Masa batita merupakan salah satu periode paling penting dalam tumbuh kembang anak.
Pada fase ini, si kecil mulai belajar berjalan, berbicara, mengenali lingkungan, hingga membangun kemampuan sosial dan emosional.
Tak heran jika usia batita sering disebut sebagai masa emas (golden age) yang membutuhkan stimulasi yang tepat.
Lalu, batita umur berapa, apa saja perkembangan yang terjadi, dan bagaimana cara mendukung proses belajarnya?
Simak penjelasan lengkap berikut.
Apa Itu Batita dan Berapa Usianya?
Batita adalah singkatan dari “bawah tiga tahun”, yaitu anak yang berusia 1 hingga belum genap 3 tahun (12–36 bulan).
Pada usia ini, anak mengalami perkembangan yang sangat cepat, baik secara fisik, bahasa, kognitif, maupun sosial.
Dalam bahasa Inggris, batita disebut toddler.
Istilah toddler berasal dari kata to toddle, yang berarti berjalan dengan langkah kecil dan masih belum stabil
Karena otak anak berkembang sangat pesat pada masa ini, pengalaman sehari-hari akan sangat memengaruhi proses belajar mereka.
Setiap aktivitas sederhana, seperti bermain balok, membaca buku cerita, atau mengobrol dengan orang tua, sebenarnya membantu membangun jutaan koneksi antar sel otak.
Secara umum, usia batita terbagi menjadi beberapa tahapan:
- 12–18 bulan: mulai berjalan, mengucapkan beberapa kata sederhana, dan memahami instruksi singkat.
- 18–24 bulan: kosakata bertambah pesat, senang meniru orang dewasa, dan mulai bermain pura-pura.
- 2–3 tahun: mulai menyusun kalimat sederhana, lebih mandiri, serta memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.
Apa Perbedaan Balita dan Batita?
Banyak orang mengira balita dan batita adalah istilah yang sama.
Padahal, batita merupakan bagian dari kelompok balita.
| Balita | Batita |
| Anak usia di bawah lima tahun | Anak usia di bawah tiga tahun |
| Rentang usia 0–5 tahun | Rentang usia 1–3 tahun |
| Mencakup bayi, batita, dan anak prasekolah | Fokus pada anak yang sudah mulai berjalan dan aktif mengeksplorasi lingkungan |
| Tahapan perkembangan lebih luas | Tahapan perkembangan lebih spesifik pada masa toddler |
Perkembangan Batita yang Perlu Orang Tua Ketahui
Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang unik.
Namun, secara umum, ada beberapa milestone atau tonggak perkembangan yang terjadi pada usia batita.
1. Perkembangan Fisik dan Motorik
Pada masa batita, kemampuan motorik berkembang sangat cepat karena anak mulai aktif bergerak.
Beberapa perkembangan yang umumnya terlihat antara lain:
- Berjalan tanpa bantuan.
- Berlari dan berhenti dengan lebih seimbang.
- Naik turun tangga dengan bantuan.
- Menendang dan melempar bola.
- Menyusun balok menjadi beberapa tingkat.
- Menggambar coretan sederhana.
- Memegang sendok dan gelas sendiri.
Mulai belajar memakai pakaian sederhana.
2. Perkembangan Bahasa
Kemampuan bahasa berkembang sangat pesat karena anak mulai memahami banyak kata setiap hari.
Beberapa cirinya meliputi:
- Mengenali nama benda di sekitar.
- Mengikuti instruksi sederhana.
- Mengucapkan puluhan hingga ratusan kosakata.
- Menggabungkan dua sampai tiga kata menjadi kalimat sederhana.
- Menanyakan banyak hal menggunakan kata “apa” dan “mana”.
- Menyebut nama anggota keluarga.
- Mulai bernyanyi mengikuti lagu sederhana.
3. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif berkaitan dengan kemampuan berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah.
Beberapa kemampuan yang mulai muncul yaitu:
- Mengenali bentuk dan warna dasar.
- Menyusun puzzle sederhana.
- Mengelompokkan benda berdasarkan ukuran atau warna.
- Memahami hubungan sebab-akibat sederhana.
- Mengingat rutinitas harian.
- Bermain imajinatif, misalnya berpura-pura memasak atau menjadi dokter.
4. Perkembangan Sosial dan Emosional
Di usia batita, anak mulai belajar memahami emosi dirinya maupun orang lain.
Perkembangannya meliputi:
- Menunjukkan rasa sayang kepada keluarga.
- Mulai bermain bersama teman meski belum sepenuhnya bergantian.
- Meniru perilaku orang dewasa.
- Mengungkapkan emosi seperti senang, marah, atau sedih.
- Memiliki benda favorit sebagai sumber kenyamanan.
- Mulai memahami aturan sederhana.
5. Perkembangan Kemandirian
Semakin bertambah usia, anak ingin melakukan banyak hal sendiri.
Beberapa tanda perkembangan kemandirian antara lain:
- Mau makan sendiri.
- Minum menggunakan gelas.
- Mencuci tangan dengan bantuan.
- Melepas sepatu sendiri.
- Membereskan mainan setelah bermain.
- Memilih pakaian yang ingin dipakai.
- Belajar menggunakan toilet saat memasuki toilet training.
Perkembangan batita berjalan sangat pesat di setiap aspeknya, termasuk kemampuan bahasa.
Sayangnya, banyak orang tua baru menyadari pentingnya stimulasi bahasa Inggris setelah fase emas ini terlewat begitu saja.
Banyak orang tua menyesal tidak memanfaatkan masa batita untuk stimulasi bahasa Inggris yang terarah, padahal di usia inilah bahasa paling mudah dan natural untuk diserap.
Jangan sampai anak kehilangan kesempatannya.
Sparks English hadir dengan program Little Sparks berkonsep learning through play yang cocok untuk batita.
Anak akan diajak active learning yang didukung dengan Full English environment sehingga anak mendapat stimulasi bahasa Inggris yang konsisten dan tepat.
Biaya per kelasnya ekonomis, mulai Rp70 ribuan sudah dapat kelas semi-private dibimbing native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT.
Lebih dari 25.000 students terbukti berhasil lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English!
Moms & Dads bisa booking free trial class sekarang untuk coba pengalaman belajarnya langsung!
Cara Menstimulasi Perkembangan Batita
Stimulasi yang diberikan secara konsisten dapat membantu anak mencapai potensi terbaiknya.
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua di rumah.
1. Ajak Anak Bermain Sambil Belajar
Bermain merupakan cara belajar utama bagi batita.
Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan:
- Bermain balok.
- Puzzle sederhana.
- Bermain peran.
- Bermain pasir.
- Bermain musik.
- Mengenal warna dan bentuk.
- Bermain tebak gambar.
2. Bacakan Buku Cerita Setiap Hari
Membacakan buku memiliki banyak manfaat untuk perkembangan bahasa dan literasi.
Biasakan untuk:
- Membaca selama 10–15 menit setiap hari.
- Menggunakan intonasi yang ekspresif.
- Menunjuk gambar sambil menyebutkan namanya.
- Mengajak anak menjawab pertanyaan sederhana.
- Meminta anak menceritakan kembali isi cerita.
3. Latih Motorik Halus Melalui Aktivitas Kreatif
Aktivitas kreatif membantu memperkuat koordinasi tangan dan mata.
Contohnya:
- Menggambar.
- Mewarnai.
- Bermain plastisin.
- Menempel stiker.
- Menggunting kertas dengan gunting khusus anak.
- Meronce manik berukuran besar.
4. Berikan Kesempatan Anak Bereksplorasi
Anak belajar melalui pengalaman langsung.
Biarkan mereka:
- Bermain di taman.
- Mengenal tanaman.
- Mengamati serangga.
- Bermain air dengan pengawasan.
- Mengenal tekstur berbagai benda.
- Mencoba aktivitas baru yang aman.
5. Sering Mengajak Anak Berbicara
Semakin sering anak mendengar bahasa, semakin cepat kemampuan komunikasinya berkembang.
Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan:
- Ceritakan aktivitas sehari-hari.
- Sebutkan nama benda di sekitar.
- Ajukan pertanyaan sederhana.
- Dengarkan jawaban anak dengan sabar.
- Perkenalkan kosakata baru, termasuk bahasa Inggris sederhana.
6. Batasi Screen Time
Paparan layar atau screen time yang berlebihan dapat mengurangi waktu anak untuk berinteraksi dan bermain aktif.
Sebaiknya:
- Utamakan aktivitas bermain langsung.
- Dampingi anak saat menonton.
- Pilih konten edukatif sesuai usia.
- Hindari penggunaan gawai saat makan dan menjelang tidur.
7. Berikan Nutrisi Seimbang
Perkembangan otak dan tubuh membutuhkan asupan nutrisi yang lengkap.
Pastikan anak memperoleh:
- Protein.
- Karbohidrat kompleks.
- Lemak sehat.
- Sayur dan buah.
- Susu sesuai kebutuhan.
- Air putih yang cukup.
8. Ajarkan Kemandirian
Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan berbagai aktivitas sendiri.
Misalnya:
- Makan sendiri.
- Memakai sepatu.
- Merapikan mainan.
- Membuang sampah pada tempatnya.
- Membantu pekerjaan rumah yang sederhana.
Jangan khawatir jika hasilnya belum sempurna.
Proses mencoba jauh lebih penting daripada hasil akhirnya.
9. Berikan Stimulasi yang Tepat
Tidak semua stimulasi harus berupa aktivitas belajar formal.
Yang terpenting adalah memberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan usia, dilakukan secara konsisten, dan dikemas dengan cara yang menyenangkan.
Beberapa bentuk stimulasi yang efektif meliputi:
- Bermain sambil belajar.
- Mengenalkan musik dan lagu.
- Mengajak anak berbicara setiap hari.
- Membaca buku bersama.
- Mengenalkan bahasa Inggris melalui permainan, cerita, dan lagu.
- Memberikan kesempatan anak berinteraksi dengan teman sebaya.
Baca Juga: 13 Cara Mendidik Anak Usia 3 Tahun agar Cerdas Optimal
Dengan stimulasi yang tepat sejak usia batita, anak tidak hanya berkembang secara fisik dan emosional, tetapi juga memiliki fondasi kemampuan komunikasi yang lebih baik di masa depan.
Agar lebih optimal, Moms & Dads bisa mengenalkan bahasa Inggris sejak dini dengan metode yang sesuai usia batita di kursus bahasa Inggris Sparks English yang memiliki program Little Spakrs.
Di sini si kecil akan belajar secara alami, pembelajaran dilakukan melalui learning through play, storytelling, phonics, vocabulary building, dan aktivitas yang mendorong anak aktif berbahasa Inggris.
Yuk, jangan tunda kesempatan anak belajar bahasa Inggris sejak dini, daftar free trial class sekarang selagi masih ada promo yang bisa diambil!



