan, orang tua bisa berkata, “Belum bisa kalau sekarang. Kita harus makan dulu, nanti setelah makan baru boleh makan camilan manis.”

 

3. Memberikan Konsekuensi yang Tepat dan Konsisten

Konsekuensi berbeda dengan hukuman. 

Konsekuensi bertujuan membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya.

Misalnya, jika anak tetap bermain gadget melewati batas waktu yang disepakati, jatah waktu bermain gadget keesokan harinya bisa dikurangi. 

Dengan begitu, anak belajar pentingnya mengikuti kesepakatan.

Kuncinya adalah konsistensi. 

Aturan harus diterapkan hari ini, besok, dan seterusnya agar anak tidak menjadi bingung.

 

4. Menyeimbangkan Kasih Sayang dan Disiplin

Menjadi disiplin tidak harus menjadi keras. 

Anak tetap bisa merasa dicintai meskipun orang tua memberi batasan. 

Bahkan, batasan yang jelas bisa membuat anak merasa lebih aman.

Orang tua bisa tetap memeluk anak saat ia kecewa, tetapi tidak mengubah aturan hanya karena anak merengek atau menangis.

Misalnya saat anak dilarang makan cokelat, “Mama tahu kamu ingin sekali makan cokelat itu. 

Tapi hari ini kamu sudah makan 1, dan baru boleh besok lagi. Sekarang, kita makan buah saja, ya.”

 

5. Membangun Komunikasi yang Sehat dengan Anak

Anak lebih mudah menerima aturan ketika merasa didengar.

Ajak anak bicara dengan bahasa sederhana. 

Jelaskan alasan di balik aturan, bukan hanya memberi perintah.

Misalnya, “Kita perlu tidur lebih awal agar besok badanmu segar dan bisa bermain lagi.”

 

Baca Juga: Bukan Malas! Ini 10 Cara Agar Anak Mau Belajar Tanpa Drama

 

Pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan yang hangat, tetapi kurang memberi aturan dan batasan.

Meski dilakukan karena dasar kasih sayang, pola ini malah bisa membuat anak kesulitan mengontrol emosi, mengikuti aturan, bertanggung jawab, dan menyesuaikan diri di lingkungan sosial.

Namun, parenting adalah proses panjang yang terus berjalan. 

Kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam perjalanannya adalah wajar, selama ada kemauan untuk memperbaikinya.

Moms & Dads bisa memulainya dengan langkah kecil seperti memberi aturan sederhana, konsisten memberi konsekuensi, dan tetap menunjukkan kasih sayang saat sedang menerapkannya.

 

Selain membangun kebiasaan positif di rumah, Moms & Dads juga bisa mencari kegiatan positif yang mendukung anak terbiasa mengikuti instruksi, menunggu giliran, dan menyelesaikan aktivitas.

Salah satu contohnya dengan mengikutkan anak ke les bahasa Inggris Sparks English!

Very New Banner SEO Sparks English 2026 (1)

Di Sparks English, kelasnya dirancang semi-private agar teacher bisa memperhatikan perkembangan tiap anak secara personal.

Pembelajaran di Sparks English diberikan lewat aktivitas seru dan interaktif seperti games, role play, storytelling, group discussion, dan banyak lagi.

Lebih dari 25.000 parents sudah membuktikan metode belajar Sparks English yang efektif, sekarang giliran si Kecil!

Coba dulu free trial class, dan ambil promonya sebelum berakhir!

Author:

Topik:

Share article: