10 Cara Mengatasi Anak yang Insecure agar Lebih Percaya Diri

28 August 2026
cara mengatasi anak yang insecure

“Tapi, aku nggak pinter matematika.”

Jika anak sering bilang begitu bahkan sebelum sempat nyoba ngerjain satu pun soal, bisa jadi itu salah satu tanda anak sedang insecure.

Di kondisi seperti ini, penting banget buat Moms & Dads bisa lebih peka dengan tanda-tanda lain yang mungkin muncul agar bisa segera cari cara mengatasi anak yang insecure.

Yuk, kenali ciri-ciri, penyebab, sampai cara membantu anak mengatasi rasa insecure-nya di artikel ini!

 

 

Ciri-Ciri Anak yang Sedang Merasa Insecure

Anak yang ngerasa insecure sering kelihatan kurang yakin dengan kemampuan atau value dirinya saat harus nyoba sesuatu yang baru atau harus dinilai oleh orang lain.

Beberapa cirinya bisa terlihat dari perilaku sehari-hari seperti:

  • Sering bilang kalau dirinya nggak mampu sebelum mencoba, misalnya “Aku memang nggak pintar matematika.”
  • Terlalu sering membandingkan hasil usahanya dengan teman.
  • Mudah malu atau kecewa cuma karena kesalahan kecil.
  • Sering minta kepastian, seperti “Ini bagus nggak?” meski sebelumnya sudah dapat jawaban.
  • Enggan menunjukkan hasil karyanya karena takut dianggap kurang bagus.
  • Memilih nggak ikut kegiatan karena merasa anak lain pasti lebih jago.
  • Susah menerima kritik dan langsung menganggap dirinya gagal.
  • Sering merendahkan diri sendiri, misalnya bilang gambarnya jelek sebelum orang lain melihatnya.
  • Terlalu takut menjawab pertanyaan di kelas meski sebenarnya tahu jawabannya.
  • Mudah mengikuti pendapat teman karena kurang yakin dengan pendapatnya sendiri.

Jika Moms & Dads melihat satu atau dua perilaku di atas pada anak, jangan langsung berpikir anak memiliki masalah kepercayaan diri.

Namun, kalau polanya muncul terus dan mulai menghambat aktivitas sehari-hari, orang tua patut untuk lebih memperhatikannya.

 

Apa Penyebab Anak Merasa Insecure?

Rasa insecure pada anak biasanya tumbuh dari pengalaman yang terjadi berulang dan perlahan memengaruhi cara ia melihat dirinya sendiri.

Ini adalah penyebab tidak percaya diri pada anak yang sering terjadi!

 

1. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Anak mulai sadar bahwa kemampuan setiap orang berbeda, terutama setelah lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya.

Ketika temannya selalu lebih cepat selesai dalam mengerjakan soal, misalnya, anak bisa mulai menganggap dirinya kurang pintar.

 

2. Mendapat Kritik atau Label Negatif

Ucapan seperti “Kamu memang ceroboh” yang sering anak dengar bisa mereka pahami sebagai bagian dari identitas dirinya.

Kalau mendengarnya terus-menerus, ia bisa mulai percaya bahwa dirinya memang seperti itu.

 

3. Kurang Mendapat Apresiasi atas Usahanya

Anak juga ingin usahanya terlihat, bukan cuma dinilai hasil akhirnya.

Saat ia sudah berlatih membaca berkali-kali tapi yang disorot cuma bagian yang salah, rasa percaya dirinya bisa ikut turun.

 

4. Mengalami Kegagalan atau Kesulitan

Kegagalan terasa lebih berat ketika anak menganggapnya sebagai bukti bahwa dirinya memang nggak mampu.

Contohnya, setelah kalah dalam lomba, ia langsung menolak ikut lagi karena merasa hasilnya pasti sama.

 

5. Mengalami Perubahan atau Situasi Baru

Lingkungan baru bisa membuat anak merasa nggak yakin harus bersikap seperti apa.

Anak yang biasanya aktif pun bisa jadi pendiam saat baru pindah kelas karena masih mencoba membaca situasi dan mengenal teman-temannya.

 

6. Terpengaruh Lingkungan Pertemanan

Komentar dari teman bisa terasa sangat penting, terutama ketika anak telah masuk usia di mana ia mulai ingin diterima dalam kelompoknya.

Kalau sering diejek karena cara bicara atau hasil tugasnya, ia bisa mulai melihat dirinya sama seperti komentar tersebut.

 

7. Terlalu Takut Membuat Kesalahan

Ada anak yang langsung menganggap dirinya nggak pintar ketika berbuat salah.

Karena itu, ia akan menghapus jawaban berkali-kali saat ngerjain PR atau memilih nggak menjawab saat ditanya guru meski sebenarnya tahu.

 

Rasa takut salah sebenarnya bisa diminimalkan kalau anak sering diajak mencoba hal-hal baru sejak kecil, termasuk belajar bahasa asing seperti bahasa Inggris.

Apalagi, di rentang usia kanak-kanak seperti ini otak mereka sedang dalam kondisi paling reseptif buat nyerap bahasa baru lewat stimulasi.

Nggak sedikit lho orang dewasa yang nyesel karena baru serius belajar bahasa Inggris saat sudah besar.

Padahal, semakin dewasa seseorang, reseptivitas otaknya akan terus menurun, sehingga baru belajar bahasa Inggris saat sudah gede akan butuh usaha yang gede juga untuk diserap otak.

 

design new banner 2026
Sparks English hadir untuk anak usia 3–15 tahun mengenal bahasa Inggris dengan metode yang fun & interactive sehingga mudah diserap anak.

Materi belajarnya sudah pakai kurikulum internasional berbasis CEFR, jadi progress bahasa Inggris anak lebih terarah dan sesuai standar global.

Dengan jumlah students kecil di kelas semi-private, si kecil nggak akan ngerasa insecure dan lebih leluasa buat active speaking.

Apalagi, kelasnya didampingi native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT yang bantu si kecil kenal accent dan struktur kalimat bahasa Inggris yang natural seperti native.

Semua keunggulan ini udah bisa didapat mulai Rp70 ribuan per sesi aja, dan udah terbukti bantu lebih dari 25.000 students jago bahasa Inggris dalam 6 bulan!

Jangan nunda lagi untuk ikut free trial class, selagi diskon 1 jutanya bisa diklaim juga lho kalau daftar sekarang!

 

Cara Mengatasi Anak yang Insecure

Cara mengatasi anak yang insecure bisa dilakukan dengan mendengarkan perasaannya, menghindari perbandingan, mengapresiasi proses, dan memberi ruang untuk mencoba tanpa takut salah.

 

1. Dengarkan Perasaan Anak tanpa Menghakimi

Saat anak merasa dirinya kurang mampu, beri ruang untuk bercerita tanpa langsung menyangkal atau memberi nasihat.

Dari sini, anak jadi lebih nyaman menjelaskan apa yang sebenarnya bikin dia nggak percaya diri.

 

Baca Juga: 12 Cara Meningkatkan EQ Anak, Orang Tua Wajib Tahu!

 

2. Validasi Perasaan Anak

Validasi berarti mengakui bahwa perasaan anak memang nyata adanya. Namun, tetap tidak lantas membenarkan semua pikiran negatifnya.

Respons yang tenang membantu anak merasa dipahami sebelum diajak melihat situasinya dari sudut pandang lain.

 

3. Hindari Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Perbandingan dengan saudara atau teman justru bisa bikin anak merasa selalu tertinggal.

Lebih baik tunjukkan perkembangan dirinya sendiri, misalnya kemampuan membaca yang sekarang sudah lebih lancar dibanding beberapa bulan lalu.

 

4. Fokus Mengapresiasi Proses

Apresiasi usaha anak secara spesifik, bukan cuma ketika muncul hasilnya.

