Belajar lebih lama belum tentu membuat anak lebih mudah mengingat materi.
Apalagi jika waktu belajar hanya diisi dengan membaca buku atau catatan berulang kali.
Salah satu teknik yang bisa dicoba adalah active recall.
Active recall adalah metode belajar yang mendorong anak untuk mengingat dan mengeluarkan kembali informasi dari ingatan tanpa langsung melihat jawabannya.
Cara sederhana ini membuat proses belajar menjadi lebih aktif.
Lalu, apa manfaat active recall dan bagaimana cara menerapkannya? Yuk, Moms & Dads, simak penjelasannya!
- Apa Itu Active Recall?
- Apa Manfaat Active Recall untuk Anak dan Remaja?
- Bagaimana Cara Melakukan Active Recall?
- Teknik Active Recall yang Bisa Dicoba Anak
Apa Itu Active Recall?
Metode active recall adalah teknik belajar yang berfokus pada stimulasi memori secara aktif dengan cara memanggil kembali informasi dari ingatan tanpa melihat catatan.
Berbeda dengan metode pasif seperti sekadar membaca ulang (rereading) atau menandai teks (highlighting), active recall memaksa otak bekerja lebih keras untuk mencari dan memproses informasi yang telah dipelajari.
Contohnya saat belajar bahasa Inggris.
Setelah mempelajari kosakata animals, anak bisa menutup buku dan mencoba menjawab pertanyaan seperti:
- Apa bahasa Inggrisnya “gajah”?
- Apa arti butterfly?
- Sebutkan lima nama hewan dalam bahasa Inggris.
- Bagaimana cara menggunakan kata rabbit dalam sebuah kalimat?
Setelah menjawab, anak baru membuka materi untuk mengecek hasilnya.
Dengan begitu, anak tidak sekadar merasa familiar dengan materi, tetapi benar-benar berlatih mengingatnya saat dibutuhkan.
Apa Manfaat Active Recall untuk Anak dan Remaja?
Metode active recall dapat digunakan untuk berbagai materi, mulai dari kosakata, grammar, pelajaran sekolah, hingga persiapan ujian.
Berikut beberapa manfaat yang bisa diperoleh.
1. Membantu Mengingat Materi Lebih Lama
Saat anak berusaha mengingat materi dari kepala, koneksi memori di otak terstimulasi dengan kuat.
Proses ini memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang, sehingga materi tidak mudah terlupakan.
Misalnya, daripada membaca daftar 20 kosakata bahasa Inggris sebanyak lima kali, anak bisa membacanya terlebih dahulu lalu mencoba menyebutkan kembali arti kosakata tersebut tanpa melihat catatan.
2. Melatih Kemampuan Mengambil Informasi dari Ingatan
Active recall melatih kecepatan dan ketepatan anak dalam memproses serta menarik kembali data dari ingatan.
Kemampuan ini sangat penting saat mereka harus menjawab pertanyaan secara spontan atau berbicara dalam bahasa asing.
Dalam pembelajaran bahasa Inggris, misalnya, anak bisa berlatih mengingat kosakata, pola kalimat, atau ekspresi tertentu sebelum menggunakannya dalam percakapan.
Semakin sering dilatih, anak akan semakin terbiasa mengakses informasi yang sudah dipelajari.
3. Membantu Mengetahui Materi yang Belum Dipahami
Active recall juga bisa menjadi cara sederhana untuk mengecek pemahaman.
Ketika anak mencoba menjawab pertanyaan tanpa melihat buku, biasanya akan terlihat bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih membingungkan.
Misalnya, anak bisa menjawab delapan dari sepuluh pertanyaan dengan benar.
Artinya, waktu belajar berikutnya dapat lebih banyak digunakan untuk membahas dua materi yang masih sulit.
Belajar pun menjadi lebih terarah.
4. Membantu Anak Mempersiapkan Ujian
Dengan rutin melakukan simulasi ingatan, kondisi saat belajar menjadi mirip dengan suasana tes yang sebenarnya.
Hal ini mengurangi rasa cemas sebelum ujian (test anxiety) dan meningkatkan rasa percaya diri anak.
5. Membantu Anak Menggunakan Waktu Belajar Lebih Terarah
Active recall membantu anak mengetahui bagian materi yang masih perlu dipelajari.
Jadi, anak tidak harus mengulang semua materi dengan porsi yang sama.
Materi yang sudah dikuasai cukup ditinjau kembali secara berkala, sedangkan bagian yang masih sering salah bisa mendapat waktu latihan lebih banyak.
Hasilnya, waktu belajar dapat digunakan dengan lebih fokus.
Cara belajar seperti ini juga penting diterapkan saat anak belajar bahasa Inggris.
Sebab, kemampuan bahasa Inggris tidak cukup hanya dengan menghafal vocabulary atau memahami grammar.
Anak juga perlu sering mengingat, mendengar, dan menggunakan apa yang sudah dipelajari agar semakin terbiasa.
Karena itu, masa kanak-kanak bisa menjadi waktu yang tepat untuk mulai membangun fondasi bahasa Inggris.
Di fase ini otak anak masih sangat mudah menangkap bunyi, pronunciation, dan pola kalimat baru secara natural lewat stimulasi yang konsisten.
Faktanya, banyak orang menyesal karena baru serius belajar bahasa Inggris saat dewasa, tapi usahanya jadi jauh lebih berat karena otak udah nggak se-reseptif dulu untuk menyerap bahasa baru.
Jangan sampai si kecil kehilangan head start yang justru seharusnya bisa mereka kuasai dari sekarang.

Inilah yang menjadi fokus Sparks English dalam membantu anak usia 3–15 tahun belajar bahasa Inggris melalui metode fun & interactive learning yang disesuaikan dengan usia dan level kemampuan masing-masing anak.
Kurikulumnya berbasis CEFR dengan kelas semi-private, sehingga setiap anak mendapat lebih banyak kesempatan untuk speaking, menjawab pertanyaan, dan berinteraksi selama proses belajar.
Si Kecil juga dibimbing oleh native teacher dan teacher bersertifikasi Cambridge TKT agar semakin terbiasa mendengar sekaligus menggunakan bahasa Inggris secara natural.
Semua fasilitas ini bisa didapat mulai Rp70 ribuan aja per kelas, dan hasilnya sudah dibuktikan oleh lebih dari 25.000 students di Indonesia.
Biar lebih yakin, coba free trial class sekarang atau langsung booking instan hanya dalam 1 menit!
Bagaimana Cara Melakukan Active Recall?
Metode active recall sebenarnya cukup sederhana dan bisa dilakukan di rumah.
Berikut langkah-langkahnya.
1. Pelajari Materi Terlebih Dahulu
Mulailah dengan membaca, mendengarkan penjelasan guru, menonton materi pembelajaran, atau mempelajari contoh terlebih dahulu.
Pastikan anak memiliki gambaran dasar mengenai topik yang sedang dipelajari.
2. Tutup Buku atau Catatan
Setelah selesai membaca satu bagian materi, tutup buku atau catatan.
Tujuannya agar anak benar-benar mencoba mengambil informasi dari ingatan, bukan mencari jawaban dari materi yang masih terbuka.
Tidak perlu langsung mempelajari satu bab penuh.
Mulailah dari bagian kecil agar anak tidak kewalahan.
3. Buat Pertanyaan tentang Materi
Selanjutnya, ubah materi menjadi pertanyaan.
Jika anak sedang belajar kosakata bahasa Inggris tentang keluarga, pertanyaannya bisa berupa:
- Apa bahasa Inggrisnya “paman”?
- Apa arti grandmother?
- Siapa yang disebut cousin?
- Buat satu kalimat menggunakan kata brother.
Pertanyaan sederhana seperti ini sudah cukup untuk memulai latihan active recall.
4. Coba Jawab tanpa Melihat Jawaban
Minta anak menjawab menggunakan ingatannya sendiri.
Tidak masalah jika jawabannya belum sempurna.
Justru dari proses inilah anak bisa mengetahui seberapa banyak materi yang benar-benar masih diingat.
Jawaban dapat disampaikan secara lisan maupun ditulis di kertas.
Baca Juga: 12 Cara Belajar Efektif dan Ampuh untuk Raih Prestasi
5. Periksa dan Koreksi Jawaban
Setelah selesai menjawab, buka kembali buku atau catatan.
Bandingkan jawaban anak dengan materi yang benar.
Jika ada kesalahan, koreksi saat itu juga dan jelaskan bagian yang masih membingungkan.
Jangan hanya menandai jawaban sebagai salah.
Pastikan anak juga mengetahui jawaban yang tepat.
6. Ulangi Materi yang Masih Sulit Diingat
Tidak semua materi perlu diulang dengan frekuensi yang sama.
Fokuskan latihan pada pertanyaan yang masih sering salah atau sulit dijawab.
Setelah beberapa waktu, coba tanyakan kembali tanpa memperlihatkan jawaban.
Pengulangan seperti ini bisa dilakukan secara berkala agar materi tidak hanya diingat sesaat.
Teknik Active Recall yang Bisa Dicoba Anak
Tidak harus selalu menggunakan soal tertulis.
Ada beberapa bentuk active recall yang bisa disesuaikan dengan usia dan materi belajar anak.
1. Menggunakan Flashcard
Flashcard merupakan salah satu cara paling sederhana untuk menerapkan metode active recall.
Tulis pertanyaan atau kosakata pada satu sisi kartu dan jawabannya pada sisi lainnya.
Misalnya:
Depan: Apple
Belakang: Apel
Lihat bagian depan kartu terlebih dahulu, kemudian minta anak menyebutkan jawabannya sebelum membalik kartu.
Flashcard cocok digunakan untuk kosakata, definisi, rumus, tanggal, hingga fakta singkat.
2. Membuat Pertanyaan Sendiri
Setelah membaca materi, minta anak membuat pertanyaan dari apa yang baru dipelajari.
Aktivitas ini tidak hanya melatih ingatan, tetapi juga membuat anak memikirkan kembali isi materi.
Misalnya setelah membaca teks bahasa Inggris, anak bisa membuat pertanyaan:
- “Who is the main character?”
- “Where does the story happen?”
- “What happens at the end?”
Pertanyaan tersebut kemudian dapat digunakan kembali untuk latihan berikutnya.
3. Mengerjakan Latihan Soal
Latihan soal merupakan bentuk active recall yang cukup mudah diterapkan.
Namun, hindari langsung melihat kunci jawaban.
Biarkan anak mencoba terlebih dahulu, kemudian periksa hasilnya setelah seluruh soal selesai dikerjakan.
Catat jenis soal yang masih sering salah agar bisa dipelajari kembali.
4. Menjelaskan Materi dengan Bahasa Sendiri
Moms & Dads juga bisa meminta anak menjelaskan materi seolah-olah sedang mengajarkannya kepada orang lain.
Misalnya:
“Coba jelaskan kapan kita menggunakan is dan are.”
Atau:
“Ceritakan kembali isi teks tadi tanpa melihat buku.”
Jika anak kesulitan menjelaskan suatu bagian, kemungkinan bagian tersebut masih perlu dipelajari kembali.
5. Membuat Kuis untuk Diri Sendiri
Belajar tidak harus selalu terasa seperti ujian.
Coba ubah active recall menjadi kuis singkat.
Buat 5–10 pertanyaan, pasang timer, lalu lihat berapa banyak jawaban yang bisa dijawab dengan benar.
Untuk anak yang lebih kecil, Moms & Dads juga bisa membuat permainan tebak gambar, tebak kata, atau menyebutkan kosakata berdasarkan kategori tertentu.
Cara ini membuat latihan mengingat terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Metode active recall adalah strategi belajar berbasis sains yang terbukti ampuh meningkatkan daya ingat dan pemahaman anak secara signifikan.
Dengan mengalihkan kebiasaan membaca pasif menjadi latihan memanggil informasi secara aktif, proses belajar anak menjadi jauh lebih efektif, terarah, dan menyenangkan.
Penguasaan bahasa Inggris pada anak juga membutuhkan pendekatan aktif seperti ini.

Di kursus Bahasa Inggris Sparks English, anak belajar bahasa Inggris lewat kegiatan fun dan interaktif dengan materi yang dirancang khusus mengikuti usia dan level kemampuannya.
Lebih dari sekadar menghafal vocabulary dan grammar, mereka juga perlu mendapat kesempatan untuk berbicara menggunakan bahasa Inggris dalam aktivitas yang nyata bareng native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT.
Masih banyak benefit lain saat belajar di Sparks English seperti free extra sessions, free student kit, hingga free konsultasi professional teacher untuk dukung progres belajar anak.
In this economy bisa upgrade skill bahasa Inggris anak dengan biaya mulai 70 ribuan aja per kelas demi masa depannya, yakin nggak mau coba dulu?
Daftar free trial class sekarang, sekaligus ambil diskon 1 jutanya sebelum berakhir!


