Apa Itu Decision Making Skill? Manfaat bagi Anak & Cara Melatihnya

21 September 2026
decision making skill adalah

Ada anggapan bahwa anak baru perlu diajari mengambil keputusan begitu ia cukup besar dan bisa berpikir matang.

Faktanya, decision making skill adalah kemampuan yang justru sudah harus mulai dibentuk sejak kecil, mulai dari hal sesederhana menentukan baju atau memilih camilan.

Semakin dini dilatih, anak akan lebih terbiasa berpikir sebelum bertindak saat menghadapi pilihan yang lebih besar nantinya.

Yuk, kenali lebih lengkap apa itu decision making skill, ciri, manfaat, sampai cara melatihnya lewat artikel ini!

 

 

Apa Itu Decision Making Skill?

Decision making skill adalah kemampuan untuk menimbang beberapa pilihan lalu memutuskan satu langkah yang paling masuk akal.

Pada anak, skill ini berkembang lewat latihan yang konsisten, misalnya anak diminta memilih baju sendiri atau menentukan mainan mana yang mau dibawa ke sekolah.

Menurut Child Mind Institute, anak sebaiknya dilibatkan dalam percakapan tentang keputusan yang menyangkut dirinya sejak usia dini dalam rangka melatih berpikir sebelum bertindak.

Semakin sering dilatih, kemampuan ini bakal terbawa sampai besar, dan dipakai mulai dari urusan kecil seperti memilih camilan sampai keputusan yang lebih besar seperti memilih kegiatan sekolah.

 

Ciri Anak yang Mulai Memiliki Decision Making Skill

Salah satu ciri anak mulai memiliki decision making skill adalah anak mampu memilih dari beberapa pilihan.

Berikut beberapa ciri yang biasanya muncul kalau kemampuan ini sudah mulai tumbuh.

 

1. Anak Mampu Memilih dari Beberapa Pilihan

Anak yang mulai bisa memilih dari beberapa opsi biasanya nggak lagi kelamaan merasa bingung atau menyerahkan semuanya ke orang tua.

Contohnya, ditanya mau sarapan roti atau sereal, dia langsung nunjuk salah satu tanpa berubah pikiran berkali-kali.

 

2. Anak Memikirkan Akibat dari Pilihannya

Ciri lain yang cukup jelas adalah anak mulai berpikir apa yang akan terjadi setelah dia memilih.

Misalnya sebelum minta uang jajan dihabiskan buat beli mainan, dia memikirkan kalau nanti nggak ada sisa buat jajan pas istirahat.

 

3. Anak Mau Mencari Informasi sebelum Memilih

Sebelum benar-benar memutuskan, anak yang kemampuan decision making-nya mulai berkembang akan lebih dulu bertanya atau melihat-lihat opsi yang ada.

Contoh sederhananya, dia nanya dulu rasa es krim sebelum memilih, alih-alih langsung ambil kemasan yang paling mencolok.

 

4. Anak Mampu Menjelaskan Alasan Pilihannya

Satu tanda lainnya adalah anak bisa menjelaskan alasan kenapa dia memilih sesuatu, meski alasannya masih sederhana.

Kalau ditanya kenapa pilih buku itu buat dibaca sebelum tidur, dia bisa jawab karena gambarnya lucu atau ceritanya pernah dia dengar di sekolah.

 

Manfaat Decision Making Skill bagi Anak

Decision making skill adalah kemampuan yang tak hanya penting, tapi juga berpengaruh ke banyak aspek tumbuh kembangnya.

Berikut beberapa manfaat yang biasanya terasa kalau decision making skill anak terus diasah.

 

1. Anak Terbiasa Mencari Solusi

Anak yang terlatih decision making artinya terlatih mencari jalan keluar saat ada masalah kecil.

Misalnya mainan favoritnya rusak, dia nggak langsung nangis minta ganti, tapi coba benerin sendiri dulu atau cari mainan lain buat gantinya sementara.

 

2. Anak Tidak Selalu Bergantung pada Orang Tua untuk Memilih

Manfaat lain decision making skill adalah anak jadi nggak selalu nunggu arahan orang tua buat hal-hal kecil dalam kesehariannya.

Dia bisa nentuin sendiri mau beres-beres kamar dulu atau ngerjain PR dulu.

 

3. Anak Belajar Menentukan Prioritas

Lewat latihan mengambil keputusan, anak juga akan belajar mana yang perlu didahulukan dan mana yang bisa ditunda.

Kalau waktu bermain terbatas, dia bisa berpikir mau habisin waktu untuk main game atau baca komik favoritnya dulu.

 

4. Anak Lebih Siap Menghadapi Pilihan Sulit

Semakin sering dilatih, anak jadi nggak gampang panik saat harus berhadapan dengan pilihan sulit.

Contohnya, waktu harus milih antara ikut kemah sekolah atau datang ke ulang tahun teman, dia akan menimbang plus minus-nya dulu.

 

5. Anak Belajar dari Hasil Keputusannya

Meski hasil keputusan anak kadang nggak sesuai harapan, dari situlah dia belajar hal baru.

Psikolog anak Eileen Kennedy-Moore menyebut, biarpun keputusannya nggak selalu tepat, pengalaman “memilih” tetap ngajarin anak buat lebih percaya diri menghadapi pilihan berikutnya.

 

Ngomong-ngomong soal ngambil keputusan, Moms & Dads udah ngambil keputusan kapan  mau mulai ngenalin anak sama bahasa Inggris, belum?

Belajar bahasa Inggris lebih bagus bagi si kecil jika dimulai sejak usia dini, karena di fase ini otak anak sedang berkembang sangat pesat, bahkan mencapai 90% dari ukuran otak dewasa.

Bila distimulasi dengan konsisten, otak anak bisa menyerap struktur dan kosakata bahasa Inggris dengan mudah dan natural layaknya spons. 

Kemampuan ini menurun seiring anak bertambah besar, jadi sayang banget kalau fase ini disia-siakan.

Kalau Moms & Dads nggak ambil keputusan yang tepat sekarang juga, jangan sampai menyesal di kemudian hari saat anak harus keluarin effort lebih besar untuk belajar bahasa Inggris.

 

Design New Web Banner

Sparks English hadir untuk bantu anak usia 3–18 tahun mendapatkan stimulasi bahasa Inggris konsisten lewat kurikulum berbasis CEFR.

Sesi belajarnya dikemas lewat cara yang fun & interaktif, seperti game edukatif, story telling, roleplay, hingga mini project yang bantu anak tetap antusias mengikuti setiap sesinya.

Kelasnya semi-private dibimbing native teacher dan Cambridge TKT certified teacher, bantu anak dapat bimbingan yang lebih personal sekaligus belajar aksen yang natural.

Semua fasilitas ini bisa didapat mulai Rp70 ribuan aja per kelas dan hasilnya sudah dibuktikan oleh 25.000+ students yang jago dan percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan!

Penasaran cocok atau nggak sama anak? Ambil slot ikut free trial class sekarang dan klaim diskon Rp1 juta sebelum kehabisan!

 

Contoh Decision Making Skill dalam Kehidupan Sehari-hari

Decision making adalah skill yang sering digunakan di momen-momen kecil.

Berikut beberapa contoh yang biasa kejadian di keseharian anak.

  • Menentukan mau sarapan roti atau nasi goreng sebelum berangkat sekolah.
  • Memilih baju yang mau dipakai buat main ke rumah teman.
  • Menentukan mainan mana yang dibawa saat liburan keluarga, mengingat ruang koper yang terbatas.
  • Memutuskan mau habiskan uang jajan sekarang atau ditabung buat beli mainan yang lebih mahal.
  • Memilih ekstrakurikuler yang paling dia sukai di antara beberapa pilihan yang ditawarkan sekolah.
  • Menentukan mau main sama teman A atau teman B saat keduanya ngajak di waktu yang sama.
  • Memutuskan sikap apa yang diambil ketika dua temannya lagi berselisih dan dia diminta memilih pihak.

 

Tahapan Decision Making Skill pada Anak

Kemampuan mengambil keputusan sebenarnya melewati beberapa tahap sebelum anak benar-benar sampai pada pilihan akhirnya.

Berikut tahapan yang biasanya dilalui, mulai dari menyadari ada pilihan sampai mengevaluasi hasilnya.

 

1. Mengenali Masalah atau Pilihan

Tahap paling awal adalah anak mulai sadar ada sesuatu yang perlu diputuskan.

Contohnya, dia notice kalau field trip sekolah ke museum ternyata berbarengan dengan acara nginep di rumah kakek yang udah lama dinantikan.

 

2. Mengumpulkan Informasi yang Dibutuhkan

Setelah sadar ada pilihan, anak mulai cari tahu dulu sebelum menentukan arah.

Dia mungkin bertanya ke gurunya soal apa saja yang bakal dilihat di museum, atau tanya ke orang tua apakah acara ke rumah kakek bisa digeser.

 

3. Mempertimbangkan Beberapa Pilihan

Di tahap ini, anak mulai menimbang plus minus dari tiap opsi yang ada di depannya.

Dia penasaran sama museum yang belum pernah dikunjungi, tetapi udah kangen banget sama kakeknya.

 

4. Memikirkan Konsekuensi

Anak mulai membayangkan apa yang bakal terjadi setelah dia memilih salah satu opsi.

Kalau pilih field trip, dia sadar harus nunda ketemu kakeknya sampai entah kapan, dan itu jadi bahan pertimbangan juga.

 

5. Menentukan Pilihan

Setelah semua dipertimbangkan, anak akhirnya sampai di titik memutuskan satu opsi yang menurutnya paling pas.

Keputusan ini nggak harus selalu tepat, tapi yang penting dia sudah melalui proses berpikir sebelum menjatuhkan pilihan.

 

6. Mengevaluasi Hasil Keputusan

Tahap terakhir adalah melihat balik apakah keputusan yang diambil sesuai harapan atau ternyata kurang pas.

Kalau ternyata dia kurang puas memilih ikut field trip, itu bisa jadi bahan belajar untuk membuat keputusan berikutnya.

 

Cara Melatih Decision Making Skill pada Anak

Kabar baiknya, decision making skill bisa dilatih lewat kebiasaan kecil dan konsisten di rumah.

Berikut beberapa cara yang bisa mulai diterapkan sehari-hari.

 

1. Berikan Anak Pilihan yang Terbatas

Cara paling gampang buat mulai adalah kasih anak pilihan yang jumlahnya terbatas, misalnya dua atau tiga opsi saja.

Daripada tanya “mau makan apa?”, coba tawarkan “mau nasi goreng atau mi goreng”, biar dia nggak kewalahan mikirin terlalu banyak kemungkinan.

 

2. Ajukan Pertanyaan sebelum Memberikan Jawaban

Waktu anak tanya sesuatu yang sebenarnya bisa dia jawab sendiri, coba lempar balik dengan pertanyaan dulu.

Misalnya kalau dia nanya “boleh nggak main dulu baru PR”, balas dengan “menurut kamu enaknya gimana kalau nanti kemalaman”.

 

3. Ajak Anak Membandingkan Beberapa Pilihan

Latih anak buat ngeliat perbedaan antar pilihan sebelum dia menentukan salah satu.

Bisa mulai dari hal sederhana seperti membandingkan dua buku sebelum memilih mana yang mau dibaca duluan.

 

4. Tanyakan Alasan di Balik Pilihannya

Setelah anak memutuskan sesuatu, coba tanya kenapa dia memilih itu.

Pertanyaannya bukan buat menginterogasi, tapi melatih dia menyusun alasan dan berpikir kritis dan reflektif.

 

5. Diskusikan Kemungkinan Konsekuensi

Sebelum anak benar-benar memutuskan, ajak dia memikirkan apa yang mungkin terjadi setelahnya.

Kalau dia mau pakai semua uang jajan buat beli stiker, tanya dulu gimana kalau besok pengen jajan tapi uangnya udah habis.

 

6. Berikan Kesempatan Anak Mencoba

Biarkan anak benar-benar mempraktikkan keputusannya sendiri, bukan cuma jadi bahan obrolan.

Kalau dia pilih rute jalan kaki yang ternyata lebih jauh, biarkan dia ngerasain sendiri capeknya, karena itu juga bagian dari proses belajar.

 

Baca Juga: 10 Cara Mendidik Anak Agar Mandiri Sejak Dini dengan Tepat

 

7. Jangan Langsung Mengambil Alih saat Anak Kesulitan

Waktu anak kelihatan bingung atau lama mikir, tahan dulu keinginan buat langsung ngasih jawaban.

Orang tua tetap bisa aware dengan prosesnya, tapi kasih dia waktu sebentar buat berpikir sendiri, bukan malah langsung nentuin pilihannya.

 

8. Ajak Anak Mengevaluasi Keputusannya

Setelah keputusan diambil dan dijalani, ajak anak ngobrol soal gimana hasilnya.

Tanya apakah dia bakal milih hal yang sama kalau dikasih kesempatan lagi, sehingga dia terbiasa merefleksikan keputusannya sendiri.

 

Baca Juga: Pentingnya Executive Function dan Cara Melatihnya pada Anak

 

Salah satu keputusan yang efeknya terasa jangka panjang adalah kapan mulai mengenalkan bahasa Inggris pada anak.

Semakin awal starting point-nya, bahasa Inggris akan semakin nempel di otak anak, apalagi kalau konsisten dipraktikkan tiap hari.

Bahasa Inggris juga jadi investasi skill masa depan yang akan terus terpakai di kehidupan anak, baik sebagai syarat beasiswa, syarat kuliah di luar negeri, hingga karier impian anak di masa depan.

Jangan sampai ketidakfasihan berbahasa Inggris jadi penghalang impian besar anak!

 

Live Book Sparks English

Sparks English adalah kursus bahasa Inggris yang punya program belajar berjenjang sesuai usia mulai dari Little Sparks (3–6 tahun), Sparks Kid (7–9 tahun), sampai Sparks Teen (10–18 tahun).

Suasana belajar full English environment yang diterapkan mendorong anak terbiasa mendengar dan merespons bahasa Inggris secara konsisten.

Apalagi masih ada bonus free extra sessions tiap pekan yang penuh kegiatan menarik dan edukatif untuk memperkuat skill bahasa Inggris hingga professional teacher consultation gratis.

Jangan kaget kalau tahu semua benefit ini bisa didapat mulai dari Rp70 ribuan aja per kelas, karena di Sparks English demi persiapkan masa depan anak yang terbaik nggak harus mahal!

Tunggu apa lagi? Daftar free trial class sekarang, bisa lewat live booking instan cuma 1 menit!

Author:

Topik:

Share article: