Anak Bisa Bicara Umur Berapa? Tahapan & Tanda Kalau Terlambat

9 September 2026
umur berapa anak bisa bicara

Pas kumpul keluarga besar, pertanyaan iseng yang nanyain anak sudah bisa bicara atau belum, sering kali bikin kepikiran berkepanjangan.

Wajar kalau muncul rasa khawatir. Apalagi, kemampuan bicara merupakan salah satu bagian penting dalam proses anak belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Nah, sebenarnya di umur berapa anak bisa bicara? Apa saja tahapan kemampuan bicara yang umumnya muncul sesuai usia?

Pastikan baca artikel ini sampai selesai agar Moms & Dads nggak terlalu khawatir tapi juga nggak sampai melewatkan tanda yang perlu diperhatikan, ya!

 

 

Tahapan Perkembangan Bicara Anak Sesuai Usia

Perkembangan bicara anak berjalan bertahap sesuai usianya, mulai dari tangisan dan ocehan sampai akhirnya keluar kata-kata yang punya makna.

Lalu, sebenarnya anak bisa bicara umur berapa dan seperti apa perkembangan yang biasanya terjadi di setiap tahap usianya?

 

1. Usia 0–6 Bulan

Di bulan-bulan awal, tangisan adalah bahasa utama bayi untuk menyampaikan rasa lapar atau nggak nyaman.

Menjelang usia 2–3 bulan, mulai muncul cooing, yaitu suara vokal kayak “ooh” atau “aah” yang merupakan latihan awal pita suara dan otot mulutnya.

Bayi di rentang usia ini juga mulai menoleh saat namanya dipanggil atau saat dengar suara yang familiar.

 

2. Usia 6–12 Bulan

Ocehan makin bervariasi di rentang usia ini, dari “ba-ba” sampai “da-da”.

Anak juga mulai paham kata-kata sederhana kayak “tidak” atau “habis” dan bisa melambaikan tangan.

Kemampuan memahami kata dan ucapan, yang disebut bahasa reseptif, memang biasanya berkembang lebih dulu sebelum anak mulai berbicara.

 

3. Usia 12–18 Bulan

Di rentang usia ini, anak mulai bisa mengeluarkan kata pertama yang punya makna jelas, seperti “mama” dan “papa”.

Sampai usia 18 bulan, kosakatanya bisa terus bertambah jadi belasan, walau pelafalannya kadang belum rapi.

Si kecil juga mulai menunjuk barang yang diinginkan atau menarik perhatian orang di sekitarnya.

Gestur semacam ini penting karena menunjukkan dia aktif berkomunikasi bahkan sebelum punya kosakata yang cukup.

 

4. Usia 18–24 Bulan

Kosakata biasanya mulai bertambah pesat di fase ini, dari belasan kata hingga mencapai 50 kata menjelang usia 2 tahun.

Anak juga mulai bisa menggabungkan dua kata jadi frasa pendek, kayak “mau susu” atau “mama pergi”.

Ia juga bisa menunjuk bagian tubuh atau gambar di buku saat ditanya.

 

5. Usia 2–3 Tahun

Menjelang usia 3 tahun, kosakata anak bisa mencapai ratusan kata yang mulai bisa dirangkai jadi kalimat pendek.

Bahkan, orang di luar keluarga inti pun biasanya udah mulai gampang mengerti omongannya.

Anak juga mulai sering bertanya “kenapa”, karena rasa ingin tahunya semakin berkembang seiring dengan kemampuan bahasanya.

 

Jadi, kalau Moms & Dads bertanya umur berapa anak bisa bicara, sebenarnya tidak ada satu usia yang pasti dan berlaku sama untuk semua anak.

Ada anak yang sudah bisa mengucapkan kata pertama sebelum 12 bulan, sementara anak lainnya bisa jadi membutuhkan waktu lebih lama.

 

Apa Saja Tanda Anak Mengalami Keterlambatan Bicara?

Setiap anak punya kecepatan perkembangan yang berbeda.

Namun, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan karena bisa menjadi tanda bahwa anak butuh perhatian atau evaluasi lebih lanjut tentang kemampuan bicara dan bahasanya.

 

1. Tidak Merespons Suara atau Saat Dipanggil

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketika anak tidak merespons saat namanya dipanggil, terutama jika hal ini terjadi berulang kali.

Anak juga terlihat nggak memperhatikan suara di sekitarnya atau mencoba mencari sumber suara.

Kalau respons seperti ini konsisten terjadi, sebaiknya dicek ke dokter anak untuk memastikan kondisinya.

 

2. Tidak Menggunakan Gestur untuk Berkomunikasi

Sebelum bisa berbicara dengan jelas, anak biasanya sudah menggunakan gestur untuk berkomunikasi, seperti melambai atau menunjuk.

Kalau di usia 12-18 bulan gestur semacam ini belum muncul sama sekali, itu bisa menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan

 

3. Sulit Memahami Instruksi Sederhana

Perkembangan bahasa nggak hanya tentang kemampuan anak mengucapkan kata, tetapi juga tentang seberapa baik ia memahami ucapan orang lain.

Karena itu, anak yang kesulitan mengikuti instruksi sederhana sesuai usianya juga perlu diperhatikan.

 

4. Kemampuan yang Sebelumnya Sudah Ada Justru Menghilang

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketika anak yang semula udah bisa mengoceh atau mengucapkan beberapa kata, malah kesulitan lagi.

Kondisi yang disebut regresi ini sebaiknya segera dievaluasi ke dokter anak karena bisa berkaitan dengan beberapa kondisi tumbuh kembang lain.

 

Dalam tahapan perkembangan bahasa, selain mengenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, anak juga bisa mulai dikenalin pada bahasa Inggris lho, Moms & Dads!

Nggak perlu khawatir anak akan kewalahan, karena justru di masa golden age ini otak anak berada pada kondisi 90% paling optimal untuk nyerap kosakata dan pelafalan bahasa secara alami, termasuk bahasa Inggris.

Banyak orang tua yang nyesel karena melewatkan fase ini tanpa memperkenalkan bahasa Inggris. 

Padahal, stimulasi lebih dini bisa bantu bangun fondasi bahasa yang lebih kuat.

design new banner 2026
Agar nggak mengalami penyesalan yang sama, Sparks English hadir untuk bantu stimulasi bahasa Inggris anak lewat program dengan tingkatan level berbasis CEFR.

Anak akan dibimbing oleh native teacher dan teacher bersertifikasi Cambridge TKT dalam kelas semi-private yang mendorong si kecil lebih berani dan pede untuk active speaking.

Metodenya fun & interactive lewat permainan, discussion, story telling, hingga real conversation, pastinya bisa banget bikin anak antusias belajar.

Semua fasilitas ini bisa didapat mulai Rp70 ribuan per kelas, dan hasilnya sudah dibuktikan oleh lebih dari 25.000 students yang jago bahasa Inggris dalam 6 bulan!

In this economy, bisa stimulasi skill bahasa Inggris anak dengan biaya terjangkau mulai 70 ribuan aja, yakin nggak mau coba dulu?

Jangan tunggu besok untuk coba free trial class, karena lagi ada diskon Rp1 juta kalau booking sekarang!

 

Apa yang Menyebabkan Perkembangan Bicara Anak Berbeda?

Nggak semua anak mulai berbicara di usia yang sama karena setiap anak punya kecepatan perkembangan yang berbeda.

Selain itu banyaknya stimulasi, interaksi, dan dukungan dari lingkungan anak juga berpengaruh.

 

1. Perbedaan Kecepatan Perkembangan Setiap Anak

Tahapan perkembangan bicara sesuai usia merupakan acuan umum karena setiap anak punya kecepatan perkembangan yang berbeda.

Ada anak yang lebih cepat berbicara dibanding anak seusianya, sementara anak lain bisa jadi butuh waktu lebih lama.

 

2. Banyaknya Interaksi dan Stimulasi Bahasa

Semakin sering anak diajak berkomunikasi, semakin banyak kesempatannya untuk mendengar dan memahami bahasa.

Respons dari orang di sekitarnya juga membantu anak belajar menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

 

3. Kemampuan Mendengar dan Memproses Suara

Kemampuan mendengar membantu anak mengenali suara dan menirukan kata yang ia dengar.

Gangguan pendengaran, termasuk yang berkaitan dengan infeksi telinga, dapat memengaruhi proses ini.

Jadi, jika anak sering nggak merespons suara atau saat namanya dipanggil, kemampuan pendengarannya mungkin perlu diperiksa lanjut.

 

4. Lingkungan Komunikasi Anak

Lingkungan sehari-hari memberi anak banyak kesempatan untuk mendengar dan menggunakan bahasa.

Percakapan sederhana di rumah bisa membantu anak mengenal kata dan cara menggunakannya.

 

Bagaimana Cara Menstimulasi Anak agar Lebih Aktif Berbicara?

Kapan anak bisa bicara salah satunya dipengaruhi oleh stimulasi.

Stimulasi bicara pada anak bisa dimulai dari kebiasaan sederhana dalam aktivitas sehari-hari. Berikut ini beberapa caranya.

 

1. Perluas Kosakata Anak melalui Percakapan

Saat anak mengucapkan satu kata, coba tambahkan beberapa kata untuk memperkenalkan kosakata baru.

Misalnya, ketika anak berkata bola, coba tambahkan dengan “mau bola merah?” atau “mau lempar bola?”.

Cara seperti ini membantu anak mendengar bentuk kalimat yang lebih lengkap secara natural.

 

2. Gunakan Permainan yang Mendorong Anak Berkomunikasi

Permainan yang memicu anak untuk berbicara bisa menjadi cara menyenangkan untuk melatih kemampuan bahasanya.

Roleplaying seperti dokter-dokteran bisa memberi kesempatan anak menggunakan kata dan kalimat sesuai peran yang dimainkan.

Selain melatih bahasa, permainan seperti ini juga mengajarkan anak untuk berkomunikasi dua arah.

 

Baca Juga: 9 Mainan untuk Anak Speech Delay agar Cepat Bicara

 

3. Bernyanyi dan Bermain dengan Rima

Lagu anak dengan kata-kata yang berima dapat membantu anak mengenali pola bunyi dan bahasa.

Saat bernyanyi bersama, anak bisa mendengar kata yang sama berulang kali lalu mencoba menirukan kata tersebut sesuai kemampuannya.

Untuk awal, coba nyanyikan setengah kalimat dan biarkan anak meneruskan di bagian yang sudah ia tahu.

 

4. Ajukan Pertanyaan yang Membutuhkan Jawaban

Pertanyaan yang membutuhkan jawaban atau pertanyaan terbuka memberi anak kesempatan untuk menyusun jawabannya sendiri.

Setelah bertanya, beri anak waktu beberapa detik untuk memahami pertanyaan dan memikirkan jawabannya.

 

5. Batasi Screen Time Berlebihan

Screen time yang berlebihan bisa mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi langsung dengan orang di sekitarnya.

Padahal, percakapan sehari-hari bisa memberi anak kesempatan untuk mendengar sekaligus merespons bahasa.

 

Baca Juga: 8 Akibat Anak Sering Main HP dan Solusinya, Waspada Parents!

 

6. Respons Setiap Upaya Anak untuk Berkomunikasi

Setiap anak berusaha untuk berkomunikasi, sebaiknya diberi respons meskipun kata yang diucapkan belum jelas.

Misalnya, saat anak menunjuk gelas sambil berkata “num.. num..”, bisa dijawab dengan “mau minum?”

 

Apakah Anak Bilingual Lebih Lambat Bicara?

Kekhawatiran anak akan lebih lambat bicara jika dilatih bilingual sejak dini sering terjadi di kalangan orang tua.

Saat belajar dua bahasa, anak cenderung melakukan code-mixing atau mencampurnya dalam satu obrolan, dan hal itu bukanlah tanda keterlambatan bicara.

Riset dari Cornell Language Acquisition Lab justru menyebut bahwa anak yang belajar dua bahasa tidak menyebabkan keterlambatan bicara atau defisit kognitif. 

Justru, mereka cenderung lebih mampu menjaga fokus di tengah gangguan.

Apalagi, anak yang belajar bahasa kedua dalam lingkungan yang menggunakan bahasa tersebut secara intensif bisa memiliki pemahaman tata bahasa yang setara dengan anak monolingual dalam bahasa tersebut.

 

Baca Juga: 5 Cara Mendidik Anak Bilingual agar Lancar Dua Bahasa Sejak Kecil

 

Live Book Sparks English
Oleh karena itulah, les bahasa Inggris anak Sparks English menggunakan pendekatan full English environment yang membuat anak mendapat paparan bahasa Inggris secara intensif.

Selain kurikulum unggulan, kelasnya juga dirancang fun & interactive agar anak selalu antusias selama belajar dan materi yang dipelajari lebih nempel di otak anak.

Ditambah lagi, bebas pilih jadwal kelas tersedia dan bisa pilih center terdekat dari rumah sehingga bisa menyesuaikan dengan rutinitas anak.

In this economy, cuma Sparks English yang berani kasih harga super hemat dengan fasilitas seabreg gini! Jadi, pastikan nggak melewatkannya!

Daftar free trial class sekarang, atau booking langsung lewat live booking instan cuma perlu 1 menit!

Author:

Topik:

Share article: