Apa Itu Brainrot? Penyebab, Dampak, dan 7 Cara Mengatasinya

14 July 2026
brainrot adalah

Hampir semua platform media sosial kini punya fitur video berdurasi pendek yang berseliweran tanpa henti. 

Video ini bisa dinikmati berbagai usia, termasuk anak-anak.

Hanya dalam satu kali swipe, topik langsung berpindah. 

Anak-anak pun jadi terbiasa dengan ritme secepat ini sejak usia dini.

Dari kebiasaan itulah muncul satu istilah yang belakangan makin populer di jagat internet: brainrot.

Lalu, apa sebenarnya brain rot? Bagaimana ciri-ciri, dampak, dan cara mengatasinya? 

Temukan jawaban lengkapnya dalam artikel ini!

 

 

Apa Itu Brainrot?

Brainrot adalah kondisi menurunnya kualitas fokus, daya pikir, dan kemampuan mental seseorang yang disebabkan oleh konsumsi konten yang minim nilai edukasi secara berlebihan, terutama konten digital berdurasi pendek.

Oxford University Press menetapkan “brain rot” sebagai Word of the Year 2024 setelah penggunaan istilah ini melonjak 230% dalam setahun.

Istilah ini awalnya cuma bahasa gaul yang ramai dipakai Gen Z dan Gen Alpha di media sosial, terutama TikTok. 

Tapi dalam setahun terakhir, pemakaiannya melebar jauh dari sekadar circle anak muda.

Media-media mainstream pun mulai ikut mengangkat istilah ini, seiring makin banyaknya kekhawatiran soal dampak buruk dari kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan.

 

Ciri-Ciri Brainrot pada Anak

Ada beberapa ciri brainrot pada anak, seperti sulit fokus dalam waktu lama, terus muncul keinginan untuk membuka media sosial, dan mudah bosan saat belajar.

Berikut ciri-ciri lengkap yang bisa Moms & Dads waspadai.

 

1. Sulit Fokus dalam Waktu Lama

Salah satu ciri anak mengalami brain rot adalah kesulitan menyelesaikan satu aktivitas dalam waktu yang cukup lama.

Misalnya, baru 10–15 menit mengerjakan PR, anak sudah gelisah dan minta jeda untuk memegang gadget.

 

2. Terus Ingin Membuka Media Sosial

Salah satu ciri brainrot yang mudah dikenali adalah keinginan membuka aplikasi media sosial secara berulang.

Bahkan setelah jatah screen time habis, anak tetap merasa tidak cukup dan ingin kembali membuka layar.

 

3. Mudah Bosan saat Membaca atau Belajar

Anak yang semula senang membaca buku cerita, tiba-tiba mengeluh bosan hanya setelah dua atau tiga halaman.

Brainrot membuat aktivitas yang membutuhkan proses berpikir perlahan terasa jauh lebih melelahkan sehingga anak lebih memilih menonton video singkat.

 

4. Rentang Perhatian Menjadi Pendek

Saat diajak bermain puzzle atau board game bersama keluarga, anak cepat menyerah dan ingin berpindah ke aktivitas lain.

Rentang perhatian setelah mengalami brainrot menjadi jauh lebih pendek dibanding sebelumnya.

 

5. Sulit Menikmati Aktivitas Tanpa Gadget

Saat piknik atau jalan-jalan ke taman, anak lebih memilih memegang HP daripada menikmati suasana sekitar.

Bahkan, momen kumpul keluarga atau bermain bersama teman pun terasa membosankan baginya kecuali ada gadget yang bisa dipegang.

 

6. Tidur Menjadi Tidak Teratur

Anak menjadi susah tidur karena masih ingin scroll video sebelum memejamkan mata.

Jam tidur pun bergeser lebih larut dari biasanya sehingga kualitas tidur menurun.

Akibatnya, anak jadi lebih sulit dibangunkan pagi hari dan terlihat lesu sepanjang hari di sekolah.

 

Apa Penyebab Brainrot?

Setelah mengenali ciri-cirinya, Moms & Dads juga perlu memahami akar penyebab brainrot pada anak. Berikut lima faktor utamanya.

 

1. Terlalu Banyak Mengonsumsi Konten Berdurasi Pendek

Konten berdurasi 15–90 detik dirancang untuk terus memicu rasa penasaran otak.

Setiap swipe menjanjikan sesuatu yang baru, sehingga otak anak terbiasa mendapat rangsangan cepat tanpa jeda.

 

2. Penggunaan Media Sosial Berlebihan

Bukan cuma video pendek, scrolling feed media sosial tanpa tujuan jelas juga bisa menyebabkan brainrot.

Anak jadi terbiasa berpindah topik dengan sangat cepat tanpa benar-benar punya kesempatan untuk memproses informasi dengan baik.

 

3. Kurang Tidur yang Berkualitas

Paparan cahaya layar sebelum tidur dapat mengganggu produksi hormon melatonin.

Akibatnya, kualitas tidur anak menurun. 

Hal ini memengaruhi kemampuan otak untuk memulihkan diri dan fokus keesokan harinya.

 

4. Ketergantungan pada Hiburan Instan

Anak yang terbiasa mendapat kepuasan instan dari layar, lama-lama sulit menghargai proses.

Aktivitas-aktivitas penting yang butuh usaha bertahap, seperti belajar keterampilan baru, terasa jauh lebih berat dan membosankan.

 

5. Kurangnya Aktivitas yang Merangsang Otak

Salah satu penyebab yang sering luput dari perhatian adalah waktu layar yang terlalu dominan sehingga menggeser aktivitas lain yang sebenarnya lebih menstimulasi otak.

Saat sebagian besar waktu luang anak habis untuk scroll atau menonton, ia jadi jarang terpapar stimulasi yang sebenarnya dibutuhkan untuk melatih otak.

Di sisi lain, saat anak belajar bahasa baru, otaknya terlatih mengenali bunyi, menyusun makna, sampai menghubungkan kata dengan konteks, sehingga bisa melatih fokus dan daya ingat.

Ditambah, masa kanak-kanak juga jadi waktu paling tepat untuk memulainya, karena otak anak masih sangat fleksibel menyerap bahasa baru secara alami dibanding saat dewasa.

Faktanya, banyak orang dewasa menyesal tidak serius belajar bahasa Inggris sejak kecil.

Sebab begitu beranjak dewasa, otak butuh usaha jauh lebih besar untuk menyerap ilmu atau bahasa baru.

 

Very New Banner SEO Sparks English 2026 (1)

Sparks English hadir memfasilitasi stimulasi anak usia 3–15 tahun dengan metode belajar fun dan interactive yang disesuaikan dengan tumbuh kembang anak.

Kurikulumnya berbasis CEFR, sehingga progress kemampuan anak terukur sesuai level berstandar internasional.

Mulai Rp70 ribuan aja per kelas, anak sudah bisa dapat kelas semi-private dengan bimbingan native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT.

Terbukti, lebih dari 25.000 students lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan bersama Sparks English!

Yuk mulai dari free trial class dan klaim promo terbatasnya sebelum waktu habis!

 

Dampak Brainrot terhadap Kemampuan Belajar Anak

Jika dibiarkan berlarut-larut, brainrot bukan cuma soal kebiasaan menonton berlebihan. 

Kondisi ini bisa berdampak langsung pada proses belajar si kecil di sekolah maupun di rumah.

 

1. Menurunkan Konsentrasi

Anak menjadi lebih sulit duduk tenang untuk menyimak penjelasan guru atau orang tua dalam waktu cukup lama.

Pikirannya mudah teralih meski hanya beberapa menit setelah pelajaran dimulai.

 

2. Menghambat Daya Ingat

Kebiasaan berpindah topik dengan cepat membuat otak kurang terlatih menyimpan informasi dalam memori jangka panjang.

Kebiasaan ini membuat anak jadi lebih mudah lupa dengan materi yang baru saja dipelajari.

 

3. Mengurangi Kemampuan Berpikir Kritis

Konten instan biasanya tidak menuntut anak berpikir mendalam atau menganalisis sesuatu.

Akibatnya, kemampuan menghubungkan sebab-akibat dan memecahkan masalah pun ikut menurun.

 

Baca Juga: 10 Cara Melatih Anak Berpikir Kritis yang Mudah Dipraktikkan

 

4. Menurunkan Motivasi Belajar

Konten berdurasi pendek membuat otak anak terbiasa mendapat rasa senang secara instan hanya dalam hitungan detik.

Saat dihadapkan dengan belajar, yang hasilnya baru terasa setelah proses panjang dan penuh usaha, otak anak jadi kesulitan menemukan kepuasan yang setara.

Akibatnya, anak lebih sering menunda atau menghindari tugas dan bacaan.

 

5. Memengaruhi Prestasi Akademik

Nilai dan performa akademik yang menurun tidak luput dari dampak brainrot bagi anak.

Sebuah studi dalam jurnal Brain and Behavior menemukan hubungan antara penggunaan media video pendek dan perilaku kurang fokus yang dilaporkan orang tua pada anak usia sekolah.

Nah, karena fokus adalah modal utama untuk belajar, kebiasaan kurang fokus ini pada akhirnya juga ikut menyeret turun prestasi akademik anak.

 

Baca Juga: Anak Sulit Belajar? Ini 10 Cara Rajin Belajar untuk Anak yang Efektif

 

Cara Mengatasi Brainrot pada Anak

Kabar baiknya, brainrot bisa dicegah dan diperbaiki dengan langkah-langkah konsisten, dari mengurangi screen time secara bertahap hingga memfasilitasi anak belajar keterampilan baru.

 

1. Kurangi Screen Time Secara Bertahap

Daripada memutus screen time secara mendadak, anak lebih efektif jika mengurangi durasinya sedikit demi sedikit.

Misalnya, dari dua jam menjadi satu setengah jam per hari, lalu evaluasi kembali durasinya setiap minggu dan sesuaikan secara bertahap.

 

2. Batasi Konsumsi Konten Berdurasi Pendek

Ajak anak lebih selektif memilih tontonan, dan batasi waktu untuk platform video pendek secara khusus.

Ganti sebagian waktunya dengan tontonan yang punya alur cerita lebih panjang dan edukatif.

 

3. Latih Fokus dengan Teknik Pomodoro

Ajarkan anak belajar dalam sesi singkat, misalnya 20–25 menit fokus penuh, lalu istirahat 5 menit, yang dikenal dengan teknik pomodoro.

Teknik pomodoro membantu otak terbiasa kembali fokus secara bertahap tanpa merasa kewalahan.

 

4. Ajak Anak Membaca Buku

Sediakan waktu khusus membaca bersama setiap hari, meski hanya 10–15 menit.

Mulai dari buku dengan cerita yang sesuai minat anak agar prosesnya terasa menyenangkan, bukan seperti paksaan.

 

5. Lakukan Aktivitas Kreatif

Ajak anak menggambar, bermain musik, atau bermain peran bersama saudara maupun teman.

Aktivitas kreatif melatih otak bekerja aktif, bukan sekadar menerima informasi secara pasif.

 

6. Tidur yang Cukup

Terapkan jam tidur yang konsisten setiap malam dan hindari penggunaan gadget minimal satu jam sebelum waktu tidur.

Tidur yang cukup membantu otak anak memulihkan fungsi fokus dan daya ingatnya.

 

7. Belajar Keterampilan Baru

Ajak anak mencoba satu keterampilan baru yang ia minati, seperti alat musik, olahraga, atau bahasa asing, lalu dampingi ia berlatih secara rutin.

Proses belajar bertahap seperti ini melatih otak untuk kembali fokus dan sabar menjalani prosesnya, bukan cuma mengejar kepuasan instan seperti saat scroll layar.

 

Baca Juga: Apa Itu Brain Gym? Ini 10 Gerakan Brain Gym dan Manfaatnya!

 

Dari sekian banyak pilihan keterampilan, bahasa Inggris jadi salah satu investasi terbaik yang paling bermanfaat untuk masa depan anak.

Anak yang mahir bahasa Inggris membuka peluang yang lebih luas, seperti berprestasi dalam lomba internasional, beasiswa, pendidikan ke luar negeri, sampai jadi syarat penting di dunia kerja.

Sparks English siap bantu anak jago bahasa Inggris dalam 6 bulan dengan kurikulum berbasis CEFR mulai dari Rp70 ribuan aja per kelas.

Sudah lengkap dengan bimbingan native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT dalam kelas semi-private agar setiap anak bisa berkembang optimal.

Fasilitas high quality dengan harga se-ekonomis ini bisa ditemui di mana lagi kalau bukan di kursus bahasa Inggris Sparks English?

Jangan tunggu nanti, ayo coba free trial class sekarang, selagi ada promo yang berlaku khusus sebelum waktu berakhir!

Author:

Topik:

Share article: