Ada beberapa kebiasaan buruk anak yang sebenarnya udah mulai kelihatan sejak masih kecil, tapi sering banget nggak disadari sama orang tua.
Misalnya, gimana cara anak minta sesuatu dan gimana dia bereaksi kalau keinginannya nggak langsung dituruti.
Kalau nggak ditangani sejak awal, kebiasaan-kebiasaan kecil ini bisa makin melekat sampai anak tumbuh lebih besar.
Biar nggak kejadian sama si kecil, mari kita ketahui apa saja kebiasaan buruk anak dan cara mengatasinya dalam artikel ini.
Apa yang Dimaksud dengan Kebiasaan Buruk pada Anak?
Kebiasaan buruk anak adalah pola perilaku yang dianggap kurang sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku dan terjadi berulang.
Menurut ulasan dari MSD Manuals, masalah perilaku pada anak bisa dipengaruhi banyak hal, seperti kondisi di rumah dan cara anak mengekspresikan emosi.
Ada beberapa kebiasaan buruk pada anak yang cenderung menetap dan berdampak kalau terus dibiarkan tanpa penanganan, misalnya anak yang tiap hari menunda tugas sampai akhirnya keteteran sendiri.
Karena itu, penting bagi orang tua mengenali dulu bentuk-bentuk kebiasaan buruk yang umum terjadi, supaya bisa disikapi dengan cara yang tepat.
Apa Saja Kebiasaan Buruk Anak yang Perlu Diperhatikan?
Kebiasaan buruk anak yang perlu diperhatikan cukup beragam.
Berikut contoh kebiasaan buruk di rumah yang paling sering muncul dan perlu mulai diperhatikan orang tua.
1. Terlalu Sering Bermain Gadget
Durasi screen time yang kebablasan biasanya bikin anak susah dialihkan ke aktivitas lain.
Anak yang tadinya enjoy main di luar bisa jadi kecanduan main game online karena terlalu sering bermain, bahkan ia bisa marah kalau gadget-nya diambil.
2. Tidur Terlalu Larut
Jam tidur anak yang terlalu larut juga merupakan contoh kebiasaan buruk dirumah yang sering terjadi, baik karena terlalu lama main game atau kewalahan ngerjain tugas yang lama ditunda.
Anak yang terbiasa tidur larut cenderung lebih susah dibangunkan pagi harinya dan gampang rewel hingga tantrum karena kelelahan.
3. Sering Berkata Kasar
Ucapan kasar yang keluar dari mulut anak sering ia dapat dari meniru lingkungan sekitarnya.
Sumbernya bisa macam-macam, mulai dari tontonan sampai cara bicara orang-orang di rumah sehari-hari.
4. Sering Berbohong
Kebohongan yang keluar dari anak umumnya dilakukan untuk menghindari konsekuensi yang mungkin terjadi karena kesalahannya.
Contohnya, anak bilang sudah selesai beres-beres kamar padahal belum agar nggak dimarahi orang tua.
5. Suka Menunda Tugas dan Tanggung Jawab
Contoh kebiasaan buruk dirumah yang lainnya adalah sering menunda-nunda tugas sampai deadline-nya mepet.
PR yang seharusnya bisa dicicil dari beberapa hari sebelumnya malah baru dikerjakan ketika akan dikumpulkan keesokan harinya.
6. Tidak Mau Merapikan Barang setelah Digunakan
Membiarkan barang berserakan setelah dipakai juga termasuk kebiasaan buruk anak yang bisa terlihat sejak kecil.
Misalnya, mainan yang numpuk di ruang tamu setelah bermain atau seragam sekolah kotor yang dibiarkan di lantai kamar setelah berganti baju.
7. Sering Memotong Pembicaraan
Anak yang terbiasa menyela pembicaraan orang lain bisa muncul akibat kemampuan bergiliran yang belum terlatih.
Contohnya, orang tua lagi asyik ngobrol sama tamu, anak tiba-tiba minta sesuatu di tengah obrolan.
8. Mengambil Barang Orang Lain tanpa Izin
Anak usia dini umumnya belum paham konsep kepemilikan barang, jadi dia sering asal ambil barang yang menarik perhatiannya.
Meski nggak berniat jahat, suka mengambil barang orang lain tanpa izin juga bisa jadi kebiasaan buruk anak yang terbawa sampai dewasa jika tidak segera diarahkan.
9. Menggigit Kuku atau Mengisap Jempol
Menggigit kuku atau mengisap jempol juga jadi salah satu kebiasaan buruk anak yang cukup sering muncul, yang seringnya terjadi sebagai cara anak menangkan diri.
Namun, jika dibiarkan terus sampai tumbuhnya gigi dewasa, kebiasaan ini berisiko memengaruhi posisi gigi dan kebersihan mulut.
10. Tidak Menjaga Kebersihan Diri
Anak sering luput memerhatikan kebersihan dirinya, bahkan ia nggak tahu kalau itu penting.
Contohnya, menyeka tangan kotor ke baju, nggak tutup mulut saat bersin, atau langsung naik ke kasur tanpa mandi dan ganti baju setelah main.
Mengapa Anak Bisa Memiliki Kebiasaan Buruk?
Kebiasaan buruk pada anak bisa muncul akibat adanya proses belajar atau respons emosional.
Berikut beberapa penyebab yang paling sering terjadi.
1. Meniru Perilaku Orang di Sekitarnya
Menurut kajian tentang teori belajar sosial Albert Bandura, anak menyerap banyak perilaku lewat proses mengamati dan meniru orang-orang di sekitarnya, termasuk kebiasaan yang bahkan nggak pernah diajarkan secara langsung.
Kalau orang tuanya gampang emosi saat macet, anak juga akan lebih mudah terbawa emosi saat menghadapi hal-hal yang nggak sesuai dengan keinginannya.
2. Anak Belum Memahami Aturan dengan Baik
Anak seringkali belum bisa memahami aturan sebaik orang dewasa.
Ia tahu lompat-lompat di sofa itu dilarang, tapi nggak paham kenapa dilarang. Itulah yang membuatnya gampang melanggar kalau nggak diingatkan berulang-ulang.
3. Anak Mencari Perhatian
Anak yang sering mengganggu biasanya adalah cara ia mencari perhatian orang tua atau orang di sekitarnya.
Jika orang tua kurang membangun quality time untuk ngobrol dengan mereka, misalnya, bisa jadi anak memilih teriak-teriak atau nangis untuk dapat perhatian.
4. Anak Sedang Mengalami Stres atau Tekanan
Saat anak sedang merasa tertekan, ia bisa jadi menunjukkan perubahaan kebiasaan yang muncul tiba-tiba.
Misalnya ia jadi begadang karena sulit tidur kepikiran masalah dengan temannya di sekolah.
5. Belum Mengetahui Cara Berperilaku yang Tepat
Anak sering berperilaku kurang tepat bukan karena usaha membangkan, tapi karena memang belum tahu cara lain yang lebih baik.
Misalnya ia rebutan mainan dengan adiknya karena belum tahu cara minta gantian dengan sopan.
Baca Juga: 10 Cara Anak Belajar Tanggung Jawab Sejak Dini dan Contohnya
Kebiasaan buruk anak nggak datang tiba-tiba karena itu adalah hasil dari apa yang mereka lihat dan tiru, berulang-ulang, dari lingkungan sekitarnya.
Justru karena itu, kemampuan yang sama ini bagus banget dipakai untuk hal yang lebih bermanfaat seperti membangun kebiasaan belajar bahasa Inggris.
Kalau anak terbiasa melihat dan mendengarnya setiap hari, bahasa Inggris pun bisa terserap dengan cara yang sama alaminya seperti kebiasaan lain.
Apalagi di usia anak-anak kemampuan otak dalam menyerap bunyi dan struktur bahasa baru sedang 90% berkembang pesat.
Sayangnya, kemampuan luar biasa ini nggak berlangsung seterusnya karena saat anak bertambah besar, perkembangan otak tidak lagi secepat di masa golden age.
Itulah yang membuat banyak orang dewasa menyesal karena nggak belajar bahasa Inggris sejak dini, karena kalau baru mulai nanti, butuh effort yang jauh lebih besar untuk diserap otak.

Sparks English siap bantu anak 3-18 tahun lancar bahasa Inggris sejak dini dengan kurikulum berbasis CEFR yang disusun bertahap mengikuti proficiency level.
Apalagi kelasnya semi-private dibimbing langsung oleh native dan Cambridge TKT certified teacher agar anak juga bisa terbiasa dengan accent natural ala native.
Dengan biaya mulai Rp70 ribuan per kelas aja, metode ini sudah terbukti bantu 25.000+ students lebih percaya diri berbahasa Inggris dalam 6 bulan!
Kalau ada les bahasa Inggris anak dengan fasilitas premium tapi biayanya tetap irit demi persiapkan masa depan anak yang lebih cerah, yakin nggak mau coba dulu?
Coba free trial class sekarang dan jangan sia-siakan diskon 1 jutanya karena kuota terbatas!
Bagaimana Cara Mengatasi Kebiasaan Buruk Anak?
Mengatasi kebiasaan buruk anak nggak bisa dilakukan secara instan.
Moms & Dads bisa melakukan beberapa langkah berikut untuk memulainya.
1. Cari Tahu Penyebab Perilakunya
Sebelum menegur, cari tahu dulu apa yang sebenarnya melatarbelakangi kebiasaan buruk anak
Kalau anak tiba-tiba tidur larut malam, bisa jadi lagi menghadapi masalah di sekolah yang belum berani dia ceritakan.
2. Jelaskan Mengapa Perilaku Tersebut Tidak Tepat
Hanya mengatakan “jangan” nggak cukup bikin anak paham di mana letak masalahnya.
Coba beri alasan yang masuk akal buatnya, misalnya “kalau mainan dibiarkan berserakan di lantai setelah dipakai, nanti bisa keinjek dan rusak”.
3. Buat Aturan yang Sederhana dan Konsisten
Aturan yang terlalu rumit atau aturan yang gampang berubah-ubah justru bikin anak bingung.
Buatlah aturan sederhana seperti “boleh pakai gadget hanya selama 1 jam dan harus setelah PR selesai” akan lebih mudah diingat anak, apalagi kalau diterapkan konsisten setiap hari.
4. Berikan Contoh Perilaku yang Baik
Karena anak adalah peniru ulung, maka pastikan apa yang ia amati adalah hal-hal dan perilaku yang baik.
Kalau ingin anak berperilaku sopan, tunjukkan contohnya dalam keseharian, seperti mengucapkan “tolong” saat meminta bantuan, “terima kasih” setelah menerima sesuatu, dan “maaf” ketika melakukan kesalahan.
5. Berikan Pujian saat Anak Berhasil Berubah
Anak perlu tahu kalau usahanya dihargai saat berusaha meninggalkan kebiasaan buruknya.
Pujian spesifik seperti “makasih ya Nak udah rapiin kembali mainannya setelah dipakai” bisa membuat anak makin semangat melakukannya lagi di kemudian hari.
6. Ubah Kebiasaan secara Bertahap
Kebiasaan buruk anak yang sudah terjadi lama, bahkan hingga bertahun-tahun, nggak akan serta merta hilang dalam satu hari satu malam.
Untuk anak yang kecanduan main gadget misalnya, daripada langsung melarang total, coba kurangi durasinya sedikit demi sedikit tiap pekannya.
Ini perlu dilakukan karena otak juga butuh waktu untuk membentuk pola baru.
7. Libatkan Anak dalam Membuat Kesepakatan
Anak akan lebih mudah patuh kalau ikut dilibatkan dalam menentukan aturan yang akan ia jalani sendiri.
Ajak anak diskusi tentang jam tidur yang wajar buatnya, lalu sepakati bersama agar ia merasa itu adalah keputusan bersama yang ikut ia tentukan.
Menghilangkan kebiasaan buruk anak dan membangun skill bahasa Inggris sama-sama nggak bisa dilakukan sehari semalam, semua butuh proses yang bertahap.
Namun, hal-hal yang akan jadi investasi skill terbaik demi masa depan anak memang sebaiknya dibangun dengan kuat mulai dari fondasinya sejak usia dini.
Kebiasaan yang baik dan skill bahasa Inggris adalah skill yang akan terus terpakai oleh anak hingga ia dewasa dan menjadikannya lebih unggul saat bersaing di masa depan.

Sparks English adalah kursus bahasa Inggris anak yang siap bantu bangun skill melalui pendekatan full English environment.
Setiap anak akan dapat pembelajaran yang sesuai dengan levelnya karena ada placement test di awal.
Apalagi ada free extra sessions tiap pekan bareng internasional teacher yang bikin ruang belajar bahasa Inggris anak makin variatif dan menyenangkan.
Masih nimbang-nimbang apalagi Moms & Dads? Semua keunggulan ini nggak mungkin bisa didapatkan di tempat lain dengan harga mulai Rp70 ribuan per kelas!
Biar makin yakin, mending coba dulu suasana belajarnya lewat free trial class, bisa lewat live booking instan cuma 1 menit!


