Gangguan kognitif adalah salah satu hal yang mungkin dikhawatirkan orang tua kalau anak sering kesulitan memahami arahan meski sudah dijelaskan berulang kali.
Namun, Moms & Dads sebaiknya nggak buru-buru menyimpulkan hanya dari satu perilaku anak.
Nah, di artikel ini kita akan pahami ciri gangguan kognitif dan berbagai kemungkinan penyebabnya agar bisa menentukan dukungan yang tepat untuk si kecil.
- Apa Itu Gangguan Kognitif?
- Apa Saja Ciri Gangguan Kognitif pada Anak?
- Apa Dampak Gangguan Kognitif pada Anak?
- Apa Penyebab Gangguan Kognitif pada Anak?
- Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua untuk Mendukung Kemampuan Kognitif Anak?
Apa Itu Gangguan Kognitif?
Gangguan kognitif adalah kondisi ketika satu atau lebih kemampuan berpikir anak terhambat, sehingga memengaruhi proses belajar atau aktivitas sehari-hari.
Kemampuan kognitif sendiri membantu anak memahami informasi dan menggunakannya, misalnya untuk mengikuti aturan permainan atau memahami jalan cerita di buku.
Pada anak, hambatan kognitif bisa berupa kemampuan kognitif yang belum berkembang sesuai milestone atau bisa juga penurunan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai.
Yang penting diperhatikan untuk melihat ada tidaknya gangguan kognitif adalah seberapa sering polanya muncul di keseharian anak.
Kalau anak sesekali lupa instruksi, maka nggak bisa langsung disimpulkan kalau dia mengalami gangguan kognitif, karena kondisi tubuh dan kejelasan arahan yang diberikan juga berpengaruh.
Apa Saja Ciri Gangguan Kognitif pada Anak?
Ada beberapa ciri yang menandakan anak mungkin mengalami gangguan kognitif, misalnya ia kesulitan memahami informasi atau menggunakan kemampuan berpikir dalam kegiatan yang sesuai usianya.
Kalau menurut NICHD, tanda hambatan perkembangan bisa berupa kesulitan mengingat, berbicara, dan memecahkan masalah.
1. Anak Sulit Memahami Instruksi
Salah satu ciri dari masalah kognitif adalah anak kesulitan memahami instruksi, meski orang tua sudah pakai kata-kata yang ia kenal.
Misalnya, “taruh mainan di meja”, tetapi anak tetap kebingungan.
2. Anak Sulit Mengingat Informasi
Ciri selanjutnya dari gangguan kognitif adalah anak yang berulang kali kesulitan mengingat suatu hal atau pelajaran.
Misalnya, anak sudah mengenal huruf atau angka dalam bahasa Inggris, tetapi lupa saat diminta menyebutkannya lagi keesokan harinya.
3. Anak Sulit Berkonsentrasi
Anak yang kesulitan berkonsentrasi atau mengikuti kegiatan sampai selesai juga bisa jadi ciri-ciri gangguan fungsi kognitif.
Perhatiannya cenderung gampang teralihkan, bahkan dalam lingkungan tenang sekalipun.
Ini perlu diperhatikan jika terjadi berulang kali, sebab kalau cuma terjadi sesekali, mungkin anak mengalami kurang tidur atau kelelahan.
4. Anak Kesulitan Memecahkan Masalah
Contoh yang gampang dilihat misalnya saat anak membuka tutup botol minuman.
Ia terus menerus menariknya meski botol nggak kunjung terbuka, karena seharusnya dibuka dengan diulir.
Jika ini adalah masalah sederhana bagi anak seusianya dan ia sering kesulitan memecahkannya, maka ini juga salah satu ciri gangguan kognitif.
5. Anak Mengalami Kesulitan Berbahasa
Kesulitan berbahasa pada anak bisa berupa kesulitan memahami percakapan atau kesulitan menyampaikan kebutuhannya.
Misalnya, anak kesulitan memberi tahu kalau ia sedang lapar dan ingin makan.
6. Anak Mengalami Kesulitan dalam Aktivitas Sehari-hari
Ciri lainnya terlihat dari rutinitas harian, yaitu anak masih butuh banyak pendampingan untuk kegiatan yang padahal sudah sesuai dengan usianya, bahkan sudah sering dilatih.
Misalnya, anak bingung cara mengikat tali sepatu, padahal sudah berkali-kali diajari.
Ciri-ciri di atas bisa mengarah ke gangguan kognitif kalau memang terjadi berulang kali, bukan cuma sesekali.
Jadi, sebaiknya orang tua jangan langsung mendiagnosis anak mengalami gangguan fungsi kognitif hanya dari daftar ciri ini.
Nah, kalau memang beberapa ciri tadi sering muncul pada anak, sebaiknya konsultasikan ke dokter anak untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Apa Dampak Gangguan Kognitif pada Anak?
Dampak gangguan kognitif pada anak bisa bermacam-macam, mulai dari memengaruhi proses belajar hingga menghambat kemandirian anak.
Dampak ini sendiri bisa berbeda tergantung pada kemampuan yang terganggu serta dukungan yang diterima anak.
- Proses belajar membutuhkan lebih banyak waktu: anak memerlukan bimbingan dan pengulangan yang lebih sering untuk memahami materi.
- Komunikasi sehari-hari terhambat: anak kesulitan memahami lawan bicara dan menyampaikan maksudnya dengan jelas.
- Interaksi dengan teman terasa sulit: anak mungkin kesulitan mengikuti aturan bermain bersama teman sebayanya.
- Anak lebih mudah frustrasi: saat merasa kesulitan, anak jadi mudah kesal atau enggan melanjutkan kegiatan.
- Kemandirian berkembang lebih lambat: anak masih membutuhkan bantuan orang dewasa untuk kegiatan sehari-hari yang seharusnya sudah bisa ia lakukan sendiri.
Kemampuan kognitif anak tumbuh lewat stimulasi yang tepat dan konsisten.
Stimulasi yang tepat bukan hanya soal mendukung perkembangan kognitif anak, tapi juga soal memanfaatkan momen terbaik untuk membekali mereka dengan skill yang berdampak jangka panjang, seperti bahasa Inggris adalah salah satunya.
Apalagi di usia ini kemampuan otak anak dalam menyerap bunyi dan struktur bahasa baru sedang 90% berkembang pesat.
Banyak lho, orang tua yang menyesal karena nggak mengenalkan bahasa Inggris sedini mungkin.
Kalau nggak mulai diasah dengan serius dari usia anak-anak, anak akan melewatkan kesempatannya untuk bisa menguasai bahasa Inggris lebih cepat dan natural.
Padahal bahasa Inggris adalah investasi skill masa depan yang nggak akan sia-sia, karena bisa membuka peluang untuk anak masuk sekolah favorit, berprestasi hingga level internasional, hingga jadi modal karier cemerlang di masa depannya.

Sparks English hadir dengan CEFR based curriculum, yang terbukti efektif membantu anak usia 3-18 tahun membangun skill bahasa Inggris sesuai usia dan level proficiency-nya.
Materinya dikemas fun & interactive sesuai programnya, mulai dari games, storytelling, group discussion, hingga mini project, sehingga materi akan terserap maksimal dengan proses yang tetap menyenangkan.
Apalagi kelasnya semi-private bareng native teacher dan Cambridge TKT certified teacher yang bikin anak bisa leluasa aktif speaking dan progres skill-nya diperhatikan lebih personal setiap anak.
Hasilnya sudah dibuktikan lebih dari 25.000 students yang percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan, dengan biaya mulai Rp70 ribuan per kelas!
Coba free trial class-nya dan ambil diskon Rp1 juta selagi masih bisa diklaim karena kuota terbatas!
Apa Penyebab Gangguan Kognitif pada Anak?
Penyebab gangguan kognitif pada anak bisa berkaitan dengan kondisi bawaan atau faktor yang mengganggu perkembangan dan fungsi otak selama masa pertumbuhan.
1. Faktor Genetik dan Kondisi Bawaan
Salah satu penyebabnya adalah perubahan gen atau kromosom tertentu yang memengaruhi perkembangan otak anak.
Contohnya, pada sindrom Down ada tambahan materi genetik di kromosom 21 yang bisa memengaruhi proses belajar anak.
Karena itu, anak membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kemampuannya tersebut.
2. Faktor Selama Kehamilan
Sistem saraf janin bisa terganggu kalau ibu terkena infeksi tertentu atau paparan zat berbahaya selama hamil.
Infeksi sitomegalovirus dan paparan alkohol adalah contohnya.
Dampaknya berbeda-beda, tergantung kapan paparan terjadi dan seberapa berat.
3. Faktor Setelah Anak Lahir
Perkembangan otak anak juga bisa terdampak setelah lahir, misalnya akibat penyakit atau cedera yang mengenai otak.
Infeksi otak atau cedera kepala berat bisa merusak jaringan saraf.
Akibatnya, anak jadi kesulitan mempelajari hal baru, atau kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai malah menurun.
4. Kekurangan Nutrisi Tertentu
Kekurangan zat gizi tertentu bisa menghambat perkembangan dan fungsi otak, salah satunya zat besi.
Menurut American Academy of Pediatrics, zat besi berperan dalam perkembangan otak dan pembentukan sel darah merah pembawa oksigen.
Karena itu, kekurangan zat besi perlu diperhatikan selama masa pertumbuhan anak.
5. Faktor Lingkungan dan Kurangnya Stimulasi
Kurangnya interaksi yang responsif dari orang dewasa dalam waktu lama dan terus menerus bisa menghambat perkembangan kemampuan anak.
Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa percakapan timbal balik (serve and return) membantu memperkuat koneksi saraf untuk komunikasi.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua untuk Mendukung Kemampuan Kognitif Anak?
Untuk mendukung kemampuan kognitif anak, orang tua bisa melakukannya lewat percakapan bahkan aktivitas bermain yang disesuaikan dengan tahap perkembangannya.
Berikut beberapa cara yang bisa dicoba.
1. Ajak Anak Berdiskusi dan Mengungkapkan Pendapat
Beri anak kesempatan menjelaskan alasan di balik pilihan-pilihannya.
Kalau ia berangkat sekolah membawa payung, coba tanyakan “Kenapa kamu bawa payung?” supaya anak belajar menghubungkan kondisi langit dengan kemungkinan hujan.
2. Berikan Permainan yang Melatih Problem Solving
Permainan yang bisa dicoba untuk melatih kognitif lewat problem solving adalah puzzle.
Kalau potongannya belum pas, arahkan anak untuk mencari potongan lain yang lebih sesuai berdasarkan bentuk atau warnanya.
Baca Juga: 10 Cara Melatih Problem Solving pada Anak Sejak Dini
3. Bacakan Buku dan Ajak Anak Memahami Ceritanya
Membaca buku nggak sekadar membacanya sampai halaman terakhir.
Setelah selesai, coba ajak anak membahas isi ceritanya bersama, misalnya dengan bertanya “Kenapa tokohnya harus pergi di akhir cerita?”
Pertanyaan seperti itu membantu anak mengingat kejadian dalam cerita dan menghubungkannya dengan alasan tokoh mengambil keputusan.
4. Berikan Kesempatan Anak Mencoba dan Bereksperimen
Ajak anak menguji idenya lewat eksperimen sederhana yang memang aman untuk usianya.
Misalnya, minta mereka tebak apakah daun atau batu yang akan mengapung di air, lalu lihat hasilnya bersama dan bandingkan dengan tebakannya.
Baca Juga: 10+ Ide Eksperimen untuk Anak TK yang Seru dan Edukatif
5. Latih Kemampuan Bahasa dan Komunikasi
Melatih kemampuan bahasa bisa dimulai dari percakapan tentang hal yang sedang menarik perhatian anak.
Misalnya, sedang berjalan pagi bersama anak dan ia melihat kucing, tanggapi dengan “Kucingnya sedang tidur, ya.”
Setelah itu, beri jeda supaya anak punya kesempatan memberi respons.
6. Berikan Tantangan Belajar yang Sesuai Kemampuan Anak
Memberi tantangan belajar sesuai kemampuan anak contohnya dalam memberi instruksi.
Anak yang baru bisa mengikuti satu arahan cukup diberi instruksi seperti “ambil bukunya”.
Kalau sudah terbiasa, baru gabungkan dengan instruksi kedua “lalu taruh di tas”.
7. Berikan Apresiasi pada Proses Belajar Anak
Saat memberi apresiasi jangan terlalu general, tapi sebut usaha atau strategi yang anak lakukan.
Misalnya, “Wih, kamu udah berhasil mengulir tutup botolnya sampai terbuka.”
Ucapan seperti ini membantu anak mengetahui kalau usahanya sudah tepat, sehingga bisa ia pakai lagi.
Baca Juga: 15 Permainan Kognitif Anak untuk Stimulasi Otak Sesuai Usia
Stimulasi bahasa asing sejak dini membantu meningkatkan kemampuan kognitif dan fleksibilitas berpikir anak.
Ingatlah bahwa masa golden age tidak bisa diulang lagi, jadi jangan lewatkan masa emas mereka untuk optimalkan skill yang paling mereka butuhkan di masa depan.
Bahasa Inggris adalah skill yang akan terus terpakai oleh anak hingga ia dewasa dan menjadikannya lebih unggul saat bersaing di masa depan.

Sparks English adalah les bahasa Inggris anak yang terbagi jadi 3 program sesuai usia, mulai dari Little Sparks (3–6 tahun), Sparks Kid (7–9 tahun), sampai Sparks Teen (10–18 tahun).
Lewat pendekatan full English environment dan confidence building, setiap anak akan didorong untuk berani berbicara dalam bahasa Inggris sehingga ia terbiasa mempraktikkannya dalam real conversation di kehidupan sehari-hari.
Nggak cuma dapat sesi rutin, karena ada juga bonus free extra sessions bareng native buat menambah latihan anak dan memperluas wawasannya dalam berbahasa Inggris.
Bisa dapat kursus bahasa Inggris anak dengan fasilitas lengkap dan harga sehemat ini in this economy demi persiapkan masa depan anak yang lebih cemerlang, yakin nggak mau coba dulu?
Yuk coba free trial class-nya, daftarnya makin praktis lewat live booking instan cuma butuh 1 menit!


