Selesai ujian semester, nilai bahasa Inggris anak dapat 88, jauh di atas KKM, tapi orang tua malah fokus pada 12 poin yang belum berhasil diraih.
Respons seperti ini bisa jadi adalah salah satu gambaran tiger parenting.
Tiger parenting adalah pola asuh yang tumbuh dari niat yang baik, tetapi pelaksanaannya justru dengan terus mengatur dan menuntut anak hingga detail terkecil.
Jadi, sebenarnya apa sih tiger parenting itu? Apakah kekurangan dan kelebihan dari pola asuh ini? Dan ada nggak cara yang tepat dan seimbang untuk menerapkannya?
Semua akan dibahas dalam artikel ini.
Simak sampai selesai, ya, Moms & Dads!
Apa Itu Tiger Parenting?
Tiger parenting adalah pola asuh dengan disiplin ketat, tuntutan tinggi, dan kontrol orang tua atas hampir semua aspek kehidupan anak.
Dalam tiger parenting, prestasi sering jadi prioritas utama, sementara keinginan anak sendiri malah kurang mendapat ruang.
Istilah ini makin dikenal sejak Amy Chua menerbitkan buku Battle Hymn of the Tiger Mother pada 2011, yang mengisahkan pengalamannya membesarkan anak lewat aturan belajar dan latihan musik yang sangat ketat.
Dari sinilah kemudian muncul sebutan tiger mom.
Tiger mom adalah sebutan untuk ibu yang menerapkan pola asuh ini.
Meski begitu, pola asuh seperti ini tentu saja bisa dilakukan siapa saja, tidak terbatas pada ibu, tapi juga ayah maupun pengasuh lain.
Dalam keseharian, pola asuh ini bisa terlihat saat orang tua mulai menetapkan nilai minimum yang harus dicapai anak hingga memilih semua kegiatan tambahan.
Di sisi lain, anak yang menuruti aturan ini belum tentu melakukannya dengan senang hati, bisa saja ia terpaksa melakukannya karena takut dimarahi atau mengecewakan orang tua.
Tiger parenting juga berbeda dengan ketegasan.
Orang tua yang tegas, meski memberi batasan yang jelas, tapi tetap mau mendengarkan dan mempertimbangkan kemauan anak.
Ciri-Ciri Tiger Parenting
Ciri-ciri tiger parenting umumnya terlihat dari besarnya tuntutan orang tua dan sedikitnya ruang bagi anak untuk menentukan pilihan sendiri.
Nggak sekadar disiplin, fokusnya juga memastikan benar-benar memenuhi ekspektasi dan standar yang sudah ditentukan.
1. Orang Tua Punya Ekspektasi Tinggi
Orang tua percaya anak bisa mencapai hasil terbaik asal mau bekerja lebih keras, sehingga targetnya sering jauh di atas kemampuan anak saat ini.
Punya ekspektasi terhadap anak sebenarnya wajar, selama target yang diberikan tetap sesuai dengan usia dan kemampuannya.
2. Disiplin dan Aturan yang Ketat
Jadwal belajar, tidur, sampai main diatur serinci mungkin dan sulit dinegosiasikan dalam kondisi apa pun, bahkan saat anak sedang lelah.
Aturan memang membantu membangun rutinitas, tapi justru bisa jadi masalah jika tidak menyesuaikan dengan kondisi anak sama sekali.
3. Prestasi Akademik Prioritas Utama
Dalam tiger parenting, nilai sekolah sering dijadikan tolok ukur utama, sampai kegiatan klub menggambar yang merupakan hobi anak bisa dihentikan karena dianggap tak menunjang prestasi.
Padahal, kegiatan di luar akademik bisa melatih berbagai soft skill yang sama pentingnya untuk perkembangan anak.
4. Pujian Lebih Sedikit Dibanding Tuntutan
Saat anak berhasil, orang tua menganggapnya sebagai sesuatu yang memang semestinya harus dicapai, sehingga anak pun jarang dipuji meski sudah berusaha keras.
Kebiasaan ini bisa membuat anak malah sulit menghargai prosesnya sendiri dan merasa hanya akan diperhatikan kalau memenuhi standar orang tua.
5. Kontrol Penuh Jadwal Harian Anak
Orang tua memutuskan hampir semua kegiatan anak berdasarkan penilaian sendiri.
Biasanya, kegiatan yang dipilih dianggap punya manfaat besar untuk prestasi.
Akibatnya, anak jadi kurang kesempatan mengenali preferensinya sendiri dan jadi nggak terlatih mempertimbangkan pilihan, membuat keputusan, dan bertanggung jawab dengan konsekuensinya.