Ketika anak tetap mencoba setelah melakukan kesalahan, tunjukkan bahwa kegigihannya juga hal yang patut dihargai.

 

5. Hindari Memberikan Label Negatif

Pisahkan kesalahan yang dilakukan anak dari identitas dirinya.

Daripada menyebutnya ceroboh, jelaskan perilaku yang perlu diperbaiki, misalnya membiasakan mengecek kembali barang sebelum dimasukkan ke tas.

 

6. Bantu Anak Mengenali Kelebihan Dirinya

Kelebihan anak nggak selalu terlihat dari nilai atau prestasi.

Sikap sabar saat membantu adik atau keberanian berbicara di depan orang lain juga bisa jadi kekuatan yang perlu ia sadari.

 

Baca Juga: Kelebihan Anak Tunggal yang Perlu Diketahui

 

7. Berikan Kesempatan Anak Mencoba Hal Baru

Pengalaman baru membantu anak menemukan kemampuan yang sebelumnya belum ia ketahui.

Mulai dari hal kecil seperti memesan makanan sendiri atau mengikuti aktivitas baru yang sesuai dengan minatnya.

 

8. Ajarkan Anak bahwa Kesalahan adalah Bagian dari Belajar

Kesalahan sebaiknya dipandang sebagai bagian dari proses, bukan tanda tak mampu.

Kalau salah mengeja kata bahasa Inggris, misalnya, arahkan anak memperbaiki bagian yang keliru lalu mencoba lagi.

 

Baca Juga: Apa Itu Growth Mindset? Ciri, Manfaat, dan Cara Menumbuhkannya

 

9. Ajarkan Anak Menghadapi Tantangan secara Bertahap

Tantangan akan terasa lebih ringan kalau dilakukan sedikit demi sedikit.

Anak yang belum berani presentasi di kelas bisa mulai berlatih di rumah sebelum mencoba di depan kelompok yang lebih besar.

 

10. Jadilah Contoh dalam Menghargai Diri Sendiri

Anak ikut belajar dari cara orang dewasa merespons kesalahan diri sendiri.

Tunjukkan bahwa saat melakukan kesalahan jangan langsung merasa rendah diri, cukup diperbaiki dan dijadikan bahan belajar.

Misalnya, saat si kecil baru belajar bahasa Inggris dan salah menyebut “I have two cat” yang seharusnya “I have two cats”, itu hal yang wajar dan bisa diperbaiki jika terus berlatih.

Justru karena masih dalam tahap belajar, anak butuh ruang buat terus nyoba tanpa harus ngerasa takut salah.

Apalagi, belajar skill bahasa Inggris memang nggak bisa instan, butuh proses dan waktu buat benar-benar dikuasai.

Soalnya, bahasa Inggris di masa kini bukan untuk kebutuhan sekolah aja, tapi juga investasi jangka panjang yang bisa buka kesempatan di masa depan anak seperti student exchange, beasiswa, olimpiade, sampai kerja di perusahaan impian.

design new banner 2026

Oleh karena itu, penting buat pilih kursus bahasa Inggris anak yang bisa dampingi si kecil belajar dengan nyaman seperti Sparks English!

Di sini, anak akan belajar dalam full English environment yang membuat mereka terlatih listening dan speaking pakai bahasa Inggris.

Moms & Dads bisa bebas pilih jadwal kelas tersedia dan lokasi center terdekat, jadi rutinitas belajar si kecil bisa disesuaikan dengan aktivitas lain tanpa bikin ia kelelahan.

Cuma Sparks English yang bisa kasih kursus dengan kurikulum internasional, metode interaktif, native teacher, dan fasilitas lengkap mulai Rp70 ribuan per sesi!

Nggak ada alasan buat nggak nyoba free trial class-nya sih, atau bisa juga booking trial instan cuma 1 menit aja!

Author:

Topik:

Share article: