Parallel Play: Tahap Penting Tumbuh Kembang Anak dan Manfaatnya

3 November 2026
parallel play

Pernah melihat si kecil bermain di dekat anak lain, tetapi keduanya justru sibuk dengan mainan masing-masing? 

Jangan khawatir, Moms & Dads! Perilaku ini dikenal sebagai parallel play dan merupakan bagian normal dari perkembangan sosial anak.

Meski terlihat tidak berinteraksi, anak sebenarnya sedang belajar mengenal lingkungan, mengamati teman sebaya, dan mengembangkan berbagai keterampilan penting.

Yuk, kenali apa itu parallel play, manfaatnya, serta cara mendukung si kecil melalui tahap bermain ini!

 

 

Apa Itu Parallel Play?

Parallel play adalah tahap bermain ketika anak melakukan aktivitas di dekat anak lain, tetapi masing-masing tetap fokus pada permainannya sendiri tanpa banyak berinteraksi atau bekerja sama.

Misalnya, dua anak duduk berdampingan sambil bermain balok. 

Anak pertama sibuk membangun menara, sedangkan anak kedua menyusun balok menjadi bentuk rumah. 

Keduanya berada di tempat yang sama, tetapi tidak memiliki tujuan bermain bersama.

Konsep parallel play pertama kali diperkenalkan oleh Mildred Parten, seorang peneliti perkembangan anak, melalui penelitiannya mengenai interaksi sosial anak pada tahun 1932.

Parallel play menjadi salah satu bentuk permainan yang membantu anak mengenal keberadaan teman sebaya sebelum semakin terbiasa melakukan permainan yang melibatkan interaksi dan kerja sama.

 

Parallel Play Biasanya Terjadi pada Usia Berapa?

Parallel play umumnya mulai terlihat pada usia 1–2 tahun dan sangat umum terjadi pada anak usia 2–3 tahun.

Menurut Canadian Paediatric Society, anak biasanya mulai menunjukkan perilaku parallel play pada usia 12–18 bulan. 

Pada tahap ini, mereka mulai tertarik bermain di dekat teman sebaya, meskipun belum banyak berinteraksi.

Sementara itu, Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pada usia sekitar 30 bulan atau 2,5 tahun, sebagian besar anak sudah mampu bermain berdampingan dengan anak lain.

Saat perkembangan anak memasuki usia 3 tahun, anak biasanya mulai menunjukkan ketertarikan lebih besar untuk bergabung dalam permainan bersama teman.

Namun, Moms & Dads perlu ingat bahwa perkembangan setiap anak berbeda. 

Parallel play juga masih bisa muncul pada anak yang lebih besar, terutama saat mereka berada di lingkungan baru atau ingin bermain secara mandiri.

 

Apakah Parallel Play Termasuk Hal yang Normal?

Ya, parallel play merupakan perilaku yang normal dan menjadi bagian dari perkembangan sosial anak usia dini.

Anak yang belum aktif bermain bersama teman bukan berarti tidak tertarik bersosialisasi. 

Bisa jadi, mereka sedang belajar memahami lingkungan dan merasa lebih nyaman melakukan aktivitas sendiri.

Dalam penelitian Mildred Parten pada tahun 1932, parallel play ditemukan sebagai salah satu bentuk aktivitas bermain yang sering dilakukan anak prasekolah.

Hal ini juga sejalan dengan penjelasan organisasi perkembangan anak ZERO TO THREE bahwa anak dapat menunjukkan berbagai bentuk permainan sesuai usia, karakter, dan situasi yang dihadapinya.

Jadi, Moms & Dads tidak perlu langsung khawatir jika si kecil lebih suka bermain berdampingan daripada berinteraksi langsung.

Namun, jika anak juga menunjukkan kesulitan berkomunikasi, tidak merespons interaksi sosial, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak untuk memastikan perkembangannya.

 

Apa Saja Ciri-Ciri Parallel Play pada Anak?

Ciri utama parallel play adalah anak bermain di dekat teman sebaya tanpa banyak melakukan interaksi langsung.

Berikut beberapa tanda yang bisa Moms & Dads perhatikan:

  • Bermain berdekatan: Anak berada di ruang atau area bermain yang sama dengan anak lain.
  • Fokus pada mainan sendiri: Masing-masing anak memiliki aktivitas dan tujuan bermain yang berbeda.
  • Jarang berkomunikasi langsung: Anak belum banyak mengajak teman berbicara atau berdiskusi selama bermain.
  • Menggunakan mainan serupa: Anak dapat memilih jenis mainan yang sama, tetapi memainkannya secara terpisah.
  • Sesekali memperhatikan teman: Anak mungkin melirik atau mengamati kegiatan anak lain tanpa ikut bergabung.
  • Meniru aktivitas teman: Anak terkadang mengikuti gerakan atau cara bermain yang dilihatnya.
  • Belum memiliki tujuan bersama: Anak tidak harus berbagi peran atau bekerja sama untuk menyelesaikan permainan.

 

Apa Manfaat Parallel Play bagi Tumbuh Kembang Anak?

Meskipun terlihat sederhana, parallel play memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan sosial, komunikasi, dan kemandirian.

Berikut beberapa manfaat parallel play bagi tumbuh kembang si kecil.

 

1. Membantu Anak Mengenal Lingkungan Sosial

Parallel play membantu anak mulai terbiasa dengan kehadiran teman sebaya.

Saat bermain berdekatan, anak dapat memperhatikan bagaimana teman bergerak, bereaksi, dan menggunakan mainannya.

Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi si kecil untuk mengenal situasi sosial tanpa harus langsung terlibat dalam interaksi yang intens.

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, anak dapat mulai menunjukkan ketertarikan untuk berkomunikasi atau bergabung dalam permainan bersama.

 

2. Memberi Kesempatan Belajar melalui Pengamatan dan Imitasi

Anak usia dini banyak belajar dengan mengamati dan meniru apa yang dilakukan orang lain.

Dalam parallel play, anak dapat menemukan cara bermain baru hanya dengan memperhatikan temannya.

Misalnya, ketika melihat teman menyusun balok berdasarkan warna, anak mungkin tertarik mencoba cara yang sama dengan balok miliknya.

Proses pengamatan dan imitasi ini membantu anak mengeksplorasi ide, mencoba keterampilan baru, dan mengembangkan kreativitas.

 

3. Mendukung Perkembangan Bahasa dan Komunikasi

Parallel play juga memberikan kesempatan bagi anak untuk mengenal kosakata dan cara berkomunikasi.

Saat bermain berdekatan, anak dapat mendengar kata-kata yang diucapkan teman atau orang dewasa di sekitarnya.

Misalnya, ketika bermain mobil-mobilan, Moms & Dads bisa mengenalkan kata sederhana seperti “mobil”, “cepat”, atau “berhenti”.

Anak juga bisa mulai mengenal kosakata bahasa Inggris seperti car, red, atau go melalui aktivitas bermain.

Namun, perkembangan bahasa tetap membutuhkan interaksi dua arah. 

Karena itu, orang tua sebaiknya ikut mengajak anak berbicara dan merespons ucapannya selama bermain.

 

4. Melatih Kemandirian dan Eksplorasi

Saat melakukan parallel play, anak memiliki kesempatan untuk menentukan aktivitas dan mencoba berbagai hal sesuai keinginannya.

Mereka bisa memilih mainan, menyusun benda, atau mencari cara menyelesaikan tantangan sederhana tanpa selalu bergantung pada bantuan orang lain.

Contohnya, anak mencoba menyusun balok yang beberapa kali terjatuh hingga akhirnya berhasil membangun menara.

Pengalaman tersebut dapat membantu melatih konsentrasi, kemampuan memecahkan masalah, dan rasa percaya diri anak.

 

Parallel play juga bisa jadi media Moms & Dads mengenalkan bahasa Inggris kepada anak sejak dini. 

Apalagi, usia dini merupakan periode ketika anak lebih peka terhadap bunyi dan masih sangat fleksibel untuk nyerap bahasa baru secara natural.

Dengan paparan yang konsisten, anak punya kesempatan lebih besar untuk terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa Inggris secara natural.

Banyak orang dewasa yang nyesel karena baru serius belajar bahasa Inggris setelah besar, padahal kalau dimulai dari kecil, prosesnya jauh lebih mudah diserap otak dan hasilnya jauh lebih optimal.

Di era sekarang, skill ini bukan cuma dipakai sebagai nilai di sekolah, tapi juga jadi bekal yang akan nentuin seberapa jauh anak bisa melangkah, dari beasiswa, student exchange, sampai karier impian yang nggak terbatas.

Design New Web Banner
Sparks English, siap menjadi partner Moms & Dads dalam membantu si kecil mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya melalui aktivitas kreatif seperti storytelling, games, roleplay, lagu, percakapan, hingga mini project kreatif. 

Dibimbing native teacher dan Cambridge TKT certified teacher, anak tidak hanya menghafal kosakata, tapi juga belajar berani speaking, berpikir kreatif, dan memahami bahasa Inggris dalam konteks nyata.

Dengan pendekatan yang ramah anak, Sparks English cocok untuk orang tua yang ingin memberikan stimulasi bahasa sekaligus mendukung kreativitas anak sejak dini.

Biaya per kelasnya juga terjangkau, mulai Rp70 ribuan sudah dapat semua fasilitas ini dan belajar dalam kelas semi-private.

Coba kelasnya gratis lewat free trial class sekarang, sekaligus klaim promonya dulu karena kuota terbatas lho!

 

Apa Contoh Parallel Play dalam Kehidupan Sehari-hari?

Parallel play bisa ditemukan dalam berbagai aktivitas sederhana, baik di rumah, sekolah, maupun taman bermain.

Berikut beberapa contoh parallel play yang mudah dikenali.

 

1. Bermain Balok atau LEGO

Dua anak duduk berdampingan di atas karpet dengan kotak balok masing-masing.

Anak pertama menyusun balok menjadi menara tinggi, sementara anak kedua membangun jembatan.

Meskipun menggunakan jenis mainan yang sama, keduanya sibuk dengan bangunan sendiri dan tidak bekerja sama membuat satu bentuk tertentu.

 

2. Menggambar atau Mewarnai Bersama

Dua anak duduk di meja yang sama sambil membawa buku gambar dan pensil warna masing-masing.

Anak pertama menggambar rumah dengan pohon, sedangkan anak kedua sibuk mewarnai gambar hewan.

Sesekali mereka melihat hasil gambar satu sama lain, tetapi tetap melanjutkan aktivitas sendiri tanpa mengerjakan satu gambar bersama.

 

3. Bermain di Kotak Pasir (Sandbox)

Di taman bermain, dua anak berada dalam satu kotak pasir.

Anak pertama menggunakan sekop untuk mengisi ember dengan pasir, sedangkan anak kedua membuat bentuk menggunakan cetakan.

Keduanya bermain berdekatan, tetapi tidak saling membantu membangun istana pasir atau membuat bentuk bersama.

 

4. Bermain Playdough

Dua anak duduk di meja dengan adonan playdough masing-masing.

Anak pertama membentuk bola kecil, sementara anak kedua membuat bentuk ular panjang dari adonannya.

Mereka mungkin sesekali memperhatikan hasil karya temannya, tetapi tetap fokus membuat bentuk sendiri tanpa berbagi tugas.

 

Baca Juga: 10 Kegiatan Pra Menulis yang Seru dan Mudah Dicoba Anak!

 

5. Bermain Peran dengan Boneka

Dua anak duduk di ruang bermain sambil memegang boneka masing-masing.

Anak pertama berpura-pura menyuapi bonekanya, sedangkan anak kedua sibuk mengganti pakaian boneka miliknya.

Meskipun berada di ruangan yang sama, mereka menjalankan cerita imajinasi masing-masing tanpa membangun satu permainan peran bersama.

 

6. Mengendarai Sepeda atau Skuter

Dua anak bermain sepeda roda tiga atau skuter di halaman yang sama dengan pengawasan orang dewasa.

Anak pertama sibuk mengendarai sepedanya mengelilingi halaman, sementara anak kedua mencoba menjalankan skuternya di area terpisah.

Mereka menyadari keberadaan satu sama lain, tetapi tidak sedang berlomba atau melakukan permainan bersama.

 

Bagaimana Cara Mendukung Anak yang Sedang Mengalami Parallel Play?

Moms & Dads tidak perlu terburu-buru meminta anak bermain bersama teman. 

Ada beberapa cara sederhana untuk mendukungnya agar tetap nyaman sekaligus mendapatkan pengalaman sosial yang positif.

 

1. Sediakan Mainan yang Sama atau Serupa untuk Beberapa Anak

Siapkan beberapa mainan yang sama atau memiliki fungsi serupa agar anak bisa bermain berdampingan tanpa harus berebut.

Misalnya, Moms & Dads dapat menyediakan dua set balok, beberapa kotak krayon, atau dua ember pasir.

Dengan begitu, setiap anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi mainannya sendiri.

 

2. Beri Anak Waktu untuk Mengamati dan Bermain dengan Nyaman

Tidak semua anak langsung merasa nyaman berada di dekat teman baru.

Sebagian anak membutuhkan waktu untuk memperhatikan lingkungan sebelum mulai bermain.

Moms & Dads bisa memberikan kesempatan bagi si kecil untuk mengamati aktivitas teman dan bergabung saat dirinya merasa siap.

Hindari terburu-buru meminta anak berinteraksi jika ia masih nyaman bermain sendiri.

 

3. Hindari Memaksa Anak Berbagi atau Langsung Bermain Bersama

Pada usia dini, kemampuan berbagi dan bergiliran masih berkembang.

Karena itu, jangan langsung memarahi anak ketika ia belum mau meminjamkan mainan atau memilih bermain secara terpisah.

Sebagai gantinya, Moms & Dads dapat menyediakan mainan tambahan dan mulai mengenalkan konsep bergiliran melalui kegiatan sederhana.

Anak pun bisa belajar memahami aturan sosial secara bertahap tanpa merasa tertekan.

 

4. Beri Contoh Interaksi melalui Permainan Sederhana

Moms & Dads bisa menunjukkan cara berinteraksi dengan teman melalui permainan ringan.

Misalnya, saat anak bermain balok di dekat temannya, coba ucapkan, “Wah, menaranya tinggi, ya! Punya temanmu juga bagus!”

Orang tua juga bisa memberikan contoh kalimat sederhana seperti “Boleh pinjam?” atau “Ayo bermain!”

Dengan mendengar dan melihat contoh tersebut, anak mendapat gambaran tentang cara memulai komunikasi.

Namun, biarkan si kecil menentukan kapan ia siap mencoba berinteraksi.

 

5. Dampingi Anak Tanpa Mengambil Alih Permainannya

Pendampingan orang tua tetap penting, tetapi bukan berarti Moms & Dads harus mengatur seluruh aktivitas anak.

Biarkan si kecil memilih mainan dan menentukan sendiri apa yang ingin dibuat.

Moms & Dads cukup mengawasi, memberikan respons saat anak mengajak berbicara, serta membantu ketika diperlukan.

Misalnya, jika anak kesulitan menyusun balok, berikan petunjuk sederhana tanpa langsung menyelesaikan bangunannya.

Cara ini membantu anak tetap merasa mandiri sekaligus mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

 

Parallel play adalah bagian normal dari perkembangan anak, terutama pada usia 1–3 tahun. 

Melalui aktivitas bermain berdampingan, si kecil memiliki kesempatan untuk mengenal lingkungan sosial, mengamati teman, dan mencoba berbagai keterampilan baru.

Selain mendukung perkembangan sosial, Moms & Dads juga bisa mulai mengenalkan bahasa Inggris melalui kegiatan yang menyenangkan.

Bukan karena tren, tapi karena faktanya anak yang fasih bahasa Inggris sejak dini punya keunggulan lebih banyak untuk bisa bersaing di masa depan.

Live Book Sparks English
Les bahasa Inggris Sparks English, bisa jadi pilihan tepat untuk mengembangkan skill bahasa Inggris anak sejak dini.

Anak dapat belajar bahasa Inggris melalui metode interaktif yang mendorong mereka untuk mendengar, berbicara, dan menggunakan kosakata dalam berbagai aktivitas.

Hasilnya telah terbukti bantu lebih dari 25.000 students di seluruh Indonesia percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan.

Untuk biaya, Moms & Dads tidak perlu khawatir kemahalan karena mulai dari Rp70 ribuan aja per kelas, sudah dapat kelas semi private dengan fasilitas modern, dibimbing native teacher dan Cambridge TKT certified teacher.

Masih ada bonus lain seperti free extra sessions bareng native teacher, free activity books, study pack, hingga students consultation gratis terkait perkembangan belajar anak.

Yuk, gak usah kelamaan langsung saja coba free trial class sekarang dan ambil promonya sekarang!

Author:

Topik:

Share article: