Pernah melihat konten bertuliskan “POV: kamu terlambat datang ke sekolah” saat sedang membuka TikTok atau Instagram?
Istilah ini sering digunakan dalam video lucu, cerita pendek, film, hingga percakapan sehari-hari.
Namun, sebenarnya apa itu POV?
POV adalah singkatan dari point of view yang berarti sudut pandang.
Supaya tidak salah menggunakannya, yuk pelajari arti POV, jenis-jenis, contoh kalimat, dan kesalahan penggunaannya berikut ini!
Apa Arti POV?
POV merupakan kependekan dari frasa bahasa Inggris point of view.
Dalam bahasa Indonesia, point of view berarti sudut pandang atau perspektif.
Penggunaan POV juga dapat memiliki makna yang sedikit berbeda tergantung konteksnya:
- Dalam cerita, POV menunjukkan siapa yang menceritakan kejadian.
- Dalam film, POV menunjukkan sudut pandang karakter atau kamera.
- Dalam percakapan, POV merujuk pada pendapat atau cara seseorang melihat masalah.
- Dalam media sosial, POV mengajak penonton membayangkan dirinya berada dalam situasi tertentu.
Jadi, apa arti POV? POV berarti sudut pandang yang digunakan seseorang untuk melihat, mengalami, atau menceritakan sesuatu.
Asal Usul Istilah POV
Sebelum viral di TikTok, istilah POV awalnya digunakan dalam dunia sastra, teater, dan industri film.
Sutradara menggunakan istilah “POV shot” untuk teknik pengambilan gambar di mana kamera diposisikan tepat di mata karakter.
Jadi, penonton bisa melihat apa yang karakter tersebut lihat.
Seiring berkembangnya internet, istilah ini diadopsi oleh para kreator konten digital sekitar tahun 2019-2020.
Tren ini berawal dari video sketsa komedi atau akting pendek, di mana penonton diposisikan sebagai lawan bicara dari si kreator konten.
Kini, POV sudah resmi menjadi bahasa gaul (slang) global yang digunakan oleh anak muda di seluruh dunia.
Jenis-Jenis POV
Dalam grammar dan penulisan cerita, POV dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan sudut pandang orang yang bercerita.
|
Jenis POV |
Kata Ganti (Pronouns) |
Fokus Sudut Pandang |
| Orang Pertama | I, We (Saya, Kami) | Karakter utama menceritakan pengalamannya sendiri. |
| Orang Kedua | You (Kamu, Kalian) | Pembaca/penonton diajak menjadi bagian dari cerita. |
| Orang Ketiga | He, She, It, They (Dia, Mereka) | Narator berada di luar cerita dan mengamati karakter lain. |
1. POV Orang Pertama atau First Person
POV orang pertama adalah sudut pandang yang digunakan ketika tokoh menceritakan pengalaman yang dialaminya sendiri.
Kata ganti yang biasanya digunakan adalah:
- Aku
- Saya
- Kami
- Kita
- I
- We
Karena disampaikan langsung oleh karakter yang terlibat, POV orang pertama biasanya terasa lebih pribadi dan emosional.
Pembaca seolah-olah mendengarkan tokoh utama menceritakan pengalaman hidupnya.
Contoh:
I ran to the bus stop because I did not want to miss the bus. (Aku berlari menuju halte karena tidak ingin ketinggalan bus.)
Dalam contoh tersebut, tokoh “aku” atau “I” mengalami langsung peristiwa yang diceritakan.
Namun, POV orang pertama juga memiliki keterbatasan.
Pembaca biasanya hanya mengetahui informasi yang dilihat, dirasakan, atau dipikirkan oleh narator.
2. POV Orang Kedua atau Second Person
POV orang kedua adalah sudut pandang yang berbicara langsung kepada pembaca atau penonton.
Kata ganti yang digunakan antara lain:
- Kamu
- Anda
- Kalian
- You
Sudut pandang ini membuat pembaca atau penonton seolah-olah menjadi tokoh dalam cerita.
Karena itu, POV orang kedua sering ditemukan dalam petunjuk, iklan, permainan interaktif, dan konten media sosial.
Contoh:
You open the door and find a present in front of your house. (Kamu membuka pintu dan menemukan sebuah hadiah di depan rumah.)
Banyak video POV di TikTok menggunakan sudut pandang orang kedua karena format tersebut dapat membuat penonton merasa terlibat langsung dalam sebuah situasi.
Misalnya:
POV: kamu menjadi murid baru di sekolah.
Kata “kamu” menunjukkan bahwa penonton ditempatkan sebagai murid baru dalam skenario tersebut.
3. POV Orang Ketiga atau Third Person
POV orang ketiga digunakan ketika narator berada di luar cerita dan menceritakan kejadian yang dialami karakter lain.
Kata ganti yang sering digunakan adalah:
- Dia
- Ia
- Mereka
- He
- She
- It
- They
Contoh:
Rina tersenyum ketika melihat hadiah di atas meja. (Rina smiled when she saw the present on the table.)
POV orang ketiga dapat dibagi lagi menjadi dua bentuk utama.
Orang ketiga terbatas hanya mengikuti pikiran dan pengalaman satu karakter. Narator tidak mengetahui seluruh isi pikiran tokoh lain.
Sementara itu, orang ketiga serba tahu memungkinkan narator mengetahui pikiran, perasaan, latar belakang, dan kejadian yang dialami beberapa karakter sekaligus.
Sudut pandang orang ketiga sering digunakan dalam novel, dongeng, berita, dan film karena memberikan ruang yang lebih luas untuk menceritakan banyak karakter.
Contoh Penggunaan POV di Media Sosial
Arti POV di media sosial tidak jauh berbeda dari penggunaannya dalam cerita.
Istilah ini tetap menunjukkan sudut pandang, tetapi biasanya disampaikan dalam bentuk skenario singkat.
POV dalam Media Sosial
Dalam media sosial, tulisan “POV:” biasanya ditempatkan pada awal caption atau video.
Tujuannya adalah mengajak penonton membayangkan dirinya berada dalam suatu kondisi.
Berikut beberapa contoh POV di media sosial:
“POV: You are looking at a golden retriever waiting for you to come home.”
Artinya, kamera bertindak sebagai mata pemilik anjing tersebut, dan penonton bisa melihat si anjing kegirangan.
Konten POV dapat berbentuk komedi, cerita romantis, pengalaman sekolah, situasi keluarga, atau kejadian sehari-hari.
POV dalam Menulis dan Film
Dalam penulisan, POV menentukan siapa yang menjadi narator dan bagaimana sebuah cerita disampaikan kepada pembaca.
Pemilihan POV juga memengaruhi informasi yang diketahui pembaca.
Dalam film, POV dapat berhubungan dengan posisi kamera.
Kamera ditempatkan seolah-olah menjadi mata seorang karakter sehingga penonton melihat apa yang dilihat oleh karakter tersebut.
Contoh Kalimat Menggunakan POV
Agar lebih paham bagaimana menerapkan arti POV dalam struktur kalimat bahasa Inggris dan Indonesia, berikut adalah 5 contoh kalimatnya.
- First Person POV: “I felt my heart racing as I walked onto the stage.” (Aku merasakan jantungku berdebar kencang saat aku berjalan ke atas panggung.)
- Second Person POV: “You must turn left when you see the red building.” (Kamu harus belok kiri ketika melihat bangunan merah itu.)
- Third Person POV: “She knew it was a risky move, but she did it anyway.” (Dia tahu itu langkah yang berisiko, tapi dia tetap melakukannya.)
- Social Media Trend: “POV: Being the youngest child in a big family.” (Sudut pandang: Menjadi anak bungsu di keluarga besar.)
- Business Context: “From a marketing POV, this campaign is highly successful.” (Dari sudut pandang pemasaran, kampanye ini sangat sukses.)
- POV Orang Pertama: “Aku segera merapikan buku-buku saat bel istirahat berbunyi.”
- POV Orang Kedua: “Kamu tidak akan pernah tahu rasanya berjuang sebelum kamu mencobanya sendiri.”
- POV Orang Ketiga: “Mereka memutuskan untuk pergi ke perpustakaan setelah menyelesaikan tugas kelompok.”
- Tren Sosmed: “POV: Nungguin dosen pembimbing yang tidak kunjung datang.”
- Konteks Diskusi: “Dari POV saya sebagai orang tua, pendidikan karakter anak adalah yang paling utama.”
Kesalahan Umum saat Memakai POV
Meskipun terlihat mudah, ternyata banyak orang yang masih keliru saat menerapkan tren POV di media sosial.
Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang sering terjadi:
1. Menampilkan Wajah Sendiri di Video yang Harusnya Menjadi Sudut Pandang Orang Lain
Banyak kreator menulis “POV: Kamu lagi ngobrol sama aku,” tapi kamera justru menyorot wajah mereka sendiri dari jauh (seperti third-person shot).
Contoh Salah:
Menulis “POV: Kamu lagi liat pemandangan pantai” tapi videonya malah berisi selfie muka sendiri yang menutupi pemandangan.
Contoh Benar:
Kamera memposisikan apa yang mata orang tersebut lihat (mengarahkan kamera langsung ke arah ombak pantai).
2. Menggunakan POV pada Konten yang Tidak Menunjukkan Sudut Pandang
Tidak semua video atau cerita dapat disebut sebagai POV.
Sebuah konten seharusnya benar-benar menunjukkan perspektif karakter atau penonton.
Contoh yang kurang tepat:
POV: teman saya sedang makan.
Kalimat tersebut hanya menjelaskan kegiatan seseorang tanpa menempatkan penonton dalam sebuah sudut pandang yang jelas.
Contoh yang lebih tepat:
POV: kamu melihat temanmu menghabiskan bekal milikmu.
Pada contoh kedua, penonton ditempatkan sebagai orang yang melihat kejadian tersebut.
3. Mencampurkan Kata Ganti Orang Pertama dan Kedua
Kata ganti harus digunakan secara konsisten agar sudut pandang tidak membingungkan pembaca.
Contoh yang kurang tepat:
Aku masuk ke kelas dan kamu merasa semua orang melihatku.
Kalimat tersebut mencampurkan kata “aku” dan “kamu”.
Versi orang pertama yang tepat:
Aku masuk ke kelas dan merasa semua orang melihatku.
Versi orang kedua yang tepat:
Kamu masuk ke kelas dan merasa semua orang melihatmu.
4. Menganggap POV Hanya Berarti Pendapat
POV memang dapat digunakan untuk menyampaikan pendapat, seperti pada kalimat “From my POV”.
Namun, maknanya tidak terbatas pada opini pribadi.
POV juga dapat merujuk pada:
- Posisi narator dalam cerita
- Perspektif kamera dalam film
- Pengalaman karakter dalam video
- Sudut pandang seseorang terhadap suatu kejadian
Karena itu, arti POV perlu disesuaikan dengan konteks pembicaraan.
5. Menggunakan POV Hanya sebagai Hiasan Caption
Sebagian orang menambahkan kata POV hanya karena istilah tersebut sedang populer.
Padahal, sebuah caption POV seharusnya memiliki skenario dan sudut pandang yang jelas.
Contoh yang terlalu umum:
POV: hari ini cuacanya panas.
Contoh yang lebih relevan:
POV: kamu berjalan pulang saat matahari sedang terik.
Contoh kedua menempatkan penonton dalam sebuah pengalaman yang lebih spesifik.
Istilah Singkatan Lain yang Viral selain POV
Selain POV, terdapat beberapa singkatan bahasa Inggris yang sering muncul dalam percakapan dan media sosial.
1. FYP
FYP adalah singkatan dari For You Page.
Istilah ini merujuk pada halaman rekomendasi yang menampilkan konten berdasarkan minat atau aktivitas pengguna.
FYP paling sering dikaitkan dengan TikTok.
Contoh penggunaan:
Semoga video ini masuk FYP.
Dalam bahasa Inggris:
I hope this video gets on the FYP.
Artinya:
Saya berharap video ini masuk ke halaman rekomendasi.
2. FYI
FYI adalah singkatan dari For Your Information.
Arti FYI dalam bahasa Indonesia adalah “sebagai informasi” atau “sekadar memberi tahu”.
Singkatan ini digunakan ketika seseorang ingin memberikan informasi tambahan.
Contoh penggunaan:
FYI, kelas bahasa Inggrisnya dimulai pukul empat.
Dalam bahasa Inggris:
FYI, the English class starts at four.
FYI dapat digunakan dalam pesan informal maupun komunikasi kerja.
Namun, penyampaiannya tetap perlu disesuaikan dengan situasi agar tidak terdengar terlalu singkat atau kaku.
3. NT
Dalam konteks permainan dan media sosial, NT biasanya merupakan singkatan dari Nice Try.
Artinya adalah “percobaan yang bagus” atau “usaha yang baik”.
Contoh penggunaan:
NT, kamu hampir memenangkan pertandingan tadi!
Dalam bahasa Inggris:
Nice try! You almost won the game.
NT dapat digunakan untuk memberikan dukungan setelah seseorang gagal menyelesaikan suatu tantangan.
Namun, perhatikan nada dan konteksnya karena istilah ini juga dapat digunakan secara sarkastis.
Baca Juga: 70+ Singkatan Bahasa Inggris Gaul dan Artinya Terbaru 2026
4. FOMO
FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out.
Istilah ini menggambarkan perasaan takut tertinggal tren, informasi, aktivitas, atau pengalaman yang sedang diikuti orang lain.
Contoh penggunaan:
Aku membeli barang itu karena FOMO setelah melihatnya viral.
Dalam bahasa Inggris:
I bought that item because of FOMO after seeing it everywhere.
Seseorang yang mengalami FOMO mungkin merasa harus mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal dari teman-temannya.
Baca Juga: Apa Itu Nonchalant? Makna, Asal-Usul, dan Contoh Kalimatnya

Memahami arti POV tidak hanya membantu mengikuti tren media sosial, tetapi juga memperluas pengetahuan bahasa Inggris.
Kalau kamu di tahun 2026 ini masih belum jago bahasa Inggris, yuk upgrade skill-mu!
Di kursus bahasa Inggris Sparks English, proses pembelajaran dirancang secara fun, interaktif, dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak.
Beberapa keunggulan Sparks English yang akan kamu dapatkan:
- Kurikulum berbasis CEFR: kurikulum yang diakui internasional.
- Teacher berpengalaman: dibimbing langsung native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT di kelas semi private.
- Jadwal fleksibel: bebas pilih jadwal yang tersedia.
- Affordable price: mulai Rp70 ribuan per kelas.
- Bonus: free extra sessions, student kit, hingga parent-teacher consultation
Dimana lagi bisa dapatkan fasilitas high quality tapi harganya tetap terjangkau kalau bukan di Sparks English?
Yuk coba free trial class sekarang sekaligus cek kemampuan bahasa Inggris-mu secara gratis!