6. Kesalahan Harus Dihindari
Anak yang berbuat kesalahan bisa jadi masalah besar dan dianggap kurang persiapan. Bahkan, seringnya anak langsung dimarahi.
Lama-kelamaan, anak cenderung tidak mau menerima tantangan dan hanya melakukan yang sudah ia bisa saja agar tidak gagal.
Bahkan ia bisa menyembunyikan kesalahannya karena takut dikritik atau dimarahi.
Anak memang perlu diarahkan dan dibantu untuk berkembang, tapi nggak berarti harus selalu dengan target yang tinggi atau jadwal belajar yang super padat.
Moms & Dads bisa coba mulai dengan membangun skill penting seperti bahasa Inggris, tapi tetap dibawakan pakai cara yang bikin anak nyaman dan enjoy belajar.
Malah, skill bahasa Inggris lebih cocok dikenalkan sejak masih kanak-kanak, lho!
Sebab anak masih dalam fase golden age yang bisa sangat gampang menangkap bunyi, kosakata, dan pola bahasa baru.
Nggak sedikit orang dewasa menyesal baru belajar bahasa Inggris setelah besar, karena harus keluarin effort lebih banyak untuk bisa diserap otak.
Jangan biarkan si kecil merasakan penyesalan yang sama, ya!

Karena itu, Sparks English hadir untuk memfasilitasi anak usia 3–15 tahun dengan stimulasi bahasa Inggris terarah sesuai level pakai kurikulum berbasis CEFR.
Metodenya dirancang fun & interactive, jadi anak nggak pasif mendengarkan materi aja, tapi bisa lebih aktif berbicara dan tidak takut salah pakai bahasa Inggris.
Kelasnya semi-private dengan native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT, sehingga tak hanya dapat perhatian yang lebih personal, anak juga terbiasa dengan accent natural.
Percaya nggak, semua ini bisa didapat mulai dari Rp70 ribuan per kelas!
Coba dulu free trial class-nya biar tahu apakah metodenya cocok buat si kecil, lalu klaim diskonnya selama kuota masih ada!
Kelebihan dan Kekurangan Tiger Parenting
Tiger parenting memang bisa membentuk rutinitas dan standar belajar yang jelas, tapi manfaatnya nggak selalu sama untuk tiap anak.
Sebuah studi dari University of Texas bahkan menemukan bahwa pola asuh suportif justru berkaitan dengan hasil akademik dan penyesuaian sosial-emosional yang lebih baik dibanding tiger parenting.
Sementara, anak dengan tiger parents cenderung mengalami tekanan akademik, gejala depresi, dan rasa terasing yang lebih tinggi.
| Aspek | Potensi Kelebihan | Kekurangan jika Berlebihan |
| Disiplin | Anak terbiasa mengikuti jadwal dan menyelesaikan kewajibannya. | Anak menjalankan rutinitas hanya karena takut dihukum atau dimarahi. |
| Target belajar | Anak memiliki tujuan yang jelas dan terdorong meningkatkan kemampuannya. | Target yang terlalu tinggi membuat anak merasa selalu tertinggal. |
| Ketekunan | Anak terbiasa berlatih dan tidak cepat berhenti saat menghadapi tugas sulit. | Anak tidak tahu kapan perlu beristirahat atau meminta bantuan. |
| Prestasi akademik | Waktu belajar lebih terstruktur dan kemajuan mudah dipantau. | Nilai menjadi ukuran utama keberhasilan sehingga kemampuan lain terabaikan. |
| Pengawasan | Orang tua mengetahui kegiatan dan perkembangan anak sehari-hari. | Anak kehilangan kesempatan belajar mengatur waktu dan mengambil keputusan. |
| Respons terhadap kesalahan | Anak terdorong mempersiapkan tugas dengan lebih teliti. | Anak takut mencoba hal baru karena khawatir hasilnya tidak sempurna. |
| Hubungan keluarga | Aturan dan tanggung jawab menjadi lebih jelas. | Komunikasi terasa satu arah karena anak hanya diminta menurut. |
| Motivasi | Anak dapat terdorong mencapai target dalam jangka pendek. | Motivasi bergantung pada tekanan, bukan rasa ingin tahu atau kemauan sendiri. |
Cara Menerapkan Tiger Parenting dengan Lebih Seimbang
Tiger parenting sebenarnya bisa dibuat lebih seimbang tanpa harus mengambil alih seluruh kendali dari anak, kok, Moms & Dads.
Orang tua tetap boleh punya harapan, asal dibarengi dukungan dan ruang bagi anak untuk punya kendali dan belajar bertanggung jawab pada pilihannya.
1. Tetapkan Ekspektasi yang Realistis
Ekspektasi itu boleh, tapi tetap harus dibuat berdasarkan kemampuan anak saat ini.
Sebaiknya, ekspektasi tidak langsung tinggi dan melampaui kemampuan anak, tetapi bisa dinaikkan bertahap saat anak mulai menguasainya langkah per langkah.
Perhatikan juga jadwal kegiatan anak agar anak tidak terlalu terbebani.
2. Berikan Kesempatan Anak Mengambil Keputusan
Anak perlu belajar tanggung jawab, salah satunya dengan memberi kesempatan untuk menentukan pilihan.
Jika anak masih perlu bimbingan, orang tua bisa memberi beberapa opsi pilihan yang tetap berada dalam batas aman.
Dengan begitu, anak akan belajar bahwa ada konsekuensi dari setiap pilihan yang ia ambil.
3. Berikan Apresiasi Atas Usaha Anak
Apresiasi seharusnya nggak cuma diberikan saat anak berhasil mencapai ekspektasi saja.
Kemauan anak untuk mencoba lagi dan memperbaiki kesalahan juga layak untuk diberi pujian.
Bahkan, menurut penelitian dalam jurnal Child Development, pujian terhadap proses seperti ini berkaitan dengan mindset bahwa kemampuan bisa terus berkembang.
4. Dengarkan Pendapat dan Perasaan Anak
Mendengarkan anak bukan berarti langsung menyetujui semua keinginan anak, tapi lebih ke memahami alasan di balik kemauan atau penolakannya.
Setelah alasannya diketahui, orang tua jadi lebih mudah menentukan langkah yang tepat, entah itu mengubah jadwal atau mencari cara belajar yang berbeda.
5. Hindari Membandingkan Anak
Membandingkan anak dengan saudara atau teman bukannya membuat anak tambah semangat malah justru bisa membuatnya merasa kemampuannya nggak pernah cukup.
Setiap anak punya ritme belajar berbeda, jadi lebih baik bandingkan pencapaiannya hari ini dengan kemampuannya sendiri beberapa minggu lalu.
6. Seimbangkan Waktu Belajar dan Bermain
Waktu bermain jangan hanya dianggap sebagai jeda dari kegiatan produktif, karena justru lewat bermain anak bisa mengeksplorasi minat dan membangun hubungan dengan teman.
Jadi, alih-alih memenuhi jadwal anak dengan kegiatan belajar dari pagi sampai malam, sisakan waktu kosong agar ia tetap bisa beristirahat sekaligus lebih siap kembali fokus belajar.
7. Jadikan Kesalahan Sebagai Kesempatan Belajar
Kesalahan bukan berarti anak tidak mampu, itu hanya menunjukkan ada bagian yang masih perlu dilatih.
Daripada langsung memberi jawaban benar saat anak salah menjawab soal, lebih baik beri petunjuk dan arahkan anak untuk memperbaikinya sendiri.
8. Dukung Minat dan Bakat Anak
Nggak semua minat harus diarahkan jadi prestasi atau perlombaan, beberapa kegiatan boleh saja dilakukan hanya karena anak menikmatinya.
Perhatikan kegiatan yang membuatnya antusias untuk mengikutinya, sebab ketertarikan seperti ini bisa jadi petunjuk kemampuan yang layak dikembangkan.
Baca Juga: 10 Cara Mengetahui Bakat Anak agar Potensinya Berkembang
Moms & Dads, anak nggak harus selalu dituntut jadi yang paling hebat agar bisa berkembang dengan baik, tapi perlu terus dibimbing tanpa membuatnya tertekan.
Salah satu caranya adalah memberi anak ruang untuk mengembangkan skill yang berguna untuk masa depannya, seperti bahasa Inggris yang bisa membuka peluang beasiswa, student exchange, kuliah, hingga karier di luar negeri.
Tapi, tempat belajarnya juga perlu dipilih dengan tepat, ya!
Pilihan kursus bahasa Inggris yang paling pas tentu saja adalah Sparks English, karena selain kelasnya dirancang modern, pengajarnya juga kompeten dan supportive sehingga anak merasa aman dan nyaman selama belajar.
Di sini, anak nggak hanya belajar teori. Lewat full English environment, anak dibiasakan active speaking agar bisa upgrade skill dan membangun confidence dalam berkomunikasi.
Ditambah lagi, ada free extra sessions, free student kit, dan teacher-parent consultation yang membantu Moms & Dads tetap bisa mengikuti perkembangan belajar anak.
Sekali lagi, semua fasilitas premium ini bisa didapat mulai dari Rp70 ribuan per kelas. In this economy, yakin masih mau nyari-nyari yang lain?
Langsung ajak si kecil coba keseruan kelasnya lewat free trial class.
Jangan lupa klaim diskon juga biar dapat harga yang makin affordable!


