“Bu, kenapa sih semut bisa membawa makanan yang jauh lebih besar dari badannya sendiri?”
Pertanyaan sederhana seperti ini bukan sekadar rasa ingin tahu biasa, melainkan tanda bahwa perkembangan kognitif si kecil sedang berlangsung setiap hari.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak ternyata cukup beragam, ada yang berasal dari dalam diri anak, ada pula yang datang dari lingkungan di sekitarnya.
Di artikel ini kita akan mengenali apa itu perkembangan kognitif, faktor internal dan eksternal yang memengaruhinya, hingga cara konkret yang bisa membantu perkembangannya secara optimal.
Apa Itu Perkembangan Kognitif?
Menurut APA Dictionary of Psychology, perkembangan kognitif adalah proses bertumbuhnya kemampuan berpikir, memahami, mengingat, memecahkan masalah, hingga mengambil keputusan.
Secara sederhana, faktor kognitif adalah berbagai kondisi yang dapat memengaruhi cara anak berpikir, belajar, mengingat, dan memecahkan masalah.
Beberapa contoh kemampuan kognitif anak di antaranya:
- Memahami bahwa air bisa tumpah kalau gelasnya dimiringkan, tanda ia mulai menangkap hubungan sebab-akibat.
- Bisa mengelompokkan mainan berdasarkan warna atau bentuknya sendiri.
- Mulai bisa menghitung jumlah benda sederhana, misalnya jumlah kue di piringnya.
- Mengingat urutan cerita yang baru saja dibacakan, lalu menceritakannya kembali dengan caranya sendiri.
Perkembangan kognitif pada anak berlangsung secara bertahap, dan bisa dipengaruhi oleh usia, pengalaman, interaksi sosial, pendidikan, serta lingkungan sekitar.
Perkembangan kognitif juga bisa diamati lewat pencapaian dalam belajar, berpikir, bermain, dan menyelesaikan masalah sehari-hari.
Jean Piaget, psikolog asal Swiss, menjelaskan bahwa perkembangan ini berlangsung melalui empat tahapan, yaitu sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal.
Faktor Internal yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif
Faktor internal yang memengaruhi perkembangan kognitif adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak sendiri, seperti genetik, kondisi kesehatan, dan rasa ingin tahu.
1. Genetik
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kognitif adalah genetik.
Ini menjadi salah satu faktor kognitif yang memengaruhi perkembangan otak anak.
Faktor bawaan ini bisa memengaruhi karakteristik tertentu, seperti kecepatan menerima informasi, daya ingat, kemampuan berbahasa, hingga cara memecahkan masalah.
2. Kondisi Kesehatan Anak
Kondisi kesehatan berpengaruh pada kemampuan anak untuk berkonsentrasi, mengingat, belajar, dan menjalani kegiatan sehari-hari.
Kesehatan anak juga erat kaitannya dengan pemenuhan gizi dan kualitas tidur.
Anak yang sehat secara fisik biasanya punya lebih banyak kesempatan untuk aktif bermain, berinteraksi, dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
3. Motivasi dan Rasa Ingin Tahu
Motivasi dan rasa ingin tahu adalah dua dorongan yang membuat anak mau terus mencoba dan mencari tahu jawaban dari rasa penasarannya sendiri.
Misalnya, anak yang senantiasa bertanya “kenapa” tentang hal-hal di sekitarnya, atau yang tidak langsung menyerah saat gagal menyusun balok.
Tindakan itu sebenarnya sedang melatih otak anak untuk berpikir dan memecahkan masalah.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif
Selain faktor dari dalam diri anak, faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif juga ada yang berasal dari faktor eksternal, seperti pola asuh, lingkungan, dan pendidikan.
1. Pola Asuh Orang Tua
Cara orang tua mengasuh anak sehari-hari ikut membentuk cara berpikirnya.
Anak yang dibesarkan dengan pola asuh responsif, diberi ruang untuk bertanya dan mencoba hal baru, biasanya tumbuh lebih berani mengeksplorasi lingkungannya.
Sementara itu, pola asuh yang penuh larangan atau bentakan saat anak berbuat salah, bisa membuatnya cenderung ragu dalam mengambil inisiatif.
2. Lingkungan dan Pengalaman
Lingkungan sekitar anak dan interaksi dengan orang-orang di dalamnya sangat memengaruhi cara otak anak berkembang.
Percakapan sederhana sehari-hari, seperti menanyakan perasaan anak atau mengajaknya bermain bersama, ikut memperkaya koneksi di otaknya.
3. Pendidikan dan Sekolah
Pendidikan formal, termasuk sekolah, memberi anak kesempatan belajar secara terstruktur sekaligus berinteraksi dengan teman sebaya dan guru.
Di lingkungan ini, metode belajar aktif, seperti bermain peran atau mengerjakan proyek kelompok, bisa melatih anak berpikir kritis sejak dini.
4. Paparan Gadget dan Media Digital
Di era digital, hampir semua anak sudah akrab dengan gadget sejak usia dini.
Menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), screen time anak usia 2–6 tahun sebaiknya tidak lebih dari satu jam per hari.
Screen time yang berlebihan dan tanpa pendampingan cenderung membuat anak lebih sulit fokus saat harus mengerjakan hal lain.
5. Kesempatan Bereksplorasi
Salah satu cara belajar yang terbaik bagi anak adalah lewat pengalaman langsung, bukan hanya penjelasan verbal.
Bermain pasir, air, atau tanah, misalnya, bisa membantu anak memahami konsep tekstur dan sebab-akibat dengan cara yang menyenangkan bagi anak.
Larangan “jangan main kotor-kotoran” yang terlalu sering justru bisa membatasi kesempatan belajarnya.
6. Stimulasi yang Tepat
Stimulasi yang sesuai usia dan minat anak menjadi kunci penting dalam mengoptimalkan perkembangan kognitifnya.
Balita bisa distimulasi lewat permainan mengenal bentuk, warna, atau sebab-akibat sederhana, sementara anak usia sekolah bisa diajak memecahkan teka-teki atau permainan strategi yang sedikit lebih menantang.
Stimulasi yang tidak kalah penting lainnya adalah stimulasi bahasa Inggris.
Faktanya, bahasa Inggris paling mudah diserap anak justru jika distimulasi sejak golden age, karena otaknya masih seperti spons yang menyerap dengan cepat dan natural.
Banyak orang dewasa menyesal tidak belajar bahasa Inggris dengan serius sejak kecil.
Padahal, saat masa kanak-kanak terlewat, kemudahan dan kecepatan dalam belajar bahasa Inggris tak pernah sama lagi.

Sparks English dirancang untuk anak usia 3–15 tahun dengan metode belajar fun dan interactive yang mendorong anak agar lebih berani dan aktif speaking, bukan sekadar belajar grammar aja!
Dengan kurikulum berbasis CEFR, anak akan belajar sesuai level sehingga progres kemampuannya terukur mengikuti standar internasional.
Mulai dari Rp70 ribuan saja, anak bisa belajar di kelas semi-private dibimbing native teacher dan tutor bersertifikat Cambridge TKT.
25.000+ students sudah makin jago berbahasa Inggris dalam 6 bulan, sekarang giliran si kecil!
Coba metode belajarnya dulu lewat free trial class dan klaim promo sebelum periodenya habis!
Bagaimana Orang Tua Dapat Mengoptimalkan Perkembangan Kognitif Anak?
Ada banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk dapat mengoptimalkan perkembangan kognitif anak, misalnya membaca buku secara rutin, mengajak anak berdiskusi, hingga memberikan permainan edukatif.
1. Membacakan Buku Secara Rutin
Membacakan buku setiap hari, meski hanya 10–15 menit, dapat memperkaya kosakata dan imajinasi anak.
Kebiasaan sederhana ini juga melatih anak untuk menyusun cerita secara runtut, sesuatu yang biasanya lebih menonjol pada anak yang terbiasa dibacakan buku.
2. Mengajak Anak Berdiskusi
Libatkan anak dalam obrolan sehari-hari, bukan hanya memberi instruksi.
Coba tanyakan pendapatnya soal baju yang ingin dipakai, atau alasan ia menyukai mainan tertentu.
Obrolan kecil seperti ini melatihnya menyusun dan menyampaikan pikirannya sendiri.
3. Memberikan Permainan Edukatif
Permainan seperti puzzle, balok susun, atau board game sederhana bisa melatih logika dan kesabaran anak sekaligus.
Saat menyusun keping-keping puzzle satu per satu, anak sebenarnya sedang belajar mengenali bentuk, pola, dan strategi.
Baca Juga: 10 Mainan Edukasi Anak 5 Tahun yang Kreatif dan Seru untuk Belajar
4. Mendorong Anak Bertanya dan Bereksplorasi
Jangan buru-buru menjawab semua pertanyaan anak, ajak ia menebak dulu jawabannya.
Saat anak bertanya kenapa langit berwarna biru, coba balik tanya dulu, “Menurut kamu kenapa, ya?” sebelum akhirnya dijelaskan bersama-sama.
5. Mengurangi Screen Time Berlebihan
Batasi waktu layar sesuai usia anak, lalu gantikan sebagian waktu tersebut dengan aktivitas yang lebih interaktif, seperti bermain peran atau membaca buku bersama.
Batasan ini membantu anak belajar mengatur dirinya sendiri, sekaligus memberi lebih banyak ruang untuk kegiatan yang melatihnya berpikir dan bergerak aktif.
6. Memberikan Nutrisi Seimbang
Otak anak membutuhkan asupan gizi yang cukup agar bisa berfungsi optimal.
Sarapan dengan menu yang seimbang, misalnya, bisa mendukung anak lebih fokus menjalani kegiatan di sekolah.
7. Mengajarkan Bahasa Baru Sejak Dini
Mengenalkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, sejak dini juga termasuk bentuk stimulasi kognitif yang efektif.
Saat anak belajar kosakata baru dalam bahasa lain, otaknya dilatih untuk mengenali pola, membandingkan struktur, dan berpikir lebih fleksibel.
Stimulasi bahasa Inggris sejak dini melatih anak mengenali pola dan cara berpikir fleksibel, juga merupakan bagian penting dari perkembangan kognitifnya.
Ditambah lagi, penguasaan bahasa Inggris akan membuka banyak kesempatan bagi si kecil, mulai dari peluang beasiswa, lomba tingkat internasional, hingga kemudahan karir di masa depannya.
Di sinilah Sparks English hadir sebagai partner untuk memastikan si kecil berkembang optimal secara bahasa maupun kognitif.
Kurikulumnya mengikuti standar CEFR yang diakui secara internasional dalam jadwal kelas yang fleksibel. Plus, ada free extra session setiap pekannya lho!
Lebih dari 25.000 students sudah terbukti lancar berbahasa Inggris hanya dalam 6 bulan bersama Sparks English.
Kalau sudah ada kursus bahasa Inggris ekonomis dengan fasilitas selengkap ini, untuk apa repot cari yang lain?
Dapatkan kelas trial gratis sekarang dan klaim promo terbatasnya!


