Tahukah Moms & Dads bahwa otak anak memiliki masa ketika pengalaman dan stimulasi dari lingkungan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangannya?
Masa ini dikenal sebagai critical period.
Pada periode tertentu, otak anak lebih peka terhadap pengalaman yang membantu membentuk kemampuan dasar, mulai dari mengenali suara, memahami bahasa, hingga memproses informasi dari lingkungan.
Lantas, apa itu critical period dan bagaimana orang tua bisa mendukung perkembangan anak pada masa ini? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Critical Period?
Critical period adalah periode penting dalam perkembangan otak ketika pengalaman atau stimulasi tertentu diperlukan agar suatu kemampuan dapat berkembang dengan baik.
Pada masa ini, otak sangat peka terhadap rangsangan tertentu, seperti suara dan informasi visual.
Pengalaman yang diterima anak turut memengaruhi pembentukan jaringan saraf yang mendukung kemampuan tersebut.
Istilah critical period juga sering disamakan dengan sensitive period, padahal keduanya sedikit berbeda.
Critical period merujuk pada rentang waktu yang lebih terbatas, ketika pengalaman tertentu diperlukan untuk membentuk fungsi otak.
Sementara itu, sensitive period adalah masa ketika otak lebih mudah mempelajari suatu kemampuan, meskipun pembelajaran tetap dapat berlangsung setelah periode tersebut.
Contohnya dalam perkembangan bahasa.
Anak-anak umumnya lebih mudah mengenali bunyi dan pola bahasa ketika mendapat paparan bahasa sejak usia dini.
Meski begitu, bukan berarti kemampuan belajar akan berhenti setelah masa tersebut berlalu.
Otak manusia tetap mampu mempelajari keterampilan baru hingga dewasa.
Mengapa Critical Period Penting bagi Perkembangan Otak?
Menurut Center on the Developing Child dari Harvard University, pengalaman pada tahun-tahun pertama kehidupan membantu membangun jaringan otak yang menjadi fondasi bagi kemampuan belajar dan perilaku anak.
Ada beberapa alasan mengapa masa ini penting:
- Membantu memperkuat koneksi saraf. Pengalaman yang berulang membantu memperkuat jaringan saraf yang digunakan anak untuk belajar.
- Mendukung perkembangan bahasa. Percakapan dan interaksi membantu anak mengenali bunyi, memahami kata, dan belajar berkomunikasi.
- Mengembangkan kemampuan berpikir. Bermain dan mencoba hal baru memberi kesempatan kepada anak untuk melatih perhatian, ingatan, serta kemampuan memecahkan masalah.
- Mendukung perkembangan sosial dan emosional. Hubungan yang hangat membantu anak memahami emosi dan belajar berinteraksi dengan orang lain.
- Membangun dasar untuk belajar. Kemampuan yang berkembang sejak dini menjadi bekal anak untuk mempelajari hal-hal yang lebih kompleks.
Karena itu, pengalaman sehari-hari seperti mengobrol, bermain, dan membaca buku bersama anak punya peran penting dalam mendukung perkembangan otaknya.
Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Kecerdasan Otak Anak Sejak Dini
Apa yang Terjadi pada Otak Saat Critical Period?
Selama critical period, otak mengalami berbagai perubahan dalam membentuk dan mengatur jaringan sarafnya.
Proses ini membantu anak mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk memahami lingkungan.
Berikut empat proses yang terjadi pada otak selama masa perkembangan tersebut.
1. Otak Membentuk dan Memperkuat Koneksi Saraf
Sejak lahir, otak anak terus membentuk hubungan antarsel saraf atau neuron.
Hubungan ini memungkinkan otak menerima, mengolah, dan menyimpan informasi.
Menurut Harvard University, lebih dari satu juta koneksi saraf baru dapat terbentuk setiap detik selama beberapa tahun pertama kehidupan.
Namun, tidak semua koneksi tersebut akan terus dipertahankan.
Koneksi yang sering digunakan cenderung semakin kuat, sedangkan koneksi yang jarang digunakan dapat berkurang melalui proses synaptic pruning.
Sebagai contoh, ketika anak sering diajak berbicara atau mendengarkan cerita, jaringan saraf yang terlibat dalam pemrosesan bahasa mendapat kesempatan untuk terus berkembang.
2. Pengalaman Memengaruhi Perkembangan Jaringan Otak
Pengalaman sehari-hari ikut membentuk cara otak anak berkembang.
Bahkan, interaksi sederhana dengan orang-orang di sekitarnya bisa memberikan pengaruh.
Hal ini terlihat dalam penelitian Kuhl, Tsao, dan Liu yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2003.
Penelitian tersebut menemukan bahwa bayi berusia sekitar sembilan bulan mampu mempelajari perbedaan bunyi bahasa Mandarin setelah berinteraksi langsung dengan penutur bahasa tersebut.
Menariknya, kelompok bayi yang hanya menerima paparan melalui rekaman audio atau video tidak menunjukkan hasil pembelajaran bunyi yang sama.
Temuan ini memperlihatkan bahwa interaksi langsung memiliki peran penting dalam pembelajaran bahasa pada bayi.
Jadi, Moms & Dads tidak harus menyiapkan kegiatan khusus setiap hari.
Mengajak anak mengobrol saat bermain, membacakan cerita sebelum tidur, atau menanggapi pertanyaannya juga bisa menjadi pengalaman belajar yang berarti.
3. Otak Menjadi Lebih Terspesialisasi
Pada awal kehidupan, otak bayi mampu membedakan berbagai bunyi dari banyak bahasa.
Seiring bertambahnya usia, otak mulai menyesuaikan diri dengan bahasa yang paling sering didengar.
Misalnya, anak yang tumbuh di lingkungan berbahasa Indonesia akan semakin terbiasa mengenali bunyi dan pola bahasa Indonesia.
Proses ini membantu otak mengolah informasi bahasa yang sering digunakan dengan lebih efisien.
Anak juga tetap bisa mempelajari bahasa lain, termasuk bahasa Inggris.
Paparan yang konsisten dan interaksi yang sesuai usia dapat membantu mereka mengenali kosakata serta pola bahasa baru.
4. Neuroplastisitas Memungkinkan Otak Beradaptasi
Pernah melihat anak yang awalnya kesulitan menyebutkan sebuah kata, tetapi akhirnya bisa mengucapkannya setelah beberapa kali mencoba?
Kemampuan otak untuk berubah dan menyesuaikan diri melalui pengalaman disebut neuroplastisitas.
Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk membentuk, memperkuat, atau mengubah hubungan antarsel saraf sebagai respons terhadap pengalaman dan pembelajaran.
Kemampuan ini sangat tinggi pada masa awal perkembangan, tetapi tidak berhenti ketika anak bertambah usia.
Artinya, anak tetap bisa mempelajari keterampilan baru di luar critical period.
Hanya saja, prosesnya dapat membutuhkan latihan dan pendekatan yang berbeda.
Dalam pembelajaran bahasa, misalnya, kegiatan seperti bermain peran, mendengarkan cerita, dan bercakap-cakap dapat membantu anak menggunakan kata-kata yang sudah dikenalnya dalam situasi nyata.
Di masa perkembangan otak yang masih sangat responsif seperti ini, penting bagi Moms & Dads untuk mulai mengenalkan bahasa Inggris kepada si kecil.
Apalagi, usia dini merupakan periode ketika anak lebih peka terhadap bunyi dan pola bahasa baru.
Dengan paparan yang konsisten, anak punya kesempatan lebih besar untuk terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa Inggris secara natural.
Sayangnya, banyak orang baru menyadari pentingnya bahasa Inggris ketika sudah dewasa.
Padahal, kesempatan untuk membangun fondasi bahasa sejak kecil bisa dimanfaatkan jauh lebih awal.
Jangan sampai kesempatan membangun kemampuan bahasa Inggris sejak dini justru terlewat begitu saja!

Di Sparks English, si kecil belajar bahasa Inggris melalui metode fun & interactive learning, dengan aktivitas yang dirancang sesuai usia dan kemampuan anak.
Kurikulumnya berbasis standar internasional CEFR, sehingga anak bisa mengembangkan kemampuan vocabulary, pronunciation, reading, hingga speaking secara bertahap.
Biaya kelasnya juga ekonomis, mulai Rp70 ribuan sudah bisa dapat kelas semi-private dibimbing native teacher dan teacher bersertifikasi Cambridge TKT.
Lebih dari 25.000 students telah berhasil lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan, kini giliran si kecil!
Yuk, daftar free trial class sekarang dan manfaatkan promo yang tersedia sebelum kuotanya habis!
Bagaimana Orang Tua Mendukung Anak Selama Critical Period?
Mendukung perkembangan otak anak tidak harus melalui jadwal belajar yang padat.
Banyak stimulasi justru bisa diberikan lewat aktivitas sederhana yang biasa dilakukan bersama keluarga.
Berikut beberapa cara yang bisa Moms & Dads terapkan di rumah.
1. Berikan Respons yang Konsisten terhadap Anak
Ketika anak menunjuk benda, mengajukan pertanyaan, atau mencoba mengucapkan kata baru, usahakan untuk meresponsnya.
Misalnya, saat anak menunjuk kucing, Moms & Dads bisa menjawab, “Iya, itu kucing. Lihat, kucingnya sedang tidur!”
Interaksi dua arah seperti ini dikenal sebagai serve and return.
Respons orang tua membantu anak menghubungkan kata dengan benda, tindakan, dan pengalaman yang sedang dilihatnya.
Tak perlu selalu menjawab panjang.
Respons singkat yang hangat dan sesuai situasi sudah bisa membuat interaksi terasa bermakna.
2. Ajak Anak Berinteraksi dan Berkomunikasi
Percakapan sehari-hari merupakan salah satu cara mudah untuk mengenalkan bahasa kepada anak.
Moms & Dads bisa mengajak si kecil mengobrol ketika makan bersama, merapikan mainan, atau berjalan-jalan.
Coba ajukan pertanyaan sederhana seperti, “Hari ini kamu paling suka main apa?” lalu beri anak waktu untuk menjawab.
Jika ingin mengenalkan bahasa Inggris, gunakan kata atau kalimat yang dekat dengan aktivitasnya.
Misalnya, Let’s eat! saat makan atau Good night! sebelum tidur.
Dengan begitu, anak mengenal bahasa melalui situasi yang mudah dipahami.
3. Berikan Kesempatan Anak Bermain dan Bereksplorasi
Bagi anak-anak, bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang.
Saat menyusun balok, mencoba puzzle, atau bermain peran, anak belajar mengamati, membuat keputusan, dan mencari solusi ketika menghadapi kesulitan.
Moms & Dads bisa menyediakan permainan yang sesuai dengan usia dan minat anak, lalu membiarkannya mencoba.
Tak masalah jika hasilnya belum sesuai harapan.
Proses mencoba dan menemukan cara sendiri juga menjadi bagian dari pengalaman belajar.
4. Bacakan Buku dan Kenalkan Beragam Kosakata
Membaca buku bersama bisa menjadi kegiatan sederhana untuk memperkaya kosakata anak.
Pilih buku bergambar dengan cerita yang menarik, kemudian ajak si kecil memperhatikan tokoh atau benda yang muncul di dalamnya.
Sesekali, tanyakan hal sederhana seperti, “Menurut kamu, kenapa kelincinya bersembunyi?”
Moms & Dads juga bisa menggunakan buku cerita bahasa Inggris dengan kosakata yang mudah dipahami.
Tidak perlu terburu-buru meminta anak menghafal kata baru.
Biarkan ia menikmati cerita, mengenali gambar, dan mencoba menyebutkan kata sesuai kemampuannya.
5. Berikan Pengalaman Sensorik yang Sesuai
Anak belajar banyak hal melalui indranya. Mereka mengenali lingkungan dengan melihat, mendengar, menyentuh, dan mencium berbagai benda di sekitarnya.
Moms & Dads bisa mengajak anak bermain sensory play di pasir, mengenali tekstur kain, mendengarkan suara hujan, atau membandingkan aroma buah.
Saat melakukan kegiatan tersebut, coba ajak anak mendeskripsikan apa yang dirasakannya.
Misalnya, “Kulit jeruknya kasar atau halus?” atau “Buah mana yang aromanya lebih kuat?”
Pastikan aktivitas menggunakan bahan yang aman dan sesuai usia, serta tetap dalam pengawasan orang dewasa.
6. Ciptakan Lingkungan yang Aman dan Penuh Dukungan
Anak membutuhkan lingkungan yang membuatnya merasa aman untuk mencoba hal baru.
Moms & Dads bisa membangun suasana tersebut dengan mendengarkan pendapatnya, memberikan perhatian, dan menghargai usaha yang sudah dilakukan.
Saat anak melakukan kesalahan, bantu ia memahami apa yang perlu diperbaiki tanpa membuatnya merasa takut untuk mencoba lagi.
Misalnya, ketika anak salah mengucapkan sebuah kata, Moms & Dads bisa mengulang pengucapan yang benar secara natural, tanpa langsung menegurnya.
Cara ini membuat anak tetap nyaman untuk belajar dan berkomunikasi.
7. Sesuaikan Aktivitas dengan Usia dan Minat Anak
Setiap anak memiliki ketertarikan dan kecepatan belajar yang berbeda.
Karena itu, aktivitas yang diberikan sebaiknya mengikuti tahap perkembangannya.
Untuk anak usia prasekolah, Moms & Dads bisa memilih kegiatan yang melibatkan lagu, gambar, gerakan, dan permainan sederhana.
Sementara itu, anak usia sekolah dapat diajak membuat cerita, berdiskusi tentang buku, atau bermain permainan yang membutuhkan strategi.
Pengalaman belajar akan lebih menyenangkan ketika anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi hal yang disukainya tanpa tekanan berlebihan.
Baca Juga: 7 Cara Mengetahui Passion Anak, Jangan Sampai Terlewat!
Critical period adalah masa ketika otak memiliki kepekaan tinggi terhadap pengalaman tertentu yang penting bagi perkembangan anak.
Salah satu kemampuan yang juga dapat mulai dikenalkan sejak dini adalah bahasa Inggris.
Jangan tunggu sampai si kecil semakin besar untuk mulai membangun kebiasaan berbahasa Inggris!

Kursus bahasa Inggris Sparks English, anak bisa belajar melalui kegiatan fun & interactive learning, selain itu ada beberapa keunggulan lainnya yang akan Moms & Dads dapatkan di Sparks English:
- Kurikulum berbasis CEFR: kurikulum yang diakui internasional.
- Fun & interactive: Metode belajar menyenangkan dan sesuai kebutuhan anak.
- Certified teacher: dibimbing langsung native Cambridge TKT certified teacher.
- Jadwal fleksibel: bebas pilih jadwal kelas tersedia dan lokasi center terdekat.
- Affordable price: mulai Rp70 ribuan per kelas dengan fasilitas lengkap dan kualitas premium.
- Extra bonus: free extra sessions bareng native, student kit, hingga parent-teacher consultation untuk pantau kemajuan anak.
In this economy, kapan lagi nemuin kursus bahasa Inggris lengkap yang harganya terjangkau? Cuma di Sparks English!
Yuk daftarkan si kecil ke free trial class sekarang, cukup klik live booking instan cuma 1 menit!


