Apa Itu Oldest Child Syndrome? Ini Pengaruhnya pada Anak!

4 November 2026
oldest child syndrome

Anak pertama sering kali disuruh untuk jaga adik, berkali-kali diminta ngalah, dan dituntut jadi contoh, padahal dirinya sendiri masih anak-anak.

Peran ini memang bisa membentuk anak sulung jadi sosok mandiri dan bisa diandalkan, tapi di sisi lain, ia juga jadi perfeksionis dan sungkan minta tolong.

Nah, sifat seperti ini terkenal dengan sebutan oldest child syndrome.

Yuk, kita kenali lebih jauh gimana ciri-ciri, penyebab, dampak, sampai cara menghadapi oldest child syndrome lewat artikel berikut!

 

 

Apa Itu Oldest Child Syndrome?

Oldest child syndrome adalah istilah populer untuk menggambarkan sifat-sifat yang sering terlihat pada anak sulung.

Sifat tersebut seperti selalu merasa bertanggung jawab dan bisa diandalkan, enggan meminta bantuan, perfeksionis, hingga memendam rasa cemas demi terlihat baik-baik saja.

Gagasan ini pertama kali muncul dari psikolog Alfred Adler yang menyebutkan bahwa hidup anak sulung berubah saat adiknya lahir, karena perhatian orang tua mulai terbagi dan tuntutan untuk menjadi contoh yang mandiri makin besar.

Perlu diingat, istilah oldest child syndrome ini bukanlah diagnosis medis, dan urutan kelahiran nggak serta merta bisa menentukan kepribadian seseorang.

 

Apa Saja Ciri-Ciri Oldest Child Syndrome?

Untuk mengetahui apakah seorang anak sulung mengalami oldest child syndrome atau tidak, Moms & Dads bisa melihat berdasarkan ciri-ciri berikut ini:

 

1. Cenderung Mandiri dan Bertanggung Jawab

Anak sulung terbiasa mengurus banyak hal sendiri sejak kecil.

Dari kebiasaan itu, mereka tumbuh menjadi orang yang bisa diandalkan dan tahu cara mengambil tanggung jawab.

 

2. Memiliki Standar Tinggi dan Cenderung Perfeksionis

Keinginan untuk melakukan segala sesuatu dengan hasil terbaik membuat anak sulung menetapkan standar yang sangat tinggi untuk diri mereka.

Mereka cenderung perfeksionis dan tidak ingin ada kesalahan dalam tugas yang dikerjakan.

 

3. Sering Merasa Harus Menjadi Contoh bagi Adik

Sejak punya adik, sadar atau enggak, anak sulung sering diminta untuk menjadi panutan adiknya.

Hal ini membuat mereka merasa harus selalu bersikap benar agar bisa ditiru oleh adik-adiknya.

 

4. Merasa Harus Selalu Kuat dan Mampu

Karena terbiasa diandalkan, anak sulung merasa tidak boleh terlihat lemah di depan orang lain.

Akibatnya, mereka memilih memendam masalah sendiri dan gengsi untuk meminta bantuan.

 

5. Mudah Merasa Bersalah saat Melakukan Kesalahan

Tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik membuat anak sulung sangat takut berbuat salah.

Saat ada hal yang meleset, bahkan sedikit saja, mereka bisa langsung menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.

 

6. Merasa Tertekan oleh Ekspektasi Keluarga

Harapan besar dari keluarga untuk sukses sering kali menjadi beban pikiran yang berat bagi anak sulung.

Rasa takut mengecewakan orang tua seperti inilah yang sering membuat anak sulung mudah stres.

 

Anak nomor berapa pun tentu memiliki hak yang sama rata untuk mendapatkan kesempatan eksplorasi, termasuk eksplorasi kemampuan berbahasa Inggris.

Terlebih, masa kanak-kanak merupakan fase emas di mana kapasitas otak dalam menyerap kosa kata baru berada di puncak sehingga anak jauh lebih mudah menyerap bahasa baru secara natural.

Banyak orang dewasa menyesal karena tidak serius belajar bahasa Inggris sejak kecil, sebab belajar dari nol di usia dewasa jauh lebih berat dan hasilnya tidak sealami saat dimulai dari kecil.

Itulah kenapa mumpung si kecil masih di usia emas, ayo optimalkan stimulasi bahasa anak agar lancar bahasa Inggris sejak dini!

Design New Web Banner
Sparks English hadir dengan cara paling efektif untuk mengenalkan bahasa Inggris sesuai usia anak dan aktivitas belajar yang dirancang agar materi bisa terserap secara optimal.

Pembelajaran dikemas fun & interactive lewat game, storytelling, hingga mini project sehingga setiap sesi terasa seru layaknya sedang bermain.

Lewat kelas semi-private yang eksklusif dibimbing langsung oleh native teacher dan Cambridge TKT certified teacher, setiap anak dapat perhatian optimal sekaligus melatih pronunciation alami ala native.

Mulai dari Rp70 ribuan aja per kelas dan hasilnya sudah dibuktikan oleh lebih dari 25.000 students yang jago bahasa Inggris bersama Sparks English!

Coba kelas gratisnya lewat free trial class sekarang dan klaim potongan harga spesial Rp1 juta sebelum limited offer ini berakhir!

 

Apa Penyebab Oldest Child Syndrome?

Kondisi oldest child syndrome tidak muncul begitu saja. 

Ada beberapa faktor dalam keluarga yang membentuk sifat dan tekanan mental pada anak pertama.

 

1. Ekspektasi Orang Tua yang Tinggi terhadap Anak Sulung

Orang tua sering kali menaruh harapan yang sangat besar pada anak pertama.

Hal ini terjadi karena anak sulung adalah pengalaman pertama mereka dalam mengasuh anak.

Beban inilah yang kemudian membuat anak sulung selalu ingin tampil sempurna.

 

2. Tanggung Jawab yang Tidak Sesuai dengan Usia Anak

Anak sulung sering diminta menjaga adik atau membantu pekerjaan rumah sejak masih kecil.

Beban ini datang lebih cepat daripada yang seharusnya sehingga, mereka kehilangan waktu untuk bermain seperti anak-anak pada umumnya.

 

3. Kebiasaan Membandingkan Anak dengan Saudara

Orang tua terkadang membandingkan anak sulung dengan adik-adiknya. 

Hal ini membuat anak sulung merasa harus selalu tampil lebih unggul daripada saudara-saudaranya.

Tekanan ini sering membuat mereka merasa tidak pernah cukup baik meskipun sudah berusaha.

 

4. Tekanan untuk Selalu Menjadi Panutan

Anak sulung diminta untuk selalu bersikap benar di rumah. 

Mereka merasa tidak boleh berbuat salah karena dijadikan panutan oleh adik-adik.

Hal ini bisa membuat anak sulung tertekan karena selalu merasa wajib menjaga sikap setiap saat.

 

5. Perubahan Perhatian Orang Tua setelah Adik Lahir

Saat adik lahir, perhatian orang tua tiba-tiba beralih kepada bayi yang memang belum bisa melakukan banyak hal.

Mau tidak mau, anak sulung dipaksa untuk mengalah dan mengurus diri sendiri tanpa banyak mengeluh.

Perubahan mendadak ini membuat mereka harus belajar dewasa lebih cepat.

 

Dampak Ekspektasi Berlebihan terhadap Anak Sulung?

Berikut adalah dampak dari ekspektasi berlebihan terhadap anak sulung:

  • Memicu stres dan kecemasan tinggi: Keinginan untuk selalu menuruti harapan orang tua membuat anak sulung hidup dalam tekanan mental, sehingga mereka lebih mudah merasa cemas, khawatir berlebih, dan mengalami stres.
  • Kehilangan masa kecil: Tanggung jawab yang terlalu berat membuat mereka terpaksa cepat dewasa, sehingga waktu untuk bermain, bersantai, dan menikmati masa anak-anak menjadi berkurang.
  • Takut gagal dan berbuat salah: Standar kesempurnaan yang dipasang sejak kecil membuat mereka sangat takut mengecewakan orang lain, sehingga setiap kesalahan kecil bisa terasa seperti kegagalan besar.
  • Kelelahan mental dan fisik (burnout): Kebiasaan memendam masalah sendiri dan selalu berusaha keras memenuhi ekspektasi orang lain dapat membuat fisik serta mental mereka kelelahan.
  • Sulit menikmati hasil usaha sendiri: Ketika berhasil mencapai sesuatu, anak sulung sering kali tidak merasa puas atau senang, melainkan langsung memikirkan target berikutnya karena takut dianggap gagal.

 

Baca Juga: Apa Itu Anak Ambis? Ciri, Dampak, dan 8 Cara Mendukungnya

 

Bagaimana Cara Orang Tua Menghadapi Oldest Child Syndrome?

Mendukung anak sulung agar tumbuh dengan mental yang sehat memerlukan peran aktif dari orang tua.

Berikut adalah beberapa langkah penting yang bisa dilakukan untuk mengurangi beban dan tekanan yang sering dirasakan oleh anak pertama:

 

1. Berikan Tanggung Jawab Sesuai Usia dan Kemampuan Anak

Orang tua perlu melatih anak sulung untuk mandiri secara wajar tanpa membebani mereka dengan tugas-tugas orang dewasa.

Pastikan pekerjaan atau peran yang diberikan masih masuk akal dengan usia tumbuh kembang mereka.

 

2. Hindari Membebani Anak dengan Peran sebagai Orang Tua Kedua

Meski anak sulung diharapkan bisa membantu di rumah, mereka bukanlah pengasuh pengganti bagi adik-adiknya.

Jangan jadikan mereka penanggung jawab penuh atas urusan rumah tangga atau pengasuhan adik. 

Berikan ruang agar mereka tetap bisa menikmati masa kecil dan remajanya dengan bebas.

 

3. Hargai Usaha Anak tanpa Menuntut Kesempurnaan

Pujian sebaiknya diberikan pada proses dan kerja keras yang sudah anak lakukan, bukan hanya pada hasil.

Orang tua perlu meyakinkan anak sulung bahwa mereka sama saja dengan anak yang lain dan tidak harus selalu sempurna.

Pemahaman ini membantu menurunkan beban perfeksionisme yang sering membuat mereka takut salah atau enggan mencoba hal baru.

 

4. Beri Ruang bagi Anak untuk Mengekspresikan Emosi

Anak sulung sering kali diminta untuk selalu kuat dan menahan tangis agar terlihat tegar di depan adik-adiknya.

Seharusnya, orang tua membuka ruang yang aman bagi mereka untuk menangis, bercerita, atau meluapkan emosi tanpa takut dihakimi.

 

5. Luangkan Waktu Berkualitas Bersama Setiap Anak

Perhatian orang tua memang sering kali tersita oleh anak yang lebih kecil karena mereka butuh lebih banyak bantuan fisik.

Luangkan waktu khusus (quality time) hanya berdua dengan anak sulung tanpa gangguan adik.

Waktu ini bisa digunakan untuk mengobrol santai dan memastikan mereka tetap merasa disayang secara adil.

 

Baca Juga: Middle Child Syndrome: Penyebab, Ciri dan Cara Mengatasinya

 

6. Hindari Membandingkan Anak dengan Saudara Kandung

Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang berbeda-beda satu sama lain.

Membandingkan anak sulung dengan adik-adiknya hanya akan memicu rasa tidak aman dan persaingan yang tidak sehat di rumah.

Fokuslah pada perkembangan diri masing-masing anak dari hari ke hari.

 

7. Ajarkan Anak Meminta Bantuan dan Mengatakan Tidak dengan Sehat

Anak sulung perlu diajarkan bahwa meminta tolong kepada orang lain bukanlah tanda kelemahan atau kegagalan.

Beri contoh dan dorong mereka untuk berani menolak hal-hal yang terlalu berat bagi mereka.

Keterampilan ini akan membantu mereka menjaga kesehatan mental hingga dewasa nanti.

 

Baca Juga: 8 Fakta Anak Pertama, Sifat, Karakter, dan Tantangannya

 

Punya anak yang cerdas dan berwawasan luas tentu jadi impian setiap orang tua dalam menyiapkan masa depannya.

Penguasaan bahasa asing sejak dini adalah kunci utama agar mereka tumbuh jadi generasi yang siap bersaing di kancah global.

Bekal ini akan membuka jalan lebar untuk meraih berbagai peluang emas, seperti beasiswa pendidikan bergengsi, hingga karier cemerlang di masa depan.

Live Book Sparks English
Sparks English adalah kursus bahasa Inggris anak dengan full English environment sehingga anak nggak cuma menguasai grammar tapi juga percaya diri saat speaking.

Ada placement test gratis untuk mengukur seberapa jauh kemampuan bahasa Inggris anak sehingga anak mulai belajar dari level yang paling sesuai dengan tingkat kemampuan mereka.

Masih ada extra bonus GRATIS lainnya seperti free extra sessions, study pack, activity books, hingga teacher consultation gratis terkait perkembangan belajar anak.

Paket belajar selengkap ini beneran bisa didapat dengan harga super ekonomis lho, dan ini nggak mungkin didapatkan di tempat lain kalau bukan di Sparks English!

Langsung daftar kelas trial gratis sekarang juga lewat live booking instant cuma butuh 1 menit!

Author:

Topik:

Share article: