Pernah lihat si kecil berusaha mengambil mainan yang terselip di bawah sofa dengan bantuan sapu?
Hal sesederhana itu ternyata bagian dari kemampuan berpikir logis lho, Moms & Dads!
Kemampuan ini membantu anak memahami sebab-akibat, menemukan pola, membuat pilihan, sampai mencari solusi saat menghadapi masalah.
Nah, bagaimana cara mengetahui kemampuan berpikir logis anak sudah berkembang dan apa yang bisa dilakukan untuk melatihnya?
Yuk, kenali contoh berpikir logis pada anak serta berbagai permainan dan aktivitas yang bisa Moms & Dads coba di rumah!
- Apa yang Dimaksud dengan Berpikir Logis pada Anak?
- Apa Saja Contoh Berpikir Logis pada Anak?
- Permainan dan Aktivitas untuk Melatih Berpikir Logis Anak
- Bagaimana Cara Melatih Kemampuan Berpikir Logis Anak?
Apa yang Dimaksud dengan Berpikir Logis pada Anak?
Berpikir logis adalah kemampuan menghubungkan informasi dan menarik kesimpulan berdasarkan apa yang dilihat atau dialami.
Menurut ulasan teori Piaget dari Baylor University, kemampuan menggunakan logika untuk memecahkan masalah yang melibatkan benda nyata berkembang lebih kuat pada usia sekitar 7–11 tahun.
Sebelum usia tersebut, anak tetap bisa berpikir dan memecahkan masalah sederhana, tetapi apa yang disimpulkan masih dapat dipengaruhi oleh apa yang terlihat secara langsung.
Misalnya, anak usia 5 tahun bisa mengira gelas dengan level air yang lebih tinggi otomatis berisi lebih banyak tanpa mempertimbangkan bentuk gelasnya.
Apa Saja Contoh Berpikir Logis pada Anak?
Contoh berpikir logis pada anak sebenarnya sering terlihat dari hal-hal kecil yang dilakukannya sehari-hari, seperti memahami kenapa sesuatu bisa terjadi atau mencari cara saat menghadapi masalah.
Berikut beberapa contohnya yang mungkin pernah Moms & Dads temui.
1. Memahami Hubungan Sebab dan Akibat
Ketika ditanya kenapa bajunya basah, anak menjawab, “Karena tadi kena cipratan air.”
Nah, jawaban sederhana seperti ini bahkan sudah menunjukkan bahwa anak mulai bisa menghubungkan suatu kejadian dengan penyebabnya.
2. Mengelompokkan Benda Berdasarkan Ciri Tertentu
Saat membereskan mainan, si kecil memasukkan mobil-mobilan berbentuk sedan dengan yang berbentuk truk di dua keranjang terpisah.
Ini tanda bahwa ia sudah melihat ciri berbeda yang dimiliki benda-benda tersebut dan mengelompokkannya berdasarkan ciri yang ia sadari itu.
3. Mengurutkan Sesuatu Berdasarkan Pola
Coba susun kartu berwarna merah, biru, merah, biru di depan anak dan lihat apa yang dia lakukan berikutnya.
Jika dia mengambil kartu merah untuk melanjutkan susunan, berarti dia sudah mulai bisa menangkap pola yang ada, dan ini salah satu contoh berpikir logis.
4. Menentukan Urutan Suatu Kejadian
Anak tahu bahwa kaos kaki dipakai sebelum sepatu atau jeruk perlu dikupas kulitnya sebelum dimakan.
Pemahaman seperti ini menunjukkan ia mulai mengerti hubungan antara satu langkah dengan langkah berikutnya.
5. Memberikan Alasan atas Pilihan atau Jawaban
Coba tanyakan alasan di balik pilihan anak, dan lihat apakah dia sudah punya pertimbangannya sendiri.
Misalnya, dia membawa payung ke sekolah karena melihat langit yang mendung dan merasa akan turun hujan.
6. Membandingkan dan Menentukan Pilihan
Anak bisa membandingkan dua pilihan lalu menentukan mana yang ingin dipilih berdasarkan perbedaannya.
Misalnya, saat memilih buah, anak tahu apel yang besar lebih berat daripada apel yang kecil lalu memilih yang sesuai keinginannya.
7. Mencari Solusi saat Menghadapi Masalah
Saat menghadapi masalah kecil, anak berusaha mencoba cara mengatasinya sebelum minta bantuan.
Ketika bolanya masuk ke bawah sofa dan tangannya tidak bisa menjangkau, contoh berpikir logis anak adalah mengambil gagang sapu yang panjang untuk mendorong bola keluar.
Baca Juga: Ciri Kecerdasan Logis Matematis Anak dan Cara Melatihnya!
Permainan dan Aktivitas untuk Melatih Berpikir Logis Anak
Ternyata, untuk melatih cara berpikir logis anak bisa juga melalui permainan.
Permainan yang melatih berpikir logis anak ini adalah yang membuat anak mencari jawaban, mencoba cara baru, atau mencari tahu apa yang akan terjadi bisa menjadi cara sederhana.
Berikut ini beberapa contohnya:
1. Bermain Puzzle
Saat bermain puzzle, anak perlu memperhatikan bentuk setiap kepingan dan mencari bagian yang cocok dengan ruang yang masih kosong.
Kalau belum pas, ia bisa memutar kepingan tersebut atau mencoba bagian lain sampai menemukan posisi yang tepat.
2. Menyusun Balok atau LEGO
Balok dan LEGO memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba membuat sesuatu sambil melihat apakah susunannya bisa berdiri dengan baik.
Ketika bangunan yang dibuat roboh, anak dapat mengamati bagian yang kurang kokoh lalu mencoba susunan lain agar hasilnya lebih kuat.
3. Bermain Sudoku atau Pola Bilangan
Untuk anak usia sekolah, Sudoku sederhana bisa terasa menantang karena anak perlu menentukan angka yang tepat tanpa melanggar aturan pada setiap baris dan kolom.
Sementara itu, anak yang lebih kecil bisa bermain dengan pola bilangan sederhana.
Orang tua dapat memberikan urutan seperti 2, 4, 6, lalu mengajak anak menebak angka berikutnya.
4. Bermain Klasifikasi Benda
Benda-benda yang ada di rumah juga bisa digunakan untuk permainan klasifikasi.
Anak dapat diminta mengelompokkannya berdasarkan warna atau bentuk. Setelah selesai, coba ubah aturannya.
Kancing yang sebelumnya dipisahkan berdasarkan warna, misalnya, dapat dikelompokkan kembali berdasarkan ukurannya.
Tahukah Moms & Dads, belajar berpikir logis termasuk bagian dari perkembangan kognitif, dan kemampuan ini juga bisa dilatih lewat belajar bahasa Inggris.
Apalagi kalau starting point-nya di masa kanak-kanak, yang merupakan waktu terbaik untuk mengenal bahasa Inggris karena otak mudah menyerap bahasa baru secara natural.
Inilah yang bikin banyak orang tua nyesel karena nggak kasih stimulasi bahasa Inggris anak sejak masa golden age, karena belajar bahasa Inggris dari nol saat sudah besar butuh effort yang juga besar juga untuk diserap oleh otak.
Di era sekarang, bahasa Inggris bukan cuma untuk pelajaran, ini skill yang akan nentuin seberapa jauh anak bisa melangkah.
Masuk sekolah favorit, berprestasi di kompetisi internasional, dapat beasiswa, sampai berkarier di perusahaan global, semuanya jauh lebih terbuka buat anak yang bisa bahasa Inggris sejak kecil.
Jangan biarkan si kecil kehilangan kesempatan belajar skill yang seharusnya bisa dikuasai sejak dini dan merasa tertinggal di kemudian hari.

Sparks English bantu anak usia 3–18 tahun belajar lebih terarah lewat kurikulum berbasis CEFR yang disusun berdasarkan standar internasional sesuai level.
Anak akan belajar dalam kelas semi-private bareng native teacher dan Cambridge TKT certified teacher yang bikin pendampingannya lebih personal sekaligus melatih pronunciation anak.
Mulai Rp70 ribuan aja per kelas, anak bisa belajar dalam suasana yang fun & interactive lewat berbagai aktivitas seru seperti storytelling, roleplay, discussion, hingga mini project.
Tentu nggak heran kalau lebih dari 25.000 students sudah berhasil makin jago dan percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan bareng Sparks English!
Sparks English buktiin bahwa investasi terbaik buat masa depan anak nggak harus mahal!
Coba kelas trial gratis sekarang, kuota diskonnya terbatas jadi buruan klaim sekarang!
5. Bermain Tebak Sebab-Akibat
Ajak anak menebak akibat dari situasi sehari-hari.
Misalnya, tanyakan, “Kalau mainan dibiarkan berserakan di lantai, apa yang bisa terjadi?” Anak mungkin menjawab mainannya terinjak atau membuat orang tersandung.
Dari sini, anak belajar menghubungkan tindakan dengan akibatnya.
6. Mengurutkan Kartu Cerita
Beberapa kartu bergambar dapat digunakan untuk mengajak anak memahami urutan suatu kejadian.
Misalnya, berikan gambar biji dan tanaman yang mulai tumbuh, lalu tambahkan gambar tanaman yang sudah lebih besar.
Anak kemudian dapat menyusunnya sesuai urutan pertumbuhan.
7. Bermain Permainan Strategi
Permainan seperti tic-tac-toe adalah salah satu contoh permainan strategi yang dilakukan dengan memperhatikan langkah lawan sebelum menentukan langkah berikutnya.
Saat lawan hampir membuat satu garis, anak perlu memilih kotak untuk menghalanginya.
8. Eksperimen Sederhana di Rumah
Lewat eksperimen sederhana, anak bisa melihat langsung bagaimana suatu benda bereaksi dalam kondisi tertentu.
Cobalah memasukkan sendok dan potongan kertas ke dalam air.
Ajak anak mengamati benda mana yang tenggelam dan mana yang tetap berada di permukaan, lalu mendiskusikan apa yang terjadi sehingga hasilnya berbeda.
Bagaimana Cara Melatih Kemampuan Berpikir Logis Anak?
Kemampuan berpikir logis anak bisa dilatih dari hal-hal sederhana yang dilakukan sehari-hari, lho, Moms & Dads!
Dari obrolan ringan sampai masalah kecil di rumah, atau kesempatan untuk mencoba sesuatu sendiri juga bisa menjadi media latihan.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
1. Ajak Anak Berdiskusi
Cobalah mengajak anak membicarakan hal-hal yang dekat dengan kesehariannya.
Misalnya, tanyakan kenapa ia lebih suka bermain di taman daripada di rumah temannya. Biarkan anak menjelaskan alasannya sampai selesai.
2. Berikan Kesempatan Anak Mencoba
Tidak semua hal perlu langsung dibantu oleh orang tua.
Saat anak ingin menuang susu sendiri, misalnya, biarkan ia mencobanya.
Jika gelas terlalu penuh dan susu tumpah, anak bisa belajar sebab-akibat dari apa yang baru saja terjadi.
3. Gunakan Masalah Sehari-hari sebagai Bahan Belajar
Masalah kecil di rumah juga bisa digunakan untuk mengajak anak berpikir.
Misalnya, kue yang akan dibawa ke sekolah ternyata tidak muat di kotak bekal.
Biarkan anak mencari cara supaya kue tetap bisa dibawa, jangan langsung memberikan jawabannya.
4. Berikan Pertanyaan Terbuka, Bukan Pertanyaan dengan Satu Jawaban
Coba gunakan pertanyaan yang membuat anak perlu menjelaskan jawabannya.
Daripada bertanya, “Tanamannya layu, ya?”, orang tua bisa bertanya, “Menurut kamu, kenapa tanaman ini layu?”
Pertanyaan seperti ini memberi anak lebih banyak ruang untuk berpikir dan menyampaikan alasannya.
Baca Juga: 10 Cara Melatih Anak Berpikir Kritis yang Mudah Dipraktikkan
5. Sesuaikan Tantangan dengan Kemampuan Anak
Kegiatan yang diberikan sebaiknya tidak terlalu jauh dari kemampuan anak.
Anak usia 4 tahun mungkin masih nyaman dengan puzzle 12 keping.
Sementara itu, anak yang lebih besar bisa mulai mencoba puzzle dengan jumlah keping yang lebih banyak.
Memberi tantangan sesuai kemampuan memang penting untuk perkembangan anak, sama halnya dalam belajar bahasa Inggris.
Materi yang dikenalkan secara bertahap sesuai level akan lebih mudah dipahami dan membantu anak membangun fondasi yang kuat untuk terus berkembang.
Bekal ini nantinya bisa membuka lebih banyak peluang bagi anak untuk sukses dan berprestasi di masa depan.

Sparks English adalah les bahasa Inggris anak usia 3–18 tahun yang dilengkapi placement test agar setiap anak belajar dari level yang paling sesuai dengan kemampuannya.
Kelasnya full English environment, jadi anak terbiasa mendengar, merespons, dan ngobrol langsung dalam bahasa Inggris yang bikin kemampuan speaking terus berkembang.
Apalagi ada free extra sessions tiap pekan bareng internasional teacher yang bikin ruang belajar bahasa Inggris anak makin variatif dan menyenangkan.
Fasilitas selengkap ini nggak mungkin bisa didapatkan di tempat lain dengan harga yang ekonomis ramah banget di kantong!
Bisa dapatkan fasilitas premium, native teacher, dengan harga yang tetap irit, yakin nggak mau coba dulu?
Yuk daftar free trial class sekarang, bisa lewat live booking instan cuma butuh 1 menit!


